Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

JENIS MENYUSUI BERDASARKAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI IBU DAN DUKUNGAN SUAMI Ummi Kulsum; Diah Andriani Kusumastuti
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan menyusui pada uisa 0–6 bulan memegang peranan sangat penting terhadap kelangsungan pemberian ASI pada bayi hingga usia 2 tahun sehingga penelitian mengenai faktor–faktor yang berperan dalam keberhasilan menyusui hingga bayi berusia 6 bulan penting untuk dilakukan. Berbagai penelitian menunjukakn bahwa keberhasilan menyusui dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor pengetahuan ibu, latar belakang pendidikan, faktor sosio demografi serta kepercayaan diri ibu, status pernikahan. Pemberian ASI selama enam bulan di Kabupaten Kudus berdasarkan laporan survey diketahui hanya 19,56%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor sosiodemografi ibu dan dukungan suami dalam hal korelasi dengan jenis menyusui. Kegiatan yang dilakukan berupa pengambilan data dengan kuesioner pada ibu menyusui yang memiliki anak usia 6-12 bulan, data yang diambil berupa sosiodemografi ibu (umur, pendidikan, paritas, pekerjaan dan status ekonomi), dukungan suami, serta jenis menyusui yang diterapkan ibu. Rancangan penelitian ini adalah analitik korelatif dengan menggunakan pendekatan potong lintang yaitu data yang menyangkut variabel bebas dan terikat diukur dalam waktu yang bersamaan dan data diambil secara cross sectional / dalam satu waktu dengan menggunakan kuesioner. Hasil uji korelasi antara faktor sosio demografi yang terdiri dari faktor usia ibu, pendidikan, pekerjaan, paritas, status ekonomi dengan jenis menyusui diuji dengan uji Chi Kuadrat diperoleh hasil pekerjaan dan status ekonomi (p < 0,05) yang berarti terdapat korelasi, sedangkan faktor usia ibu, pendidikan, paritas diperoleh hasil (p > 0,05 ) yang berarti tidak terdapat korelasi.Kata Kunci : jenis menyusui, sosiodemografi, dukungan suami.
KONSUMSI SUMBER PROTEIN HEWANI PADA IBU NIFAS BERBASIS SOSIAL BUDAYA Ummi Kulsum; Diah Andriani Kusumastuti
Jurnal Ilmiah Maternal Vol 1, No 01 (2016): MATERNAL II
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54877/maternal.v1i01.602

Abstract

ABSTRACTPuerperal requires adequate nutrition, nutrient needs during childbirth is determined by a good diet on postpartum mothers. Needs adequate nutrition will help to restore the puerperal women in the puerperal body and smoothness on breastfeeding.The phenomenon is often the case in rural communities is the strong influence of culture on foods that are considered good and should be consumed, which is considered to negatively impact her and the baby and should be avoided. Objective: to know the relationship between social and cultural factors on postpartum mother with the consumption of animal protein. This type of research is a cross sectional analytic. The independent variable of socio-cultural and socio-demographic, while the dependent variable consumption of animal protein. The population in this study were all post partum mothers in the Work Area of the city district health centers Holy District in May- July 2016, with a sample of 100 people who were taken using purposive sampling technique sampling. Measuring instrument using a questionnaire. Analysis of data using exact fhisher. The subject of research is the mother postpartum 7-45 days postpartum located in Puskesmas Kota Kudus. The results showed that the majority of respondents aged 20-35 years (76%), the majority of graduate education past high school (52%), working mothers (51%), the number of children 2-3 (54%). Low economic status (63%). Based on the test results fhisher exact error level α = 0.05 ρ = 0,384 values obtained for the correlation of socio-cultural with the consumption of animal protein whose meaning is there is no correlation. While the correlation of sociodemographic factors in the consumption of animal protein for the variables of age, education, occupation, number of children indigo p 0.05 meaning there is no correlation, while the economic status or value of p = 0.013 p 0.05 which meaning there is a correlation. The results of the analysis of the correlation bivariable family composition with animal protein consumption value ρ = 0,024atau value of p 0.05 significance correlation. Results Logistic Regression testing untul most dominant factor that correlates with the consumption of proteinhewani between economic status and family composition results obtained for the composition keluarga.dengan 0,000 thus the most dominant factor that correlates with the consumption of animal protein is the composition of the family. Based on the research results can be concluded that the majority of mothers (76 respondents) lives with her husband and children only (nuclear family) consume animal protein compared with mothers who live with a nuclear family instead. besides the economic status of puerperal women also correlated with the consumption of animal protei. Midwives should cooperate with health workers to provide information about abstinence from food on puerperal by giving leafled, counseling in Posyandu activities of the PKK, so that mothers do not post partum abstinence from food during childbirth. Midwives can make postpartum visits to prevent complications during childbirth.Keywords: Animal Protein,puerperium, social culture  ABSTRAKMasa nifas memerlukan nutrisi yang adekuat, kebutuhan gizi pada masa nifas ditentukan oleh pola makan yang baik pada ibu nifas. Kebutuhan gizi yang tercukupi akan membantu ibu nifas untuk mengembalikan tubuh pada masa nifas dan kelancaran pada proses menyusui. Fenomena  yang  sering  terjadi  di  masyarakat  pedesaan  adalah  kuatnya  pengaruh  dari budaya tentang makanan yang dianggap baik sehingga harus dikonsumsi, yang dianggap memberikan dampak buruk bagi dirinya dan bayi sehingga harus dihindari. Tujuan penelitian: mengetahui hubungan antara faktor sosial budaya pada ibu nifas dengan konsumsi protein hewani. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik cross sectional. Variabel independent sosial budaya dan sosiodemografi , sedangkan variabel dependen konsumsi protein hewani. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu nifas di Wilayah Kerja puskesmas kecamatan kota Kabupaten Kudus pada bulan Mei – Juli 2016 dengan sampel 100 orang yang diambil menggunakan teknik sampling purposive sampling. Alat ukur menggunakan kuesioner. Analisa data dengan menggunakan exact fhisher.Subyek Penelitian adalah ibu Nifas 7 – 45 hari pasca melahirkan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kota Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 20 – 35 tahun (76 % ) , pendidikan terakhir mayoritas tamat SMU ( 52 % ) , ibu bekerja (51 %), jumlah anak 2 - 3(54 % ). Status ekonomi rendah ( 63 %). Berdasarkan hasil uji exact fhisher pada taraf kesalahan α = 0,05 didapatkan nilai ρ = 0,384 untuk korelasi sosial budaya dengan konsumsi protein hewani yang maknanya adalah tidak terdapat korelasi. Sedangkan korelasi faktor sosiodemografi dengan konsumsi Protein hewani untuk yang variabel usia,pendidikan,pekerjaan ,jumlah anak nila p 0,05 yang maknanya tidak terdapat korelasi, sedangkan status ekonomi   nilai p = 0,013 atau  p 0.05 yang maknanya terdapat korelasi. Hasil analisis bivariabel korelasi komposisi keluarga dengan konsumsi protein hewani   nilai ρ = 0,024atau nilai p 0,05 maknanya terdapat korelasi. Hasil uji Regresi Logistik untul menguji faktor yang paling dominan yang berkorelasi dengan konsumsi proteinhewani antara status ekonomi dan komposisi keluarga diperoleh hasil 0,000 untuk komposisi keluarga.dengan demikian faktor yang paling dominan yang berkorelasi dengan konsumsi protein hewani adalah komposisi keluarga. Berdasarkan Hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa ibu yang mayoritas ( 76 responden ) tinggal dengan suami dan anak saja ( keluarga inti ) mengkonsumsi protein hewani dibandingkan dengan ibu yang tinggal dengan bukan keluarga inti. selain itu status ekonomi ibu nifas juga berkorelasi dengan konsumsi protein hewani. Bidan sebaiknya bekerja sama dengan kader kesehatan untuk memberikan informasi tentang  pantang makanan pada masa nifas dengan memberikan leafled, penyuluhan di posyandu, kegiatan PKK, sehingga ibu post partum tidak melakukan pantang makanan pada masa nifas. Bidan dapat melakukan kunjungan nifas untuk mencegah komplikasi pada masa nifas. Kata Kunci : Protein Hewani, Ibu Nifas , Sosial Budaya
PENGARUH AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP TEKANAN DARAH PADA IBU HAMIL PRE-EKLAMPSIA DI RUMAH SAKIT PKU AISYIYAH JEPARA Elinda I'in Fauziah; Atun Wigati; Diah Andriani Kusumastuti; Ummi Kulsum
JUBIDA- Jurnal Kebidanan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jubida.v4i2.1587

Abstract

Pre-eklamsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria dan oedema yang timbul karena kehamilan dan umumnya terjadi dalam triwulan ketiga atau sebelumnya. Lavender menjadi salah satu aromaterapi yang efektif digunakan untuk menurunkan tekanan darah menjelang persalinan. Karena, lavender mempunyai sifat-sifat antikonvulsan, 5 antidepresi, anxiolytic, dan bersifat menenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi lavender terhadap tekanan darah pada ibu hamil pre-eklampsia RS PKU Aisyiyah Jepara. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain pre-post test without control group. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Semua Ibu Hamil Trimester 3 pada bulan Desember 2024 adalahresponden. Instrumen penelitian berupa SOP intervensi aromaterapi lavender dan lembar pengukuran tekanan darah. Analisa data diuji dengan uji paired t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Uji paired t test sebesar 0,000 artinya ada pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap tekanan darah ibu hamil pre-eklampsia di Rumah sakit PKU Muhammadiyah Aisiyah Jepara.
Dukungan Keluarga Terhadap Pantang Makan Ibu Nifas Ana Zumrotun Nisak; Diah Andriani Kusumastuti; Faizatul Muna Khoirina
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantang makan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan praktik seseorang untuk tidak mengonsumsi makanan tertentu karena larangan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pembatasan makanan akan berdampak pada kembalinya kesehatan ibu nifas secara bertahap dan kemampuannya memproduksi ASI, baik disadari maupun tidak. Tujuan: Mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap pantang makan pada ibu nifas di desa karangnongko kecamatan nalumsari kabupaten jepara. Metode: Desain penelitian yang digunakan analisis korelasi dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan di desa karangnongko kecamatan nalumsari kabupaten jepara dengan melibatkan sampel penelitian yaitu seluruh ibu yang dalam masa nifas sebanyak 50 orang dari jumlah populasi sebanyak 50 orang dengan Cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji Fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Karangnongko Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara pada tahun 2022, hubungan antara wanita nifas yang tidak makan dengan dukungan keluarga didasarkan pada nilai ρ sebesar 0,004. Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap pantang makan pada ibu nifas di desa karangnongko kecamatan nalumsari kabupaten jepara tahun 2022. Untuk memastikan kebutuhan gizi bayi dan ibu tercukupi dan produksi ASI melimpah, disarankan agar ibu tetap makan-makanan yang bergizi serta tercukupinya kebutuhan minum selama masa nifas
HUBUNGAN INTENSITAS NYERI PADA IBU POST SECTIO CAESAREA TERHADAP DURASI DAN FREKUENSI MENYUSUI LANGSUNG Ana Kurnia Nurfaidah; Diah Andriani Kusumastuti; Noor Azizah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3016

Abstract

Fenomena klinis menunjukkan bahwa nyeri post operasi sering menghambat keberhasilan menyusui secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat intensitas nyeri yang dialami ibu pasca operasi sectio caesarea dengan durasi dan frekuensi menyusui langsung (direct breastfeeding).Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Korelasional Kuantitatif dengan pendekatan Observasional Analitik serta desain penelitiannya Cross-sectional. Populasi yang di teliti adalah ibu post section caesarea hari pertama. Teknik pengaambilan sempel menggunakan Purposive Sampling dengan jumlah sempel 54 responden. Instrument penelitian menggunakan lembar pengumpulan data dan kuesioner untuk menilai durasi dan frekuensi menyusui, serta  Wong Baker FACES Pain Rating Scale untuk mengukur nyeri. Uji analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat hubungan signifikan dengan nilai p-value 0,05, dan nilai koefisien korelasi (r) berturut-turut sebesar -0,465 untuk durasi dan -0,421 untuk frekuensi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin berat nyeri yang dirasakan, semakin pendek durasi dan semakin jarang frekuensi menyusui, dengan kekuatan hubungan sedang dan arah negatif. Dapat disimpulkan bahwa manajemen nyeri pascaoperasi sectio caesarea berperan penting dalam mendukung praktik menyusui langsung yang optimal. Diharapkan tenaga kesehatan memberikan edukasi dan dukungan yang tepat untuk mempercepat proses pemulihan dan keberhasilan laktasi. ABSTRACTThe clinical phenomenon shows that postoperative pain often hinders the success of direct breastfeeding. This study aims to analyze the relationship between the level of pain intensity experienced by mothers after undergoing a caesarean section and the duration and frequency of direct breastfeeding.This research is a quantitative correlational study using an analytical observational approach with a cross-sectional design. The study population consisted of mothers on the first day after caesarean section. The sampling technique used was purposive sampling, with a total of 54 respondents. Data collection instruments included a data collection sheet and a questionnaire to assess breastfeeding duration and frequency, as well as the Wong-Baker FACES Pain Rating Scale to measure pain intensity. Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test.The results showed a significant relationship with a p-value 0.05 and correlation coefficients (r) of -0.465 for breastfeeding duration and -0.421 for breastfeeding frequency. These results indicate that the higher the pain intensity experienced by the mother, the shorter the duration and the less frequent the direct breastfeeding sessions, with a moderate negative correlation. It can be concluded that postoperative pain management following a cesarean section plays a crucial role in supporting optimal direct breastfeeding practices. Health workers are expected to provide appropriate education and support to accelerate recovery and improve lactation outcomes
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan dan Kecemasan Pada Menopause di Wilayah Kerja Praktik Mandiri Dokter Siska Novia; Diah Andriani Kusumastuti; Noor Azizah
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 16, No 2 (2025): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v16i2.3012

Abstract

Menopause merupakan salah satu fase dari kehidupan normal seorang wanita. Pada masa menopause kapasitas reproduksi wanita berhenti. Ovarium tidak lagi berfungsi, sejumlah perubahan fisiologik terjadi. Yang disebabkan juga oleh proses penuaan. Menopause adalah jika wanita tidak lagi menstruasi selama satu tahun dan umumnya terjadi pada usia 50-an tahun. Lebih kurang 70% wanita peri pascamenopouse mengalami keluhan vasomotorik, depresi, keluhan psikis, dan somatik lainnya.Perubahan-perubahan yang terjadi saat menjelang masa menopause ini sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis yang dialami oleh seorang wanita dalam fungsinya sebagai seorang istri. Yang dapat menimbulkan kecemasan dalam pengaruh suami istri, kecemasan ini timbul karena perubahan fisik yang dialaminya. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan kesemasan pada menopause diwilayah kerja praktik mandiri dokter. Desain penelitian ini adalah Quasy-eksperiment(eksperimen semu) dalam satu kelompok perlakuan (One Group Pre-Posttest design). Populasi dalam penelitian ini adalah menopause yang berkunjung ke tempat praktik mandiri dokter pada bulan mei-juni dengan rata-rata kunjungan setiap bulan 40 orang. Sampel penelitian ini seanyak 37 responden menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pendidikan kesehatan dan variabel dependennya adalah pengetahuan dan kecemasan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Uji statistik menggunakan uji wilcoxon dengan signifikan α 0,05. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan pada menopause sebelum diberikan pendidikan kesehatan memiliki nilai mean 9,24 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan memiliki nilai mean 11,16 , sedangkan pada tingkat kecemasan sebelum diberikan pendidikan kesehatan memiliki nilai mean 32,40 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan memiliki nilai mean 18,86. Hal ini menunjukkan ada pengaruh dibuktikan dengan hasil uji statistik wilcoxon dimana p=0,000. Kesimpulan ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan kecemasan pada menopause diwilayah kerja praktik mandiri dokter. AbstractMenopause is a phase of a woman's normal life. During menopause, a woman's reproductive capacity ceases. The ovaries no longer function, and a number of physiological changes occur, also caused by the aging process. Menopause occurs when a woman no longer menstruates for one year and generally occurs in her 50s. Approximately 70% of peri-postmenopausal women experience vasomotor complaints, depression, psychological complaints, and other somatic symptoms. These changes that occur as menopause approaches significantly affect a woman's psychological condition in her role as a wife. This can cause anxiety in the marital relationship, which arises from the physical changes they experience. The purpose of this study was to explain the effect of health education on knowledge and anxiety about menopause in the work area of a doctor's private practice. The design of this study was a quasi-experimental study with one treatment group (One Group Pre-Post test design). The population in this study were menopausal women who visited a doctor's private practice in May-June, with an average of 40 visits per month. This study sampled 37 respondents using a purposive sampling technique. The independent variable in this study was health education, and the dependent variables were knowledge and anxiety. Data collection was conducted using a questionnaire. Statistical testing used the Wilcoxon test with a significance level of α 0.05.The results showed that knowledge of menopause before health education had a mean score of 9.24 and after health education a mean score of 11.16. Meanwhile, anxiety levels before health education had a mean score of 32.40 and after health education a mean score of 18.86. This indicates an effect, as evidenced by the Wilcoxon statistical test, with p=0.000. Conclusion: Health education has an effect on knowledge and anxiety about menopause in the work area of independent physician practice.
TINDAKAN SECTIO CAESAREA BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN DI RSI NU DEMAK Sugihartini Sugihartini; Ummi Kulsum; Diah Andriani Kusumastuti
Indonesia Jurnal Kebidanan Vol 9, No 1 (2025): INDONESIA JURNAL KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijb.v9i1.2939

Abstract

Kejadian sectio caesarea meningkat pesat setiap tahunnya. Persalinan dengan tindakan sectio caesarea merupakan pilihan alternatif terakhir dalam menolong persalinan bagi ibu yang tidak mampu atau ingin melahirkan secara normal, hal ini dilakukan karena alasan medis, serta atas permintaan pasien sendiri atau atas saran dokter. Banyak faktor yang mempengaruhi persalinan dilakukan dengan tindakan section caesarea, diantaranya yaitu usia, paritas dan komplikasi kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, paritas dan komplikasi kehamilan terhadap tindakan sectio caesarea di RSI NU Demak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi terjangkau penelitian ini adalah ibu bersalin di RSI NU Demak bulan Oktober 2024 – Februari 2025 sebanyak 427 orang, sehingga di rata-ratakan tiap bulan terdapat 85 ibu bersalin. Sampel diperoleh sebanyak 70 orang dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner mengenai usia, paritas, komplikasi kehamilan dan tindakan sectio caesarea. Analisis data meliputi analisis univariat (distribusi frekuensi) dan analisis bivariat (uji chi square). Hasil penelitian menunjukkan dari 70 ibu bersalin sebanyak 42 (60%) berada pada reproduksi sehat (20 - 35 tahun), sebanyak 50 (71,4%) dengan paritas multipara, dari 41 responden yang memiliki komplikasi sebanyak 23 (32,9%) adalah ketuban pecah dini. Ada hubungan usia (p value 0,000 0,05), paritas (p value 0,000 0,05) dan komplikasi kehamilan (p value 0,000 0,05) dengan tindakan sectio caesarea di RSI NU Demak.
HUBUNGAN PERSEPSI IBU TENTANG DUKUNGAN SUAMI DENGAN STRES PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) KALIWUNGU KUDUS Diah Andriani Kusumastuti; Islami Islami; Dyah Ayuning Tyas
Indonesia Jurnal Kebidanan Vol 4, No 1 (2020): INDONESIA JURNAL KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijb.v4i1.999

Abstract

Latar Belakang : Memiliki anak yang normal baik fisik maupun mental adalah harapan bagi semua orang tua namun jika dalam perkembangan anaknya mengalami suatu gangguan, maka orang tua akan menjadi sedih. Salah satu gangguan pada masa kanak-kanak yang menjadi ketakutan orang tua adalah retardasi mental. Peran orang tua dalam mengasuh anak retardasi mental dan hubungan anak retardasi mental dengan orang tua sangatlah penting dibandingkan dengan hubungan anak yang intelegensinya normal dengan orang tuanya. Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan stres pada ibu yang memiliki anak retardasi mental di SLB Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus tahun 2017/2018.  Metode :. Penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak retardasi mental tingkat SD di SLB Kaliwungu Kudus yang berjumlah 85 ibu, dengan sampel yang diteliti sejumlah 30 ibu. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik random sampling. Hasil Penelitian : Dari 30 responden menunjukkan dukungan sosial keluarga tinggi 17 responden (56,7%) dan dukungan sosial keluarga rendah 13 responden (43,3%). Sedangkan stres pada ibu rendah19 responden (63,3%) dan stres pada ibu tinggi 11 responden (36,7%). Terdapat hubungan hubungan dukungan sosial keluarga dengan stress pada ibu yang memiliki anak retardasi mental di SLB Kaliwungu Kudus dengan p value 0,001 (p value 0,05). Kesimpulan : Ada hubungan dukungan sosial keluarga dengan stress pada ibu yang memiliki anak retardasi mental di SLB Kaliwungu Kudus.
KORELASI VARIASI JENIS MAKANAN DAN LINGKUNGAN DENGAN POLA MAKAN ANAK USIA SEKOLAH Fania Nurul Khoirunnisa; Indanah Indanah; Diah Andriani Kusumastuti; Noviana Ika
Indonesia Jurnal Kebidanan Vol 4, No 1 (2020): INDONESIA JURNAL KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijb.v4i1.1000

Abstract

Berdasarkan data Badan Pelaporan dan Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah tahun 2016 sebanyak lebih dari 20 % anak usia sekolah ditemukan mengalami masalah kesulitan makan. Gangguan kesulitan makan berpengaruh pada pemenuhan gizi, pertumbuhan fisik biomedik otak dan imunitas anak. Ketiga hal ini penting untuk menunjang kualitas hidup bagi anak sebagai generasi penerus bangsa. Gangguan sulit makan dapat diakibatkan karena semakin bertambahnya aktivitas seperti bermain, sekolah dan kurangnya peranan lingkungan sekitar anak sehingga terkadang mereka menjadi malas makan dan jajan sembarangan. Tujuan: Mengetahui korelasi antara variasi jenis makanan dan dukungan lingkungan dengan pola makan pada anak usia sekolah. Metode: Jenis penelitian analitik korelasional dengan pendekatan waktu cross sectional. Besar sampel 70 responden dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tentang jenis makanan, dukungan lingkungan dan pola makan. Analisis data uji statistik Spearman Rho. Hasil Penelitian : Mayoritas jenis makanan responden adalah kurang sehat sebanyak 54,3%, lingkungan yang mendukung sebanyak 54,3% dan mayoritas mengalami kesulitan makan tingkat sedang sebanyak 48,6%. Simpulan : Terdapat korelasi variasi jenis makanan (p=0,002 ; r = -0,698) dan lingkungan (p=0,001 ; r = -0, 687) dengan pola makan anak usia sekolah.
EDUKASI KESEHATAN DAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PUDING DAUN KELOR SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA Anny Rosiana Masithoh; Anastasya Elvira Prameswari; Diah Andriani Kusumastuti; Silviana Putri Afrisia; Nur Baiti Anggraini Pangestu; Adinda Anisa Safitri; Nadya Asyh Selvya; Muhamad Haris Rizvi Rizqi
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 1 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i1.2766

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Desa Jepangpakis, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masalah ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sejak usia dini dan dapat berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas hidup anak-anak di masa depan. Program Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi prevalensi stunting melalui edukasi gizi dan pemberian makanan tambahan berupa puding daun kelor yang kaya nutrisi. Kegiatan ini dilaksanakan pada 21 Desember 2024 di Aula Balai Desa Jepangpakis, dengan melibatkan ibu hamil, ibu menyusui, dan kader posyandu. Metode yang digunakan mencakup sosialisasi gizi menggunakan leaflet, demonstrasi pembuatan puding daun kelor, serta diskusi interaktif. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan masyarakat tentang stunting dan pentingnya gizi seimbang. Puding daun kelor diterima dengan baik oleh anak-anak dan orang tua, serta membantu meningkatkan berat badan dan kesehatan anak-anak. Partisipasi aktif masyarakat dalam menanam dan memanfaatkan daun kelor mendukung keberlanjutan program ini. Program ini berhasil menurunkan angka stunting dan dapat dijadikan model untuk diterapkan di daerah lain.