Sarjito Jokosisworo
Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK DAN SUDUT KAMPUH V TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN TEKUK ALUMINIUM 5083 PENGELASAN GTAW Ahmad Naufal; Sarjito Jokosisworo; Samuel Samuel
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.55 KB)

Abstract

Teknologi pengelasan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam teknologi manufaktur. Pada proses penyambungan dengan menggunakan pengelasan banyak tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal, mulai dari tahapan desain sampai tahapan pengerjaan. Tahapan desain yang dimulai dari pemilihan jenis pengelasan, sampai pada pemilihan sudut kampuh yang digunakan. Sedangkan pada tahapan pengerjaan akan dipilih kuat arus yang sesuai sampai pada posisi pengerjaan. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor arus listrik dan sudut kampuh las dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya. Pada arus 130 Amp dengan sudut kampuh 80º didapatkan keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik dan nilai regangan tertinggi diantara arus dan sudut kampuh lainnya, yaitu sebesar 150,4 N/mm2 dan regangan sebesar 0,70% begitu pula dengan kekuatan tekuk sebesar 591,38 N/mm². Selain pengujian, juga dilakukan analisa menggunakan software Ansys LS-Dyna dengan hasil kekuatan tarik spesimen 139000000 pa atau 139 N/mm2 untuk beban tarik maksimum 17893,33 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tarik maksimum 18800 N hasil kekuatan tarik spesimen 153000000 pa atau 153 N/mm2. Untuk pengujian tekuk didapatkan hasil kekuatan tekuk spesimen 528000000 pa atau 528 N/mm2 untuk beban tekuk maksimum 3619 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tekuk maksimum 4435,33 N hasil kekuatan tekuk spesimen 595000000 pa atau 595 N/mm2
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Aluminium 6061 Terhadap Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas) M. Idam Titahgusti; Sarjito Jokosisworo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 3 (2018): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminium 6061 merupakan jenis logam paduan yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri, termasuk dalam industri perkapalan sebagai rangka konstruksi. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar hasil sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas) adalah jenis pengelasan yang sering digunakan dalam penyambungan aluminium karena memiliki berbagai kelebihan dibandingkan jenis pengelasan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, impak, dan mikrografi pada aluminium 6061 setelah pengelasan menggunakan las TIG dan MIG dengan jenis sambungan double v-butt joint 60°. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sambungan las dari pengelasan MIG memiliki kekuatan tarik serta regangan rata-rata sebesar 109.16 MPa dan 8.27%, yang lebih baik daripada sambungan las pengelasan TIG, yaitu sebesar 73.61 MPa dan 7.93%. Sedangkan kekuatan impak rata-rata yang dihasilkan dari sambungan las menggunakan pengelasan TIG memiliki kekuatan impak sebesar 0.063 J/mm2 yang lebih baik daripada sambungan las menggunakan pengelasan MIG yaitu sebesar 0.056 J/mm2. Perubahan struktur mikro dari sambungan las menggunakan pengelasan MIG memiliki tingkat kerapatan yang lebih baik dibandingkan pengelasan TIG, karena struktur mikro yang dihasilkan pada las MIG terlihat lebih menyatu dan dapat bersubtitusi yang terlihat pada daerah HAZ (Heat Afected Zone).
ANALISA KEKUATANLENTUR BAHAN FERROCEMENT BERPENGUAT KAWAT ANYAM SEBAGAI BAHAN DASAR MODULAR FLOATING PONTOON Rismawan Rismawan; Berlian Arswendo Adietya; sarjito jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.006 KB)

Abstract

Teknologi ferrocement telah diaplikasikan dalam pembangunan produk Modular Floating Pontoon.Pada produk ponton ini pengujian yang dilakukan hanya sebatas pengujian apung dan prediksi kemampuan muatan maksimal.Struktur dinding ponton ferrocement tersebut belum dilakukan pengujian sehingga belum diketahui nilai kekuatannya.Maka  dilakukan pengujian kuat lentur untuk lebih mengetahui kekuatan dari bahan ferrocement yang digunakan Modular Floating Pontoon tersebut, sehingga dapat diketahui nilai – nilai pengujian laboratoriumnya. Sebagai variabel perbandingan dilakukan variasi salah satu bahan pembangun utama ponton tersebut yaitu wire mesh/kawat anyam. Pemilihan variabel tersebut juga untuk mengetahui peranan kawat anyam dalam struktur ferrocement. Hasil dari pengujian kuat lentur spesimen menunjukan bahwa, spesimen dengan kawat anyam bukaan ¼” memiliki rata – rata nilai P dan σp yang lebih besar (P = 4.860 N dan σp = 52,884 MPa) dari spesimen yang menggunakan kawat anyam ½” (P = 2.052 N dan σp = 21,294 MPa). Pada struktur ferrocement, kawat anyam memiliki peranan tidak hanya mempermudah pengerjaan plester saja.Namun juga memberi pengaruh terhadap kekuatan yaitu spesimen dengan 1 lapis kawat anyam bukaan ¼” memiliki nilai σp> 207,299 % dari spesimen tanpa kawat anyam.Penggunaan kawat anyam juga dapat meminimalisir titik keruntuhan dimensi struktur ferrocement tersebut.
ANALISA KEKUATAN SAMBUNGAN KAYU LABAN (VITEX PINNATA L.) PADA KONSTRUKSI GADING KAPAL TRADISIONAL Egi Juniawan; Ari Wibawa Budi Santosa; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 1 (2015): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.51 KB)

Abstract

 Pembuatan suatu kapal berkonstruksi kayu kebanyakan dibangun oleh pengrajin kapal di galangan tradisional. Keahlian ini didapat dari warisan turun temurun termasuk dalam hal proses penyambungan kayu, konstruksi kapal maupun spesifikasi teknis, sehingga dari segi kekuatan konstruksi tidak diketahui pasti tingkat pemenuhan persyaratan. Material yang digunakan adalah kayu berjenis Laban (Vitex Pinnata L.) di umpamakan sebagai gading kapal pada kapal tradisional, untuk memulai penelitian terlebih dahulu harus mendapatkan syarat kapal kayu dengan mengacu BKI Kapal Kayu 1996. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian kadar air, kerapatan, uji tekan, uji tarik dan uji lentur untuk uji lentur dilakukan dengan pembebanan 1 titik atau terpusat dengan variasi sambungan diantaranya plain scraf, hook scraf dan key scraf.  Berdasarkan hasil pengujian bambu memiliki kadar air rata-rata 11,05% , kerapatan rata-rata 0,55 gr/cm3, kuat tarik sejajar rata-rata 90,91 MPa,dan kuat tekan sejajar serat  rata-rata 7,30 MPA. Uji kuat lentur sambungan Plain Scraf MOE rata-rata 5014,62 Mpa dan MOR rata-rata 28,00 MPa, Uji kuat lentur sambungan Hook Scraf MOE rata-rata 7190,30 Mpa dan MOR rata-rata 32,20 MPa, Uji kuat lentur sambungan Key Scraf MOE rata-rata 7495,19 Mpa dan MOR rata-rata 22,20 MPa, Uji kuat lentur kayu kontrol MOE rata-rata 14058,30 Mpa dan MOR rata-rata 79,80 MPa.
Analisa Pengaruh Perbedaan Diameter Pin Tool Terhadap Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Pada Aluminium 6061 Dengan Metode Pengelasan Friction Stir Welding (FSW) Rizka Azhari Yulistiawan Faruq; Sarjito Jokosisworo; Eko Sasmito Hadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 1 (2019): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.703 KB)

Abstract

Dalam dunia perkapalan, aluminium 6061 banyak digunakan untuk konstruksi kapal. Pengelasan Friction Stir Welding (FSW) menggunakan prinsip gesekan dari benda kerja yang berputar dengan benda kerja lain yang diam sehingga mampu melelehkan benda kerja yang diam dan akhirnya tersambung menjadi satu.  Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil tarik, impak, dan struktur mikrografi dengan feed rate 10 mm/menit dengan variasi diameter pin (6 mm, 7 mm, dan 8 mm) terhadap pengelasan FSW dengan jenis penyambungan butt joint. Hasil penelitian menunjukkan sambungan las FSW pada diameter 6 mm memiliki kekuatan uji tarik 85,82 MPa, regangan 10,89%, dan kekuatan uji impak 0,37 J.  Pada diameter 7 mm memiliki kekuatan uji tarik 89,90 MPa, regangan 11,47%, dan kekuatan uji impak 0,38 J. Pada diameter 8 mm memiliki kekuatan uji tarik 143,17 MPa, regangan 13,71%, dan kekuatan uji impak 0,46 J. Hasil uji struktur mikrografi menunjukkan perubahan bentuk dan ukuran butir pertikel struktur mikro sehingga mempengaruhi sifat mekanik, dan pada diameter pin 8 mm memiliki tingkat kerapatan yang lebih baik dibandingkan diameter pin 7 mm, dan 6 mm. Hasil tersebut diakibatkan semakin lebar diameter pin pengelasan maka semakin lebar jalur pengelasan yang dihasilkan, serta semakin banyak aluminium yang dapat diaduk sifat mekaniknya semakin baik.
Analisa Perbandingan Variasi Waktu Pack Carburizing Terhadap Kekuatan Puntir, Tarik, Kekerasan dan Komposisi Kimia Baja ST 60 Sebagai Material Poros Propeller Hafizh Bahtiar; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja ST 60 merupakan suatu material yang bisa digunakan sebagai bahan pembuatan poros propeller karena tergolong baja yang di perbolehkan oleh BKI. Poros yang aus sering terjadi karena kekerasan permukaan baja lebih rendah dari bantalan propeller. Maka proses carburizing menjadi salah satu cara untuk mengatasi keausan tersebut, tetapi dalam segi kekuatan tarik dan komposisi masih sesuai standar BKI. Carburizing merupakan salah satu cara pengerasan permukaan, yaitu dengan memanaskan baja pada daerah temperatur 816°C s/d 1093°C dalam ruang yang mengandung unsur karbon. Sedangkan tujuan uji puntir adalah untuk mengetahui besaran tegngan geser maksimum saat patah. Dalam penelitian ini juga meneliti pengaruh penambahan waktu penahanan panas carburizing dari 90 menit ke 120 menit terhadap sifat mekanis baja. Hasil yang dicapai bahwa baja ST 60 memenuhi persyaratan BKI ditinjau dari kekuatan tarik (730,00 Mpa) Raw Material, (696,33 Mpa) carburizing 90’’ dan (705,00 Mpa) carburizing 120’’ dan penambahan carbonnya(0,45 % ) Raw Material, (0,47 %) carburizing 90’’ dan (0,50 % ) carburizing 120’’. Untuk nilai kekerasan mendapatkan hasil (177,67 VHN ) Raw Material, (215,33 VHN) carburizing 90’’ dan (224,33VHN ) carburizing 120’’. Maka dapat disimpulkan bahwa setelah proses carburizing kekerasan yang terjadi semakin naik dan kekuatan tarik maupun komposisi kimia masih sesuai standar BKI
Perancangan Dan Kajian Ekonomis Alat Pendorong Hidrolik Untuk Peluncuran Bangunan Baru Kapal Ikan Tradisional Aditya Rio Prabowo; Kiryanto Kiryanto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 1 (2014): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.73 KB)

Abstract

Kapal ikan tradisional merupakan sarana yang paling diminati nelayan dalam bekerja menangkap ikan, oleh karenanya industri perkapalan ikan tradisional berkembang pesat di Indonesia. Pembangunan kapal tradisional dilakukan seperti hal nya kapal modern dan kedua jenis kapal ini tentu akan mengalami proses peluncuran dalam setelah pembangunan lambung kapal selesai. Dalam hal peluncuran, peluncuran kapal tradisional berbeda dengan kapal modern dimana peluncuran tidak menggunakan bidang miring dan kapal di dorong dengan dongkrak serta di tarik oleh sling. Dengan metode ini, proses peluncuran kapal berjalan lambat dan tidak efisien. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah alat dorong yang memudahkan proses peluncuran. Tujuan dari penelitian ini adalah merencanakan alat pendorong hidrolik untuk peluncuran bangunan baru kapal ikan tradisional.Pembuatan alat pendorong ini merencanakan berat beban yang akan didorong, waktu peluncuran saat menggunakan alat pendorong dan kapasitas gaya dorong alat. Kemudian menentukan spesifikasi komponen alat pendorong yaitu: silinder hidrolik, pompa, mesin diesel dan tanki reservoir. Dari hasil survey lapangan dan perhitungan untuk perencanaan alat pendorong hidrolik diperoleh kesimpulan bahwa: hasil dari perencanaan alat pendorong hidrolik diperoleh kapasitas gaya dorong maksimum alat pendorong hidrolik sebesar 315000 N dan kecepatan gerak tongkat piston alat pendorong hidrolik 40 cm / menit. Dan komponen sistem hidrolik yang butuhkan berupa: pompa dengan jenis gear pump yang mempunyai maximum pressure 250 kgf/cm2, silinder hidrolik ditentukan memiliki inner diameter 160 mm, mesin penggerak digunakan mesin diesel yang memiliki daya 16 HP dan putaran mesin 2200 rpm. Dan tanki fluida dengan daya tampung 66066 cm3 dengan dimensi panjang 50 cm, lebar 37 cm, dan tinggi 36 cm. Biaya investasi yang diperlukan untuk membangun alat pendorong hidrolik adalah sebesar sebesar Rp 49.928.918,00. Dan dari hasil analisa Break Even Point (BEP), pengembalian biaya investasi dengan sumber biaya investasi pinjaman lunak (loan) terjadi pada tahun ke-3 dan untuk pengembalian biaya investasi dengan sumber biaya pinjaman komersial terjadi pada tahun ke-4.
ANALISA TEKNIS DAN EKONOMIS PENGGUNAAN MATERIAL KOMPOSIT SANDWICH DENGAN METODE VACUUM INFUSION SEBAGAI MATERIAL KAPAL Rio Leksa Muchtiwibowo; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.496 KB)

Abstract

Teknologi laminasi komposit dengan metode vacuum infusion dalam pembuatan pada galangan kapal fiberglass saat ini belum familiar digunakan dalam industri galangan kapal fiber di Indonesia. Penelitian ini bersifat eksperimen dan dilakukan untuk mendapatkan data analisa teknis dan ekonomis pembuatan komposit dengan metode vacuum infusion. Dari segi analisa teknis bertujuan membandingkan hasil kekuatan lentur dan impak dari variasi komposit sandwich menggunakan divinycell H80 ketebalan 15 mm dan serat E-glass biaxial arah serat +450 dengan berat 800 gr/m2 dan arah serat 0,900 dengan berat 815 gr/m2, sehingga dapat diketahui variasi komposisi yang optimal. Sedangkan dari analisa ekonomis, membandingkan keuntungan dan manfaat perbandingan dari komposit sandwich dengan komposit biasa. Pembuatan  komposit sandwich dengan proses vacuum infusion dengan fraksi berat 30% matrik vinylester dan 70% serat E-Glass tipe biaxial dengan empat variasi komposisi arah serat. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor komposisi lamina dan arah serat sangat berpengaruh dalam menentukan kuat lentur, tetapi tidak dengan kuat impak, meskipun apabila dirata-rata variasi kedua memiliki hasil terbesar dengan energy impak sebesar 85,4 Joule dan nilai ketangguhan impak sebesar 0,033 J/mm2. Hasil uji lentur menunjukkan bahwa kuat lentur tertinggi pada komposit sandwich variasi kedua dengan rata-rata ρmax sebesar 2013,2 Newton atau 205,43 Kg, rata-rata nilai kuat tekan sebesar 4,874 Kg/mm2 dan rata-rata nilai modulus elastisitas sebesar 14,15 Kg/mm2. Namun apabila membandingkan hasil uji lentur dengan standard kuat lentur BKI, tak satupun komposit sandwich yang memenuhi persyaratan. Sedangkan pada analisa ekonomis, penggunaan komposit sandwich menyebabkan kapal lebih mahal 37,56% dan lebih tebal sekitar 71,31% dari komposit single skin, namun lebih ringan sekitar 74,51% dari komposit single skin.  
Analisa Pengaruh Proses Quenching Dengan Media Berbeda Terhadap Kekuatan Tarik dan Kekerasan Baja St 36 Dengan Pengelasan SMAW Muhammad Jordi; Hartono Yudo; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.414 KB)

Abstract

Salah satu tujuan proses perlakuan panas (Heat Treatment) pada baja adalah untuk pengerasan (hardening), yaitu proses pemanasan baja sampai suhu di daerah atau diatas daerah kritis disusul dengan pendinginan yang cepat dinamakan quench, (Djafrie, 1995). Akibat proses hardening pada baja, maka timbulnya tegangan dalam (internal stress), yang akan menaikkan kekerasan namun terkadang mengakibatkan baja menjadi getas (britlle). Penelitian ini membahas sejauh mana variasi media pendingin berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan tarik baja karbon rendah ST 36. Sehingga bila diketahui tingkat perbandingan kekuatan tariknya dan kesesuainnya terhadap aplikasi dan kegunaannya, maka dapat diambil suatu keputusan untuk menggunakan proses quenching pada media yang tepat, agar menghemat waktu dan biaya produksi. Pengkajian lebih lanjut dampak dari faktor perbedaan media quenching, dapat dilakukan melalui pengujian bahan. Pengujian bahan yang digunakan adalah pengujian kekuatan tarik dan kekerasan. Dari hasil pengujian didapat spesimen tanpa proses quenching menghasilkan kekuatan tarik sebesar 341,79 MPa dan kekuatan rata-rata terhadap beban tarik yang paling tinggi diperoleh pada perlakuan quenching menggunakan media pendingin air yaitu sebesar 503,61 MPa dan terendah berturut turut garam 472,75 MPa dan oli 408,09 MPa. Hasil pengujian kekerasan raw material untuk daerah tengah las sebesar 92,7 VHN, 1 cm kiri las 79,46 VHN, dan 1 cm kanan las 79,46 VHN. Sedangkan pengujian kekerasan spesimen hasil proses quenching nilai rata-rata  tertinggi di hasilkan oleh media pendingin air dengan nilai kekeasan di tengah las yaitu 105,12 VHN, 1 cm kiri las 89,07 VHN, dan 1 cm kanan las 88,47 VHN. Sedangkan untuk nilai terendah berturut-turut yaitu garam dengan nilai kekerasan di tengah las 103,86 VHN, 1 cm kiri las 84,77 VHN, 1 cm kanan las 85,43 VHN, dan oli dengan nilai di tengah las 93,51 VHN, 1 cm kiri las 80,87 VHN, dan 1 cm kanan las 82,25 VHN. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa peningkatan kekuatan dan kekerasan setelah proses quenching tidak begitu signifikan pada baja ST 36.
DESAIN STRUKTUR DAN ANALISA KARAKTERISTIK KEKUATAN BUCKLING PADA SWEDGEFRAME PRESSURE HULL DENGAN MENGGUNAKANFINITE ELEMENT ANALYSIS Eli Akim Sipayung; Ahmad Fauzan Zakki; Sarjito JokoSisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 3 (2014): Agustus
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.955 KB)

Abstract

Kapal selam adalah kapal yang bergerak di bawah permukaan air, umumnya digunakan untuk tujuan dan kepentingan militer. Namun seiring dengan berkembangnya industry lepas pantai beberapa tipe kapal selam dapat digunakan untuk kepentingan suplay, perawatan pada  bangunan lepas pantai dan penelitian. Secara umum, struktur kapal selam terdiri dari dua lambung yaitu lambung luar yang mana lebih difokuskan terhadap pengaruh beban-beban hidristatik sehingga biasa disebut hydrodynamic hull, dan lambung dalam yang mana bagian ini berfungsi untuk menahan tekanan hidrostatik pada saat kapal dalam kondisi menyelam. Penelitian ini membahas tentang desain dan analisa kekuatan inner hull kapal selam yang menggunakan swedge frame sehingga nanti dapat disimpulkan hasilnya.   Penelitian ini menganalisa  pressure hull dengan variasi kedalaman (100 meter, 300 meter, dan 500 meter), ketebalan pelat yang digunakan 35 mm, dan ukuran profil T yang digunakan. Pembuatan model dikerjakan di software FEM, dan buckling analysis akan dilakukan menggunakan software.Dari hasil analisa, untuk kedalaman 100 meter kapal selam yang menggunakan konstruksi sewdge frame mendapat tekanan sebesar 1.02 x 106 Pascal. Dihasilkan Buckling Load Factor sebesar 1,19081. Dari hasil analisa, didapatkan bahwa hasil keseluruhan Buckling Load Factor (eigenvalue) adalah > 1. Berdasarkan validasi dari Practical Aspects of Finite Element Simulation, bahwa struktur yang Buckling Load Factornya > 1 maka struktur tersebut dalam keadaan aman
Co-Authors A.F. Zakki Abizar, Muhammad Affan Ade Purnawan Aditya Rio Prabowo Adnan Septi Hadi Romadlon Ahmad Fauzan Zakki Ahmad Naufal Akbar Triansyah Akhmad Rosihan Adam Ali Mustofa Aminuyati Amru, Syafiq Nada Anas Sebtu Prawira Andhyka Cakrabuana Adhitama Ari Wibawa Budi Santosa Arif Putra Rizky Arif Rahman Aziz Mukhsin Berlian Arswendo Adietya Bernadi Ramazini Bismika Burhan Biwa Abi Laksana Brata Wahyu Setya Budi Deddy Chrismianto Dennis Oscha Cholik Dhony Catur Pamungkas Dwi Joko Purnomo Edwin Wijaya Egi Juniawan Eko Sasmito Hadi Eli Akim Sipayung Enggal Noor Laksono Fachrurrozi Setiawan Farel Mauluvi Akmal Antaqiya Gema Mar'ie Habibie Gusti Mirza Hafizh Bahtiar Hanung Bayu Setiawan Hartono Yudo Hartono Yudo Huda, Muhammad Hafid Imam Pujo Mulyatno Imam Pujo Mulyatno Indra Artanto Jajang Sebastian Jonathan, Mario K Kiryanto K. Kiryanto Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Lukman Gewa Nurhakim Luthfi Isna Saputra M. Idam Titahgusti Maftuh Murtiyoso Mathews Yose Pratama Mawahib, M Zaenal Maxwell Pradolin Muchammad, Rizky Muhammad Dikwan Muhammad Jordi Noormansyah, Faridz Aditya Nurhafid, Aji Parlindungan Manik Parlindungan Manik Pratiwi, Ovin Ranica Putra, Ridwan Redi Reka Purnawati Rendy Kastanto Ridwan Redi Putra Rio Leksa Muchtiwibowo Rismawan Rismawan Rizka Azhari Yulistiawan Faruq Rizka Cholif Arrahman Rizky Cahya Kusuma Rizky Perdana Putra Sadewo, Guntur Samuel Samuel Sukanto Jatmiko Syahrul Mubarak Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Untung Budiarto Valentino Pasalbessy Vicky Bhaskara Sardi Wendi Riyandi Widyanto Widyanto Wilma Amiruddin