Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS PERILAKU BULLYING DI SDN TAMBAKSUMUR DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI Fadhilah Rahmah Salsabila; Isa Anshori
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/jgpxfb76

Abstract

Jenis kekerasan yang sering muncul di lingkungan sekolah dasar adalah perilaku bullying. Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena bullying di SDN Tambaksumur melalui perspektif sosiologis dan psikologis. Pendekatan sosiologi digunakan untuk memahami bagaimana lingkungan sosial, struktur interaksi, dan dinamika kelompok di sekolah berperan dalam memunculkan perilaku bullying. Sementara itu, perspektif psikologis menyoroti faktor individu seperti kepribadian, keadaan emosional, dan pola asuh yang memengaruhi kecenderungan anak melakukan tindakan agresif terhadap teman sebaya. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa bullying terjadi akibat kombinasi faktor sosial berupa hierarki sosial, ketimpangan status antar siswa, serta lemahnya kontrol sosial di lingkungan sekolah. Selain itu, faktor psikologis seperti rendahnya empati, kebutuhan untuk mendominasi, dan minimnya dukungan emosional dari keluarga turut memperkuat munculnya perilaku tersebut. Oleh karena itu, penanganan bullying di sekolah dasar perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mengintegrasikan pendekatan sosiologis dan psikologis agar tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta terbuka bagi seluruh siswa. Upaya penanganan bullying di sekolah belum berjalan secara sistematis, masih bersifat reaktif seperti menegur setelah kejadia.
Identitas Ekonomi Generasi Z Melalui Fenomena Side Hustle Culture Pada Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Shofiatul Habibah; Isa Anshori
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2932

Abstract

Studi ini mengkaji identitas ekonomi Generasi Z melalui fenomena budaya kerja sampingan di kalangan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Kecemasan akademik muncul akibat meningkatnya jumlah mahasiswa yang terlibat dalam pekerjaan sampingan digital dan non-digital, yang tidak hanya bertujuan untuk menambah penghasilan tetapi juga membentuk citra diri, gaya hidup, dan orientasi ekonomi baru mereka. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana identitas ekonomi generasi muda dibangun di tengah tekanan akademik, kebutuhan finansial, dan peluang digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen kegiatan kerja sampingan mahasiswa. Temuan menunjukkan bahwa kerja sampingan menjadi media untuk membangun identitas ekonomi yang menekankan kemandirian dan fleksibilitas. Terdapat pergeseran nilai dari sekadar mencari uang tambahan menjadi menciptakan "merek pribadi", dan mahasiswa membangun identitas ganda sebagai mahasiswa sekaligus pekerja kreatif dalam ekosistem ekonomi digital.
Strategi Guru Wali Kelas SMAN 1 Sugihwaras dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Mira Rahmadhani; Isa Anshori
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3558

Abstract

Perilaku menyimpang siswa merupakan tantangan yang dihadapi sekolah dalam membentuk karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang diterapkan guru wali kelas SMAN 1 Sugihwaras dalam mengatasi perilaku menyimpang siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap guru wali kelas SMAN 1 Sugihwaras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan meliputi, Pendekatan Personal Strategi utama, Sistem Penanganan Berjenjang, sanski edukatif, Kolaborasi dengan Berbagai Pihak . Faktor pendukung keberhasilan strategi adalah komunikasi yang baik antara guru dan siswa, dukungan manajemen sekolah, serta partisipasi orang tua. Sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu guru, pengaruh lingkungan pergaulan siswa, dan minimnya kesadaran sebagian orang tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran guru wali kelas sangat strategis dalam mengatasi perilaku menyimpang siswa melalui pendekatan yang holistik dan kolaboratif.
Strategi Rumah Tangga Berpendapatan Rendah Menghadapi Kenaikan Harga Pangan Pokok di Desa Sumorame Kabupaten Sidoarjo Musta, Muhammad Fawaidul Musta'in; Isa Anshori
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Masyarakat dan Desa
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47431/jmd.v6i2.776

Abstract

Kenaikan harga pangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang terus menanjak dan semakin menekan kemampuan beli rumah tangga berpendapatan rendah di Indonesia. Data inflasi pangan 2024–2025 memperlihatkan bahwa kenaikan harga pada komoditas pokok, terutama beras, gula, dan telur menjadi pemicu utama inflasi, terutama di kawasan pedesaan yang sangat bergantung pada dinamika pasar lokal. Situasi ini membuat rumah tangga miskin berada dalam posisi rentan karena sebagian besar pendapatan mereka tersedot untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana rumah tangga berpendapatan rendah di Desa Sumorame, Kabupaten Sidoarjo, merespons tekanan kenaikan harga pangan pokok. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan penelusuran dokumentasi guna menangkap pengalaman hidup serta pola adaptasi yang dijalankan keluarga. Temuan penelitian menunjukkan adanya tiga pola strategi utama: strategi konsumsi, strategi pendapatan, dan strategi sosial. Pada strategi konsumsi, rumah tangga cenderung mengurangi porsi makan atau mengganti menu dengan bahan pangan yang lebih murah. Pada ranah pendapatan, banyak keluarga menambah pekerjaan sampingan atau menjalankan usaha berskala kecil untuk menutup kekurangan biaya hidup. Sementara itu, strategi sosial tercermin dari kuatnya solidaritas komunitas desa, seperti praktik pinjaman informal, gotong royong, dan dukungan keluarga. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan rumah tangga miskin dibangun melalui perpaduan antara upaya ekonomi dan pemanfaatan modal sosial masyarakat. Kata Kunci: Strategi Rumah Tangga, Kenaikan Harga Pangan, Modal Sosial, Strategi Penanggulangan
Implementation of Multicultural Education in Islamic Boarding School-Based Education: A Study of Student Dormitory Life at Darul Fikri Islamic Boarding School in Sidoarjo Aulia Rahma; Isa Anshori
Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Yayasan Tahfidzul Qur'an Al-Fawwaz

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70938/judikis.v3i1.125

Abstract

Multicultural education is an essential need in educational environments characterized by social and cultural diversity, including Islamic boarding schools (pesantren). As religious-based educational institutions, pesantren possess distinctive characteristics in managing students from diverse regional, cultural, and backgrounds. This study aims to examine the implementation of multicultural educational values at Darul Fikri Islamic Boarding School in Sidoarjo, focusing on students’ dormitory life, the role of educators, and the challenges encountered in the process. This study employed a qualitative case study design. Data were gathered through observation and in-depth interviews with administrators and educators, then analyzed using data condensation, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that multicultural values are internalized through heterogeneous dormitory life and structured mentoring. Specifically, the study finds that strategic room allocation, which mixes students across classes, effectively prevents social exclusivism. The dual role of educator, particularly Ustadz Kardi as both supervisor and administrator, ensures consistent modeling of tolerance. Despite regional language barriers, continuous guidance enables students to adapt and build inclusiveness, as natural social practices in dormitories are more effective than formal instruction in fostering multiculturalism.
Makna Gadget Dalam Kehidupan Sosial Di Keluarga Muhammad Hafidz Alzavier Agda; Isa Anshori
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.3045

Abstract

Penelitian ini menyoroti fenomena penggunaan gadget dalam keluarga modern serta konsekuensinya bagi pola interaksi sosial di dalam rumah. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan bagaimana anggota keluarga memaknai penggunaan gadget dan mengidentifikasi perubahan dinamika sosial yang muncul sebagai akibatnya. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi kualitatif, dengan teknik wawancara mendalam terhadap enam anggota keluarga dari beberapa rumah tangga berbeda (misalnya Ayah, Ibu, dan dua anak pada dua keluarga) untuk memperoleh pemahaman langsung tentang pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Temuan awal Ini memperlihatkan bahwa gadget dipandang sebagai sarana penting untuk komunikasi praktis dan kebutuhan pekerjaan (bermakna secara instrumental), namun penggunaannya juga memunculkan gejala seperti “phubbing” (mengabaikan lawan bicara karena fokus pada ponsel) dan berkurangnya waktu interaksi tatap muka. Kondisi ini menimbulkan jarak emosional meskipun anggota keluarga berada dalam satu ruang fisik. Analisis teoritis mengaitkan Hasil temuan tersebut dengan teori tindakan sosial Max Weber membandingkan rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai dalam praktik penggunaan gadget serta konsep fenomenologi dunia kehidupan Alfred Schutz untuk menjelaskan bagaimana teknologi membentuk kembali relasi intersubjektif dalam keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna penggunaan gadget di lingkungan keluarga bersifat dinamis, terus dinegosiasikan antara kebutuhan fungsional dan kebutuhan kedekatan emosional. Oleh karena itu, disarankan agar keluarga menerapkan batasan digital yang jelas demi mengoptimalkan manfaat teknologi sekaligus menjaga keharmonisan sosial.
Dari Meja Layanan ke Dunia Profesional: Pembentukan Kesiapan Kerja melalui Interaksi Pelanggan dan Tim di PT. Kopi Mesra Abadi di Surabaya Ferdiansyah Satya Adinata; Isa Anshori
YASIN Vol 6 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i2.9269

Abstract

Work readiness is an important aspect that the younger generation needs to possess before entering the workforce, especially in facing the dynamics of the service industry that demand technical skills and interpersonal abilities. Internship programs serve as one of the effective learning means in shaping work readiness through direct experience in a professional environment. This study aims to analyze the process of forming the work readiness of internship participants through interactions with customers and team-work dynamics at PT. Kopi Mesra Abadi Surabaya. This study employed a qualitative approach with a field research method. Data were collected through in-depth interviews with senior employees, participatory observation during operational activities, and documentation to strengthen the research findings. The analysis based on symbolic interactionism theory shows that work readiness is formed through a process of interpreting symbols and repeated social experiences. The results show that the internship program plays an important role in shaping participants’ work readiness through social interaction in the workplace. Internship participants not only learned technical skills in café service, but also developed interpersonal communication skills, teamwork, the ability to adapt to a dynamic work rhythm, and a professional attitude in serving customers. Guidance from senior employees and experience in interacting directly with customers became the main factors supporting this process. These findings confirm that the café service counter functions not only as a space for work practice, but also as a space for the formation of professional identity and work readiness that is adaptive to the demands of the working world. The implications of this study show the importance of integrating internship programs more systematically into higher education curricula, as well as providing a reflective and collaborative work environment to strengthen the formation of internship participants’ work readiness.