Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Semiotika Terhadap Tokoh Utama Perempuan Dalam Film Perempuan Tanah Jahanam Glen Aviaro Samanda; Ade Kusuma
SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/s:jk.v17i1.4331

Abstract

Horor masih menjadi genre populer pada pertumbuhan film Indonesia. Tokoh perempuan seringkali ditampilkan dengan sangat ikonik dalam cerita naratif pada sebuah film horor. Namun terdapat stigma negatif tentang hadirnya tokoh perempuan dalam film horor yang muncul sebagai karakter antagonis. Tokoh perempuan sering berperan sebagai sosok hantu, korban tindakan kejahatan, dan tokoh pelengkap lainnya. Studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan semiotika Roland Barthes untuk menganalisis bagaimana representasi tokoh perempuan dalam film Perempuan Tanah Jahanam. Penelitian ini berfokus pada para tokoh perempuan utama dalam film tersebut. Hasil studi ini menjelaskan bahwa para tokoh perempuan dalam film Perempuan Tanah Jahanam merupakan subjek dan penggerak cerita dalam film tersebut. Tokoh utama perempuan mendapatkan peran kunci untuk dapat menyelesaikan masalah dan menjadi penyelamat bagi orang lain. Para tokoh perempuan dalam film ini juga digambarkan sebagai sosok perempuan yang bekerja keras, mandiri dan mampu bertahan hidup tanpa bergantung dengan laki-laki. Selain itu perempuan ditampilkan saling mendukung dan berani bertindak melawan tindakan pelecehan seksual yang dihadapinya. Peneliti menemukan bahwa tokoh utama perempuan tidak lagi direpresentasikan sebagai tokoh hantu yang menggoda dan seksi. Tokoh perempuan juga tidak dijadikan sebagai alat pendukung kesuksesan dan kepentingan komersialisme dalam sebuah film horor. Film Perempuan Tanah Jahanam lebih mengedepankan teror psikologis dan perilaku sadis selayaknya film horor yang menakutkan dan mencekam.
PENERIMAAN AUDIENS TERHADAP FLEXING PADA VIDEO “FLEXING 2.0: GELOMBANG DISRUPSI KELUARGA PEJABAT” Martha Claurena Yospikha Ade Wiransani; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2987-2996

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena flexing yang sering ditemui di media sosial. Konten flexing dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk keluarga dan teman dekat, vlogger, content creator, serta pejabat beserta keluarganya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, posisi hegemoni dominan, di mana audiens menerima bahwa flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan dan kekayaan melalui jabatan dan harta benda. Mereka juga ingin mendapatkan pengakuan dan status lebih tinggi di mata masyarakat. Kedua, posisi negosiasi, di mana audiens menerima flexing sebagai bentuk kebutuhan personal, seperti ingin dikenal dan mendapatkan rasa percaya diri. Terakhir, posisi oposisional, di mana audiens menolak dan tidak menerima flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya, merasa kurangnya edukasi terkait fenomena tersebut. Flexing juga dapat memiliki tujuan pemasaran dan branding produk serta kepentingan bisnis lainnya.
REPRESENTASI KONFLIK KELUARGA DALAM SERIAL DRAMA “SUKA DUKA BERDUKA” Yahezkiel Ivandro Nathanael; Ade Kusuma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 8 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i8.2023.4121-4130

Abstract

Serial drama sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki kemampuan untuk menggambarkan fenomena realitas yang ada di masyarakat. Salah satu fenomena di masyarakat yang diangkat dalam serial drama adalah konflik keluarga. “Suka Duka Berduka” adalah sebuah serial drama yang menampilkan konflik keluarga dengan unsur komedi satire di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana representasi konflik keluarga dalam serial drama “Suka Duka Berduka”.Peneliti akan melihat representasi konflik keluarga menggunakan semiotika John Fiske dengan teori kode-kode televisi terhadap adegan-adegan yang menggambarkan konflik keluarga. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa keluarga tokoh utama dalam serial drama “Suka Duka Berduka” digambarkan sebagai keluarga yang berasal dari kelas sosial atas. Sementara konflik keluarga yang ditampilkan meliputi konflik isi atau substansi, konflik antara pasangan menikah, konflik antara saudara kandung, konflik orang tua-anak, dan konflik pengaruh lingkungan eksternal. Adapun konflik keluarga digambarkan selesai atau berakhir melalui cara penyerahan (submission) dan kebuntuan (standoff). Selain itu, peneliti juga menamukan adanya penggambaran ideologi materialisme dan ideologi kelas.
ChatGPT For Marketing Communications: Friend or Foe? Heidy Arviani; Ririn Puspita Tutiasri; Latif Ahmad Fauzan; Ade Kusuma
Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 12 No 1 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/kanal.v12i1.1729

Abstract

The release of the ChatGPT chatbot in November 2022 received significant public attention. ChatGPT is an Artificial Intelligence (AI) powered chatbot that allows users to simulate human-like conversations with AI. GPT stands for Generative Pre-trained Transformer, a language processing model developed by the American artificial intelligence company OpenAI. These innovations and technologies are changing business interests, revolutionizing marketing communications strategies, and enhancing the consumer experience. ChatGPT is a powerful tool for marketers, but we need to understand the risks and place realistic expectations for the moment. The author uses data collection techniques using literature studies and observations on ChatGPT about their potential and impact on marketing communications. Authors analyze brand information, data search, reference services, cataloging, content creation, and ethical considerations such as privacy and bias. Result of this study, ChatGPT can provide and support creative content creation or copywriting, improve customer service, automate repetitive tasks, and support data analysis. However, humans are irreplaceable for examining outputs and creating marketing messages consistent with a company's strategy and brand vision. With good marketing strategies, ChatGPT can effectively enhance and support marketing processes.