Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

THE WANITA OVERWEIGHT DAN OBESITAS MEMILIKI SUDUT EVERSI CALCANEUS LEBIH BESAR DAN EKSTENSIBILITAS GASTROCNEMIUS LEBIH KECIL DARIPADA WANITA NORMAL DI DESA MENGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN Ni Made Rininta Adi Putri; Ari Wibawa; I Wayan Sugiritama; I Made Muliarta
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 4 No 1 (2016): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.092 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2016.v04.i01.p08

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sudut eversi calcaneus dan ekstensibilitas gastrocnemius pada wanita normal, overweight, dan obesitas di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional analytic yang dilakukan pada bulan Mei tahun 2015. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan jumlah 78 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok penelitian. Kelompok A adalah sampel kategori normal, kelompok B adalah sampel kategori overweight, dan kelompok C adalah sampel kategori obesitas. Uji normalitas dengan Shapiro Wilk test dan uji homogenitas dengan Levene’s test (p > 0,05). Uji beda dengan One Way ANOVA dengan hasil sudut eversi calcaneus (SEC) overweight > normal (beda rerata 2,000; p=0,004), SEC obesitas > normal (beda rerata 11,577 ; p=0,000), dan SEC obesitas > overweight (beda rerata 9,577 ; p=0,000) ; ekstensibilitas gastrocnemius (EG) overweight < normal (beda rerata 11,154 ; p=0,000), EG obesitas < normal dengan beda rerata 13,038 (p=0,000), dan EG obesitas < overweight (beda rerata 1,885 ; p=0,004). Selanjutnya dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita overweight dan obesitas memiliki sudut eversi calcaneus lebih besar dan ekstensibilitas gastrocnemius lebih kecil daripada wanita normal di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan (p<0,05).
Gambaran Kecepatan Berjalan Lansia Kelompok Umur 60-74 Tahun di Desa Batannyuh Marga Ni Made Rininta Adi Putri; Ni Putu Dwi Larashati; Luh Putu Ayu Vitalistyawati
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 6 (2023): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v6i.2766

Abstract

Setiap individu akan memasuki masa Lanjut Usia (lansia) dan mengalami proses degeneratif secara perlahan yang dapat menimbulkan penurunan kondisi fisik. Diantaranya adalah penurunan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Keduanya merupakan komponen yang mempengaruhi kecepatan berjalan pada lansia. Skrining awal kecepatan berjalan lansia dapat menjadi prediktor risiko jatuh lansia yang menjadi permasalahan kesehatan global hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran nilai kecepatan berjalan lansia kelompok umur 60-74 tahun di kelompok lansia Desa Batannyuh Kecamatan Marga, Tabanan. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif-cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 67 sampel. Skrining awal kecepatan berjalan lansia dilakukan dengan mengukur 10 meter’s walking test. Peneliti juga mencatat faktor lain dalam penelitian ini yakni jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), dan tingkat aktivitas fisik dengan International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran jenis kelamin responden laki-laki 36%, perempuan 64%; IMT kategori normal 12%, overweight 65%, obesitas 23%; tingkat aktivitas fisik ringan 58%, sedang 42%; kecepatan berjalan lansia kategori dibawah rata-rata 54%, rata-rata 34%, dan di atas rata-rata 12%. Simpulan dalam penelitian ini adalah responden dengan jenis kelamin laki-laki lebih sedikit dibandingkan perempuan, IMT kategori overweight lebih banyak dibandingkan normal dan obesitas, memiliki tingkat aktivitas ringan lebih banyak dibandingkan sedang, serta memiliki nilai kecepatan berjalan dominan dibawah rata-rata.
Kontribusi Latihan Kombinasi Simple Balance Exercise dan Theraband Exercise terhadap Peningkatan Kecepatan Berjalan Lansia Ni Made Rininta Adi Putri; Ni Putu Dwi Larashati; Luh Putu Ayu Vitalistyawati
Jurnal Olahraga dan Kesehatan Indonesia (JOKI) Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Olahraga dan Kesehatan Indonesia (JOKI)
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/joki.v5i1.2362

Abstract

Seiring bertambahnya usia, setiap individu akan mengalami penurunan kebugaran fisik yang dapat mengakibatkan penurunan kecepatan berjalan dan peningkatan risiko terjatuh khususnya pada lanjut usia (lansia). Diperlukan bentuk latihan untuk meningkatkan komponen kebugaran fisik seperti latihan keseimbangan dan latihan kekuatan otot tungkai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kecepatan berjalan lansia melalui kombinasi latihan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Diharapkan, melalui kombinasi latihan ini dapat mengoptimalkan mobilitas lansia terutama aktivitas berjalan sehingga memperlambat terjadinya penurunan berbagai sistem tubuh termasuk komponen kebugaran fisik pada lansia. Penelitian quasi eksperimental ini menggunakan desain pre-posttest control group dengan jumlah subjek penelitian 20 orang yang kemudian dibagi menjadi kelompok 1 mendapat kombinasi latihan dan kelompok 2 tetap melakukan aktivitas rumah tangga sehari-hari dengan tingkat aktivitas sedang. Penelitian dilakukan selama 12 minggu, dengan 3 sesi per minggu. Berdasarkan hasil uji statistik yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kombinasi latihan efektif meningkatkan kecepatan berjalan pada individu lanjut usia dibandingkan dengan mereka yang hanya melakukan aktivitas rumah tangga sehari-hari dalam tingkat sedang. Kesimpulannya, rutinitas olahraga ini lebih mudah diingat dan dilakukan oleh lansia sehingga dapat dijadikan sebagai home based exercise terutama bagi lansia yang memiliki keterbatasan untuk mengikuti kegiatan rutin di kelompok lansia.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Proximal Femoral Nail Anti-Rotation (Pfna) di Rsud Bali Mandara: Studi Kasus Natasya Talia Kadakolo; I Nyoman Juwitasunu; Ida Bagus Acarya Putra; Gusi Ayu Indah Yudira Putri; Ni Made Rininta Adi Putri; I Gede Adi Sudewa
Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Terpadu
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fraktur intertrochanter femur merupakan salah satu jenis fraktur pada bagian proksimal femur yang sering terjadi akibat trauma jatuh, terutama pada individu dengan kepadatan tulang yang rendah. Penanganan fraktur ini umumnya dilakukan melalui tindakan operasi menggunakan metode Proximal Femoral Nail Antirotation (PFNA) untuk memberikan stabilitas tulang dan memungkinkan mobilisasi dini. Rehabilitasi fisioterapi memiliki peran penting dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, serta memulihkan fungsi gerak pasien pasca operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penatalaksanaan fisioterapi pada pasien pasca operasi PFNA akibat fraktur intertrochanter femur. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus pada seorang pasien perempuan berusia 49 tahun yang menjalani rehabilitasi di RSUD Bali Mandara. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Pain Rating Scale (NPRS) untuk menilai intensitas nyeri, Manual Muscle Testing (MMT) untuk menilai kekuatan otot, serta goniometer untuk mengukur lingkup gerak sendi hip. Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi latihan penguatan otot, latihan lingkup gerak sendi, serta pemberian modalitas infrared dan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyeri dari skor 3/10 menjadi 2/10 berdasarkan NPRS. Kekuatan otot pada regio hip tetap stabil dengan skor 4/5 berdasarkan MMT, sedangkan lingkup gerak sendi hip tidak menunjukkan perubahan yang signifikan setelah intervensi. Meskipun pasien telah memasuki fase kronik pasca operasi selama 6 bulan, pasien masih mengalami nyeri ringan dan keterbatasan mobilitas sendi. Dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan fisioterapi pasca operasi PFNA memberikan dampak positif dalam menurunkan nyeri dan mempertahankan kekuatan otot, namun pemulihan fungsi sendi masih memerlukan rehabilitasi yang berkelanjutan
Gambaran Kecepatan Berjalan Lansia Kelompok Umur 60-74 Tahun di Desa Batannyuh Marga Ni Made Rininta Adi Putri; Ni Putu Dwi Larashati; Luh Putu Ayu Vitalistyawati
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 6 (2023): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v6i.2766

Abstract

Setiap individu akan memasuki masa Lanjut Usia (lansia) dan mengalami proses degeneratif secara perlahan yang dapat menimbulkan penurunan kondisi fisik. Diantaranya adalah penurunan keseimbangan dan kekuatan otot tungkai. Keduanya merupakan komponen yang mempengaruhi kecepatan berjalan pada lansia. Skrining awal kecepatan berjalan lansia dapat menjadi prediktor risiko jatuh lansia yang menjadi permasalahan kesehatan global hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran nilai kecepatan berjalan lansia kelompok umur 60-74 tahun di kelompok lansia Desa Batannyuh Kecamatan Marga, Tabanan. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif-cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah 67 sampel. Skrining awal kecepatan berjalan lansia dilakukan dengan mengukur 10 meter’s walking test. Peneliti juga mencatat faktor lain dalam penelitian ini yakni jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), dan tingkat aktivitas fisik dengan International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran jenis kelamin responden laki-laki 36%, perempuan 64%; IMT kategori normal 12%, overweight 65%, obesitas 23%; tingkat aktivitas fisik ringan 58%, sedang 42%; kecepatan berjalan lansia kategori dibawah rata-rata 54%, rata-rata 34%, dan di atas rata-rata 12%. Simpulan dalam penelitian ini adalah responden dengan jenis kelamin laki-laki lebih sedikit dibandingkan perempuan, IMT kategori overweight lebih banyak dibandingkan normal dan obesitas, memiliki tingkat aktivitas ringan lebih banyak dibandingkan sedang, serta memiliki nilai kecepatan berjalan dominan dibawah rata-rata.