Sarjito Jokosisworo
Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 86 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisa Kekuatan Lentur dan Kekuatan Tarik Pada Balok Laminasi Bambu Petung dan Kayu Kelapa (Glugu) Untuk Komponen Kapal Rizka Cholif Arrahman; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.14 KB)

Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan kayu sebagai bahan baku pembuat kapal, menyebabkan persediaan kayu menjadi semakin berkurang. Teknik laminasi menjadi solusi untuk mengembangkan sebuah produk kayu yang memiliki struktur dan sifat mekanik lebih kuat dan awet. Prosedur pembuatan dan pengujian spesimen kayu laminasi bambu petung dan glugu mengacu pada SNI-03-3959-1995 dan SNI-03-3399-1994. Pembuatan balok laminasi melewati beberapa tahap, pertama: persiapan serta pemotongan bambu petung dan glugu menjadi bilah-bilah lamina, kedua: pengeringan bilah lamina, ketiga: perekatan bilah lamina menjadi balok laminasi atau glulam (glue - laminated timber) dan terakhir finishing. Balok laminasi yang telah siap, kemudian diuji sesuai dengan standar SNI. Pada penelitian yang telah dilakukan terhadap spesimen kayu laminasi bambu petung dan kayu kelapa (glugu) berupa pengujian lentur dan tarik di laboratorium, didapatkan data bahwa laminasi kayu dengan komposisi 50% bambu petung dan 50% kayu kelapa (glugu) memiliki kekuatan paling tinggi, yakni kuat lentur sebesar 95,98 MPa dengan nilai lendutan (∆l) 10 mm dan MOE sebesar 11568,68 MPa serta kuat tarik sebesar 157,21 MPa dengan nilai regangan 0,0222 dan modulus young (E) sebesar 7090,38 MPa. Balok laminasi tersebut memiliki berat jenis sebesar 0,6458 dengan kadar air 13,08%. Nilai tersebut memenuhi persyaratan kayu lapis sebagai bahan material kapal kayu menurut BKI dan termasuk dalam kelas kuat II sehingga dapat digunakan sebagai material konstruksi galar balok, papan geladak kapal dan balok geladak kapal pada kapal kayu.
ANALISA TEKNIS BAMBU LAMINASI SEBAGAI MATERIAL KONSTRUKSI PADA LUNAS KAPAL PERIKANAN Khusnul Khotimah; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 1 (2014): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.814 KB)

Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi. Dalam produksinya kapal kayu banyak menggunakan kayu berjenis kayu jati. Namun seiring berjalannya waktu kayu jati mulai mengalami kelangkaan selain itu harga kayu jati relatif mahal. Maka dilakukan penelitian bambu laminasi sebagai alternatif material lunas kapal perikanan terutama kayu jati.Dalam penelitian ini membuat lunas balok laminasi dengan perbandingan 2 jenis susunan bilah bambu petung , yaitu susunan bilah vertikal dan susunan bilah horisontal yang kemudian di uji tekan tegak lurus dengan standart SNI 03-3958-1995, uji kuat tarik serat memanjang dengan menggunakan standart ISO 22157, uji berat jenis dan kadar air menggunakan standart ISO 22157-1. Dari hasil uji tekan tegak lurus serat memanjang dilakukan analisa kukuh kuatan mutlak kemudian digolongkan dalam BKI Kapal Kayu 1996, kemudian dibandingkan dengan standart yang diijinkan kayu jati pada BKI Kapal Kayu 1996 bagian lunas kapal.Berdasarkan hasil pengujian bambu laminasi susunan horisontal memiliki kadar air rata-rata 13%, dengan berat jenis 0,78, dan uji tekan tegak lurus serat dengan susunan horisontal memperoleh hasil tegangan rata-rata 16,528 Mpa atau 165,28 kg/cm2 dan memiliki lendutan rata-rata 5,662. Pada pengujian bambu laminasi susunan vertikal memiliki kadar air 13%, dengan berat jenis 0,76, dan uji tekan tegak lurus serat susunan vertikal memperoleh hasil tegangan rata-rata 18,056 Mpa atau 180,56kg/cm2 dan memiliki lendutan rata-rata 4,7248. Kuat tarik sejajar serat dengan ruas memiliki rata-rata 246,37 Mpa, dan kuat tarik sejajar serat tanpa ruas memiliki rata-rata 102,062 Mpa.
PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK, TEMPERATUR DAN VARIASI SUDUT KAMPUH TERHADAP KEKUATAN IMPACT ALUMUNIUM 5083 PENGELASAN GTAW DENGAN GAS PELINDUNG HELIUM Akhmad Rosihan Adam; Sarjito Jokosisworo; Samuel Samuel
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.865 KB)

Abstract

Proses pengelasan dilakukan pada material aluminium 5083 yang banyak digunakan dalam industri perkapalan khususnya sebagai material konstruksi kapal aluminium. , karena mempunyai sifat mekanik (mechanical properties) dan ketahanan korosi yang baik. Pengelasan dengan las gas tungsten adalah proses pengelasan di mana busur terjadi karena adanya kontak antara elektroda tidak terumpan dengan benda kerja. Untuk melindungi elektroda dan benda kerja yang cair selama pengelasan dari pengaruh udara luar, gas lindung digunakan di dalam pengelasan ini. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil kekuatan impact dari variasi pengelasan yaitu besaran arus listrik, variasi sudut kampuh, dan temperatur sehingga dapat diketahui besar arus dengan variasi sudut kampuh las dan temperatur yang paling optimal. Pengelasan aluminium 5083 dilakukan dengan proses pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dengan gas pelindung helium dan jenis sambungan pengelasan double v-butt joint dengan sudut 60° dan 80o. Dari hasil pengujian, kekuatan impact yang tertinggi terdapat pada suhu 20o C dan kuat arus 130 Amp, di sudut kampuh 60o yaitu sebesar 0,120 J/mm, sedangkan pada sudut kampuh 80o sebesar 0,156 J/mm2.Maka, pengelasan GTAW pada bahan aluminium 5083 keadaan optimal atau yang paling baik memberikan kekuatan impact tertinggi yang dihasilkan pada suhu 20oC dengan kuat arus 130 amp sebesar 0,156 J/mm2.Selain pengujian lapangan, juga dilakukan analisa pada suhu 20o menggunakan metode elemen hingga dengan hasil kekuatan impact maksimal 0,159 J/mm2 dengan selisih persentase sebesar 2,37% di Arus 130 Amp pada sudut kampuh 80o. Sedangkan pada sudut kampuh 60o kekuatan impact maksimal sebesar 0,133 J/mm2 dengan selisih persentase sebesar 1,52%.
Analisa Teknis Kekuatan Mekanis Material Komposit Berpenguat Serat Tanaman Mendong (Fimbrystylis Globulosa) Ditinjau dari Kekuatan Bending dan Impak Dhony Catur Pamungkas; Sarjito Jokosisworo; Ari Wibawa Budi Santosa
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.915 KB)

Abstract

Tanaman Mendong (Fimbrystylis Globulosa) merupakan tanaman yang tumbuh di lahan basah dan di daerah berlumpur. Hasil utama tanaman mendong adalah berupa batang serta tangkai bunga yang dikenal dengan istilah “mendong”. Mendong merupakan jenis tanaman rumput yang memiliki serat yang cukup kuat. Pemanfaatan serat mendong sebagai material penguat komposit akan mampu meningkatkan nilai tambah dari tanaman mendong. Dari pertimbangan tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan analisa teknis berupa kekuatan tarik dan kekuatan Impak dari komposit berpenguat serat tanaman mendong dengan variasi NaOH dan Tanpa NaOH dengan pola sudut 45° dan 90°.Hasil pengujian komposit berpenguat serat tanaman mendong didapatkan nilai uji bending tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah sudut 45°(Perlakuan NaOH) dengan nilai rata – rata 750 Newton,  rata-rata kekuatan tekuk sebesar 55,32 N/mm² dan rata-rata nilai modulus elastisitas sebesar 2983,40 N/mm2, nilai uji impak  tertinggi pada sudut 45°(Tanpa NaOH)  mempunyai  energi impak rata-rata sebesar 1,38 joule dengan nilai keuletan rata-rata  0,0158 joule/mm2. Hasil pengujian menunjukan bahwa kuat tekan,  modulus elastisitas dari kekuatan uji bending tertinggi dari komposit berpenguat serat tanaman mendong belum memenuhi ketentuan peraturan dari BKI yang mempunyai nilai modulus elastisitas 6860 N/mm²  dan kekuatan bending 150 N/mm².
ANALISA KEKUATAN TARIK DAN KOMPOSISI BAHAN PADUAN ALUMINIUM LIMBAH AC MOBIL DENGAN METODE METAL CASTING UNTUK BAHAN JENDELA KAPAL Indra Artanto; Sarjito Jokosisworo; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 2 (2015): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.009 KB)

Abstract

Kota Tegal merupakan pusat industri pengecoran logam. CV Setia Kawan salah satu perusahaan  pengecoran komponen kapal seperti side scuttle,front window dengan menggunakan limbah aluminium. Ketersediaan limbah aluminium menghambat proses produksi, sehingga perlu untuk menguji limbah aluminium baru dengan harga terjangkau dan diharapkan dapat memenuhi Biro Standardisasi Klasifikasi Indonesia ( BKI ) serta dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk . Berdasarkan itu, tesis ini bertujuan untuk menguji kekuatan tarik dan komposisi bahan sebagai referensi CV . Setia Kawan Tegal. Hasil kekuatan tarik paduan aluminium siku dan aluminium limbah drier AC dengan empat variasi paduan yaitu 50% aluminium siku dan 50% aluminium limbah drier AC sampai variasi paduan 80% aluminium siku dan 20% aluminium drier AC tidak menunjukan perbedaan  kekuatan tarik yang signifikan sebesar 15,738 kg/mm2  sampai  14,305 kg/mm2 dan relatif sama baik serta memenuhi standar JIS H4000 seri 5005 sebesar 12-16 kg/mm2 . Hasil uji komposisi bahan paduan aluminium siku dengan aluminium limbah drier AC dengan empat variasi paduan yaitu 50% aluminium siku dengan 50% aluminium limbah drier AC sampai variasi paduan 80% aluminium siku dengan 20% aluminium drier AC tidak menunjukan perbedaan kadar aluminium yang signifikan sebesar 98,35% sampai 97,78% dan relatif sama baik serta memenuhi standar JIS H4000 seri 5005 kadar Al sebesar 98,2% sampai 96,9% dan BKI KI AW-6061 kadar Al sebesar 97,2% sampai 95,84%.
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Tekuk, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Baja SS 400 Akibat Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) dengan Variasi Jenis Kampuh dan Posisi Pengelasan Mathews Yose Pratama; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1489.814 KB)

Abstract

Baja SS 400 adalah jenis baja karbon rendah yang mempunyai kadar karbon dibawah 0,3%. Pada bidag perkapalan baja karbon rendah merupakan bahan utama untuk pembuatan konstruksi kapal,seperti pada konstruksi lambung kapal. Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, tekuk, dan struktur mikrografi dari sambungan las baja SS 400 dengan perbedaan jenis kampuh dan posisi pengelasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan jenis kampuh V dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 410 MPa, rata-rata regangan sebesar 41,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,79 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 569,41 MPa. Baja SS 400 dengan jenis kampuh V posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 411,66 MPa, rata-rata regangan sebesar 42,66%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,83 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 541,68 MPa. Baja SS 400 dengan jenis kampuh U posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 377 MPa, rata-rata regangan sebesar 39,33%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,45 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 558,88 MPa. Sedangkan baja SS 400 dengan jenis kampuh U posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 400,66 MPa, rata-rata regangan sebesar 37,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 7,92 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 555,53 MPa. RAW material baja SS 400 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,66%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,06 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 515,28 MPa. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan jenis kampuh V posisi pengelasan 1G memiliki kekuatan yang lebih besar dari jenis variasi lainnya. 
Analisa Pengaruh Variasi Proses Preheating Pada Pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) Terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Baja ST 60 Farel Mauluvi Akmal Antaqiya; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1342.403 KB)

Abstract

Baja ST 60 di bidang perkapalan difungsikan sebagai material konstruksi secara umum. Pengelasan SMAW banyak digunakan dalam pembangunan dan reparasi kapal karena metodenya yang fleksibel. Dalam proses pengelasan pada baja biasanya menyebabkan logam disekitar daerah las mengalami siklus termal cepat sehingga terjadi perubahan sifat metalurgi,deformasi dan tegangan termal. Perlakuan proses preheating dilakukan untuk menghindari terjadinya retak las. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik dan struktur mikro dari spesimen non preheating, preheat suhu 3000C dan 4000C  pada baja ST 60. Tahapan penelitian : pemotongan plat, pembuatan kampuh Single V, preheating, pengelasan, pembuatan spesimen dan proses pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen preheat suhu 3000C memiliki nilai rata-rata tegangan tarik terbesar dan spesimen preheat suhu 4000Cmemiliki nilai rata-rata regangan terbesar serta memiliki nilai modulus elastisitas terkecil. Hasil pengujian mikrografi menyatakan bahwa spesimen non preheating memiliki bentuk struktur mikro yang rapat dan memiliki sifat kekerasan yang cukup tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa spesimen dengan pengelasan SMAW preheat suhu 3000C memiliki nilai rata-rata tegangan tarik tertinggi sedangkan nilai rata-rata regangan tertinggi terjadi pada spesimen preheat suhu 4000C.
Analisa Kekuatan Tarik, Kekuatan Impact, Komposisi dan Cacat Pengecoran Paduan Aluminium Flat Bar dan Limbah Dryer AC dengan Menggunakan Cetakan Pasir dan Cetakan Hirdrolik sebagai Bahan Komponen Jendela Kapal Maftuh Murtiyoso; K Kiryanto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.496 KB)

Abstract

Aluminium adalah unsur non ferrous yang merupakan logam ringan yang mempunyai sifat yang lebih ringan dari besi dan baja, memiliki ketahanan yang baik terhadap korosi,  dapat menghantarkan listrik dan panas dengan baik, dan merupakan bahan paling berlimpah nomer 3 di dunia. Daur ulang (recycle) adalah proses untuk menjadikan bahan bekas menjadi bahan baru yang bertujuan untuk menghemat energi produksi. Perkembangan otomotif yang semakin meningkat menimbulkan peningkatan limbah dari kendaraan bermotor, salah satunya dryer AC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanis dan komposisi aluminium paduan limbah dryer AC. Pembuatan spesimen paduan aluminium flat bar dan limbar dryer AC dengan komposisi 50:50 menggunakan cetakan pasir dan cetakan sistem hidrolik. Dari percobaan yang dilakukan spesimen paduan alumiium flat bar dan limbah dryer AC memiliki kadar Al sebesar 81,27%. Untuk hasil kekuatan tarik yang lebih baik berasal dari spesimen dengan cetakan hidrolik dengan nilai rata-rata kekuatan tarik sebesar 16,13 kg/mm2. Untuk kekuatan impact yang lebih baik juga berasal dari cetakan hidrolik dengan nilai rata-rata sebesar 0,58 J/mm2. Dan untuk cacat pengecoran terdapat pada cetakan pasir.
Analisis Teknis Komposit Serat Daun Gebang (Corypha Utan L.) Sebagai Alternatif Bahan Komponen Kapal Ditinjau Dari Kekuatan Tekuk Dan Impak Hanung Bayu Setiawan; Hartono Yudo; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.078 KB)

Abstract

Serat daun gebang merupakan penguat komposit alami yang memiliki struktur serat yang kontinyu kuat, tidak membahayakan kesehatan, murah, tersedia melimpah karena belum temanfaatkan dengan baik serta dapat mengurangi polusi lingkungan. Pembuatan komposit serat daun gebang pada penelitian ini menggunakan metode hand layup dengan arah orientasi serat lurus, fraksi volume 70% matriks polyester dan 30% serat daun gebang dengan perlakuan alkali (NaOH) selama 4 jam. Hasil pengujian komposit berpenguat serat daun gebang didapatkan nilai uji bending tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah sudut 22,5° dengan nilai rata – rata 1048 Newton,  rata-rata kekuatan tekuk sebesar 27,905 N/mm² dan rata-rata nilai modulus elastisitas sebesar 27,905 Kg/mm2, nilai uji impact tertinggi pada sudut 22,5°  mempunyai  energi impak rata-rata sebesar 1,36 joule dengan nilai keuletan rata-rata  0,0078 joule/mm2 dan berdasarkan hasil pengujian bending dan impak yang didapat, semakin kecil sudut arah serat maka semakin besar kekuatan yang mempengaruhi hasil pengujian. Hasil pengujian menunjukan bahwa kekuatan tarik,  modulus elastisitas dan kekuatan uji bending tertinggi dari komposit berpenguat serat daun gebang belum dapat memenuhi ketentuan peraturan kekuatan tarik dan modulus elastisitas dari BKI yang mempunyai nilai modulus elastisitas 6860 N/mm²  dan kekuatan bending 150 N/mm².
ANALISA KEKUATAN TARIK DAN KOMPOSISI BAHAN PADUAN ALUMINIUM LIMBAH PISTON DENGAN METODE METAL CASTING UNTUK BAHAN JENDELA KAPAL Ade Purnawan; Sarjito Jokosisworo; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 4 (2016): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.292 KB)

Abstract

Metal Casting adalah metode Pengecoran (membuat komponen dengan cara menuangkan bahan yang dicairkan ke dalam cetakan ) menggunakan Cetakan jenis logam biasanya dipakai untuk industri-industri besar yang jumlah produksinya sangat banyak, sehingga sekali membuat cetakan dapat dipakai untuk selamanya. Cetakan logam harus terbuat dari bahan yang lebih baik dan lebih kuat dari logam coran, karena dengan adanya bahan yang lebih kuat maka cetakan tidak akan terkikis oleh logam coran yang akan di tuang.             Bahan yang digunakan adalah Siku Aluminium dan Aluminium Limbah Piston. Bahan-bahan harus melewati beberapa proses sebelum diuji, proses pencairan, proses pengecoran dari penggalian dari cetakan dengan pengecoran penggunaan logam. Setelah itu proses selanjutnya yang dilakukan adalah uji tensil. Disamping tensil materi tes juga lulus tes komposisi bahan.kekuatan tarik dari empat spesimen paduan  AluminiumSiku  dan Aluminium Limbah Piston dengan empat variasi paduan memiliki hasil tes kekuatan tarik sama-sama baik dan sesuai JIS dan standar SNI. Pada  paduan 40: 60 memiliki kakuatan tarik 11,232 kg/mm²  perpanjangan 1%, 30 : 70 sebesar 10,873 kg/mm² perpanjangan 0,75 %, 20: 80 sebesar 10,006 kg/mm² perpanjangan 0,71% dan 100 prosen Limbah Piston sebesar 9,401 kg/mm²  perpanjangan 0,558%. Hasil uji komposisi bahan setelah bergabung dengan empat variasi proporsi yang dilakukan menunjukkan hasil yang sama baik dan memenuhi JIS dan SNI standar. Paduan 40: 60 Al dari 88,79%, 30: 70 Al 88,58%, 20: 80 Al 86,92% dan paduan 100 prosen Piston  Al 86,73%. komposisi bahan tanpa peleburan dan paduan memiliki hasil komposisi yang baik. Aluminium Siku Al 98,51% dan limbah aluminium Piston 84,65%.
Co-Authors A.F. Zakki Abizar, Muhammad Affan Ade Purnawan Aditya Rio Prabowo Adnan Septi Hadi Romadlon Ahmad Fauzan Zakki Ahmad Naufal Akbar Triansyah Akhmad Rosihan Adam Ali Mustofa Aminuyati Amru, Syafiq Nada Anas Sebtu Prawira Andhyka Cakrabuana Adhitama Ari Wibawa Budi Santosa Arif Putra Rizky Arif Rahman Aziz Mukhsin Berlian Arswendo Adietya Bernadi Ramazini Bismika Burhan Biwa Abi Laksana Brata Wahyu Setya Budi Deddy Chrismianto Dennis Oscha Cholik Dhony Catur Pamungkas Dwi Joko Purnomo Edwin Wijaya Egi Juniawan Eko Sasmito Hadi Eli Akim Sipayung Enggal Noor Laksono Fachrurrozi Setiawan Farel Mauluvi Akmal Antaqiya Gema Mar'ie Habibie Good Rindo Gusti Mirza Hafizh Bahtiar Hanung Bayu Setiawan Hartono Yudo Hartono Yudo Huda, Muhammad Hafid Imam Pujo Mulyatno Imam Pujo Mulyatno Indra Artanto Jajang Sebastian Jonathan, Mario K Kiryanto K. Kiryanto Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Lukman Gewa Nurhakim Luthfi Isna Saputra M. Idam Titahgusti Maftuh Murtiyoso Mathews Yose Pratama Mawahib, M Zaenal Maxwell Pradolin Muchammad, Rizky Muhammad Dikwan Muhammad Jordi Noormansyah, Faridz Aditya Nurhafid, Aji Parlindungan Manik Parlindungan Manik Pratiwi, Ovin Ranica Putra, Ridwan Redi Reka Purnawati Rendy Kastanto Ridwan Redi Putra Rio Leksa Muchtiwibowo Rismawan Rismawan Rizka Azhari Yulistiawan Faruq Rizka Cholif Arrahman Rizky Cahya Kusuma Rizky Perdana Putra Sadewo, Guntur Samuel Samuel Sukanto Jatmiko Syahrul Mubarak Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Untung Budiarto Valentino Pasalbessy Vicky Bhaskara Sardi Wendi Riyandi Widyanto Widyanto Wilma Amiruddin