Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal EnviScience (Environment Science)

Efek Biolarvasida Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) terhadap Resistensi Larva Aedes aegypti Era Fazira; Mimatun Nasihah; Nur Lathifah Syakbanah
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol 5, No 2 (2021): Implementing the Quality of Environmental Health as a 2030 Sustainable Developme
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/5ijev.v5iss2.287

Abstract

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Larvasida nabati daun pandan wangi dapat mengakibatkan toksisitas larva nyamuk oleh karena itu dilakukan pemutusan mata rantai penularan penyakit DBD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas larvasida nabati ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) terhadap resistensi larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan menggunakan metode eksperiment dengan rancangan posttest only with control group design. yakni menggunakan larva Aedes aegypti instar IV sebanyak 200 ekor dalam 5 perlakuan 4 kali ulangan. Uji analisis statistik one way ANOVA didapatkan nilai F hitung sebesar 0,667 dan F tabel sebesar 3,84. hasil persentase menunjukkan Ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) tidak  memberikan pengaruh terhadap kematian larva nyamuk Aedes aegypti.  Konsentrasi 5% dan 20% ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dapat membunuh 1%  larva nyamuk Aedes aegypti. Konsentrasi 10%, 15% dan kontrol tidak dapat membunuh nyamuk larva Aedes aegypti. Kata Kunci: Daun Pandan Wangi, Larvasida Nabati, Aedes aegypti. 
Spatial Distribution of Leptospirosis and Land Use in Bantul District, 2010-2018 Nur Lathifah Syakbanah
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol 4, No 1 (2020): Enhancing the quality of health and environment to reach the "Global Sustainable
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/4ijev.v4iss1.124

Abstract

Land use is an important environmental factor in the dynamics of human health. In the case of leptospirosis, environmental transmission cycles are caused by rat transition, environmental changes and populations at risk. Utilization of GIS-based spatial analysis may help detecting distribution patterns of leptospirosis cases, allocating resources and planning effective control and surveillance programs in endemic areas. This study aims to analyze the spatial distribution of leptospirosis based on land use and stream flow in Bantul District, 2010-2018. This ecological study was conducted in Bantul District, Yogyakarta for 9 years. Spatial analysis overlays processed data on leptospirosis cases per village and land use maps of 2016 using QGIS 3.0. Spatial distribution of 12 of high leptospirosis villages (18-35 cases) are in residential areas, tributaries, croplands, irrigated fields, rain-fed rice fields, and plantations. Those villages was crossed by major river basin which is potentially as transmission media of leptospirosis cases after heavy rainfall. It is suggested to increase the Early Awareness and Alert (EAA) system by active surveillance of early case finding from the government and endemic villagers.
Analisis Komparasi Penggunaan Biokoagulan dari Ekstrak Biji Kelor dan Biji Asam Jawa pada Limbah Cair Pabrik Tahu APL Nglebur Lamongan Adlhatul Ro'fa; Marsha Savira Agatha Putri; Nur Lathifah Syakbanah
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol 7, No 1 (2023): Reviewing Environmental Qualities that Enhance the Human Health Quality
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/7ijev.v7iss1.407

Abstract

Pembuangan limbah cair tahu ke lingkungan tanpa dilakukan pengolahan menyebabkan perubahan lingkungan secara fisik, kimia dan biologis yang dapat menunggu keseimbangan serta mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan atau efektivitas dan dosis optimum penurunan konsentrasi parameter BOD, COD, TSS dan kekeruhan dengan biokoagulan biji kelor (Moringa oleifera) dan biji asam jawa (Tamarindus indica). Variasi dosis koagulan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu 0 g, 1 g, 3 g dan 5 g. Pengambilan sampel limbah cair pabrik tahu dilakukan di Pabrik APL Ngeblur Kedungpring Lamongan. Karakteristik awal limbah cair pabrik tahu menunjukkan konsentrasi BOD, COD, TSS dan kekeruhan yang belum memenuhi syarat baku mutu limbah cair pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor  5 Tahun 2014 sehingga perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum di buang ke badan air. Penelitian ini dilakukan dengan pengadukan cepat selama 3 menit, pengadukan lambat selama 15 menit menggunakan magnetic stirrer. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dengan hasil penurunan sebesar 5 gram mampu menurunkan >50% nilai BOD 87% dan COD 53%, serta menurunkan <50% nilai TSS dan kekeruhan pada limbah cair industri tahu dari biokoagulan biji kelor (Moringa oleifera). Sedangkan dosis optimum penggunaan biokoagulan biji asam jawa (Tamarindus indica) sebesar 5 gram mampu menurunkan >50% nilai BOD 51% dan TSS 52%, serta menurunkan <50% nilai COD dan kekeruhan pada limbah cair pabrik tahu. Kata Kunci: Biokoagulan alami, koagulasi-flokulasi, limbah cair industri tahu.
Status Mutu Kualitas Air Sungai Kaliotik Saat Musim Kemarau dengan Metode Storet Akhmad Syaifuddin Haqi; Aniriani, Gading Wilda; Muhammad Hanif; Nur Lathifah Syakbanah
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol. 8 No. 2 (2024): Challenges and Opportunities Digital Health: Addresssing Climate Change, Public
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jev.v8i2.761

Abstract

Tingginya aktivitas pemukiman dan kegiatan pasar disekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaliotik akan menimbulkan permasalahan pencemaran lingkungan. Metode storet digunakan karena dapat membantu menganalisis sumber pencemaran air sungai dari 3 lokasi pengambilan sampel air (stasiun 1 mewakili pemukiman, stasiun 2 mewakili kawasan industri (pasar ikan) dan stasiun 3 mewakili sektor pertanian), dimana lokasi-lokasi tersebut mewakili kegiatan masyarakat disekitar DAS. Status mutu air dibagi menjadi empat kriteria, yaitu memenuhi baku mutu, tercemar ringan, tercemar sedang, dan tercemar berat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas air Sungai Kaliotik menggunakan metode storet. Metode penelitian ini menggunakan metode storet yang mengacu pada KepmenLHK No. 115 Tahun 2003. Penghitungan merode storet menggunakan data komposit dari stasiun 1, 2, dan 3. Analisis penelitian ini menggunakan deskritif kuantitatif, dengan observasi lapangan dan analisis hasil laboratorium. Parameter yang diuji meliputi suhu, TSS, TDS, kekeruhan, pH, DO, COD, BOD, nitrat, amoniak, fosfat. Pengambilan sampel pada musim kemarau memiliki akurasi yang lebih baik dari pada musim hujan, karena polutan tidak terdipersi oleh air hujan. Penentuan status mutu air Sungai Kaliotik menggunakan metode storet pada semua parameter, dengan jumlah semua skor adalah -144. Artinya Sungai Kaliotik mempunyai status mutu yang buruk untuk peruntukkan golongan C (PP20/1990).  
Treatment Biokoagulan Serbuk Biji Kelor (Moringa Oleifera) sebagai Penjernih Air Tanah Desa Tunggunjagir Lamongan Nurjannah, Farah Yesi; Syakbanah, Nur Lathifah; Wicaksono, Rizky Rahadian
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol. 5 No. 2 (2021): Implementing the Quality of Environmental Health as a 2030 Sustainable Developm
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jev.v5i2.282

Abstract

Air tanah merupakan sumber daya yang penting bagipemenuhan kebutuhan hidup setiap manusia. Meningkatnya air dipengaruhi oleh semakin berkembangnya kegiatan atau usaha yang memerlukan air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penggunaan biokoagulan serbuk biji kelor (moringa oleifera) untuk perbaikan kualitas air tanah di Desa Tunggunjagir Lamongan. Treatment serbuk biji kekor 0,5 mg menggunakan metode jar test dalam 500 ml air sampel yang diambil dari 4 titik sumur sendang. Kekeruhan memiliki rata rata penurunan nilai kekeruhan sebesar 38%, penurunan nilai TDS sebesar 4%, kenaikkan nilai pH sebesar 6%, dan kenaikan nilai nitrat sebesar 813%. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan serbuk biji kelor (moringa oleifera) mampu meningkatkan kualitas fisik air tanah,tetapi ada satu parameter yang melebihi standar baku mutu yakni nitrat sedangkan untuk range nilai parameter lainnya tidak melebihi standart baku mutu.Kata kunci : Biokoagulan, moringa oleifera, jar test, air tanah.