Sarjito Jokosisworo
Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 85 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Salinitas Air Laut Terhadap Laju Korosi Baja SS 400 pada Kapal Reka Purnawati; Sarjito Jokosisworo; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 8, No 2 (2020): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.181 KB)

Abstract

Baja merupakan komponen plat utama untuk badan maupun lambung kapal. Baja SS 400 merupakan jenis baja karbon rendah dengan kandungan karbon sebesar 0,20%, silicon 0,14% dan mangan sebesar 0,29%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap laju korosi pada baja SS 400 dengan media air laut yang diperoleh dari air laut wilayah Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Jepara. Penelitian ini menggunakan metode kehilangan berat yaitu metode ketahanan korosi dengan cara mencelupkan seluruh permukaan spesimen dan menghitung hilang masa selama penelitian berlangsung. Jumlah spesimen yang digunakan pada penelitian ini adalah 16 buah yang dibagi kedalam 4 kelompok air laut (Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Jepara). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro dan Laboratorium Bahan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada dengan menggunakan variabel manipulasi air laut sebagai media korosif yang diambil dari 4 wilayah yang berbeda yaitu Bantul,  Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Jepara , massa spesimen yang berkurang selama penelitian berlangsung adalah variabel respon dan variabel kontrolnya adalah dimensi spesimen uji berbentuk silinder dengan dimensi diameter 14 mm dan ketebalan 3 mm, lamanya perendaman 3 minggu dan volume air laut sebesar 1 liter (ASTM G31-72). Hasil pengujian korosi dari baja SS 400 untuk wilayah Bantul dengan salinitas 23.700 ppm laju korosi = 0,170366435 mmpy, Gunung Kidul dengan salinitas 22.750 ppm laju korosi = 0,128687728 mmpy, Kulonprogo dengan salinitas 23.200 ppm laju korosi = 0,131457914 mmpy dan Jepara dengan salinitas 17.800 laju korosi = 0,102496879 mmpy.
Pengaruh Kuat Arus Listrik dan Travelling Speed terhadap Kekuatan Impact Alumunium 6061 Pengelasan Gas Tungsten ArchWelding (GTAW) dengan Gas Pelindung Argon Anas Sebtu Prawira; Sarjito Jokosisworo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.078 KB)

Abstract

Pengelasan aluminium 6061 dilakukan dengan proses GTAW (Gas Tungsten Arch Welding) menggunakan gas pelindung argon berjenis sambungan pengelasan single v-butt joint dengan variasi kuat arus dan travelling speed. Dari hasil pengujian variasi kuat arus 150 Amp diperoleh nilai impact sebesar 0,130 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,115 J/mm2 pada travelling speed 15 cm/menit. Dari variasi kuat arus 170 Amp, diperoleh nilai impact sebesar 0,095 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,065 J/mm2 pada travelling speed 15 cm/menit . Dari variasi kuat arus 200 Amp, diperoleh nilai impact sebesar 0,090 J/mm2 pada travelling speed 10 cm/menit dan 0,053 J/mm2. Dari data tersbuat, diperoleh kekuatan impact yang tertinggi dan optimal terjadi pada kuat arus 150 Amp dengan  travelling speed 10 cm/menit yaitu sebesar 0,130 J/mm2. Sedangkan kekuatan impact terendah ada pada kuat arus 200 Amp dengan travelling speed 15 cm/menit yaitu sebesar 0,090 J/mm2. Kekuatan impact dari kuat arus 150 Amp ke 200 Amp mengalami penurunan pada setiap kecepatan lasnnya. Data tersebut diperkuat dengan adanya analisa hasil patahan dari foto makro yang menunjukan bahwa pada kuat arus 150 Amp merupakan patahan yang lebih ulet dibandingkan pada 170 Amp dan 200 Amp.[1]       Darsin, M., H. Sutjahjono, and A. Hadi. 2013. Mechanical Properties and Micro Structure of Aluminum Alloys [Al-Mg-Si] as Results of Variation Time in Friction Welding. [2]       Sari, N. H. 2018. Material Teknik. Deepublish, Yogyakarta.[3]       Nurhafid, Aji. 2017. Analisa Pengaruh Perbedaan Feed Rate Terhadap Kekuatan Tarik dan Impak Aluminium 6061 Metode Pengelasan Friction Stir Welding. Jurnal Teknik Perkapalan, 5(2), 473-481.[4]       Adrian, Y. 2012. Analisis Peningkatan Penetrasi Pengelasan Tungsten Inert Gas (TIG) pada Material Stainless Steel dengan Memanfaatkan Medan Elektromagnetik. Skripsi, Universitas Indonesia.[5]       Putra, R. P., S. Jokosisworo, dan Kiryanto. 2016. Pengaruh Arus Listrik dan Temperatur terhadap Kekuatan Tarik dan Impact  Alumunium 5083 Pengelasan GMAW (Gas Metal ArcWelding). Jurnal Teknik Perkapalan, 4(1), 152 – 161. [6]       Jokosisworo, S. 1995. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Pengelasan Terhadap Sifat Mekanis Pelat Baja Kapal Hasil Pengelasan Submerged Arc Welding. Universitas Indonesia. [7]       Adam, A. R., S. Jokosisworo, dan Samuel. 2016. Pengaruh Kuat Arus Listrik, Temperatur dan Variasi Sudut Kampuh terhadap Kekuatan Impact Alumunium 5083 Pengelasan GTAW dengan Gas Pelindung Helium. Jurnal Teknik Perkapalan, 4(1), 297 – 305. [8]       Passalbessy, V., S. Jokosisworo, dan Samuel. 2015. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Las Terhadap Kekuatan Tarik Alumunium 5083 Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(4), 337 – 345. [9]       Titahgusti, M. I., S. Jokosisworo, dan U. Budiarto. 2018. Anaslisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi pada Sambunngan Las Alumunium 6061 Terhadap Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(6).[10]   Surdia, T. dan S. Saito. 1999. Pengetahuan Bahan Teknik. Pradnya, Jakarta.[11]   Wiryosumarto, H. dan T. Okumura. 2000. Teknologi Pengelasan Logam. Pradnya Paramita, Jakarta.[12]   O’Brien, R. L. 2003. Welding Handbook, Volume 2 – Welding Processes. American Welding Society, Miami.[13]   Sunaryo, Hery. 2008. Teknik Pengelasan Kapal Jilid 1 untuk Sekolah Menegah Kejuruan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta.[14]   Yudo, H., dan I. P. Mulyanto. 2008. Pengaruh Penggunaan Gas Pelindung Argon Grade A dan Grade C Terhadap Kekuatan Tarik  Lasan  Sambungan Butt Pada  Material Kapal Aluminium 5083. Jurnal KAPAL, 5(3), 181 – 190. [15]   Pasalbessy, V., S. Jokosisworo, dan Samuel. Pengaruh Besar Arus Listrik dan Kecepatan Las terhadap Kekuatan Tarik Alumunium 5083 Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas). Jurnal Teknik Perkapalan, 3(4), 336 – 345. [16]   ASTM E23. 2009. Standard Specification for Aluminum and Aluminum-Alloy Sheet and Plate. USA.
Analisa Kekuatan Tarik, Tekuk, dan Mikrografi Baja St 42 Akibat Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) dengan Variasi Posisi Pengelasan Maxwell Pradolin; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 42 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri sebagai rangka konstruksi. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, tekuk, dan struktur mikrografi dari sambungan las jenis single v-butt joint 60° dengan perbedaan posisi pengelasan pada baja St 42. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor posisi pengelasan pada hasil pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja St 42 dengan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 419,88 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,05%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,94 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 578,42 MPa. Baja St 42 dengan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 408,71 MPa, rata-rata regangan sebesar 46,21%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,85 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 562,90 MPa. Baja St 42 dengan posisi pengelasan 3G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 413,97 MPa, rata-rata regangan sebesar 46,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,88 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 566,14 MPa. Sedangkan baja St 42 dengan posisi pengelasan 4G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 400,33 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,59%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 8,79 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 545,80 MPa. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja St 42 dengan posisi pengelasan 1G memiliki kekuatan yang lebih baik dari posisi pengelasan 2G, 3G, ataupun 4G.
Analisa Kekuatan Tarik Dan Kekuatan Lentur Balok Laminasi Bambu Petung Dan Kayu Sengon Untuk Komponen Kapal Kayu Edwin Wijaya; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.091 KB)

Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi.Disisi lain pemanfaatan bambu selama ini belum optimal walapun hasil beberapa penelitian menunjukan bahwa bambu memiliki kekuatan dan keunggulan dibandingkan dengan material bangunan lainya. Maka dilakukan penelitian tentang laminasi bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kadar air, kerapatan, kuat Tarik, MOR, modulus elastisitas dari laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon akibat perbedaan persentase variasi bahan (70% petung - 30% sengon, 60% petung - 40% sengon, 50% petung - 50% sengon, 40% petung – 60% sengon, 30% petung - 70% sengon). Dalam penelitian ini dibuat balok laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon untuk uji kuat Tarik mengacu pada standar  SNI 03-3399-1994  dan uji kuat lentur mengacu pada standar SNI 03- 3960- 1995. Hasil penelitian untuk untuk pengujian Tarik memiliki kadar air kering udara rata-rata 13.21 %, berat jenis terbesar 0.7060 gr/cm³ untuk spesimen tarik, kekuatan Tarik rata-rata sebesar 163,45 Mpa untuk kode T.7.3 (varian paling optimal). Untuk laminasi bambu pengujian lentur memiliki nilai kadar air kering udara rata – rata sebesar 13.88%, berat jenis sebesar 0.6751 gr/cm³ untuk kode L.7.3 (varian paling optimal), modulus of repture sebesar 92,76 Mpa, modulus elastisitas 7928,3 Mpa.
Analisa Kekuatan Puntir, Kekuatan Tarik dan Kekerasan Baja ST 60 sebagai Bahan Poros Baling-baling Kapal (Propeller Shaft) setelah Proses Tempering Ridwan Redi Putra; Sarjito Jokosisworo; Ari Wibawa Budi Santosa
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 1 (2018): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.301 KB)

Abstract

Poros baling-baling (propeller shaft) adalah salah satu komponen kapal yang berfungsi untuk  memindahkan/menyalurkan daya dari mesin induk ke baling-baling menjadi gaya dorong untuk menggerakkan sebuah kapal. Dalam berputarnya/bekerjanya poros baling-baling untuk menghasilkan gaya dorong, poros tersebut menanggung berbagai jenis beban akibat dari kombinasi berbagai bentuk gaya. Beban tersebut diantaranya adalah beban puntir, beban tarik dan beban tekan, dimana beban-beban tersebut terjadi secara berulang-ulang yang akhirnya akan mengakibatkan kegagalan  lelah (fatigue failure) pada material. Untuk mendapatkan ketahanan destruktif yang tinggi dan  kekuatan material yang baik perlu dilakukan proses perlakuaan panas (heat treatment). Pada penelitian ini  dilakukan proses perlakuan panas quenching dengan menggunakan media pendingin pelumas Mesran SAE 20W – 50 dan dilanjutkan dengan proses perlakuan panas tempering dengan menggunakan media pendingin udara suhu ruangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik puntir, tarik, kekerasan dan struktur metalografi pada material baja ST 60 setelah proses tempering. Hasil penelitian menunjukan bahwa baja ST 60 perlakuan panas tempering memiliki kekuatan puntir 737,72 Mpa, kekuatan tarik 853, 49 Mpa dan kekerasan brinell sebesar 325,6 BHN.
Efek Temperatur Normalizing Terhadap Sifat Mekanik Baja ST 60 Sebagai Poros Baling-Baling Kapal Lukman Gewa Nurhakim; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Normalizing adalah proses pemanasan baja dimana pemanasan mencapai suhu austenite kemudian didinginkan perlahan melalui udara terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik dari baja ST 60 dengan proses pemanasan normalizing di tiga variasi suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja ST 60 dengan perlakuan normalizing suhu 8000C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 641,45 MPa dan rata-rata regangan sebesar 25,85%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 527,46 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 195,05 VHN. Baja ST 60 dengan proses normalizing suhu 8500C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 632,83 MPa dan rata-rata regangan sebesar 24,37%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 485,82 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 190,90 VHN. Sedangkan baja ST 60 dengan proses normalizing suhu 9500C memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 592,81 MPa dan rata-rata regangan sebesar 22,48%. Serta memiliki tegangan geser sebesar 466,54 MPa dan rata-rata kekerasan sebesar 181,14 VHN. Perlakuan panas perlakuan panas normalizing dengan variasi suhu 8000C struktur mikro menunjukkan fasa pearlite yang lebih dominan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja ST 60 dengan perlakuan panas normalizing di suhu 8000C memiliki sifat mekanik yang lebih baik dari baja ST 60 dengan variasi suhu 8500C dan 9500C.
Analisa Stabilitas Dan Olah Gerak (Seakeeping) Kapal Pada MV. Pan Marine Setelah Dikonversi Dari Kapal Kru Menjadi Kapal Wisata Andhyka Cakrabuana Adhitama; Eko Sasmito Hadi; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 1 (2019): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.237 KB)

Abstract

MV. Pan Marine merupakan salah satu kapal offshore yang sudah lama lay up disebabkan industri minyak dan gas yang sedang menurun. Oleh sebab itu, PT. Pan Marine melakukan konversi kapal tersebut dari kapal kru (offshore supply vessel) menjadi kapal wisata (passengger ship) agar tetap bisa operasi dan menghasilkan pemasukan. Kapal tersebut mengalami penambahan bangunan atas sehingga kapasitas muatan akan semakin banyak. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai macam kondisi muatan serta menggunakan 5 variasi sudut yang berbeda. Tujuannya adalah mendapat nilai GZ, periode oleng, serta roll motion yang sesuai dengan standar kriteria umum. Metode yang digunakan adalah dengan membuat model 3D dari kapal sebelum dan setelah konversi yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa stabilitas serta olah gerak menggunakan software CFD. Hasil dari analisa tersebut kemudian disesuaikan dengan kriteria IMO A.749(18) untuk stabilitas dan NORDFORSK untuk olah gerak. Dari analisa stabilitas didapatkan perbedaan rata-rata GZ kedua model kapal adalah 2,78% dan perbedaan rata-rata periode oleng dari kedua model kapal adalah 0,99%. Untuk analisa olah gerak, perbedaan nilai RMS gerakan roll pada kedua model kapal adalah 30%. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa kapal konversi ini layak secara stabilitas dan olah geraknya, sehingga aman untuk digunakan mengangkut penumpang.
Analisis Pengaruh Variasi Temperatur Austenisasi Pada Proses Quenching Tempering Baja ST37 Terhadap Sifat Mekanis dan Struktur Mikro Sebagai Material Poros Propeller Jonathan, Mario; Budiarto, Untung; Jokosisworo, Sarjito
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 12, No 3 (2024): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poros propeller merupakan komponen pada kapal yang memiliki peran penting pada proses perpindahan daya dari main engine ketika kapal sedang beroperasi. Proses perpindahan daya yang terjadi menyebabkan poros yang bekerja akan menerima berbagai jenis beban akibat dari berbagai jenis gaya, sehingga diperlukan sifat mekanis dari material yang baik untuk digunakan sebagai material poros propeller. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi temperatur austenisasi pada proses quenching tempering pada baja ST 37 terhadap sifat mekanis dan struktur mikro sebagai material poros propeller. Metode yang tepat untuk meningkatkan sifat mekanis pada suatu material adalah dengan memberikan perlakuan panas (heat treatment) pada material tersebut, perlakuan panas berupa quenching tempering merupakan metode yang tepat untuk mendapatkan sifat mekanis material berupa kombinasi antara kekuatan dan keuletan. Variasi temperatur austenisasi yang digunakan pada penelitian ini adalah 750°C, 850°C, dan 950°C. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sifat mekanis dari baja ST 37 setelah melalui proses quenching tempering cenderung mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya temperatur austenisasi yang digunakan. Berdasarkan dari data hasil pengujian, peningkatan sifat mekanis ditunjukkan oleh meningkatnya nilai kekuatan tarik, kekuatan puntir, dan kekerasan pada baja ST 37, serta penurunan sifat kekakuan dari material berupa penurunan nilai modulus young dan modulus geser. Nilai kekuatan tarik, puntir, dan kekerasan meningkat hingga mencapai 544,7 MPa, 114,7 MPa, dan 220,8 Hv pada variasi temperatur austenisasi 950°C. Peningkatan sifat mekanis pada baja ST 37 dikarenakan adanya transformasi struktur mikro pada baja berupa kombinasi antara ferrite dan tempered martensite setelah melalui proses heat treatment quenching tempering
Pengaruh Variasi Temperatur PWHT Terhadap Kekuatan Tarik, Impak, dan Struktur Mikro Aluminium 6061 Pasca Pengelasan MIG Zamzami, Zamzami; Budiarto, Untung; Jokosisworo, Sarjito
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 11, No 2 (2023): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminium 6061 merupakan jenis aluminium yang sering digunakan dalam konstruksi kapal. Pada saat pasca pengelasan logam terdapat tegangan-tegangan sisa di daerah sekitar heat affected zone (HAZ). Post Weld Heat Treatment merupakan metode yang digunakan untuk mengurangi tegangan sisa. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan panas terhadap kekuatan tarik, impak, struktur mikro aluminium 6061 pengelasan MIG variasi temperatur PWHT. Nilai kekuatan tarik dan regangan tarik paling tinggi didapat dari spesimen dengan PWHT 450°C  yaitu sebesar 212 Mpa dan 12.7%. Nilai modulus elastisitas paling tinggi didapat dari spesimen tanpa perlakuan panas yaitu sebesar 124.8 Gpa.  Nilai kekuatan impak paling tinggi didapat dari spesimen dengan perlakuan panas 550°C sebesar 0,078 J/mm². Nilai kekuatan impak paling rendah didapat dari spesimen tanpa perlakuan panas. Untuk nilai regangan tarik paling rendah didapat dari spesimen tanpa PWHT. Nilai kekuatan tarik dan modulus elastisitas paling rendah didapat dari spesimen PWHT 550°C. Perubahan struktur mikro pada spesimen yang diberikan heat treatment memiliki kerapatan struktur yang lebih rapat dibandingkan spesimen yang tidak diberikan heat treatment. Dari hasil  penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa perlakuan panas dapat meningkatkan kekuatan tarik serta harga impak karena proses perlakuan panas dapat mengurangi tegangan sisa pada spesimen sehingga bisa memperbaiki sifat-sifat mekanik pada spesimen pasca pengelasan MIG
Pengaruh Kuat Arus dan Jenis Elektroda dengan Kandungan Nikel Terhadap Sifat Mekanis Baja Kapal Grade A pada Pengelasan FCAW Muchammad, Rizky; Jokosisworo, Sarjito; Santosa, Ari Wibawa Budi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 12, No 1 (2024): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja ASTM A36  merupakan jenis baja karbon rendah yang sering digunakan dalam konstruksi lambung kapal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kuat arus dan jenis elektroda terhadap sifat mekanis baja  kapal Grade A pada proses pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding). Metode eksperimental dilakukan dengan variasi kuat arus 125 A, 150 A, dan 200 A serta jenis elektroda E71T-1C dan E81T-Ni1C. Pengujian sifat mekanis melibatkan uji tarik, dan uji impak pada sambungan las. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat arus dan jenis elektroda memiliki pengaruh signifikan terhadap sifat mekanis baja kapal Grade A. Selain itu, perbandingan antar elektroda E71T-1C dan E81T-Ni1C menunjukkan perbedaan karakteristik pada sifat mekanis sambungan las. Nilai kekuatan tarik dan impak paling tinggi didapat dari spesimen dengan elektroda E81T-Ni1C 150 A yaitu sebesar 487 Mpa dan 1,89 J/mm². Nilai regangan tarik paling tinggi didapat dari spesimen dengan elektroda E71T-1C  150 A yaitu sebesar 35,07%. Nilai modulus elastisitas paling tinggi didapat dari spesimen dengan elektroda E81T-Ni1C 125 A yaitu sebesar 232,62 Gpa. Nilai kekuatan impak paling rendah didapat dari spesimen E81T-Ni1C 200 A, Untuk nilai regangan tarik paling rendah didapat dari spesimen E81T-Ni1C 200 A. Nilai kekuatan tarik  paling rendah didapat dari spesimen E71T-1C 200 A. Dari hasil  penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa dari variasi tersebut diketahui bahwa perlakuan variasi ampere-meter semakin besar tidak menentukan benda semakin kaku/getas yang menyebabkan kekuatan tarik menjadi tinggi, Selain itu, kandungan nikel juga meningkatkan kekuatan mekanis sambungan, membuatnya lebih tahan terhadap tekanan dan tarikan. Penambahan nikel juga membantu mengendalikan pembentukan pori, yang dapat melemahkan sambungan. Terakhir, stabilitas arus listrik yang ditingkatkan oleh nikel selama proses pengelasan berkontribusi pada kualitas keseluruhan sambungan las.
Co-Authors A.F. Zakki Abizar, Muhammad Affan Ade Purnawan Aditya Rio Prabowo Adnan Septi Hadi Romadlon Ahmad Fauzan Zakki Ahmad Naufal Akbar Triansyah Akhmad Rosihan Adam Ali Mustofa Aminuyati Amru, Syafiq Nada Anas Sebtu Prawira Andhyka Cakrabuana Adhitama Ari Wibawa Budi Santosa Arif Putra Rizky Arif Rahman Aziz Mukhsin Berlian Arswendo Adietya Bernadi Ramazini Bismika Burhan Biwa Abi Laksana Brata Wahyu Setya Budi Deddy Chrismianto Dennis Oscha Cholik Dhony Catur Pamungkas Dwi Joko Purnomo Edwin Wijaya Egi Juniawan Eko Sasmito Hadi Eli Akim Sipayung Enggal Noor Laksono Fachrurrozi Setiawan Farel Mauluvi Akmal Antaqiya Gema Mar'ie Habibie Gusti Mirza Hafizh Bahtiar Hanung Bayu Setiawan Hartono Yudo Hartono Yudo Huda, Muhammad Hafid Imam Pujo Mulyatno Imam Pujo Mulyatno Indra Artanto Jajang Sebastian Jonathan, Mario K Kiryanto K. Kiryanto Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Lukman Gewa Nurhakim Luthfi Isna Saputra M. Idam Titahgusti Maftuh Murtiyoso Mathews Yose Pratama Mawahib, M Zaenal Maxwell Pradolin Muchammad, Rizky Muhammad Dikwan Muhammad Jordi Noormansyah, Faridz Aditya Nurhafid, Aji Parlindungan Manik Parlindungan Manik Pratiwi, Ovin Ranica Putra, Ridwan Redi Reka Purnawati Rendy Kastanto Ridwan Redi Putra Rio Leksa Muchtiwibowo Rismawan Rismawan Rizka Azhari Yulistiawan Faruq Rizka Cholif Arrahman Rizky Cahya Kusuma Rizky Perdana Putra Sadewo, Guntur Samuel Samuel Sukanto Jatmiko Syahrul Mubarak Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Untung Budiarto Valentino Pasalbessy Vicky Bhaskara Sardi Wendi Riyandi Widyanto Widyanto Wilma Amiruddin