Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANG DENGAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PENYAKIT MENULAR DI SMC RS TELOGOREJO Noer'aini, I'ien; Yunita, Ajeng; Fatmawati, Ari; Sari, Arni Ratna
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 8, No 3 (2016): Edisi Khusus September 2016
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen keperawatan merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan produktif  dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Fungsi manajemen keperawatan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Perawat sebagai petugas kontak langsung dengan pasien berpotensi terjadinya infeksi nosokomial. Pelaksanaan standar asuhan keperawatan merupakan inti dari praktek keperawatan, perlu didukung dengan fungsi manajemen keperawatan yang baik agar dapat menjamin mutu pelayanan keperawatan.Jenis Penelitian survey, dengan pendekatan diskriptif analitik jumlah sampel penelitian 123 perawat pelaksana yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Variabel bebas fungsi manajemen kepala ruang (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan) serta variabel terikat pelaksanaan asuhan keperawatan pasien penyakit menular pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisa dengan uji chi square dan regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara fungsi manajemen keperawatan perencanaan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan pasien penyakit menular nilai p value = 0,002, pengorganisasian nilai p value = 0,000, pengarahan nilai p value = 0,000 dan pengawasan nilai p value = 0,000. Ada hubungan bersama–sama antara fungsi manajemen keperawatan perencanaan dengan p value 0,002  (p0,05) dengan Exp B=3,591 dan fungsi manajemen keperawatan pengawasan dengan p value 0,001  (p0,05) dengan Exp B=34,000.Saran untuk meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada penderita penyakit menular diperlukan pelatihan tentang manajemen keperawatan terutama fungsi perencaaan dan pengawasan agar dapat meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada penderita penyakit menular.
KOPING PERAWAT TERHADAP STRESS KERJA DI RUANG RAWAT INAP (STUDI DI RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG) I’ien Noer’aini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2013: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.113 KB)

Abstract

Stres merupakan bagian hidup  manusia, karena stres akan membuat individu berkembang dan berubah. Setiap orang dalam kehidupan pernah mengalami suatu peristiwa dan pengalaman yang mengakibatkan stres. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) stres adalah sebagai suatu hubungan yang khas antara individu dan lingkungannya yang mengancam atau melampaui kemampuannya untuk mengatasinya sehingga membahayakan kesejahterannya.  Sumber stres atau yang disebut stressor adalah suatu keadaan, situasi, proyek atau individu yang dapat menimbulkan stres. Adapun stressor bisa berasal dari orang yang terkena stres sendiri (internal sources) atau dari luar ( exsternal sources) yang bisa ada pada keluarga dan lingkungan baik lingkungan kerja maupun lingkungan sekeliling kita. (Barbara,JS,1997).
KOPING PERAWAT TERHADAP STRESS KERJA DI RUANG RAWAT INAP BOUGENVILE RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG TAHUN 2OO4 M Fatkhul Mubin; I 'ien Noer Aini
JURNAL LITBANG Vol 2, No 3 (2005): Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian
Publisher : JURNAL LITBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.829 KB)

Abstract

Abstract Stress is typical correlation between individual and his environment so it endangers his Prosperity. Sources of stress (stressor) are an occurrence, situation, project or individual able to cause stress. Stressor can come from one who hit by stress (internal resources) or from outside (external sources) both on environment and family. Nurses work fully responsibility to people safety so this work can become stressor Researched by Grawt and friends (1989) in English concerning stressor in nurse treatment worked in many different field determine that 67%o Respondents expressed the ratio between service and source had unbalanced, 34?6 express work Finishing deadline determined by others and not himself. So it needed soul (coping) defense mechanism, as problem preventive process at individual to manage the stress condition. This research aims to know nurse was coping used in overcoming the effect of their work Nurse's perception about work stress and this study also identified nurse's way overcoming stress Emerging in her work. Cross sectional study using survey method was applied in this study, with aims to know nurse coping to work stress in Bougainville room Tlogorejo Hospital Semarang. The nurse Research subject counted 67 people with taken sample was to represent each floor at Bougainville room taken  by random proportional depend on the amount of nurse percentage each floor The Bougainville Room consist of 4 floor The  Reach result indicates .that : a. At nurse frequency distribution depend on perception of work stressor could be known that most nurse 6 7 (9 7 %o) expressing low s tress or. b. At nurse distribution depend on coping focusing at problem could be identified most responder have coping depend on positive trouble solving 100%. c. At Nurse distribution depend on emotion arrangement coping could be described that the most responder have coping de end on positive   emotion arrangement ( I 0 0%o). Suggestion given (a) a requirement to improve good employees between colleague and other health team, (b) require to improve treatment ability both skill and or, knowledge, (c) Establishment conducive work environment, (d) evaluate and follow-up if there is problem of nurse. Key word: stress, nurse, coping
HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANG DENGAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PENYAKIT MENULAR DI SMC RS TELOGOREJO I'ien Noer'aini; Ajeng Yunita; Ari Fatmawati; Arni Ratna Sari
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 1, No 2 (2016): Edisi Khusus September 2016
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.719 KB)

Abstract

Manajemen keperawatan merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan produktif  dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Fungsi manajemen keperawatan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Perawat sebagai petugas kontak langsung dengan pasien berpotensi terjadinya infeksi nosokomial. Pelaksanaan standar asuhan keperawatan merupakan inti dari praktek keperawatan, perlu didukung dengan fungsi manajemen keperawatan yang baik agar dapat menjamin mutu pelayanan keperawatan.Jenis Penelitian survey, dengan pendekatan diskriptif analitik jumlah sampel penelitian 123 perawat pelaksana yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Variabel bebas fungsi manajemen kepala ruang (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan) serta variabel terikat pelaksanaan asuhan keperawatan pasien penyakit menular pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisa dengan uji chi square dan regresi logistik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara fungsi manajemen keperawatan perencanaan dengan pelaksanaan asuhan keperawatan pasien penyakit menular nilai p value = 0,002, pengorganisasian nilai p value = 0,000, pengarahan nilai p value = 0,000 dan pengawasan nilai p value = 0,000. Ada hubungan bersama–sama antara fungsi manajemen keperawatan perencanaan dengan p value 0,002  (p<0,05) dengan Exp B=3,591 dan fungsi manajemen keperawatan pengawasan dengan p value 0,001  (p<0,05) dengan Exp B=34,000.Saran untuk meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada penderita penyakit menular diperlukan pelatihan tentang manajemen keperawatan terutama fungsi perencaaan dan pengawasan agar dapat meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada penderita penyakit menular.
PENGARUH MOTIVASI PERAWAT TERHADAP KEPATUHAN CUCI TANGAN SEBELUM DAN SESUDAH TINDAKAN KEPERAWATAN PADA PERAWAT DI RUANG PRABU KRESNA, RUANG NAKULA 1, RUANG PARIKESIT RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG Winda Ayu Sukmarwati; I’ien Noer’aini; Taufiq Priyo Utomo
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 2, No 4 (2016): Juni 2016
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.554 KB)

Abstract

Infeksi nosokomial yang sekarang dikenal HAIs (Healthcare – Associated Infections) merupakan salah satu masalah utama dalam pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2009 mengatakan angka kejadian HAIs sebesar 5 – 15 % di seluruh dunia dan diperkirakan meningkat setiap tahunnya sebesar 2 %, terlebih di negara berkembang salah satunya adalah Indonesia.Cuci tangan adalah tindakan pengendalian infeksi oleh seluruh petugas kesehatan. Beberapa penelitian di rumah sakit indonesia ke pasien menyatakan tindakan cuci tangan belum 100%. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan cuci tangan terdiri dua yaitu eksternal dan internal. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi di rumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi perawat terhadap kepatuhan cuci tangan perawat di RSUD K.R.M.T wongsonegoro semarang.Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional, dengan pendekatan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 45 responden. Berdasarkan uji statistik Chi Square didapatkan nilai signifikan p-value 0.903, sehingga Ha ditolak dengan kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara pengaruh motivasi perawat terhadap kepatuhan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan di Ruang Prabu Kresna, Ruang Nakula 1, Ruang Parikesit RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang. Disarankan kepada perawat untuk memaksimalkan dan memperhatikan cuci tangan.
PERBEDAAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS DAN PASIEN UMUM TENTANG MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN UNIT RAWAT INAP KELAS 3 RSUD DR. H SOEWONDO KENDAL Ema Fitriyanah; I’ien Noer’aini; Taufiq Priyo Utomo
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1300.346 KB)

Abstract

Mutu pelayanan keperawatan merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan kesehatan dan menjadi faktor penentu citra institusi pelayanan kesehatan.Salah satu indikator dari mutu pelayanan keperawatan adalah apakah pelayanan keperawatan tersebut berkualitas memuaskan pasien atau tidak. Berdasarkan hasil survey Depkes RI tahun 2008 di 27 Rumah Sakit kabupaten dan kota di Jawa Tengah, pelayanan kesehatan khusus nya keperawatan masih jauh dari apa yang diharapkan oleh pasien. Penelitian oleh Putra (2015) menyatakan 43,7% pasien BPJS tidak puas dengan pelayanan keperawaan di ruang rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran perbedaan tingkat kepuasan pasien BPJS dan pasien umum tentang mutu pelayanan keperawatan berdasarkan karateristik reliability, responsiveness, assurance, emphaty dan tangibles di unit rawat inap kelas 3 RSUD dr. H Soewondo Kendal. Rancangan penelitian menggunakan Deskrisptif Analitik dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel 86 responden dengan teknik Quota Sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien BPJS dan pasien umum yang menerima pelayanan keperawatan di satu ruang rawat inap kelas III RSUD dr. H Soewondo Kendal. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kepuasan pasien BPJS dan pasien umum tentang mutu pelayanan keperawatan (karateristik reliability dengan p value= 0,013). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kepuasan pasien BPJS dan pasien umum tentang mutu pelayanan keperawatan (karateristik Assurance (p value= 0,10), Tangibles (p value= 0,107), Emphaty (p value= 0,107), dan Responsiveness (p value= 0,485)). Hasil analisis uji beda independent t test dari kelima karateristik tersebut didapatkan p value= 0,035<0,05 sehingga dapat disimpulkan tedapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kepuasan pasien BPJS dan pasien umum tentang pelayanan keperawatan di unit rawat inap kelas 3 RSUD dr. H Soewondo Kendal. Rekomendasi penelitian ini adalah agar perawat lebih meningkatkan mutu pelayanan keperawatan khusus nya yang berakitan dengan responsiveness supaya kepuasan pasien juga meningkat.
Pemberdayaan Caregiver Pada Program Edukasi C-Nut (Cairan & Nutrisi) Untuk Mencegah Kegawatan Pada Pasien Hemodialisis Danny Putri Sulistyaningrum; I’ien Noer’aini; Gilang Rizki Al Farizi; Rusmiyati
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 5 No. 1 (2023): Juni : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hemodialisis merupakan terapi pengganti ginjal bagi pasien chronic kidney disease stage v. Meskipun hemodialisis mampu membuang kelebihan cairan dan sisa metabolisme, namun banyak pasien hemodialisis tidak patuh terhadap dietnya. Hal ini ditandai tingginya keluhan hipervolemi karena pasien maupun caregiver khususnya keluarga tidak paham dan kesulitan dalam manajemen cairan maupun nutrisi. Sementara upaya pelayanan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan caregiver belum maksimal. Keberhasilan manajemen cairan maupun nutrisi sangat dipengaruhi oleh peran caregiver. Baik pelayanan kesehatan maupun keluarga merupakan caregiver yang mampu mendukung pasien hemodialisis dalam memahami manajemen diet ginjal dan strategi pembatasan cairan. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pelatihan berupa edukasi cairan dan nutrisi kepada caregiver pasien hemodialisis. Strategi kegiatan ini melalui pemberian pelatihan sebanyak 2 kali dengan pre – posttest. Pelatihan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat diperoleh bahwa terdapat peningkatan rerata tingkat pengetahuan caregiver terhadap edukasi C-Nut (Cairan dan Nutrisi) untuk mencegah kegawatan pada pasien hemodialisis.
HUBUNGAN LAMA HEMODIALISA DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PASIEN YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA Sulistyaningrum, Danny Putri; I'ien Noer'aini; Naylul Izza
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 6 No. 1 (2024): Januari : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v6i1.911

Abstract

Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal bagi pasien dengan diagnosa medis gagal ginjal kronik, utamanya pada stadium akhir. Terapi ini dilakukan sepanjang hidup sehingga pasien rentan mengalami ketidakseimbangan masalah baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual. Lamanya terapi hemodialisa memberikan respon yang berbeda – beda pada setiap pasien. Timbulnya perasaan kesepian akibat kurangnya support keluarga, kekhawatiran yang berlebihan terhadap komplikasi, bahkan ansietas dan stress terhadap ancaman kematian. Apabila tingkat spiritual pasien rendah, maka pasien tidak akan mendapatkan tujuan hidup dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama hemodialisa dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang menjalani terapi hemodialisa. Desain penelitian ini cross sectional yang melibatkan 62 responden dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis statistic menggunakan uji spearman rank menunjukkan bahwa ada hubungan lama hemodialisa dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien yang menjalani terapi hemodialisa (p= 0.000).
Pembentukan Srikandi Senam Abdominal Streching dengan Kompres Hangat Pada Siswa yang Mengalami Nyeri Menstruasi Di SMA Negeri 6 Semarang Rusmiyati, Rusmiyati; Noer’aini, I’ien; Sulistyaningrum, Danny Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Jajama (JPMJ) Vol 1 No 2 (2022): JPMJ Vol 1 No 2 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panca Bhakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.159 KB) | DOI: 10.47218/jpmj.v1i2.227

Abstract

Masa remaja perempuan merupakan suatu fase perkembangan yang ditandai dengan mulainya menstruasi. Meskipun begitu, pada kenyataannya banyak perempuan yang mengalami masalah menstruasi seperti nyeri haid atau dismenore. Rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami kejadian dismenorea. Namun masih banyak ditemukan perempuan yang belum tahu bagaimana cara mengatasinya. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa abdominal stretching exercise lebih efektif dari pada pemberian senam dismenore dengan kompres hangat terhadap penurunan skala nyeri menstruasi. Selain itu kompres hangat juga dianggap sangat efektif dalam menurunkan nyeri atau spasme otot. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 6 Semarang. Semua peserta yang terlibat terdiri dari siswi kelas X SMA Negeri 6 Semarang. Berdasarkan skor post- test, menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswi tentang abdominal streching exercise setelah diberikan edukasi. Selanjutnya dilakukan kegiatan mentoring kepada Srikandi senam yang dilakukan 1 bulan sekali dengan observasi secara langsung. Disarankan Srikandi senam yang sudah terbentuk di SMA Negeri 6 Kota Semarang bisa memfasilitasi ketika ada siswa yang mengalami nyeri menstruasi atau dismenorea
PEMANFAATAN LILIN AROMATERAPI DALAM UPAYA MENGATASI FATIGUE DAN GANGGUAN TIDUR PADA PASIEN HEMODIALISA DENGAN BERBASIS HUMANIS ETIS Danny Putri Sulistyaningrum; Noer'aini, I'ien; Sa’adah, Anifatus
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 7 No. 1 (2025): Juni : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v7i1.1981

Abstract

Latar Belakang: Hemodialisa merupakan terapi pengganti ginjal pada pasien gagal ginjal terminal yang dilakukan seumur hidup atau sampai pasien mendapatkan donor ginjal. Terapi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti fatigue dan gangguan tidur. Akibatnya pasien mengalami penurunan konsentrasi dan aktivitas fisik, serta penurunan kualitas hidup. Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisa fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa, serta mengaplikasikan pemanfaatan lilin aromaterapi untuk mengatasi masalah tersebut. Metode: Mengkaji fatigue dan gangguan tidur, memberikan penyuluhan tentang fatigue dan gangguan tidur, serta menerapkan lilin aromaterapi untuk mengatasi fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa. Hasil: Setelah diberikan lilin aromaterapi terdapat penurunan fatigue dari rerata 20.00 menjadi rerata 15.40. serta terdapat penurunan gangguan tidur dari rerata 10.14 menjadi rerata 5.29. Kesimpulan: Lilin aromaterapi mampu dimanfaatkan untuk mengurangi keluhan fatigue dan gangguan tidur pada pasien hemodialisa.