Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Social Cohesion Potential of Pendalungan Communities Toward Urban Space Integration in Jember Koesoemawati, Dewi Junita
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4872

Abstract

Jember downtown has pendalungan social phenomenon as a form of cultural assimilation resulting hybrid of Javanese and Madurese as a local community identity. Pendalungan communities occupy in kampongs in the melting pot with limited space that evokes the activity collectively as the potential of social cohesion. The result of previous studies on hybrid pendalungan only terms of sociology and culture. Based on the above phenomenon, this research is study about social cohesion potential of Pendalungan community at urban space integration in Jember. The research objective was to determine the specific characteristic of pendhalungan community as a potential of social cohesion and to know the concept of the urban space integration of pendhalungan community. The research approach used in this study was qualitative and quantitative. Qualitative research approach was used by reading the urban through synchronic reading to explore the potential of social cohesion of pendalungan community culture which has implications in the formation of urban space. The space integration was presented using the access graph. The result showed that the urban space integration had average height and the dominant form of asymmetry distribution. The formation of urban space in the melting pot no separation between forms a continuous space and forms a break up space, so is created social cohesion. This conditions strengthen the high value of the space integration supported its social cohesion potential
Social Cohesion Potential of Pendalungan Communities Toward Urban Space Integration in Jember Koesoemawati, Dewi Junita
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4872

Abstract

Jember downtown has pendalungan social phenomenon as a form of cultural assimilation resulting hybrid of Javanese and Madurese as a local community identity. Pendalungan communities occupy in kampongs in the melting pot with limited space that evokes the activity collectively as the potential of social cohesion. The result of previous studies on hybrid pendalungan only terms of sociology and culture. Based on the above phenomenon, this research is study about social cohesion potential of Pendalungan community at urban space integration in Jember. The research objective was to determine the specific characteristic of pendhalungan community as a potential of social cohesion and to know the concept of the urban space integration of pendhalungan community. The research approach used in this study was qualitative and quantitative. Qualitative research approach was used by reading the urban through synchronic reading to explore the potential of social cohesion of pendalungan community culture which has implications in the formation of urban space. The space integration was presented using the access graph. The result showed that the urban space integration had average height and the dominant form of asymmetry distribution. The formation of urban space in the melting pot no separation between forms a continuous space and forms a break up space, so is created social cohesion. This conditions strengthen the high value of the space integration supported its social cohesion potential
Penilaian Kondisi Manajemen Aset Bangunan Gedung Menggunakan Metode Indeks Pada Komponen Arsitektural dan Struktural Bellian Arix Arifin; Dewi Junita Koesoemawati; Anik Ratnaningsih
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v4i2.16007

Abstract

Gedung dan bangunan dikelompokkan dalam aset tetap adalah gedung dan bangunan yang dimiliki dan atau dikuasai oleh pemerintah untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan harus dalam kondisi siap digunakan. Bangunan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember merupakan salah satu aset tetap dimiliki Universitas Jember. Evaluasi kondisi aset merupakan hal penting pada bangunan agar dapat mengetahui nilai kondisi bangunan guna mempertahankan keadaan bangunan pada kondisi yang baik dan sutainibility serta dapat memiliki umur ekonomis yang lebih lama. Dengan adanya evaluasi dapat dijadikan referensi terkait dengan pemeliharaan komponen dan elemen bangunan. Tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk mencari indeks kondisi bangunan, jenis kerusakan, prioritas pemilharaan dan perawatan, serta anggaran biaya pemeliharaan dan perawatan. Metode yang digunakan untuk mengetahui bobot indeks bangunan dari masing-masing komponen menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan dibantu dengan aplikasi Expert Choice versi 11 yang dikolaborasikan dengan hasil volume kerusakan untuk mendapatkan nilai indeks kondisi bangunan. Hasil analisis menunjukkan komponen-komponen kerusakan yang terjadi temasuk kerusakan ringan dan jenis kerusakannya adalah pecah, lepas, lapuk/retak, serta warna memudar. Prioritas tertinggi dalam pemeliharaan dan perawatan berdasarkan nilai indeks kondisi untuk komponen terletak pada keramik dengan nilai 0,232 dan prioritas terendah terletak pada kusen jendela dengan nilai 0,058. Biaya total yang dibutuhkan untuk pemeliharaan dan perawatan bangunan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember sebesar Rp 19.804.793. Kata kunci: Analytical Hierarchy Process, Pemeliharaan, Perawatan, Kerusakan
MARSHALL CHARACTERISTIC OF SPLIT MASTIC ASPHALT WITH CELLULOSE KAPUK FIBER ADDITION Riza Millatul Aminin; Akhmad Hasanuddin; Dewi Junita Koesoemawati
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 4 No 1 (2020): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v4i1.15822

Abstract

Split Mastic Asphalt (SMA) mixture is mostly used on heavy traffic roads. SMA mixture has high percentage of coarse aggregate, it is better able to withstand deformation due to heavy vehicles, and consist of high levels of asphalt, that makes the mixture more durable. High levels of asphalt in SMA require an additive as fiber, polymer, filler, and PET which functions to stabilize and increase the strength of the mixture. This study to determine the performance of the Split Mastic Asphalt mixture by adding kapuk fiber as an additive. The method used is a quantitative comparison of the marshall SMA test results without the addition of additives and the SMA mixture with the addition of cotton fiber as an additive. The variation of cotton fiber content used in the mixture is 0.01%, 0.025%, 0.05%, 0.075% and 0.1% of weight mixture. Based on the results of the study the addition of cotton fiber to the mixture can improve Marshall performance in terms of strength, density, and durability of the mixture. The strength of the mixture with the addition of cotton fiber will increase to the optimum limit, which is 0.075% cotton fiber. The density of the mixture (density) with the addition of cotton fiber will increase. Durability based on flow and MQ values decreased, but increased again at high cotton fiber levels, which is 0.1% Campuran Split Mastic Asphalt merupakan campuran yang banyak digunakan pada jalan berlalulintas berat. Campuran SMA memiliki persentase agregat kasar tinggi sehingga lebih mampu menahan deformasi akibat kendaraan berat dan kadar aspal tinggi, sehingga campuran akan lebih tahan lama. Tingginya kadar aspal pada campuran SMA membutuhkan suatu aditif berupa serat, polimer, filler, dan PET yang berfungsi untuk menstabilkan dan meningkatkan kekuatan campuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja campuran Split Mastic Asphalt dengan penambahan serat kapuk sebagai aditif. Metode yang digunakan adalah perbandingan kuantitatif hasil pengujian marshall campuran SMA tanpa penambahan aditif dan campuran SMA dengan penambahan serat kapuk sebagai aditif. Variasi kadar serat kapuk yang digunakan pada campuran adalah 0,01%, 0,025%, 0,05%, 0,075% dan 0,1% terhadap berat campuran. Berdasarkan hasil penelitian penambahan serat kapuk terhadap campuran dapat meningkatkan kinerja marshall yang ditinjau dari kekuatan, kepadatan, dan keawetan campuran. Kekuatan campuran dengan penambahan serat kapuk akan semakin meningkat hingga pada batas optimum, yaitu 0,075% serat kapuk. Kepadatan campuran (density) dengan penambahan serat kapuk akan semakin meningkat hingga pada bata optimum penambahan 0,05 serat kapuk. Keawetan berdasarkan nilai flow dan MQ menurun, namun meningkat kembali pada kadar serat kapuk tinggi, yaitu 0,1%.
EVALUASI STANDAR PELAYANAN MINIMUM DAN TINGKAT KEPUASAN PENUMPANG DI TERMINAL ANGKUTAN UMUM TAWANG ALUN JEMBER Kevin Muzammil; Dewi Junita Koesoemawati; Willy Kriswardhana
Rekayasa Sipil Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2019.013.02.2

Abstract

Terminal Tawang Alun Jember merupakan Terminal Penumpang Tipe A yaitu terminal yang berfungsi untuk melayani transportasi umum baik skala nasional maupun skala internasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepuasan dan harapan dari pengguna jasa terhadap fasilitas dan pelayanan dengan melihat kelengkapan fasilitas di terminal Tawang Alun berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 40 Tahun 2015. Evaluasi tingkat kepuasan pelanggan menggunakan acuan berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2017 khususnya mengenai fasilitas utama maupun fasilitas penunjang. Adapun analisis tingkat kepuasan menggunakan metode IPA (Importance Performance Analysis). Berdasarkan hasil pengamatan, tingkat pelayanan adalah sebesar 50,00% dimana Terminal Tawang Alun memenuhi 28 indikator dari total 56 indikator yang terdapat dalam  Peraturan Menteri Nomor 40 Tahun 2015. Tingkat kepuasan dengan melihat unsur pelayanan di Terminal Tawang Alun bernilai 51,31 yang masuk dalam kategori nilai D (Tidak Baik). Nilai tingkat kepuasan digambarkan dalam diagram kartesius yang menunjukkan prioritas utama untuk peningkatan pelayanan adalah pelayanan kelengkapan informasi jadwal keberangkatan bus pada ruang tunggu, tersedia media layanan pengaduan, ketersediaan fasilitas khusus dan toilet khusus penyandang difabel & lansia,  ketersediaan fasilitas khusus ruang ibu menyusui dan tersedia informasi pelayanan yang lengkap. 
Social Cohesion Potential of Pendalungan Communities Toward Urban Space Integration in Jember Koesoemawati, Dewi Junita
Komunitas Vol 8, No 1 (2016): March 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4872

Abstract

Jember downtown has pendalungan social phenomenon as a form of cultural assimilation resulting hybrid of Javanese and Madurese as a local community identity. Pendalungan communities occupy in kampongs in the melting pot with limited space that evokes the activity collectively as the potential of social cohesion. The result of previous studies on hybrid pendalungan only terms of sociology and culture. Based on the above phenomenon, this research is study about social cohesion potential of Pendalungan community at urban space integration in Jember. The research objective was to determine the specific characteristic of pendhalungan community as a potential of social cohesion and to know the concept of the urban space integration of pendhalungan community. The research approach used in this study was qualitative and quantitative. Qualitative research approach was used by reading the urban through synchronic reading to explore the potential of social cohesion of pendalungan community culture which has implications in the formation of urban space. The space integration was presented using the access graph. The result showed that the urban space integration had average height and the dominant form of asymmetry distribution. The formation of urban space in the melting pot no separation between forms a continuous space and forms a break up space, so is created social cohesion. This conditions strengthen the high value of the space integration supported its social cohesion potential
Peningkatan Daya Tarik Wisata Megalitikum Melalui Konservasi dan Preservasi Situs Duplang Berbasis Masyarakat di Kabupaten Jember Galuh Ajeng Hamindhani; Dewi Junita Koesoemawati; Dano Quinta Revana
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 3 No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.793 KB) | DOI: 10.19184/matrapolis.v3i2.36636

Abstract

Situs Duplang di Desa Kamal merupakan situs utama di Kabupaten Jember dan sebagai wisata budaya di Kecamatan Arjasa, yang memiliki potensi sebagai tempat wisata, sumber pendidikan, dan sebagai tempat penelitian. Situs Duplang sebagai bukti peradaban manusia harus terlestarikan agar dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama, sehingga keterlibatan masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan dalam upaya tersebut karena masih belum ada pengelolaan secara profesional sebagai kawasan wisata sejarah dan edukasi. Oleh karena itu perlunya melakukan upaya konservasi dan preservasi berbasis masyarakat, dimana terdapat keterlibatan masyarakat dalam melindungi dan meningkatkan daya tarik wisata Situs Duplang dengan dorongan dan bantuan dari pemerintah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif, skoring objek cagar budaya, dan analisa SWOT. Arahan atau strategi pelestarian yang harus dilakukan ada lima yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait situs dan upaya konservasi-preservasi, melestarikan sosio kultur atau budaya masyarakat lokal, meningkatkan perlindungan Situs Duplang, mengembangkan kawasan wisata megalitikum dengan museum terbuka, serta meningkatkan promosi pada Situs Duplang.
Arah Pengembangan Kawasan Peternakan Sapi Unggul Ras Madura Di Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan Emelia Zain; Luh Putu Suciati; Dewi Junita Koesoemawati
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.844 KB) | DOI: 10.19184/matrapolis.v4i1.34536

Abstract

Pengembangan kawasan peternakan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh kesesuaian lingkungan fisik dan ketersediaan hijauan pakan yang memadai sebagai sumber makanan ternak. Analisis dilakukan dengan metode overlay pada berbagai jenis peta (Peta penggunaan lahan, peta tanah, peta administrasi, peta suhu, kerengan, dan curah hujan) menggunakan GIS pada analisis kesesuaian lahan, data tabular pada analisis ketersediaan hijauan pakan, serta analisis FFA (Force Field Analysis). Luas kesesuaian fisik lingkungan untuk peternakan sapi yang dikandangkan 5.875,794 Ha (83,6%) dari luas wilayah, lahan yang tidak sesuai 19,1 Ha (0,27%), dan tidak dinilai seluas 1.133,212 Ha (16,1%). Sedangkan lahan yang sesuai untuk berbagai hijauan pakan ternak seluas 5.852,83 Ha (83,2%) dari luas wilayah, lahan yang tidak sesuai seluas 34,60 Ha (0,5%), dan tidak dinilai 1.140,74 Ha (16,3%). Daya dukung hijauan di Kecamatan Waru berada pada kriteria aman di 4 desa (Bajur, Sumberwaru, Sana Laok, Tampojung Tengah), 6 desa dengan kriteria rawan, dan 2 desa (Waru Barat, Tagangser Laok) dengan kriteria kritis. Hasil analisis FFA diketahui faktor kunci pendorong adalah memiliki ketersediaan lahan yang luas, serta peningkatan harga sapi, sedangkan faktor penghambat kunci adalah konversi lahan menjadi kawasan terbangun, dan minimnya dukungan infrastruktur dasar. Arahan pengembangan kawasan peternakan sapi di Kecamatan Waru dilakukan dengan mengoptimalkan potensi ketersediaan lahan.
Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman Pada Kawasan Perdagangan dan Jasa Di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember Selgi Puspamika; Dewi Junita Koesoemawati; Ratih Novi Listyawati; Rindang Alfiah
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 19, No 3 (2023): JPWK Volume 19 No. 3 September 2023
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v19i3.40322

Abstract

Perkembangan kawasan perekonomian seringkali mengesampingkan aspek – aspek lainnya, terutama aspek lingkungan. Padatnya aktivitas antara kawasan permukiman dan kawasan perdagangan dan jasa menimbulkan beberapa permasalahan terhadap kondisi prasarana lingkungan. Kecamatan Kaliwates, merupakan kawasan perkotaan yang berada di Kabupaten Jember yang memiliki fungsi utama sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.  Fungsi utama tersebut dapat dilihat dengan adanya pasar induk tradisional serta beberapa jenis pusat perbelanjaan terbesar di Kabupaten Jember yang tersebar di Kecamatan Kaliwates. Kawasan perdagangan dan jasa merupakan salah satu kawasan yang memiliki perlakuan khusus dari pemerintah Kabupaten Jember karena kawasan ini memiliki nilai komersial yang tinggi. Dari padatnya aktivitas yang ada pada wilayah Kecamatan Kaliwates, menimbulkan permasalahan lingkungan. Salah satu permasalahan yang sering muncul yaitu munculnya genangan setiap musim hujan karena jaringan drainase permukiman tersumbat oleh limbah pasar. Keadaan tersebut dialami secara periodik serta tidak ada pengawasan yang mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan permukiman dan berdampak pada keberlanjutan kawasan.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan arahan dalam upaya peningkatan kondisi lingkungan permukiman pada kawasan perdangan dan jasa di Kecamatan Kaliwates menggunakan metode skoring. Metode skoring ini digunakan untuk menganalisis upaya penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan permukiman yang berada pada kawasan perdagangan dan jasa di Kecamatan Kaliwates. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini  berjumlah 114KK. Dari hasil penilaian tersebut, diperoleh bahwa kondisi lingkungan permukiman yang berdampingan dengan pusat perdagangan dan jasa masih berada pada kondisi buruk. Sehingga untuk menciptakan lingkungan permukiman yang ideal dan sehat dirumuskan arahan yang didasarkan kondisi potensi dan permasalahan pada wilayah penelitian dengan memperhatikan aspek pelayanan, ekonomi (kesejahteraan), dan ekologi (lingkungan).
Strategi Administrasi dan Lingkungan Pengelolaan Limbah Medis Berdasarkan Kinerja Petugas di Puskesmas Kabupaten Jember Nur Malika Jamil; Ari Tri Wanodyo Handayani; Dewi Junita Koesoemawati
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.41-49

Abstract

Latar Belakang: Hasil survei dan data Dinas Kesehatan tahun 2021 menyatakan bahwa Puskesmas Kabupaten Jember memiliki perawatan rawat inap yang dapat menghasilkan timbulan limbah sebanyak 15-70,5kg setiap minggu. Pengelolaan limbah medis di Puskesmas Kabupaten Jember masih belum memenuhi standar mulai dari pemilahan hingga penyimpanan di tempat penampungan sementara. Permasalahan yang ditemukan, masih terdapat petugas Puskesmas yang membuang limbah medis tidak sesuai fungsinya, pengangkutan limbah medis tidak dilakukan 1x24 jam dan penyimpanan limbah medis di TPS lebih dari 2x24 jam. Pengelolaan limbah apabila tidak dilakukan dengan optimal dapat menimbulkan berbagai penyakit, terutama infeksi nosokomial. Pengelolaan limbah padat di Puskesmas harus dilakukan dengan benar, efektif dan memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga perlu adanya strategi dalam pengelolaan limbah medis di Puskesmas.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Jenis penelitian  analitik observasional dengan  desain  rancang cross sectional di 11 Puskesmas Kabupaten Jember. Populasi dan sampel sebanyak 90 responden yaitu petugas kebersihan, dokter, bidan, perwat, apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK), dengan mengamati variabel bebas sumber daya, kepemimpinan, struktur, design pekerjaan, imbalan dan variabel terikat yaitu pengelolaan limbah medis. Data  hasil  kuesioner dianalisis menggunakan uji Rank Spearman’s dan dianalisis menggunakan analisis SWOT. Hasil: Hasil analisis administrasi diketahui perlu adanya peningakatan pemanfaatan struktur organisasi mandiri, meningkatkan dan mengoptimalkan penambahan anggaran sarana dan prasarana, implementasi Dinas kesehatan membuat MOU dengan pihak ke 3 terkait pengelolaan limbah medis untuk wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Jember. Hasil strategi lingkungan perlu adanya promosi peningkatan kinerja petugas guna meningkatkan PHBS lingkungan, Puskesmas memaksimalkan penyimpanan limbah medis guna meningkatkan kualitas penyimpanan dan mendesain ulang tempat penyimpanan sementara limbah medis.Simpulan: Sumber daya, kepemimpinan, desain pekerjaan dan struktur berhubungan dengan pengelolaan limbah medis sedangkan, imbalan tidak berhubungan dengan pengelolaan limbah medis. sumber daya, kepemimpinan, desain pekerjaan, struktur organisasi dan imbalan berperan penting dalam peningkatan kinerja pengelolaan limbah medis di Puskesmas Kabupaten Jember. ABSTRACT Title: Administrative and Environmental Strategy for Medical Waste Management Based on the Performance of Jember District Health Center OfficersBackground: Survey results and data from the Health Office in 2021 stated that the Jember Regency Health Center has inpatient care which can produce waste generation of 15-70.5kg every week. Medical waste management at the Jember Regency Health Center still does not meet the standards starting from sorting to storage in temporary shelters. Problems found, there are still health center officers who dispose of medical waste not according to its function, transportation of medical waste is not carried out 1x24 hours and storage of medical waste in TPS for more than 2x24 hours. Waste management if not done optimally can cause various diseases, especially nosocomial infections. Solid waste management at the health center must be carried out correctly, effectively and meet sanitation requirements, so it is necessary to have a strategy in managing medical waste at the health center.Method: This study is a quantitative study. Type of observational analytic research with cross sectional design in 11 health centers in Jember Regency. The population and sample were 90 respondents, namely janitors, doctors, midwives, nurses, pharmacists and pharmaceutical technical personnel (TTK), by observing the independent variables of resources, leadership, structure, job design, rewards and the dependent variable, namely medical waste management. The data from the questionnaire was analyzed using Spearman's Rank test and analyzed using SWOT analysis.Result: The results of the administrative analysis showed that it is necessary to increase the utilization of an independent organizational structure, improve and optimize the additional budget for facilities and infrastructure, implement the health office to make an MOU with a third party related to medical waste management for the Jember Regency Puskesmas work area. The results of the environmental strategy need to promote increased officer performance to improve environmental PHBS, Puskesmas maximize medical waste storage to improve storage quality and redesign temporary storage of medical waste.Conclusion: Resources, leadership, job design and structure are related to medical waste management whereas, rewards are not related to medical waste management. resources, leadership, job design, organizational structure and rewards play an important role in improving the performance of medical waste management in the Puskesmas of Jember Regency.