Thojib, Jusuf
Department Of Architecture, Engineering Faculty, Universitas Brawijaya

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENGOLAHAN SIDE LIGHTING SEBAGAI STRATEGI OPTIMASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUANG PAMER MUSEUM BRAWIJAYA MALANG Rima Alvianita Putri; Jusuf Thojib; triandriani mustikawati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.15 KB)

Abstract

Sistem pencahayaan samping (side lighting) merupakan salah satu sistem pencahayaan alami yang paling banyak digunakan pada bangunan. Selain memasukkan cahaya, juga dapat memberikan keleluasaan view, orientasi, konektivitas luar, dan dalam serta ventilasi udara. Studi ini bertujuan mengeksplorasi side lighting untuk mengoptimasi pencahayaan alami pada ruang pamer dengan objek studi kasus yaitu ruang pamer Museum Brawijaya Malang. Ruang pamer Museum Brawijaya memiliki masalah mengenai adanya side lighting sebagai sistem penerangan alami ruangan yang belum dirancang dengan baik, sehingga terdapat beberapa area yang terkena dampak silau. Metode yang digunakan yaitu eksperimental desain secara bertahap menggunakan program aplikasi DIALux. Strategi yang dilakukan untuk mengolah side lighting pada ruang pamer tersebut yaitu merubah dimensi ruang beserta perletakan tinggi rendah bukaan dengan melebarkan ruang dan meninggikan langit-langit untuk meminimalkan sudut datang cahaya. Kemudian membelokkan cahaya dengan menambah reflektor berupa cermin, memberi filter berupa shading device pada jendela ruang pamer I serta secondary skin di beberapa titik bukaan. Hasil simulasi DIALux menunjukkan bahwa uji coba yang telah dilakukan ternyata dapat menurunkan intensitas silau. Sehingga uji coba tersebut dapat mengoptimalkan kondisi pencahayaan alami pada ruang pamer Museum Brawijaya.Kata kunci: side lighting, pencahayaan alami, ruang pamer museum
Gedung Pertemuan di Kabupaten Nganjuk (Studi Pendekatan Sistem Penghawaan Alami) Auni Intan Pertiwi; Jusuf Thojib; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung pertemuan dengan kapasitas pengunjung yang besar membutuhkan penghawaan yang baik untuk menjaga kenyamanan lingkungan bangunan. Kabupaten Nganjuk berada di iklim tropis dengan potensi angin yang sangat besar dan penghawaan alami masih sangat mungkin diterapkan pada bangunan. Strategi yang digunakan adalah penghawaan silang dan stack effect. Faktor yang mempengaruhi penghawaan alami antara lain bentuk massa, orientasi inlet-outlet terhadap arah angin, bentang-tinggi bangunan, rasio jendela dan jenis jendela. Menggunakan metode pragmatis sebagai metode perancagan dengan cara simulasi desain untuk mengetahui kecepatan, kemerataan udara dalam ruang. Simulasi menggunakan Computational Fluid Dynamic software Ansys Workbench. Hasilnya bentuk massa persegi, orientasi inlet tegak lurus dengan arah angin, bentang bangunan 30 m, tinggi bangunan≥10 m, rasio jendela antar inlet-outlet sama, luas jendela>10% dari luas lantai mengha i an ecepatan angin 0, - ,3 m dengan efe pen ega an be upa penu unan uhu anta a , - , i an angin merata pada seluruh.Kata Kunci : gedung pertemuan, sistem penghawaan alami, angin
Desain Shading Device pada Bangunan Kantor Surabaya Kartika Kusuma W; Jusuf Thojib; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.005 KB)

Abstract

Perkembangan ekonomi di Surabaya diperkuat dari data BPS kota Surabaya pada tahun 2013 rata-rata tiap bulan banyaknya TDP (tanda daftar perusahaan) adalah total 983,83 perusahaan. Perusahan baru tersebut tentunya memerlukan tempat yang dapat mewadahi kebutuhan mereka, seperti kantor sewa. Dalam perkantoran, pencahayaan diperlukan untuk memenuhi kenyamanan pekerja. Memperbanyak bukaan akan meningkatkan cahaya alami yang masuk, beserta panasnya. Selain itu, peningkatan suhu akibat sinar matahari membuat beban pendingin bertambah sehingga berdampak pada pemborosan energi. Faktor glare juga harus diperhatikan, karena tingkat kesilauan akan mempengaruhi kondisi kenyamanan dan kinerja pekerja. Sering ditemukan banyak rumah dan bangunan lain yang bersebelahan pada suatu kawasan, namun memiliki perbedaan yang cukup signifikan pada corak arsitekturnya. Diperlukan desain fasade bangunan dengan desain shading device yang mencegah masuknya sun lighting, dengan pendekatan harmoni di setiap sisi bangunan. Kajian perancangan ini menggunakan metode deskriptif analisa untuk menentukan kebutuhan dalam memilih kriteria desain fasade dengan metode simulasi menggunakan software ecotect2011 dan metode pragmatis dalam proses desainnya. Hasilnya untuk mendapatkan desain kantor sewa dengan shading device yang khusus pada sisi bangunan yang berbeda dengan harmonisasi secara keseluruhan.Kata kunci: Shading device, fasade bangunan, bangunan kantor sewa
Redesain Sistem Pencahayaan Lapangan Tembak Indoor Di Pengprov Perbakin Provinsi Jatim Di Surabaya Rahmi Septianingsih Syamsuddin; Jusuf Thojib
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam olahraga menembak, beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dijaga kualitasnya adalah pencahayaan dan penghawaan. Menembak adalah kegiatan dimana senjata diarahkan pada suatu sasaran, sehingga kemampuan petembak untuk melihat sasaran tersebut sangat penting. Standar pencahayaan yang digunakan dalam olahraga menembak, baik untuk lapangan terbuka dan lapangan tertutup adalah standar yang dikeluarkan oleh ISSF (Federasi Olahraga Menembak Internasional). Dalam kondisi eksisting, pencahayaan yang digunakan dalam lapangan tembak indoor Pengprov Perbakin ini masih kurang dari standar. Selain itu, pencahayaan dalam ruang juga sepenuhnya menggunakan pencahayaan buatan, sehingga dapat dipertimbangkan untuk menambah suatu bukaan untuk pencahayaan alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, dimana variabel yang ada dimanipulasi dan diteliti akibat-akibatnya. Metode ini menggunakan simulasi digital, dengan menggunakan software Dialux 4.12 untuk simulasi kondisi ruang dengan perubahan-perubahan variabel yang dicoba. Hasil yang diperoleh merupakan desain pencahayaan yang menggunakan kombinasi pencahayaan alami dan buatan dalam ruang, dengan hasil kenyamanan visual optimal yang sesuai standar ISSF.
Perancangan Double Skin Facade pada Hotel Bisnis di Pusat Kota Surabaya Ariono Taftazani; Jusuf Thojib; Nurachmad Sujudwijono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.082 KB)

Abstract

Arah pengembangan di UP IV Kota Surabaya mengarah kepada pengembangan hunian vertikal tengah kota yang berfungsi sebagai penunjang fungsi perdagangan dan jasa. Pembangunan mengarah ke bangunan vertikal yang lebih efisien. Penggunaan energi terbesar dalam suatu bangunan dapat dilihat dari pemakaian sistem pendingin buatan. Oleh karena itu, untuk membatasi beban eksternal, selubung bangunan merupakan elemen bangunan yang penting untuk diperhitungkan dalam penggunaan energi menyangkut perancangan bidang-bidang eksterior dalam hubungannya dengan tampilan tampak bangunan tersebut. Perancangan double skin facade pada bangunan tinggi untuk menjalankan fungsinya sebagai lapisan pelindung luar bangunan tinggi, beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk merancang selubung bangunan yang baik yaitu mempunyai estetika, fungsional, struktural, konstruksi dan pemeliharaan. Metode yang digunakan pada kajian ini adalah metode analisis deskriptif yang terbagi menjadi beberapa tahapan mulai dari analisis sampai sintesis. Pada tahap perancangan menggunakan objek studi yang ada di Kota Surabaya yaitu berupa perancangan hotel yang sedang dibangun sehingga menggunakan metode pragmatik hanya pada pengaplikasian double skin façade pada selubung bangunan. Penentuan efektivitas selubung bangunan yang dirancang menggunakan simulasi software autodesk Vasari beta 3 untuk melihat nilai radiasi yang diterima selubung bangunan.Kata kunci: bangunan tinggi, bangunan hemat energi, fasad ganda
The Impact of Aspect Ratio on External Heat Gain of Multi-storey Office Buildings in Jakarta Wasiska Iyati; Eryani Nurma Yulita; Jusuf Thojib; Heru Sufianto
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.403 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2018.016.01.2

Abstract

The narrow land in big cities such as Jakarta, increases the amount of high rise building, especially multi-storey office building. Office building consumes much energy to provide air conditioning to meet the thermal comfort inside the building. On the other hand, the building shape, building envelope, and building orientation to the sun's position are the main factors in building design aspects that affect the amount of cooling load. This study aims to investigate the impact of the aspect ratio or the ratio of the longer dimension of an oblong plan to the shorter, on external heat gain of multi-storey office building. Variables examined include the transparent and solid area of building envelope, the total area of the surface of the building envelope in any orientation, and the volume of the building, as well as the influence of those proportion on the external heat gain. This study uses mathematical calculations to predict the cooling load of the building, particularly external heat gain through the walls, roof and glass, as well as comparative analysis of models studied. The study also aims to generate the design criteria of building form and proportion of multi-storey office buildings envelope with lower external heat gain. In Jakarta climatic conditions, the result on rectangular building plan with aspect ratio of 1 to 4 shows that the external heat gain did not differ significantly, and the smallest heat gain is found on the aspect ratio of 1.8. Results also showed that the greater aspect ratio, the greater reduction of external heat gain obtained by changing the orientation of the longest side facing east-west into the north-south, about 2.79% up to 42.14% on the aspect ratio of 1.1 to 4. In addition, it is known that in same building volume, changing the number of floors from 10 to 50 can improve the external heat gain almost twice.