Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Induksi Mutasi Kecombrang (Etlingera elatior) Menggunakan Iradiasi Sinar Gamma Kristina Dwiatmini; Suskandari Kartikaningrum; Yoyo Sulyo
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Etlingera elatior merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bunga potongbernilai komersial. Penelitian untuk mendapatkan keragaman yang luas telah dilaksanakan di Pusat Penelitian danPengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat Jakarta dan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung daribulan Juni 2003 sampai Januari 2004 untuk mendapatkan variabilitas genetik kecombrang yang luas. Biji kecombrangdiiradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 20, 40, 60, 80, dan 100 Gy, dengan laju dosis 2,044437 KGy/jam. Pengamatandilakukan pada jumlah tanaman yang tumbuh serta banyaknya tanaman normal dan abnormal. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa LD50 adalah 62,074 Gy. Makin tinggi dosis, pertumbuhan tanaman makin terhambat. Pada dosis20-40 Gy, sebagian tanaman mengalami perubahan bentuk dan chimera, sedangkan dosis 60 Gy menyebabkan seluruhtanaman menunjukkan perubahan bentuk. Dosis anjuran iradiasi pada biji kecombrang adalah 20-40 Gy.ABSTRACT. Dwiatmini, K., S. Kartikaningrum, and Y. Sulyo. 2009. Mutation Induction of Etlingera elatiorUsing Gamma Ray Irradiation. The torch ginger (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) is believed native to Indonesia,and has the potential for commercial cut flower. The experiment was conducted at Indonesian Isotope Technologyand Radiation Researh Institute, Pasar Jumat Jakarta and Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunungfrom June 2003 until January 2004. The aim of the experiment was to obtain a wide torch ginger genetic variability.The torch ginger seeds was irradiated by gamma ray at 6 levels of 0, 20, 40, 60, 80, and 100 Gy, under 2.044437KGy/h dosage rate. Number of survival plants, normal and abnormal plants were evaluated. The results showed thatthe LD50 was at 62.074 Gy. The higher the dosage, the more restricted the growth. Dosages of gamma rays between20-40 Gy, resulted in chimeras for some plants. While 60 Gy dosage, all plants showed chimeras. Recomended dosagegamma ray irradiation for torch ginger seed was at the range of 20-40 Gy.
Kekerabatan Antar Genus Anggrek Sub Tribe Sarcanthinae Berdasarkan Data Fenotip dan Pola Pita DNA Suskandari Kartikaningrum; Nani Hermiati; Achmad Baihaki; Murdaningsih Haeruman K.; Nurita Toruan Mathius
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6704

Abstract

Kekerabatan genetik di antara tanaman anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae perlu diketahui untuk melakukan persilangan dalam program pemuliaan. Persilangan antara genus-genus dalam ‘sub tribe’ Sarcanthinae berkerabat dekat akan meningkatkan peluang keberhasilan persilangan. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan tingkat kemiripan dan jarak genetik di antara genus anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae berdasarkan pola pita DNA dan fenotip. Hubungan kekerabatan 13 genotip anggrek dianalisis menggunakan 39 data fenotip biner dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 praimer dekamer acak RAPD. Selanjutnya dilakukan analisis gerombol menggunakan koefisien Dice atau rumus Nei dan Li (1979). Dari hasil analisis diperoleh matrik kemiripan yang digunakan untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antar genotip anggrek dan untuk membentuk dendrogram berdasarkan fenotip, pola pita DNA serta gabungan data fenotip dan pola pita DNA. Tingkat kemiripan berdasarkan fenotip berkorelasi positif (r = 0.5485) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Berdasarkan gabungan data fenotip dan pola pita DNA ditetapkan bahwa pada skala koefisien Dice ³ 0.38 merupakan batas kekerabatan yang dekat (pada jarak genetik £ 0.62). Hubungan kekerabatan diantara tanaman anggrek berdasarkan fenotip tidak konsisten dengan pola pita DNA. Berdasarkan fenotip hubungan kekerabatan anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae adalah dekat tetapi berdasarkan pola pita DNA dan gabungan keduanya adalah jauh. Semua genotip dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Renanthera dan Paraphalaenopsis merupakan genus yang berkerabat terjauh dengan genusgenus yang lain.
Evaluasi Keragaan Morfologi Sembilan Klon Hasil Persilangan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) Kartikaningrum, Suskandari; Marwoto, Budi; Dewanti, Minangsari
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.12.3.191-197

Abstract

Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu komoditas bunga potong komersial yang sangat penting di dunia. Tanaman anyelir mempunyai susunan genetik yang heterozigot, tetapi tanaman F1 terseleksi dari hasil persilangan langsung dapat dijadikan tanaman induk sebagai sumber perbanyakan vegetatif. Setiap klon F1 berbeda secara genetik. Tujuan percobaan ialah mendapatkan klon-klon anyelir bunga potong yang memiliki kombinasi karakter morfologi tanaman dan bunga yang unggul. Percobaan dilaksanakan di rumah lindung Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, dengan ketinggian 1,100 m dpl, dari bulan Januari sampai dengan Desember 2019. Penelitian ditata dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan sembilan perlakuan, yaitu : D 1.1, D 3.13, D 5.1, D 5.4, D 5.5, D 8.5, D 8.8, D 13.13 dan D 13.14 dan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa klon D 13.14 terpilih sebagai klon harapan anyelir bunga potong, karena memiliki kombinasi karakter morfologi tanaman dan bunga yang unggul, yaitu tanaman kokoh, diameter bunga besar (7.52 cm), jumlah petal terbanyak (87.67 helai), kesegaran bunga terlama (13.83 hari) dan warna bunga merah menyala.
Induksi Ginogenesis melalui Kultur Multi Ovule Slice dan Kultur Ovary Slice Dianthus chinensis Kartikaningrum, Suskandari; Purwito, Agus; Wattimena, Gustaaf Adolf; Marwoto, Budi; Sukma, Dewi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 1 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.553 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i1.7078

Abstract

Callus induction was studied in five genotypes of Dianthus chinensis using 2.4 D and NAA. Calluses can be obtainedfrom unfertilized ovule culture and ovary culture. The aim of the research was to study gynogenic potential and responseof Dianthus chinensis through ovule slice and ovary slice culture for obtaining haploid plants. Five genotypes of Dianthuschinensis and five media were used in ovule slice culture and two genotypes and three medium were used in ovary culture.Flower buds in the 7th stage were incubated for the purpose of dark pre-treatment at 4 oC for one day. Ovules and ovaries wereisolated and cultured in induction medium. Cultures were incubated for the purpose of dark pre-treatment at 4 oC for seven days, followed by 25 oC light incubation. The result showed that 2.4D was better than NAA in inducing callus. Percentage of regenerated calluses were produced in V11, V13 and V15 genotypes in M7 medium (MS + 2 mg L-1 2.4D + 1 mg L-1 BAP + 30 g L-1 sucrose and M10 medium (MS + 1 mg L-1 2.4D + 1 mg L-1 BAP + 20 g L-1 sucrose). All calluses originated from ovule and ovary cultures flowered prematurely. Double haploid (V11-34) were obtained from ovule slice culture based on PER (peroksidase) and EST (esterase) isoenzym marker.Keywords: ovule slice culture, ovary slice culture, callus, Dianthus sp., haploid