Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : KESMAS

HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI DENGAN USIA PERTAMA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO Sitepu, Cracety M.; Punuh, Maureen I.; Kawengian, Shirley E. S.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPA-ASI) perlu memperhatikan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya (Maseko dan Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian Makanan Pedamping ASI tepat pada usia 6 bulan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian Makanan Pedamping Air Susu Ibu (MP-ASI) di Puskesmas Tuminting. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan desain cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 82 bayi yang berusia 6-12 bulan, tidak sakit, cacat, dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tuminting yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data statistik menggunakan Uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pendidikan dengan usia pertama pemberian MP-ASI (p=0,000), dan tidak terdapat hubungan antara pendapatan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Tuminting dengan nilai secara berurut (p=0,718), (p=0,501), dan (p=0,231). Perlu adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola pemberian MP-ASI yang baik dan benar.Kata Kunci: Sosial Ekonomi, Pendapatan, Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Anggota Keluarga, MP-ASI, Bayi Usia 6-12 BulanABSTRACTComplementary feeding of the breastfed child needs to pay attention to timeliness of administration, frequency, type and amount of food, and how to make (Maseko and Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) recommends giving complementary food right at the age of 6 months. The purpose of this study is to analyze whether there is a relationship between income, education, occupation, and number of family members with the age of first giving complementary food in Tuminting Public Health Care. This research is an analytic survey with cross sectional design. The samples in this research were 82 infants aged 6-12 months, no pain, disability, and living in Tuminting Public Health Care taken using purposive sampling technique. Statistical data analysis using Chi-Square test with α = 0.05. These results indicate there is a relationship between education and age of first administration of breastfeeding (p = 0.000), and there is no relationship between income, employment, and the number of family members with the first age giving breastfeeding in infants aged 6-12 months in Tuminting Public Health Care with sequential values (p = 0.718), (p = 0.501), and (p = 0.231). Mothers need to increase knowledge of complementary feeding patterns of provision is good and right.Keywords: Social Economy, Income, Education, Employment, Number of Family Members, Complementary Feeding Of The Breastfed Child, Babies Ages 6-12 Months
EFEK PROTEKTIF EKSTRAK BERAS HITAM (Oryza sativa L.) TERHADAP PEMBENTUKAN SEL BUSA PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DI BERI DIET PRODISLIPIDEMIA Salmon, Andreas Renaldy; Kawengian, Shirley E. S.; Kawatu, Paul A. T.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Cardiovascular disease is a disease with a high prevalence level lately and a major disease that killed men and women in The United States of America, Europe and most of many countries in Asia. Clinical studies tells that cardiovascular disease correlated with atheroma (atherosclerotic plaque) and its complication like thrombosis. Hence, in order to prevent and handle atherosclerotic, it’s important to take steps to increase antioxidative status and to hamper hyperlipidemia and inflammation on the victim. One of the natural food ingredients with high antioxidant is the black rice which is a functional food with high antioxidant (anthocyanin). To know protection effect from black rice extract in the formation foam cells on wistar rats (Rattus norvegicus). The research type is experimental laboratory with posttest only control group design, with 27 wistar rats which divided into 3 groups. The black rice extract will be given via tube feeding with 2ml dose each day. In 28th day the rat will be determine, and the aortic arth will be taken to histopathological test. The web will be colored with papanicolaou stain technique. The research results showed the K3 (BR2) group as a normal control group, the foam cells formation didn’t occur. On K2 (DPD+BR2) group as a negative control group showed there were foam cells formation in the 28th day. On K1 (DPD in 14 days and continued with black rice diet in 7 days) showed the tunica media was changed, which is the less foam cell formation in the tunica media. The black rice extract have a positive effect in the formation foam cell to the rat that has been given pro dyslipidemia diet (DPD). The black rice can be used as a functional food ingredients that can  give good nutrients for health. Keywords : Black Rice, Atherosclerotic, Foam Cells, Wistar Rats, Rattus norvegicus, Anthocyanin. ABSTRAK Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit dengan tingkat prevalensi yang tinggi akhir-akhir ini dan merupakan pembunuh utama pria dan wanita di Amerika Serikat, Eropa dan sebagian Asia. Studi klinis telah menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler berkorelasi dengan ateroma (plak aterosklerosis) beserta komplikasinya seperti trombosis. Oleh karena itu, dalam pencegahan dan penanganan aterosklerosis, penting untuk mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan status antioksidatif dan untuk menghambat hiperlipidemia serta inflamasi pada penderita. Salah satu bahan makanan alami yang kaya antioksidan adalah beras hitam yang merupakan pangan fungsional yang kaya antioksidan (antosianin). Mengetahui efek protektif ekstrak beras hitam terhadap pembentukan sel busa pada tikus wistar (Rattus novergicus). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian experimental laboratorik dengan menggunakan rancangan posttest only control group design. berjumlah 27 ekor tikus dibagi menjadi 3 kelompok. Ekstrak beras hitam diberikan melalui tube feeding dengan dosis 2ml perhari. Pada hari ke 28 hewan coba akan diterminasi, dan diambil arcus aortanya untuk pemeriksaan histopatologi. Jaringan diwarnai menggunakan teknik pewarnaan papanicolaou. Hasil penelitian menunjukkan kelompok K3 (BR2) sebagai kelompok kontrol normal menunjukkan tidak terjadi pembentukan sel busa. Pada kelompok K2 (DPD+BR2) sebagai kelompok kontrol negatif terjadi pembentukan sel busa pada hari ke 28. Pada kelompok perlakuan K1 (DPD selama 14 hari dan dilanjutkan dengan diet ekstrak beras hitam selama 7 hari) menunjukkan adanya perubahan pada tunika media, ini ditandai dengan sedikitnya penumpukan sel busa yang berada pada tunika media. Ekstrak beras hitam mempunyai efek protektif terhadap pembentukan sel busa pada tikus yang diberikan diet Pro-Dislipidemia (DPD). Beras hitam dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional yang memberikan manfaat bagi kesehatan. Kata Kunci : Beras Hitam, Aterosklerosis, Sel Busa, Rattus norvegicus, Antosianin.