Bambang Tristiyono
Departemen Desain Produk Fakultas Desain Kreatif Dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analisis Konsistensi Atribut Karakter Desain untuk Menentukan Ciri Khas Sebuah Merek Produk: Studi Kasus pada Sepatu Converse Bambang Tristiyono; Syahrul Hidayatullah; Syawalrizqi Iqbal Abdurrahim; Sasha Amanda Savhira
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.948 KB) | DOI: 10.12962/iptek_desain.v1i18.5081

Abstract

Pentingnya ciri khas sebuah produk dan merek telah menjadi identitas bisnis yang menarik untuk meningkatkan nilai produk. Situasi tersebut menjadikan persaingan produk semakin kompetitif dalam hal kinerja teknis, fungsi, dan karakter desain, meliputi: bentuk, warna, dan bahan yang dipilih. Hal ini menegaskan bahwa penciptaan bahasa desain yang tepat, telah menjadi strategis dalam persaingan produk yang menjadi perwujudan identitas merek. Desain telah menjadi alat kompetitif yang efektif bagi perusahaan dalam memenangkan persaingan pasar. Tampilan merek dan produk yang khas secara visual telah menjadi faktor penentu dalam memenangkan persaingan berbagai kategori produk. Perusahaan terus mengembangkan produk dengan desain yang tidak hanya tampil menarik tetapi juga mempunyai karakter khusus sebagai cirikhas merek produk, sebagai cerminan nilai-nilai inti produk tersebut. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi isyarat desain, seperti bentuk, tekstur, serta warna yang digunakan oleh konsumen untuk menyimpulkan atribut yang menjadi identitas dan karakter dari suatu merek. Riset ini menggunakan studi kasus pada merek sepatu Converse, karena merupakan produk yang laris dan sudah banyak dikenal masyarakat sejak lama. Metode penelitian mengggunakan kuisioner sebagai alat ukur, yang dibuat secara kualitatif. Kuisioner yang disebarkan secara online, jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 77 responden.
Studi Kebutuhan Desain Set Alat Manual Brew Coffee Untuk Coffee Shop Self-Service Dining Experience Dari Bahan Keramik Dan Kayu Nadhifa Dwiardriyani Soedirlan; Arie Kurniawan; Bambang Tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v21i2.12150

Abstract

Abstrak- Perkembangan kopi di dunia terbagi menjadi tiga, yaitu first wave coffee, second wave coffee, dan third wave coffee. Dalam first wave coffee diciptakan inovasi-inovasi baru yang mempermudah proses penyeduhan kopi yaitu dengan kopi instan, dan juga mesin self-service coffee. Pada second wave coffee, muncullah mesin espresso dan minuman-minuman berbasis espresso. Pada third wave coffee, kopi mulai terlihat sebagai minuman artisan, kemudian metode penyeduhan manual brew juga mulai dipopulerkan kembali dikarenakan hasil rasanya yang bervariasi dan juga dining experience yang unik. Alat manual brew coffee pun bervariasi, dan salah satu yang paling banyak digunakan di kalangan pegiat kopi adalah pour over. Pour over dapat dibuat dari beberapa material, seperti akrilik, plastik, keramik, kaca, dan metal, dengan bahan keramik yang paling mengeluarkan citra rasa yang maksimal dan clean menurut percobaan yang dilakukan oleh Otten Coffee. Namun keramik memiliki sifat menyimpan panas, sehingga berpotensi membahayakan tangan user saat digunakan setelah menyeduh dengan air panas. Melihat masalah ini, peneliti akan menggabungkan bahan keramik dan kayu untuk membuat alat pour over. Selain itu, peneliti akan mengangkat konsep self-service dan juga dining experience manual brew coffee untuk membuat set manual brew, termasuk alat seduh, carafe, dan cangkir, dari bahan keramik dan kayu. Dengan ini peneliti berharap dapat membuat suatu produk manual brew coffee yang dapat dinikmati dining experience nya oleh para pegiat kopi, khususnya yang masih pemula atau baru ingin belajar.Abstract—The evolution of coffee drinks is divided into three waves: first wave coffee, second wave coffee, and third wave coffee. The first wave of coffee focused on innovations that simplify the process of brewing coffee, such as instant coffee and self-service coffee  machines. In the second wave came the espresso machine as well as espresso-based drinks. In the third wave, coffee is starting to be seen as an artisan drink, with manual brewing methods coming back into popularity due to the various flavors and unique dining experiences each different method can produce. There are different kinds of manual brewers, with the most popular being the pour over brewer. Pour over brewers can be made from different materials, such as acrylic, plastic, ceramic, glass, and metal. An experiment by Otten Coffee shows that ceramic pour overs can extract the most flavors in each brew. However, ceramic has a heat retaining property, raising the risk of burn injury while using ceramic while brewing coffee with hot water. To solve this problem, we will combine wood and ceramic to make a pour over brewer. Furthermore, the concept of self-service dining experience will be applied into the making of a manual brew set, which will include the brewer, a carafe, and a few cups, using the materials wood and ceramic. Through this study we hope to create a manual brew set that can create a unique dining experience for coffee enthusiasts, especially those who are just beginning to study manual brewing.
Studi Kebutuhan Desain Tas Wanita Kustomisasi untuk Generasi Z sebagai Sarana Ekspresi Diri Sintia Chany Hartono; Eri Naharani Ustazah; Bambang tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v21i2.12121

Abstract

Abstrak- Perkembangan produk kustomisasi seiring dengan meningkatnya kebutuhan generasi Z untuk Mengekspresikan diri. Karakteristik Generasi Z ini berdampak pada berbagai sektor industri, salah satunya industri fesyen. Bagi Generasi Z, dengan mengenakan produk fesyen dapat memperlihatkan jati diri mereka pada orang lain. Bahkan, Generasi Z rela mengganti tas untuk menyesuaikan gaya dan kebutuhan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum, produk-produk existing masih kurang efisien, dan belum memenuhi kebutuhan Generasi Z dalam mengekspresikan diri. Karena itu, penelitian dilakukan untuk mempelajari aspek-aspek yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk tas wanita yang dapat disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pengguna. Untuk mendapatkan data yang akurat, penulis melakukan observasi lapangan, melakukan wawancara, dan pengumpulan data. Temuan-temuan tersebut dibandingkan dengan literatur untuk merumuskan DR&O (Design Requirements and Objectives), lalu dikembangkan menjadi konsep desain. Selanjutnya, penulis membuat sketsa ideasi dan desain alternatif, lalu melakukan pembuatan studi model untuk menguji desain. Desain final yang dibuat berupa tas yang dapat dikustomisasi menggunakan sistem interchangeable dengan mekanisme snap button. Komponen tas yang dapat dibongkar-pasang adalah base tas, flap dan strap, masing-masing komponen memiliki variasi yang dapat dikombinasikan sesuai citra yang diinginkan. Tas kustomisasi ini mewadahi kebutuhan Generasi Z untuk ekspresi diri. Ekspresi yang dapat ditonjolkan dari produk ini adalah minimalist preppy, girly feminine, casual boyish, elegant glamour dan retro indie.Abstract—The development of customized products is in line with the increasing need for Z Generation's self expression. Most characteristics of Z Generation have an impact on various industrial sectors, one of which is the fashion industry. For the Z Generation, wearing fashion products can show their identity to others. In fact, they are willing to change bags to suit their style. This shows that in general, existing bags products are still less efficient, and have not met the needs of Z Generation in expressing themselves. Therefore, this research is done to study the aspects needed to develop women's bag products that can be adapted depending on what the user wants. To obtain accurate data, the authors conducted field observations, conducted interviews, and collected data. These findings are compared with the literature to formulate DR&O (Design Requirements and Objectives), then developed into a design concept. Next, the author sketches ideation and alternative designs and made a model study to test the design. The final design is a bag that can be customized using an interchangeable system with a snap button mechanism. The components of the bag that can be disassembled are the base bag, flap and strap, each component has variations that can be combined according to the desired image. This customized bag caters to Generation Z's need for self-expression. Expressions that can be highlighted from this product are minimalist preppy, girly feminine, casual boyish, elegant glamor and retro indie
Eksplorasi Material Forming, Pewarnaan, dan Finishing Daur Ulang PET sebagai Kombinasi Material pada Produk Perhiasan Apriliza Maghrita; Ari Dwi Krisbianto; Bambang Tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v21i2.12145

Abstract

Abstrak—Karakteristik Generasi Z menyukai produk ethical atau ramah lingkungan, dan dapat dipersonalisasi atau dikustomisasi. Perhiasan customized adalah perhiasan yang dapat diubah-ubah style atau bentuknya sendiri oleh pengguna sehingga meminimalisir adanya konsumsi aksesori. Perhiasan customized dengan pemakaian material eksplorasi daur ulang dapat membantu terciptanya produk yang ramah lingkungan. Sementara itu, Indonesia menghasilkan sampah plastik yang menyumbang sampah kota sebanyak 10,58%. Untuk mengurangi sampah plastik, daur ulang plastik dapat digunakan untuk mix material produk perhiasan. Ini juga sekaligus untuk meningkatkan harga jual sampah plastik oleh kelompok marginal. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplorasi material forming, teknik pewarnaan dan finishing. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah desain perhiasan kustomisasi dengan material atraktif daur ulang plastik PET yang dapat dikembangkan oleh mitra produksi Rubysh Jewelry, termasuk juga untuk memberdayakan perempuan dari kelompok marginal.Abstract—Characteristics of Generation Z are they like ethical or environmentally friendly products, and those products can be personalized or customized. Customized jewelry is jewelry that can be changed by the user's own style or shape to minimize the consumption of accessories. Customized jewelry with the use of recycled exploration materials can help create environmentally friendly products. Meanwhile, Indonesia produces 10.58% plastic waste of municipal waste. To reduce plastic waste, recycled plastic can be used for jewelry products as mixed materials. The use of plastic waste is also at the same time, increases the selling price of plastic waste by marginal groups. The research method used is the exploration of forming materials, coloring, and finishing techniques. The results obtained from this research are customized jewelry designs with recycled PET plastic as attractive materials that can be developed by Rubysh Jewelry-writer's production partners, as well as to empower women from marginal groups.
Design Requirements & Objectives Playmat Permainan Tradisional Gobak Sodor untuk Anak Usia 4-6 Tahun Nuuruz Zakiyah; Bambang Tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v21i2.12175

Abstract

Abstrak- Permainan tradisional sudah banyak ditinggalkan di masa modern ini. Padahal permainan tradisional memiliki begitu banyak nilai yang berguna untuk anak, seperti halnya nilai keagamaan, kebudayaan, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Bahkan aspek pengembangan yang harus dicapai saat anak duduk di pra-sekolah dapat terpenuhi dengan menggunakan permainan tradisional. Selain permainan tradisional, play mat di Indonesia juga merupakan jenis permainan yang ragamnya masih dapat dihitung jumlahya, padahal jenis permainan playmat sangat menyenangkan saat dimainkan secara bersama-sama di sekolah dan masih dapat dikembangkan. Dengan melihat peluang tersebut, penulis membuat playmat bertema permainan tradisional yang bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional khususnya ‘Gobak sodor’, memberi sarana baru untuk anak dalam bermain sambal belajar, juga melatih motorik kasar anak. Metode yang digunakan adalah studi literatur, observasi lapangan, melakukan depth interview, dan riset konsumen.  Informasi yang telah penulis dapatkan dapat dijadikan acuan dalam merumuskan Design Requirement and Objectives (DR&O) produk playmat permainan tradisional.Abstract— Traditional games have been abandoned in modern times. Traditional games have so many useful values for children, such as religious, cultural, humanitarian values, and so on. Even the developmental aspects that must be achieved when children are in pre-school can be fulfilled by using traditional games. In addition to traditional games, play mat in Indonesia is also a type of game whose variety can still be counted, even though this type of playmat game is very fun when played together at school and can still be developed. Seeing this opportunity, the author made a playmat with the theme of traditional games which aims to preserve traditional games, especially 'Gobak sodor' provide new facilities for children to play with learning, as well as train children's gross motor skills. The methods used are literature studies, field observations, conducting in-depth interviews, and consumer research. The information that the author has obtained can be used as a reference in formulating Design Requirements and Objectives (DR&O) for traditional playmat products.
Model Kemitraan Pengembangan UKM Batik di Eks Lokalisasi Dolly Eri Naharani Ustazah; Waluyohadi; Bambang Tristiyono; Primaditya; Novianti Ika Sari
Sewagati Vol 6 No 5 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.768 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i5.18

Abstract

Level kesiapan masyarakat dalam menerima program pengembangan UKM Batik Dolly menjadi sebuah produk turunan adalah belum siap. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga atau keahlian khusus. Sehubungan hal tersebut, kegiatan pengabdian ini bermaksud membantu pengembangan ekonomi lokal khususnya di kawasan Dolly-Jarak melalui upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan pengembangan produk batik dan turunannya melalui kemitraan antar pelaku UKM Batik dan partner desainer lain. Pengembangan yang dilakukan berupa pembuatan produk turunan batik yang disesuaikan dengan kompetensi pengabdi dipilih 3 (tiga) yang akan dikembangkan yaitu: baju to wear, baju rumahan, dan sajadah lipat. Skema kerjasama yang digunakan adalah melibatkan pelaku UKM Batik Dolly sebagai pemasok kain batik dan menggandeng partner Radiya Kinan, Zorey, dan Aghili sebagai produsen produk turunan batik. Kegiatan pengabdian yang diawali dengn pelatihan konsep dan desain sajadah lipat secara online. Tahapan dan urutan kerja dalam pengembangan produk dimulai dari tahap desain, pembuatan produk, proses \textit{Quality Control} produk serta Proses Persiapan Pemasaran Produk harus disesuaikan dengan kasus Pandemi. Setiap tahapan dibagi ke dalam tim-tim khusus yang selalu diawasi dan didampingi, agar dihasilkan kualitas produk yang optimal. Upaya pengembangan produk turunan batik diharapkan berkesinambungan dan diminati masyarakat luas, sehingga sistem kemitraan yang dibangun adalah dengan melibatkan produsen lain dalam membuat produk turunan batik.