Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

RAPSODI MAHOGANI DALAM PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA SERUMPUN Puji Santosa
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.277 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.25

Abstract

Makalah ini membahas novel Rapsodi Mahogani karya Rosli Abidin Yahya dalam pemahaman lintas-budaya, yaitu pemahaman budaya pembaca yang berasal dari Jawa (Indonesia) untuk memahami budaya Melayu (Brunei Darussalam) yang tercermin dalam novel Rapsodi Mahogani. Lintas-budaya dipahami sebagai sebuah pertemuan antara dua atau lebih budaya yang berlangsung dengan cepat. Pertemuan dua budaya dapat menyebabkan gagap budaya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman konvensi bahasa dan konvensi budaya dari novel yang dibaca. Novel Rapsodi Mahogani ditinjau dari segi konvensi bahasa terdapat banyak kosa kata Melayu yang dianggap arkais dan untuk memahami maknanya perlu membuka kamus. Ditinjau dari segi konvensi budaya, novel Rapsodi Mahogani tidak mencerminkan kekhasan budaya Melayu yang saleh mengerjakan agama Islam dengan baik. Bahkan, dalam novel ini terasa jauh mengimpor budaya Barat, terutama Yunani dan Inggris. Sebagai hasil dari pertemuan budaya Barat, yang identik dengan budaya modern, dengan budaya Timur, yang masih irasional dan alami, perdaban budaya adat atau budaya lokal setempat menjadi musnah atau hancur.This paper discussed about Rapsodi Mahogani, a novel by Rosri Abidin Yahya in intercultural understanding of reading habit understanding of readers from Java (lndonesia) to understand Malay culture (Brunei Darussalam) as reflected in the "Rapsodi Mahogani". The intercultural was understood as a fast meeting point of one or more culture. The two meeting culture could make cultural distortion understanding. lt was caused by the lack of language and cultural convention understanding from the novel read. The "Rapsodi Mahogani" when was reviewed from language convention showed many Malay archaic vocabulary. To understand those vocabularies meaning, then, it was needed dictionary. Reviewed from cultural convention, the "Rapsodi Mahogani" did not reflect specific Malay culture that was identical with obeying in Islam religious service. The novel, even, seemed importing Western culture, particularly Greek and England. As result of Western culture meeting which was identical with modernity and Eastern culture which was still irrational and natural, traditional cultural civilization or local culture became eliminated or ruined.
KAIIAN INTERTEKSTUAL TIGA PUISI TENTANG NABI IUTH BERSAMA KAUM SODOM DAN GOMORA Puji Santosa; Djamari Djamari
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4208.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.63

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara intertekstual tiga puisi modern Indonesia yang berisi kisah tentang Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora, yaitu puisi "Sodom dan Gomora" Subagio Sastrowardojo, "Balada Nabi Luth AS" Taufiq Ismail, dan "Apakah Kristus Pernah?" Darmanto Jatman. Berdasarkan prinsip intertekstual, ketiga puisi modern Indonesia tersebut dikaji dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks hasil transformasi dengan teks lain yang diacunya, yakni kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang termuat dalam Alkitab: Kitab Kejadian dan Alquran. Hasil kajian membuktikan bahwa ketiga teks puisi modern Indonesia itu merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang terdapat dalam Alkitab, Alquran, Cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama, dan Qishashul Anbiya. Dengan metode membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan diperoleh makna bahwa ketiga penyair sastra modern Indonesia tersebut secara kreatif estetis mentransformasikan kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora ke dalam puisi mereka yang benilai sebagai teladan kesabaran, ketabahan, ketawakalan, dan kerelaan ketika menghadapi berbagai cobaan hidup yang dideritanya, termasuk masalah penyimpangan seksual kaum Sodom dan Gomora sehinggi mendapatkan azab dari Tuhan: hujan belerang dan api serta bumi dijungkir-balikan. This study examines the intertextual three modern Indanesian poetry which contains the story of Prophet Luth with The Sodom and Gommorah the poem "Sodom and Gommorah" Subagio Sastro Wardojo, "Ballad of Prophet Luth AS" Taufiq Ismail, and "Did Christ Ever?" Darmanto Jatman. Based on the principle of intertextual, three modern lndonesian poetry is studied by comparing, aligning, and contrast the results of the transformation of the text with other texts to which it refers, namely the story of Prophet Luth with the Sodom and Gommorah is contained in the Bible: the Book of Genesis and the Quran. Result of the study prove that the three texts of modern lndonesian poetry was a mosaic, quotations, absorption, and transformation of texts with the story of Prophet Luth's tribe contained Sodom and Gommorah in the Bible, the Quran, the Bible stories of the Old Testament, and Qishalul Anbiya. .With the method of comparing, aligning, and contrast is obtained meaaning that three poets of modern Indonesian literature is aesthetically creatively transform the story of Prophet Luth with The Sodom and Goommorah into their poetry as a valuable example of patience, fortitude, resignation, and compliance when faced with various trials of life he sufferer, including the issue of sexual deviance Sodom and Gomorrah so get Wrath of the Lord rained brimstone and fire and earth turned upside-reversal.
FUNGSI SOSIAL KEMASYARAKATAN TEMBANG MACAPAT (COMMUNITY SOCIAL FUNCTIONS OF MACAPAT) Puji Santosa
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.781 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.131

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan dan mendekripsikan fungsi sosial kemasyarakatan tembang macapat. Masalah penelitian adalah bagaimanakah tembang macapat difungsikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Seiring dengan tujuan dan masalah itu, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan ditopang teori fungsi sastra yang bertolak dari tesis dan kontratesis Horatio, dulce dan utile. Hasil penelitian membuktikan bahwa tembang macapat dari awal keberadaannya, abad XIV Masehi, hingga kini dimanfaatkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, antara lain, sebagai hiburan, estetika, pendidikan, pementasan tradisional, sarana surat-menyurat, senandung teman bekerja, mantra penolak bala, upacara temu temanten adat Jawa, upacara kegiatan Pangestu, dan filosofi siklus kehidupan. Atas dasar fungsi sosial kemasyarakat tersebut menjadikan tembang macapat sebagai karya sastra yang begitu urgen dalam kehidupan manusia sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan. This study aims to reveal the social and decrypt functions macapat. The research problem is how macapat functioned in social life. Along with the purpose and the problem was, the method used is a qualitative method supported by the theory of functions of literature that departed from the thesis and kontratesis Horatio, dulce and utile. The research proves that macapat from the beginning of its existence, the fourteenth century AD, until now used in social life, among others, as entertainment, aesthetics, education, staging traditional, means of correspondence, humming a friend works, spells repellent reinforcements, ceremonial gathering temanten Javanese tradition, ceremony Pangestu activities, and philosophy of the life cycle. On the basis of the social function of the society, it makes macapat as a literary work that is so vital in human life as a spectacle, guidance, and order.