Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK KULIT BATANG KESAMBI [Schleichera oleosa (Lour) Oken] MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI BERTINGKAT Istiqomah Istiqomah; Yahdi Yahdi; Yuli Kusuma Dewi
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 3 No. 1 (2021): Januari - Juni 2021
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v3i1.3020

Abstract

Penyakit degeneratif yang disebabkan oleh radikal bebas dapat dihambat oleh senyawa antioksidan, salah satu tumbuhan yang memiliki manfaat sebagai antioksidan adalah tumbuhan kesambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dari ekstrak kulit batang kesambi dan aktivitas antioksidan ekstrak n-heksana, etil asetat, dan etanol kulit batang kesambi [Schleichera oleosa (Lour) Oken]. Analisis metabolit sekunder dilakukan dengan metode skrining fitokimia. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dan ekstraksi bertingkat berdasarkan tingkat kepolaran pelarut yaitu pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil). Adapun hasil fitokimia ekstrak kulit batang kesambi [Schleichera oleosa (Lour) Oken] terdapat Flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, antrakuinon dan terpenoid. Berdasarkan nilai aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit batang kesambi [Schleichera oleosa (Lour) Oken] fraksi ekstrak etil asetat memiliki nilai penghambatan radikal yang lebih kuat dibandingkan dengan fraksi lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan yang didapatkan dari masing- masing fraksi. Nilai IC50 yang dihasilkan dari fraksi etil asetat yaitu 57,3 ppm termasuk kapasitas antioksidan kuat, fraksi etanol yaitu 87,52 ppm termasuk golongan kapasitas antioksidan kuat dan fraksi n-heksan yaitu 136,03 ppm termasuk kapasitas antioksidan sedang.
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA SEBAGAI PEWARNA ALAMI PADA KUALITAS NATA DE SOYA HASIL FERMENTASI LIMBAH CAIR TAHU DI LINGKUNGAN KEKALIK TIMUR KOTA MATARAM: THE EFFECT OF ADDING DRAGONS FRUIT EXTRACT AS NATURAL DYE ON THE QUALITY OF NATA DE SOYA FROM FERMENTATION OF TOFU LIQUID WASTE IN THE EAST KEKALIK ENVIRONMENT OF MATARAM CITY Baiq Dewi Ratnasari; Yahdi Yahdi; Sulistiyana Sulistiyana
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 3 No. 2 (2021): Juli - Desember 2021
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v3i2.4072

Abstract

Nata de soya is a food product derived from tofu liquid waste from the fermentation of Acetobacter xylinum. The addition of natural dyes in nata can improve the physical quality of nata. This study aims to determine the effect and optimum quality of the addition of dragon fruit peel extract on the quality of nata de soya. The experimental design method used in this study was a completely randomized design (CRD). The control variables in this study were 1000 mL tofu liquid waste, 4 grams of ZA Food Grade, 100 grams of sugar, and 14 days of fermentation. The independent variable was the concentration of dragon fruit peel extract, namely 0% (control), 5%, 10%, 15% and 20%. The dependent variables are water content, crude fiber content, and organoleptic (color, shape, and texture). The results showed that the variation of 20% dragon fruit peel extract affected the physical quality of nata. There was a significant effect on the quality of the water content and organoleptic (color and texture) of the nata, while the quality of the fiber content and organoleptic (shape) was not significantly affected on the quality of the dragon fruit peel extract combination nata. The optimum quality of this study was dragon fruit peel extract 20% with a water content value 88.60%, a fiber content value of 2.73%, and an organoleptic test (color, shape, and texture) with an average value of 4.85, 4.90, and 4.90. Nata de soya adalah produk pangan berasal dari limbah cair tahu hasil fermentasi Acetobacter xylinum. Penambahan pewarna alami pada nata dapat meningkatkan mutu fisik nata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan kualitas optimum penambahan ekstrak kulit buah naga terhadap kualitas nata de soya. Metode rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL). Variabel kontrol pada penelitian ini adalah limbah cair tahu 1000 mL, ZA Food Grade 4 gram, gula 100 gram, dan lama fermentasi 14 hari. Variabel bebas adalah konsentrasi ekstrak kulit buah naga yaitu 0 % (kontrol), 5 %, 10 %, 15 % dan 20 %. Variabel terikatnya adalah kadar air, kadar serat kasar, dan organoleptik (warna, bentuk, dan tekstur). Hasil penelitian menunjukkan variasi ekstrak kulit buah naga 20% mempengaruhi kualitas mutu fisik nata. Ada pengaruh nyata terhadap kualitas kadar air dan organoleptik (warna dan tekstur) nata sedangkan pada kualitas kadar serat dan organoleptik (bentuk) tidak terpengaruh signifikan terhadap kualitas nata kombinasi ekstrak kulit buah naga. Kualitas optimum penelitian ini ialah ekstrak kulit buah naga 20% dengan nilai kadar air 88,60%, nilai kadar serat 2,73%, dan uji organoleptik (warna, bentuk, dan tekstur) dengan nilai rata-rata sebesar 4,85, 4,90, dan 4,90.
SKRINING FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL RAMBUT JAGUNG MANIS (Zea mays ssaccharata Strurf) MENGGUNAKAN METODE DPPH: PHYTOCHEMICAL SCREENING AND ANTIOXIDANT ACTIVITY OF SWEET CORN HAIR (Zea mays ssaccharata Strurf) ETHANOL EXTRACT BY DPPH METHOD Nurwardian Aulyawati; Yahdi Yahdi; Novia Suryani
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 3 No. 2 (2021): Juli - Desember 2021
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v3i2.4101

Abstract

Herbal medicine can naturally be obtained from plants. Not only whole plants, parts of plant waste that have not been used optimally such as sweet corn hair can be efficacious as herbal medicine. Sweet corn hair contains active compounds that have the potential as a source of natural antioxidant drugs. The utilization of sweet corn hair can effectively increase the food value of the plant waste. The purpose of this study was to determine the content of secondary metabolites in sweet corn hair and the ability of antioxidant activity. Sweet corn hair extraction was obtained by the maceration method in ethanol solvent. Phytochemical screening tests were carried out qualitatively using test reagents. Testing of antioxidant activity using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method with various in concentrations of 25, 50, 75, 100, 125, and 150 ppm. The results showed that qualitatively the ethanol extract contained flavonoid compounds such as, alkaloids, tannins, and saponins. While the antioxidant activity test showed moderate ability with an IC50 value of 115.376 ppm. Obat herbal secara alamiah dapat diperoleh dari tanaman. Tidak hanya tanaman utuh, bagian limbah tanaman pun yang belum dimanfaatkan secara maksimal seperti rambut jagung manis yang dapat berkhasiat sebagai obat herbal. Rambut jagung manis memiliki kandungan senyawa aktif yang berpotensi sebagai sumber obat antioksidan alami. Pemanfaatan rambut jagung manis secara efektif dapat menaikkan nilai pangan limbah tanaman tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui secara kualitatif kandungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman rambut jagung manis dan kemampuan aktivitas antioksidan. Ekstraksi rambut jagung manis diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Pengujian skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif menggunakan reagen uji. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan variasi konsentrasi berupa 25, 50, 75, 100, 125, dan 150 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kualitatif ekstrak etanol mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin. Sedangkan uji aktivitas antioksidan menunjukkan kemampuan sedang dengan nilai IC50 sebesar 115,376 ppm.
ANALISIS TEORI ENERGI DESOLVASI ION NATRIUM PADA PELARUT ELEKTROLIT ORGANIK MENGGUNAKAN DENSITY FUNCTIONAL TIGHT BINDING (DFTB): THEORETICAL ANALYSIS OF DESOLVATION ENERGY SODIUM IONS IN ORGANIC ELECTROLYTE SOLVENTS USING DENSITY FUNCTIONAL TIGHT BINDING (DFTB) Ismiatul Hidayah; Multazam Multazam; Yahdi Yahdi; Aditya Wibawa Sakti
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 4 No. 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v4i1.5147

Abstract

Larutan elektrolit sangat berperan penting sebagai media transfer ion pada baterai. Transfer ion pada antar muka elektrolit dan elektroda dapat menentukan energi desolvasi dan konduktivitas ion. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi pelarut organik terhadap energi desolvasi lepasnya pelarut organik.  Penelitian ini menggunakan lima pelarut elektrolit organik yaitu Adiponitrile (APN), Acetonitrile (ATN), Butylene Carbonate (BC), Diethyl Carbonate (DEC), dan 1,4-Dioxa­ne (DIO). Parameter yang diamati adalah energi desolvasi menggunakan metode DFTB dengan program Dcdftbmd. Hasil analisis data twoway ANOVA diperoleh signifikansi kurang dari 0,05 dan Ha diterima yang berarti bahwa ada perbedaan yang nyata pada jenis pelarut elektrolit organik terhadap energi desolvasi. Untuk uji lanjut Post Hoc diperoleh bahwa terdapat perbedaan secara signifikan. Berdasarkan parameter yang diamati, dapat disimpulkan bahwa kelima jenis pelarut elektrolit organik memiliki pengaruh terhadap energi desolvasi. Energi desolvasi masing-masing pelarut organik cenderung meningkat seiring dengan semakin banyaknya pelarut organik yang lepas ikatannya dengan Natrium.   ABSTRACT Electrolyte is very important as an ion transfer medium in battery. Ion transfer at the interface between electrolyte and electrode can determine desolvation energy and ion conductivity. The aims of this study is to determine the effect of variations in organic solvent on desolvation energy of organic solvent. In this study, we were used five organic electrolyte solvents namely Adiponitrile (APN), Acetonitrile (ATN), Butylene Carbonate (BC), Diethyl Carbonate (DEC), and 1,4-Dioxa­ne (DIO). The parameter observed were desolvation energy using DFTB method with the Dcdftbmd program. The result of two way ANOVA data analysis obtained a significance of less than 0.05 and Ha was accepted, which means that there is significant difference between the type of organic electrolyte solvent and the desolvation energy. For the Post Hoc test, it was found that there was a significant difference. Based parameter observed, the five organic solvents have an influence on the desolvation energy. Each desolvation energy of organic solvents tends to increase along with the increasing number of organic solvents released of bond with Sodium.
Pengaruh Variasi Kombinasi Kulit Alpukat (Persea americana Mill) Dan Kulit Jeruk Manis (Citrus X sinensis) Terhadap Kualitas Lulur Tradisional Beras Putih sulistiyana sulistiyana; Haerun Nisa; Yahdi Yahdi
Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS) Vol 4 No 01 (2022): Herclips Vol 04 No 01
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/herclips.v4i01.4404

Abstract

Lulur tradisional merupakan kosmetik dari bahan herbal yang digunakan untuk membersihkan kulit dari kotoran serta mengangkat sel kulit mati. Kulit alpukat dan kulit jeruk manis merupakan salah satu contoh pemanfaatan limbah sebagai bahan herbal lulur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada lulur tradisional, pengaruh variasi kombinasi terhadap kualitas lulur tradisional, serta formulasi yang menghasilkan kualitas optimum pada lulur tradisional beras putih. Pembuatan formula menggunakan 10 g tepung beras putih (TBP) dengan variasi perbandingan massa serbuk kulit alpukat (SKA) : serbuk kulit jeruk manis (SKJM) yaitu 0:0(F1); 5:0(F2); 3:2(F3); 2:3(F4) dan 0:5(F5). Parameter uji penelitian ini yaitu uji fitokimia, uji pH, dan uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan iritasi). Hasil penelitian menunjukkan kualitas optimum lulur tradisional diperoleh pada F3 dengan hasil uji fitokimia positif mengandung antosianin, saponin, tanin, flavonoid, dan steroid. Nilai pH yang diperoleh yaitu sebesar 4,675. Nilai ini sesuai dengan standar SNI 16-43996. Nilai uji organoleptik yang diperoleh pada warna, aroma, tekstur, dan iritasi berturut-turut adalah 4,55; 4,4; 4,75 dan 5 dengan kategori paling disukai oleh panelis, memiliki kriteria warna cokelat muda, aroma khas jeruk manis, dan teksturnya agak kasar (scrub). Kata kunci : Beras Putih, Kulit Alpukat, Kulit Jeruk Manis, Lulur Tradisional.
Uji Kualitas Hand Sanitizer Ekstrak Daun Kunyit (Curcuma Longa Linn) Ning Baizuroh; Yahdi Yahdi; Yuli Kusuma Dewi
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 7, No 2 (2020): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v7i2.8744

Abstract

Diare merupakan penyakit yang diakibatkan oleh berbagai jenis bakteri salah satunya bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hand sanitizer  merupakan antiseptik yang dapat membunuh bakteri karena mengandung alkohol dan triklosan. Selain itu, daun kunyit mempunyai senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, terpenoid, triterpenoid tanin, dan saponin, yang berperan sebagai antibakteri. Hand sanitizer ekstrak daun kunyit dibuat dengan cara memberikan variasi volume pada ekstrak daun kunyit sebanyak 0 mL, 5 mL, 10 mL, 15 mL, dan 20 mL, kemudian di uji dengan uii organoleptik, uji viskositas, uji pH dan uji antibakteri. Pada pengujian organoleptik berupa warna, aroma, dan tekstur mendapatkan hasil tertinggi berturut-turut pada ekstrak daun kunyit 10 mL, 10 mL, dan 5 mL. Adapun nilai terendah pada uji organoleptik (warna, aroma, tekstur) berturut-turut ekstrak daun kunyit 20 mL, 0 mL, 0 mL. Uji viskositas paling tinggi pada formulasi 1 (0 mL) dan terendah pada formulasi 5 (20 mL). selanjutnya uji pH menunjukkaan formulasi paling tinggi berada pada formulasi 1 (0 mL) dan 5 (20 mL), terendah pada formulasi 3 (10 mL). Adapun pada uji antibakteri, hand sanitizer ekstrak daun kunyit meunjukkan zona hambat paling besar pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Formulasi terbaik pada kualitas hand sanitizer ekstrak daun kunyit berdasarkan semua jenis uji berturut-turut adalah formulasi 4 (15 mL), formulasi 3 (10 mL), formulasi 2 (5 mL), formulasi 1 (0 mL) dan kualitas terendah hand sanitizer ekstrak daun kunyit adalah formulasi 5 (20 mL). Kata Kunci: Hand sanitizer; ekstrak daun curcuma longa linn; escherichia coli; staphylococcus aureus.
Pemanfaatan Kompos Berbahan Baku Gulma Air untuk Budidaya Tanaman Cabai Rawit Edi Muhamad Jayadi; Yahdi Yahdi; Hunaepi Hunaepi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 5 (2024): September 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.5.1284-1292

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis gulma air Bendungan Batujai sebagai bahan baku kompos terhadap pertumbuhan, dan hasil tanaman cabai rawit. Penelitian ini dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 8 perlakuan, yaitu: (P1): Media tanam dengan tanah biasa, (P2) Media tanam yang dicampur dengan kompos gulma Eceng gondok, (P3) Media tanam dengan kompos gulma Cacabean, (P4) Media tanam dengan kompos gulma Hydrilla, (P5) Media tanam dengan kompos gulma Genjer, (P6) Media tanam dengan kompos berbahan baku gulma Alligator, (P7) Media tanam dengan Eceng gondok, Cacabean, Hydrilla, Genjer, dan Alligator; (P8)  Media tanam dengan pupuk NPK. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, sehingga terdapat 32 unit percobaan. Campuran media tanam menggunakan perbandingan 2.250 gram tanah dan 750 gram kompos berbahan baku gulma air. Penelitian ini dilakukan di lahan sawah petani di Desa Merembu, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, selama bulan Agustus hingga November 2021. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang. Sementara parameter hasil mencakup waktu munculnya bunga, jumlah buah, persentase bunga yang menjadi buah, dan berat buah yang dihasilkan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji Anova dengan tingkat signifikansi sebesar 5%. Apabila ada perbedaan signifikan antara perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tingkat signifikansi yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis gulma air yang digunakan sebagai bahan baku kompos memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit. Selain itu, jenis gulma air juga mempengaruhi hasil tanaman cabai rawit, kecuali persentase bunga yang menjadi buah yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Ethnochemistry-Based E-Module: Does it Effect on Improving Students' Chemical Literacy Citra Ayu Dewi; Yahdi Yahdi; Aulia Sanova
Journal of Innovation in Educational and Cultural Research Vol 5, No 4 (2024)
Publisher : Yayasan Keluarga Guru Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46843/jiecr.v5i4.1584

Abstract

The low chemical literacy of students is caused by the lack of involvement of the socio-cultural environment in chemistry learning. Ethnochemistry is an exciting learning approach today because it can catalyze chemical literacy in chemistry education in the twenty-first century. This study aims to analyze the effectiveness of ethnochemistry using e-modules in improving students' chemical literacy competency. The research method used is quasi-experimental. The research subject is the chemistry education study program at two universities in West Nusa Tenggara. The sampling technique uses cluster random sampling to select the research sample. The sample consisted of two classes, namely class IIA (totaling 100 students), which served as the experimental group, and class IIB (which also consisted of 100 students), which served as the control group. Data collection was carried out using a chemical literacy essay test. Statistical tests, including the ANOVA and N-Gain, were used to evaluate students' chemical literacy. The results showed that 1) ethnochemistry-based e-modules have a significant effect on chemical literacy; 2) The use of e-modules in ethnochemistry can improve students' chemical literacy, especially in solving environmental problems. Thus, this research contributes to integrating E-module content with hybrid-based ethnochemistry as a 21st-century learning innovation. The implication of this study is that students' chemical literacy can be improved through ethnochemistry-based e-modules.