Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Literature Review of Women Experience in Prison Nur Oktavia Hidayati; Frans Raimond Tonjau; Mela Yulianti; Silvi Riana Putri; Wiani Syawalia Fitri
BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 4 No. 1 (2025): BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Women who are imprisoned are believed to have a higher vulnerability to experiencing mental disorders compared to male prisoners even though the rights and obligations of both are the same. Female prisoners have higher psychiatric morbidity than male prisoners, experiencing psychosis, emotional disturbances, and anxiety disorders. If we only focus on stressful events, then we cannot fully explain their experiences while in prison. The response to stress for each individual is different, and the way each individual deals with stress is also different. The purpose of this study is to find out what experiences happen to women who are imprisoned. The method used is literature review. A systematic search of the literature in the 2012-2022 range was conducted using the PubMed, Scopus EBSCO, and Google Scholar databases. Search keywords for the article include “Experience”, Female or Woman”, and “Inmate, or Offenders, or Prisoners, or Convicts, or Incarcerated Individuals"". The article has passed the PRISMA selection process. Obtained as many as 8 articles for analysis. The results of the study obtained several experiences of women who were imprisoned, such as experiences of PTSD, acts of self-injury, acts of violence, experiences of health status, experiences of self-isolation, and experiences of carrying out meaningful activities while in prison.
Hubungan antara Penerimaan Diri (Self-Acceptance) dengan Tingkat Stres pada Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Bandung Rahayu Putri Efendi; Ahmad Yamin; Nur Oktavia Hidayati
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.19478

Abstract

ABSTRACT Life in a correctional institution with various challenges can trigger stress. Stress has a negative impact on physical and psychological health, so self-acceptance in needed to manage it. Female prisoners face additional pressures related to gender roles that require special attention. This study aims to identify the relationship between self-acceptance and stress levels in women’s prisoners in Class II A Women’s Correctional institution in Bandung. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 81 female prisoners at Class II A Women’s Correctional Institution in Bandung were selected using the purposive sampling technique. Data were collected through the Unconditionally Self-Acceptance questionnaire (USAQ) and Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaires which had undergone validity and reliability tests. Data analysis to determine the conducted through univariate analysis to determine the frequency distribution of demographic characteristics, self-acceptance, and stress levels and bivariate analysis using the Pearson Product moment test to examine the relationship between variables. The results showed that most prisoners had low self-acceptance (53,1%) and moderate stress levels (69,1%). The p-value obtained was 0,047 and the correlation coefficient was -0,222. There is a negative relationship between self-acceptance and stress levels with a weak relationship strength. Keywords: Prisons, Self-Acceptance, Stress, Womens Prisoners  ABSTRAK Kehidupan di kembaga pemasyarakatan dengan berbagai tantangan dapat memicu stres. Stres berdampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis, sehingga diperlukan peran penerimaan diri dalam mengelolanya. Narapidana wanita menghadapi tekanan tambahan terkait peran gender yang membutuhkan perhatian khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara penerimaan diri (self-acceptance) dengan tingkat stres pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 81 narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II A Bandung dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Unconditionally Self-Acceptance Questionnaire (USAQ) dan Perceived Stress Scale (PSS-10) yang sudah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisa data dilakukan melalui analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi karakteristik demografi, penerimaan diri (self-acceptance), dan tingkat stres, serta analisa bivariat menggunakan uji Pearson Product Moment untuk menilai hubungan antar variable. Hasil menunjukkan narapidana sebagian besar memiliki penerimaan diri (self-acceptance) rendah (53,1%) dan merasakan tingkat stres sedang (69,1%). Nilai p-value yang didapatkan sebesar 0,047 dan koefisien korelasi -0,222. Terdapat hubungan yang negative penerimaan diri (self-acceptance) dengan tingkat stres dengan kekuatan hubungan yang lemah. Kata Kunci: Lapas, Narapidana Wanita, Penerimaan Diri, Stres
Hubungan Durasi Screen Time dan Regulasi Emosi Anak Usia 3-6 Tahun di Pusat Perawatan Anak (PUSPA) Sehat Universitas Padjadjaran Dinda Cantika Winanda; Nur Oktavia Hidayati; Sri Hendrawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24922

Abstract

ABSTRACT Early childhood development includes emotional regulation skills that are influenced by various factors, one of which is screen time. Excessive screen use can reduce direct social interaction and impact children's emotional development. This study aims to determine the relationship between screen time duration and emotional regulation in children aged 3–6 years at the Healthy Child Care Center of Universitas Padjadjaran. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional correlational design. The sample consisted of 37 parents of children using a total sampling technique. Data were collected using a screen time questionnaire that had been tested for validity and reliability by Maoludin (2018) and the Emotion Regulation Checklist (ERC) instrument, which had been translated into Indonesian and tested for validity and reliability by Umami (2015). and then analyzed using univariate tests using frequency distribution and percentages and bivariate tests using Spearman's rho test. The results showed a significant relationship between screen time duration and children's emotion regulation (p = 0.003). These results indicate that an increase in screen time duration is associated with a decrease in children's ability to manage and express emotions adaptively. Based on these results, nurses need to collaborate with early childhood education/daycare institutions and parents in providing promotional and preventive efforts related to screen. Keywords: Early Childhood, Emotion Regulation, Screen Time.  ABSTRAK Perkembangan anak usia dini mencakup kemampuan regulasi emosi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya durasi penggunaan layar (screen time). Penggunaan layar yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial langsung dan berdampak pada perkembangan emosional anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi screen time dan regulasi emosi anak usia 3–6 tahun di Pusat Perawatan Anak (PUSPA) Sehat Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional cross-sectional. Sampel terdiri dari 37 orang tua anak dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner screen timeyang telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh Maoludin (2018) serta instrumen Emotion Regulation Checklist (ERC) yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan teruji valid serta reliabel oleh Umami (2015), kemudian dianalisis menggunakan uji univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase serta uji bivariat menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara durasi screen time dan regulasi emosi anak (p = 0,003). Hasil penelitian ini bermakna bahwa peningkatan durasi screen time berkaitan dengan menurunnya kapasitas anak dalam memahami dan mengekspresikan emosi secara adaptif. Berdasarkan hasil tersebut, diperlukan peran perawat untuk bekerjasama dengan lembaga PAUD/ daycare dan orang tua dalam memberikan upaya promotif dan preventif terkait mengelola screen time secara bijak guna mendukung perkembangan regulasi emosi anak secara optimal. Kata Kunci: Anak Usia Dini, Durasi Screen Time, Regulasi Emosi.
A Rapid Review of the Impact of Gratitude on Suicide Risk Management Efri Widianti; Nur Oktavia Hidayati; Yosalia Mahirah Salsabila; Rizki Amalia Nurfadhilah; Indra Kusumah
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.107

Abstract

Suicide is a major global health problem, with significant psychological and social impacts. Gratitude therapy is a positive psychological intervention that improves mental well-being and may reduce suicide risk, and is comparable in effectiveness to cognitive behavioral therapy (CBT) in improving life satisfaction . The aim of this study was to evaluate the effectiveness of gratitude therapy in reducing suicide risk among individuals with mental health disorders. This study was conducted using a rapid review method of articles explaining the effectiveness of gratitude therapy in reducing the risk of suicide. This study involved a systematic literature search in databases such as PubMed , EBSCO, and ScienceDirect . The inclusion criteria for this study were articles published between 2015 and 2024, in English and Indonesian, with full-text availability, and focusing on gratitude therapy for mental health patients at risk of suicide. The screening followed the PRISMA guidelines, resulting in 9 articles for final analysis. A total of 9 relevant articles were reviewed. Four studies examined the application of gratitude therapy to psychosocial problems, while five studies focused on individuals with mental disorders. For psychosocial problems, gratitude interventions such as gratitude diaries and reflection journals were effective in reducing stress and increasing life satisfaction by 6.89%, increasing social connectedness, and fostering positive coping mechanisms. For mental health disorders, gratitude therapy showed a 5.8% benefit in reducing feelings of hopelessness, increasing optimism, and alleviating depressive symptoms. This study suggests that gratitude therapy serves as a promising intervention to reduce suicide risk and improve mental health across a range of settings and populations. However, these findings have several limitations and further research is needed to expand its applicability and efficacy.
Intervensi pada Narapidana dengan Perilaku Self-Harm: Studi Literatur Nur Oktavia Hidayati; Adista Nurfadillah; Aisyah Nur Azizah; Bayu Noerkholifa Troyanna; Dea Susilawati; Debora Angelina Marpaung
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.847

Abstract

Self-harm pada narapidana merupakan masalah serius yang berkaitan dengan kesehatan mental dan keselamatan individu di lingkungan penjara. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk memetakan berbagai intervensi psikologis yang digunakan dalam menangani self-harm di kalangan narapidana. Pencarian artikel dilakukan secara sistematis di lima database (Scopus, PubMed, EBSCO, Cambridge Core, dan Emerald) menggunakan kata kunci “intervention”, “self-harm”, dan “prisoners”, dan batasan tahun terbit 2015–2025. Lima artikel ditemukan tentang intervensi terhadap perilaku self-harm, antara lain Cognitive Behavioral Suicide Prevention (CBSP), Systems Training for Emotional Predictability and Problem Solving (STEPPS), Brief Contact Interventions (BCI), Peer-Led Problem-Support Mentors. Intervensi-intervensi ini terbukti dapat membantu narapidana dalam mengelola emosi negatif, membangun harapan, dan menciptakan lingkungan yang lebih suportif. Meskipun demikian, sebagian besar studi memiliki keterbatasan pada ukuran sampel dan keberagaman populasi,
Hubungan Kualitas Tidur dan Burnout Akademik pada Mahasiswa Keperawatan Hikmah Muta'aliyah; Nur Oktavia Hidayati; Theresia Eriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.24981

Abstract

ABSTRACT Nursing students face high academic and clinical demands, making them vulnerable to poor sleep quality and academic burnout. Poor sleep quality is assumed to contribute to higher burnout levels. This study aimed to determine the relationship between sleep quality and academic burnout among nursing students at Universitas Padjadjaran. A quantitative correlational non-experimental design was applied. The population consisted of 923 active undergraduate nursing students at Universitas Padjadjaran (Jatinangor Campus and Pangandaran Campus). A total of 279 respondents were selected using proportionate stratified random sampling. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), while academic burnout was assessed using the Maslach BurnoutInventory–Student Survey (MBI-SS). Data were analyzed using Spearman Rank correlation. Most respondents reported poor sleep quality (81%). Academic burnout was predominantly at a moderate level (52.3%). Statistical analysis showed a significant relationship between sleep quality and academic burnout (p = 0.002), with a very weak positive correlation (r = 0.186). There is a significant association between sleep quality and academic burnout among nursing students at Universitas Padjadjaran. Poorer sleep quality tends to be followed by higher burnout levels, although the correlation strength is very low. Keywords: Sleep Quality, Academic Burnout, Nursing Students.  ABSTRAK Mahasiswa keperawatan menghadapi tuntutan akademik dan praktik klinik yang tinggi sehingga rentan mengalami gangguan kualitas tidur serta burnout akademik. Kualitas tidur yang buruk diduga berkontribusi terhadap meningkatnya burnout akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian burnout akademik pada mahasiswa keperawatan Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan non-eksperimental. Populasi penelitian adalah mahasiswa aktif Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran di Kampus Jatinangor dan PSDKU Pangandaran sebanyak 923 mahasiswa. Sampel berjumlah 279 responden yang dipilih menggunakan proportionate stratified random sampling. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan burnout akademik menggunakan Maslach Burnout Inventory–Student Survey (MBI-SS). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Rank Spearman. Sebagian besar responden memiliki kualitas tidur buruk (81%). Tingkat burnout akademik responden didominasi kategori sedang (52,3%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan burnout akademik (p = 0,002) dengan kekuatan hubungan sangat rendah dan arah positif (r = 0,186). Terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dan burnout akademik pada mahasiswa keperawatan Universitas Padjadjaran. Mahasiswa dengan kualitas tidur yang lebih buruk cenderung mengalami burnout akademik lebih tinggi, meskipun kekuatan hubungan sangat rendah. Kata Kunci: Kualitas Tidur, Burnout Akademik, Mahasiswa Keperawatan.
Duka Masa Kecil Dan Perundungan Sebagai Faktor Predisposisi Halusinasi Pada Pasien Skizofrenia Paranoid: A Case Report Riska Nur Assyifa Febrianti; Nur Oktavia Hidayati; Efri Widianti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1378

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik kronis dengan halusinasi sebagai gejala utama. Pengalaman traumatis masa kanak-kanak, seperti duka akibat kehilangan orang tua dan perundungan, diketahui berperan sebagai faktor predisposisi munculnya gejala psikotik melalui peningkatan kerentanan stres dan gangguan atribusi makna. Laporan kasus ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang dilakukan terhadap seorang pasien laki-laki berusia 22 tahun (Tn. S) dengan diagnosis skizofrenia paranoid di RSJ X Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui komunikasi terapeutik, observasi perilaku, dan penelusuran rekam medis selama periode perawatan 3-12 September 2025, dengan analisis data yang difokuskan pada integrasi asuhan keperawatan berbasis trauma. Pasien menunjukkan halusinasi pendengaran dan visual yang berorientasi pada figur orang tua yang telah meninggal, disertai agitasi dan perilaku agresif. Intervensi yang diberikan meliputi modifikasi teknik "menghardik" melalui validasi emosi dan afirmasi realitas, serta aktivitas "bercakap-cakap" menggunakan dengan orientasi masa depan untuk meningkatkan resiliensi dan memutus siklus trauma. Hasil menunjukkan perbaikan bertahap pada stabilitas emosi, peningkatan kemampuan kontrol halusinasi, dan penurunan perilaku agresif. Temuan ini menegaskan bahwa trauma masa kanak-kanak berkontribusi terhadap kekambuhan halusinasi melalui mekanisme sensitivitas stres yang persisten. Pendekatan keperawatan yang memprioritaskan pemulihan rasa aman, validasi emosional, dan pemberdayaan resiliensi terbukti krusial dalam menstabilkan gejala fase akut dan mencegah retraumatisasi.