Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Mendekatkan Sumber Sejarah di Era Digital: Virtual Tour sebagai Alternatif Pembelajaran di SMA Negeri 1 Lembean Timur Winoto, Darmawan Edi; Khoeriyah, Ngismatul; Dasfordate, Aksilas
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): November 2025
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53624/kontribusi.v6i1.738

Abstract

Latar Belakang: Di era digital, pembelajaran sejarah mengalami transformasi signifikan melalui media virtual interaktif. Platform seperti augmented reality dan virtual tours membuat peristiwa sejarah lebih hidup, menarik minat siswa, serta memperkuat pemahaman konseptual melalui pengalaman belajar yang imersif dan partisipatif. Tujuan: bertujuan memperkenalkan virtual tour sebagai alternatif pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Lembean Timur. Metode: pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan angket kepada guru dan 30 siswa kelas XI IPS. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: virtual tour mampu meningkatkan minat belajar siswa, memberikan pengalaman kontekstual terhadap materi sejarah, serta mempermudah guru dalam proses pengajaran. Meskipun menghadapi kendala teknis seperti keterbatasan perangkat dan akses internet, respon peserta terhadap media ini sangat positif. Kesimpulan: virtual tour merupakan alternatif efektif untuk mendekatkan siswa kepada sumber sejarah di era digital dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut dalam pembelajaran sejarah di tingkat sekolah menengah.
Mendalami Situs Sejarah Lesung Batu: Praktik Pengalaman Lapangan Kolaboratif di Kali Oki Winoto, Darmawan Edi; Dasfordate, Aksilas; Tamon, Max Laurens; Pelealu, Aldegonda E.; Khoeriyah, Ngismatul
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.753

Abstract

Pelaksanaan praktik pengalaman lapangan memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan bidang ilmu yang didalami. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata untuk menyeimbangkan kebutuhan teori di kelas dan praktik dilapangan. Kolaborasi dengan praktisi juga perlu dilaksanakan. Artikel ini membahas praktik pengalaman lapangan mahasiswa di Desa Kali Oki. Memakai pendekatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menjabarkan kegiatan tentang sosialiasi Desa Kali Oki meliputi aspek geografis dan sejarahnya yang dilaksanakan di aula Desa setempat. Bagian pertama, sambutan dari dosen pendamping dan pegawai desa, kemudian perkenalan singkat di mulai dari dosen pendamping dan mahasiswa sebagai tamu, serta dilanjutkan perangkat desa sehagai tuan rumah. Dijelaskan kajian tentang perlawanan terhadap bangsa Belanda oleh masyarakat lokal. Pelaksanaan praktik kerja lapangan di Lesung Batu di Desa Kali Oki meliputi sejarah Kali Oki, penedalaman situs Lesung Batu, serta legenda Lesung Batu. Mahasiswa mendapat arahan tentang Lesung Batu yang ada di depannya. Arahan ini disampaikan langsung oleh dosen sejarah lokal dan pegawai desa yang mengetahui secara rinci sejarah tempat tersebut.
Pendampingan dan Kolaborasi dengan Mahasiswa di Sekolah Dasar di Tomohon Winoto, Darmawan Edi; Dasfordate, Aksilas; Pelealu, Aldegonda E.; Imbar, Meike; Khoeriyah, Ngismatul
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 2 (2024): Journal Of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i2.771

Abstract

Pendampingan terhadap mahasiswa sebagai kegiatan tidak terpisahkan dari tugas seorang dosen. Banyak hal yang dapat diterapkan dan dikomunikasikan bersama mahasiswa bimbingan ketika mereka terjun di lapangan seperti di sekolah dari tangkat dasar sampai tingkat tinggi. Setiap kegiatan mahasiswa yang didampingi dosen membawa misi tertentu yang pada intinya demi perbaikan pendidikan sekolah. Tujuan dari artikel ini tidak lain untuk memotret pelaksanaan pendampingan terhadap mahasiswa yang bertugas mengenal lingkungan sekolah dasar dimana mereka diturunkan. Metode pendampingan intensif yang dilaksanakan mulai dari pra kegiatan, pelaksanaan, sampai pasca pelaksanaan. Hasil kajian dapat kita lihat bahwa kolaborasi mampu meningkatkan komunikasi berbagai pihak yang termasuk masyarakat di luar sekolah. Bimbingan dan pendampingan mahasiswa mampu memberikan jalan bagi mahasiswa terhadap berbagai permasalahan yang ditemui disekolah. Permasalahan mahasiswa dapat dilihat pada laporan setiap minggu yang mereka sampaikan baik melalui tulisan maupun disampaikan secara langsung. Komunikasi menjadi kunci penting bagi kesuksesan pelaksanaan pendampingan bersama mahasiswa maupun pihak terkait. Kegiatan mahasiswa memberi dampak besar bagi siswa di sekolah. Kata kunci: Pendampingan, Mahasiswa, Masyarakat, Sekolah
JEJAK DISKUSI AKULTURASI BUDAYA MASYARAKAT KAMPUNG JAWA TOMOHON Winoto, Darmawan Edi; Khoeriyah, Ngismatul; Dasfordate, Aksilas; Burdam, Yohanes
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2023): Volume 4 Nomor 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i6.20129

Abstract

Dokumentasi tertulis sejarah dan akulturasi budaya masyarakat Kampung Jawa Tomohon yang masih minim perlu mendapat perhatian yang serius terutama bagi generasi mudanya. Informasi mengenai akulturasi budaya banyak didapatkan dari lapangan ketika kegiatan sosialisasi. Dari kegiatan tersebut banyak diperoleh informasi baru dari hasil tradisi lisan masyarakat. Sosialisasi menggunakan metode caramah, diskusi dan tanya jawab. Sosialisasi dilaksanakan di Kelurahan Kampung Jawa Tomohon, kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Penelitian ini dimulai dari survei lokasi. Materi dijelaskan mengenai terjadinya akulturasi budaya yang terjadi di Kampung Jawa Tomohon. Materi tersebut pada dasarnya sebagai pemicu untuk dapat lebih menggali informasi dari masyarakat. Hasil sosialisasi menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Jawa Tomohon merupakan masyarakat hasil interaksi budaya Jawa dan Minahasa yang terlihat dari bahasa yang dipakai sehari-hari. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa perpaduan beberapa kata memakai kata yang asalnya dari bahasa Jawa, Sebagian kata yang lain berasal dari bahasa Totemboan. Budaya asli yang dibawa nenek moyang yang berasal dari Banten, seiring waktu berakulturasi dalam budaya Minahasa yang menjadi identitas budaya baru masyarakat Kampung Jawa Tomohon.
Aktualisasi Habonaron Do Bona Dalam Kepemimpinan Di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Di Panribuan Purba, Anggreni; Ramaino, Almen; Winoto, Darmawan Ddi; Dasfordate, Aksilas
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13200

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motto Habonaron Do Bona muncul dan bagaimana nilai-nilai budayanya diterapkan dalam kepemimpinan di Gereja Kristen Protestan Simalungun Panribuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis,yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, obsevasi, dan wawancara. Lokasi penelitian difokuskan pada GKPS Panribuan, yang merupakan bagian dari komunitas Simalungun, di mana nilai-nilai habonaron do bona diimplementasikan dalam setiap aspek kepemimpinan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai habonaron do bona dalam kepemimpinan di GKPS Panribuan terlihat melalui sikap dan perilaku para pemimpin gereja, termasuk Sintua, Syamas, Pendeta, dan Penginjil. Mereka menunjukkan sikap-sikap seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab, yang semuanya berakar dari filisofi Habonaron Bo Bona. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan di GKPS Panribuan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya Simalungun, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai di antara jemaat. Penerapan nilai-nilai ini dalam konteks gereja menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat erjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang sejahtera dan adil.
Gabungan Politik Indonesia Masa Pergerakan Nasional 1939-1942 (Dinamika, Strategi, dan Pengaruhnya terhadap Perjuangan Kemerdekaan) Mumekh, Ingriet Mahgrita Olfia; Dasfordate, Aksilas; Winoto, Darmawan Edi
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.5156

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dinamika politik pada akhir masa kolonial Hindia Belanda yang ditandai dengan meningkatnya tuntutan nasionalisme dan stagnasi kebijakan kolonial. Gabungan Politik Indonesia (GAPI) muncul sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika GAPI pada periode 1939–1942 dalam konteks perubahan politik menjelang pendudukan Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan menelaah perkembangan masa lampau secara sistematis, serta menerapkan metode sejarah melalui tahapan pengumpulan sumber, kritik ekstern dan intern, kategorisasi data, dan analisis sebab-akibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GAPI berperan penting dalam mengonsolidasikan kekuatan politik nasional melalui kampanye “Indonesia Berparlemen” yang mendorong reformasi politik kolonial. Organisasi ini juga berhasil memperkuat persatuan antarpartai nasionalis dan menciptakan strategi perjuangan yang lebih terkoordinasi. Namun, gerakan GAPI menghadapi berbagai hambatan, termasuk kebijakan represif pemerintah kolonial dan dampak Perang Dunia II. Pembubaran GAPI pada tahun 1942 tidak hanya disebabkan oleh pendudukan Jepang, tetapi juga oleh terbatasnya ruang politik yang telah lama dibentuk oleh pemerintah kolonial. Kesimpulannya, GAPI memiliki peran signifikan dalam memperkuat kesadaran politik nasional dan menjadi fondasi penting bagi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
Peran Tari Wor dalam Upacara Adat Suku Biak Sevlyn Cintya Eurine Rantung; Darmawan Edi Winoto; Aldegonda E. Pelealu
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2201

Abstract

Tari Wor merupakan salah satu warisan budaya sakral masyarakat suku Biak yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara adat. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ritual yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan simbolik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan Tari Wor dalam upacara adat suku Biak serta mengkaji peran dan makna simbolis yang terkandung dalam setiap gerakan tarinya. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku budaya, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Wor dilaksanakan secara sakral dan terstruktur, melibatkan penggunaan bahasa dan dialek Biak, nyanyian adat, kostum tradisional, serta gerakan tari yang terinspirasi dari alam, khususnya laut sebagai sumber kehidupan masyarakat Biak. Setiap gerakan Tari Wor mengandung makna simbolis yang mencerminkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Manggundi), leluhur, sesama manusia, dan lingkungan alam. Selain itu, Tari Wor berperan sebagai sarana pewarisan nilai budaya, identitas sosial, serta penguatan solidaritas masyarakat. Dengan demikian, Tari Wor tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan identitas masyarakat suku Biak di tengah dinamika perubahan sosial.
Sinamot : Adat Perkawinan Suku Batak Toba di Perantauan (Manado) Devi Sagala; Max L Tamon, M. Hum; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2203

Abstract

Tradisi sinamot merupakan salah satu unsur penting dalam perkawinan adat Batak Toba yang diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol penghormatan kepada pihak keluarga perempuan, pengikat kekerabatan, serta wujud tanggung jawab calon mempelai laki-laki terhadap kehidupan rumah tangga. Penelitian ini membahas keberlangsungan serta adaptasi tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba yang melangsungkan perkawinan di tanah perantauan, khususnya di Kota Manado, Sulawesi Utara. Dalam konteks perantauan, pelaksanaan sinamot tidak sepenuhnya identik dengan praktik di bona pasogit (tanah asal) karena dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan sosial, interaksi budaya lokal, serta perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan Metode penelitian kualitatif yang Dimana peneliti melakukan wanwacara dengan beberapa tokoh Masyarakat dan mengolah data hasil wawancara tersebut, meskipun nilai dasar sinamot sebagai simbol penghargaan dan pengikat kekerabatan tetap dipertahankan, bentuk maupun maknanya mengalami penyesuaian. Besaran sinamot cenderung disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, sementara praktik tambahan seperti tradisi todoan di Tondano Selatan menunjukkan adanya transformasi budaya yang khas di daerah rantau. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya pergeseran makna sinamot meliputi modernisasi, perbedaan pandangan agama, tingkat pendidikan, status sosial, serta kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan demikian, tradisi sinamot pada masyarakat Batak Toba di Manado memperlihatkan sifat budaya yang dinamis: tetap lestari dalam esensi adatnya, namun bertransformasi agar relevan dengan kehidupan masyarakat multikultural dan modern.
Karema dan Kepemimpinannya di Minahasa (Sebuah Tinjauan Historisisme) Sania Robot; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2204

Abstract

Tradisi lisan orang Minahasa yang sampai saat masih dituturkan adalah Karema. Karema merupakan leluhur orang Minahasa yang peran dan eksistensinya sangatlah menentukan garis peradaban bagi generasi mereka. Mitologi orang Minahasa memposisikan Karema sebagai orang pertama didunia, dia juga memiliki tugas sebagai imam perempuan atau walian. Ketokohan Karema berkaitan dengan peran dan fungsinya pada awal peradaban Minahasa menjadi objek penelitian yang diangkat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu berupa gagasan atau ide yang dituangkan dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang dihasilkan dari objek penelitian serta berkaitan dengan kejadian yang melingkupi sebuah objek penelitian. Penelitian ini mendeskripsikan hasil analisis yang diperoleh dari informan dan dari dokumen-dokumen yang relevan dan menunjang penelitian ini. Selanjutnya hasil penelitian dikaji berdasarkan pendekatan historisisme. Hasil analisis dari penelitian ini mengungkapkan unsur kesejarahan dari peran Karema sebagai seorang pemimpin perempuan dalam kepercayaan Minahasa dan menjadikannya sebagai prototipe bagi generasi setelahnya. Karema dalam dunia kontemporer telah menjadi representasi perempuan Minahasa dalam karakter pemimpin-pemimpin yang tampil dengan gaya kepemimpinan yang mumpuni. Karema dijadikan sebagai tokoh sejarah dan budaya yang menginspirasi tidak hanya dalam konteks kesejarahan orang Minahasa tetapi juga dalam konteks budaya dan pendidikan.
Tradisi Padungku Masyarakat Suku Pamona di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah Agnes Agnita Lukalemba; Darmawan Edi Winoto; Almen S Ramaino
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan tradisi Padungku pada masyarakat suku Pamona di Desa Toinasa, Kecamatan Pamona-Barat, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Padungku merupakan salah satu warisan budaya turun-temurun yang dilaksanakan sebagai ritual pengucapan syukur setelah masa panen padi selesai. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada sang pencipta tetapi juga sebagai sarana mempererat solidaritas sosial, gotong royong, dan identitas sosial masyarakat suku Pamona. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk memahami secara mendalam nilai, norma, dan praktik budaya Padungku langsung dari perspektif masyarakat setempat. Selain itu, metode sejarah digunakan untuk merekonstruksi asal-usul, perkembangan, dan perubahan pelaksanaan tradisi ini dari masa ke masa, terutama pasca konflik sosial yang pernah melanda wilayah Kabupaten Poso. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Padungku tetap bertahan meski mengalami perubahan akibat modernisasi dan pengaruh agama. Pelaksanaan Padungku berperan penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal dan kearifan masyarakat Pamona dalam menghadapi dinamika sosial serta memberikan kontribusi pada pemulihan keharmonisan pasca konflik. Tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai kerohanian, moral, dan kebersamaan yang kuat, yang menjadi fondasi sosial budaya masyarakat. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru dan kontribusi akademis serta praktis dalam pelestarian tradisi lokal sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.