Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Loloh Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Tidak Cukup Kuat Sebagai Minuman Antioksidan Untuk Memperkuat Sistem Pengobatan Tradisional I Nyoman Arsana; A.A.Ayu Sauca Sunia Widyantari; I Ketut Winantra; Ni Putu Dyah Sartika Sari; Ni Made Ayu Suwandani; Ni Ketut Ayu Juliasih
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p7

Abstract

Total Flavonoid dianalisis dengan menggunakan larutan standar quarsetine. Tanin dianalisis dengan menggunakan pereaksi Folin-Denis, aktivitas antioksidan dianalisis dengan menggunakan 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) sebagai sumber radikal bebas, dan antibakteri dengan metode difusi pada Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian menunjukkan total fenol, total flavonoid, tanin, dan IC50 loloh VB berturut-turut adalah 48,78 mgGAE/100g, 107,31 mg QE/100g, 72,24 mg/100 g, dan 3553,37 ppm. Sedangkan VL berturut-turut sebasar 91,40 mgGAE/100g, 305,65 mg QE/100g, 153,43mg/100g, dan 1507,85ppm. Loloh VB maupun VL belum mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri baik bakteri Gram-positif maupun Gram-negatif. Namun, ekstrak etanol VB dan VL mampu menghambat bakteri Gram-positif tetapi tidak bakteri gram negatif. Kesimpulan, loloh VB dan VL belum cukup kuat sebagai minuman yang kaya senyawa bioaktif dengan kemampuan sebagai antioksidan maupun antibakteri.
Loloh Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Tidak Cukup Kuat Sebagai Minuman Antioksidan Untuk Memperkuat Sistem Pengobatan Tradisional I Nyoman Arsana; A.A.Ayu Sauca Sunia Widyantari; I Ketut Winantra; Ni Putu Dyah Sartika Sari; Ni Made Ayu Suwandani; Ni Ketut Ayu Juliasih
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i01.p7

Abstract

Total Flavonoid dianalisis dengan menggunakan larutan standar quarsetine. Tanin dianalisis dengan menggunakan pereaksi Folin-Denis, aktivitas antioksidan dianalisis dengan menggunakan 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) sebagai sumber radikal bebas, dan antibakteri dengan metode difusi pada Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian menunjukkan total fenol, total flavonoid, tanin, dan IC50 loloh VB berturut-turut adalah 48,78 mgGAE/100g, 107,31 mg QE/100g, 72,24 mg/100 g, dan 3553,37 ppm. Sedangkan VL berturut-turut sebasar 91,40 mgGAE/100g, 305,65 mg QE/100g, 153,43mg/100g, dan 1507,85ppm. Loloh VB maupun VL belum mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri baik bakteri Gram-positif maupun Gram-negatif. Namun, ekstrak etanol VB dan VL mampu menghambat bakteri Gram-positif tetapi tidak bakteri gram negatif. Kesimpulan, loloh VB dan VL belum cukup kuat sebagai minuman yang kaya senyawa bioaktif dengan kemampuan sebagai antioksidan maupun antibakteri.
Keragaman Tanaman Obat dalam Lontar “Taru Pramana” dan Pemanfaatannya untuk Pengobatan Tradisional Bali I Nyoman Arsana
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 9 No. 1 (2019): WACANA KRITIS BUDAYA BALI
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2019.v09.i01.p12

Abstract

“Taru Pramana” lontar manuscripts contain medicinal plant diversity and it uses for traditional system of Balinese medicine. This study aims to describe medicinal plant diversity in “Taru Pramana” lontar manuscripts and its use for traditional system of Balinese medicine. This research uses the library method. The unit of analysis is the “Taru Pramana” lontar manuscript from collection of the Leiden University Library, Netherlands. The data obtained were analyzed descriptively. The ethnosystem approach is used as the main approach in this analysis, which places an emic perspective on the relationship between humans and plants. A total of 182 plant species are used in traditional Balinese medicine, mostly including family members of euphorbiaceae, moraceae, fabaceae, and zingiberaceae. The parts used were leaves, shoots, stem bark, roots, fruit, sap, tuber and used them into various forms of medicine such as loloh, boreh, sembar, tutuh, tempel, and ses. The practice of the use of medicinal plants in traditional Balinese medicine is based on a strong belief and knowledge system.
KEARIFAN LOKAL DALAM TATA KELOLA AIR: KAJIAN ETNOEKOLOGI MASYARAKAT ADAT PENGLIPURAN, BANGLI, BALI Juliasih, Ni Ketut Ayu; I Made Gede Anadhi; I Nyoman Arsana; I Putu Sudiartawan; I Putu Gede Suyoga
Vidyottama Sanatana: International Journal of Hindu Science and Religious Studies Vol 10 No 1 (2026)
Publisher : UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/vidyottama.v10i1.5308

Abstract

This article examines the practices of local wisdom in water management by indigenous communities in Penglipuran Village, Bangli, Bali, through an ethnoecological approach. This village is known as one of the traditional villages that still maintains traditional cultural structures and ecological systems in managing natural resources. This research was conducted using a qualitative approach, through participant observation, in-depth interviews, and documentation studies. The findings indicate that water governance in Penglipuran is not merely a technical practice, but rather part of an integrated system of beliefs, social structures, and cultural rituals. It’s deeply rooted in local wisdom structured around the dimensions of cosmos (spiritual and cosmological values), corpus (local ecological knowledge), and praxis (collective action). The water system managed through customary institutions, the preservation of bamboo forests as water catchment areas, and the sacred values of the tirta ritual demonstrate the close relationship between culture and the environment. This study strengthens the idea that local wisdom is a form of adaptive and sustainable ecological knowledge. These findings can contribute to the development of local community-based conservation policies.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelatihan Pembuatan Serbuk Herbal Kunyit di Desa Adat Jelekungkang, Bangli Ni Ketut Ayu Juliasih; I Nyoman Arsana; Anak Agung Komang Suardana; I Made Sumarya; I Putu Sudiartawan; Ni Luh Gede Sudaryati; Anak Agung Ayu Sauca Sunia Widyantari; I Wayan Wahyudi; Putu Lakustini Cahyaningrum; Sang Ayu Made Yuliari
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i3.4270

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat berbasis pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pengenalan keterampilan praktis yang relevan dengan kondisi lingkungan setempat. Desa Adat Jelekungkang yang berada dalam wilayah Desa Dinas Tamanbali, Kecamatan Bangli, memiliki ketersediaan tanaman herbal yang cukup melimpah, namun pemanfaatannya masih terbatas pada penggunaan tradisional sederhana. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengolahan kunyit (Curcuma longa) menjadi serbuk herbal yang praktis dan higienis. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan bendesa adat, perangkat adat, tokoh masyarakat, serta kelompok ibu-ibu Paiketan Krama Istri (PAKIS), dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan pelatihan, dan evaluasi. Pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan serbuk herbal kunyit. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test berupa 10 pertanyaan pilihan ganda untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 61% pada pre-test menjadi 89,5% pada post-test. Peningkatan juga terlihat pada seluruh indikator pertanyaan, terutama pada aspek teknis pengolahan kunyit, seperti proses ekstraksi, pemasakan, dan pengemasan produk. Temuan ini menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik langsung efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman herbal lokal. Kegiatan ini memberikan kontribusi dalam memperkuat pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengolahan bahan herbal berbasis sumber daya lokal. Kegiatan serupa dapat direplikasi pada komunitas lain dengan karakteristik sosial dan sumber daya lokal yang sebanding, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Phytonym Study in Manuscript Usada Rare to Strengthen The Balinese Traditional Medicine System I Nyoman Arsana; Ni Ketut Ayu Juliasih; I Putu Sudiartawan
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 10 No 1 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v10i1.5018

Abstract

The usada rare manuscript is one of the most important sources of Balinese traditional medicine, focusing on child healthcare and integrating knowledge of medicinal plants with spiritual practices. However, the plant names (phytonyms) present challenges for scientific validation, as many names are locally specific, polysemous, or refer to plant mixtures. This study aims to examine the structure and concept of usada rare, analyze phytonyms, and their relevance to modern healthcare. This study employs a qualitative-ethnographic approach through literature studies and interviews. Seven main versions of the usada rare and six supplementary lontar manuscripts containing plant name synonyms were examined. Phytonyms were extracted, cross-referenced, and matched with scientific names using ethnobotanical literature and herbarium databases. Fieldwork involved interviews with traditional healers or knowledgeable individuals. Observations and photographic documentation were used to verify plant identity and uses. Data were analyzed through editing, classification, tabulation, and interpretation, with quantitative summaries of plant part usage. A total of 275 plant species from 81 families were recorded. Fabaceae, Moraceae, and Zingiberaceae were the most represented families. Leaves were the most frequently used plant part, followed by roots and bark. Certain phytonyms, such as triketuka and sindrong, refer to herbal combinations whose full species composition remains unidentified. Overall, usada rare provides an empirical foundation for integrating local medical knowledge with contemporary, culturally sensitive approaches to child healthcare. The study also strengthens Balinese traditional medicine by reinforcing its epistemological legitimacy while opening pathways for interdisciplinary research and sustainable healthcare development.