Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Antagonistic Endophytic Fungi from Papaya Fruit Against Anthracnose Causing Pathogens (Colletotrichum gloeosporioides) on Papaya Fruit Nasahi, Ceppy; Amatullah, Hana Lathifah; Kurniadie, Denny
CROPSAVER Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i2.47087

Abstract

Anthracnose disease caused by Colletotrichum gloeosporioides considered a major disease on papaya fruit. One way to control plant diseases is to use antagonistic fungi as biocontrol agents. Several antagonistic fungi can be found in plant tissues (endophytic fungi). This study aims to get endophytic fungi from papaya fruit antagonistic to the fungus C. gloeosporioides. The research used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and five replications on in-vitro and in-vivo tests. The results showed that three isolates of endophytic fungi found from papaya fruit were Fusarium sp., Aureobasidium sp., and Acremonium sp., which had an inhibition of 63.5%, 67.86%, and 7.52%, respectively. Fusarium sp. and Aureobasidium sp. are potentially considered antagonist fungi in controlling the fungus C. gloeosporioides in in-vitro testing based on the inhibition results were more than 60%. Aureobasidium sp. is considered potential antagonist fungi according to the colonization or growth of C. gloeosporioides mycelium inhibition that emerges on papaya up to 97%. 
PELATIHAN PENGGUNAAN PESTISIDA YANG BAIK DAN BERKELANJUTAN UNTUK PERSIAPAN TANAM JAGUNG PADA SISTEM TANPA OLAH TANAH (TOT) DI DESA NAGREK KENDAN, KECAMATAN NAGREK, KABUPATEN BANDUNG: PELATIHAN PENGGUNAAN PESTISIDA YANG BAIK DAN BERKELANJUTAN UNTUK PERSIAPAN TANAM JAGUNG PADA SISTEM TANPA OLAH TANAH (TOT) DI DESA NAGREK KENDAN, KECAMATAN NAGREK, KABUPATEN BANDUNG Kurniadie, Denny; Sumekar, Yayan; Bari, Ichsan
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.8

Abstract

Desa Nagrek Kendan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Nagrek, Kabupaten Bandung. Sebagian wilayah terdiri dari dari lahan pertanian (sawah, tadah hujan dan lahan kering) serta fasilitas umum/perumahan penduduk. Sebanyak 31% dari warga yang bekerja adalah buruh tani, dan sisanya adalah petani, pegawai swasta, dan pedagang. Salah satu masalah pertanian di Desa Nagrek Kendan adalah pengendalian organisme pengganggu ynag berlebihan serta pengaplikasian pestisida yang tidak sesuai anjuran dan penggunaan. Petani yang selama ini masih bertani dengan sistem konvensional, sehingga perlu sosialilasi dan praktek pertanian efektif dan efisien serta berkelanjutan yaitu dengan pengelolaan hama, penyakit serta gulma. Bagi petani hama, penyakit dan gulma merupakan salah satu aspek penting dalam proses budidaya padi sawah dan tanaman jagung mulai dari pembibitan hingga usia panen. Penggunaan pestisida di lapangan bukan lagi menjadi rahasia, namun ternyata tidak semua petani menguasai teknik penggunaan pestisida yang efektif dan efisien. Penggunaan yang tepat kadar, jenis dan waktu aplikasi sangat mempengaruhi biaya terutama pada budidaya padi sawah dan jagung skala besar. Aplikasi pestisida yang berlebihan juga dapat memberikan dampak negatif jangka panjang yang mengancam keberlanjutan usaha di masa depan. Budidaya tanaman jagung secara tanpa olah tanah (TOT) merupakan teknologi budidaya pada tanaman jagung yang merupakan teknologi baru bagi masyarakat Desa Nagrek Kendan. Waktu pelaksanaan dari bulan Januari hingga Pebruari 2022. Metode yang diterapkan adalah metode persuasif kepada masyarakatnya dengan melakukan metode role play dari para ahli di bidangnya, serta memberikan suatu konsep dan pemahaman mendasar akan pentingnya penggunaan pestisida yang baik dan benar serta aplikasi herbisida pada budidaya jagung secara TOT (tanpa olah tanah).
PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS JERAMI YANG DIAPLIKASIKAN PADA TANAMAN PADI SAWAH DI DESA GAMEL KABUPATEN CIREBON: PELATIHAN PEMBUATAN KOMPOS JERAMI YANG DIAPLIKASIKAN PADA TANAMAN PADI SAWAH DI DESA GAMEL KABUPATEN CIREBON Umiyati, Uum; Sumekar, Yayan; Widayat, Dedi; Kurniadie, Denny
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.25

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah (1) memberikan motivasi dan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya manfaat pupuk organik bagi kesuburan dan kesehatan tanah, (2) memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat tentang teknik pembuatan pupuk organik kompos. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Arjasari Kecamatan Gamel Kabupaten Cirebon Jawa Barat. dengan kelompok sasaran petani, tokoh masyarakat dan aparat Desa setempat. Jumlah peserta ada 30 orang, empat dari dosen pengabdi dan mahasiswa. Adapun pelaksanaan kegiatan ini melalui penyuluhan dan praktek. Selama kegiatan penyuluhan dan diskusi peserta diberi penjelasan tentang peranan dan pentingnya menggunakan pupuk organik pada tanaman padi sawah dan tanaman pangan, dijelaskan pula tentang macam-macam pupuk pertanian, kegunaan pupuk organik, bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk organik, serta dijelaskan cara pembuatan pupuk organik atau kompos dan pupuk organik cair dengan cara yang sederhana. untuk meningkatkan pemaham dan keterampilan, masyarakat sasaran diajak bersama membuat pupuk organik padat (kompos) dan pupuk organik cair sendiri. Hasil dari kegiatan menunjukkan Masyarakat sasaran bertambah pengetahuannya tentang arti dan manfaat pupuk kompos dan pupuk organik cair dan juga dapat membuat pupuk kompos dan pupuk organik cair itu sendiri secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara melimpah di lokasi mereka tinggal, bertambah ketrampilannya dalam membuat pupuk kompos dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan pertanian. Secara tidak langsung kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh kelompok dosen dapat memberikan pengalaman baru dan telah memperluas wawasan mahasiswa tentang bagaimana sebenarnya masyarakat desa khususnya petani menghadapi beragam permasalahan pertanian dan usaha apa yang harus dilakukan petani untuk mencari solusinya.
Pelatihan Budidaya Tanpa Olah Tanah (TOT), Pembuatan Kompos dan Pengendalian Hama Ulat Grayak pada Tanaman Jagung di Desa Sukarame, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut Kurniadie, Denny; Bari, Ichsan
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.90

Abstract

Desa Sukarame memerupakan bagian dari Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa ini berada di dataran medium (697 mdpl) dan memiliki luas wilayah yaitu 374,3 ha, yang terdiri dari tanah sawah 92 Ha, tanah kering 224 Ha dan tanah perkebunan 5 Ha. Jumlah penduduk Desa Sukarame sebanyak 6.169 jiwa dan mayoritas adalah sebagai buruh tani. Petani di Desa Sukarame umumnya bertanam tanaman padi sawah dan tanaman jagung sebagai tanaman utama. Pola tanam yang biasa dilakukan di Desa Sukarame adalah Padi-padi-jagung. Sistim tanam tanaman jagung adalah secara konvensional yaitu persiapan tanah, pencangkulan tanah dua kali kemudian penanaman. Sistim penanaman ini memerlukan tenaga kerja dan upah yang tinggi, sehingga pendapatan petani jadi berkurang. Sistim penanaman pada tanaman padi sawah dan tanaman jagung di Desa Sukarame adalah secara konvensional yaitu masih menggunakan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organic atau kompos belum banyak digunakan para petani di Desa Sukarame, walaupun bahan pembuatan pupuk organic seperti limbah rumah tangga, limbah pertanian dan peternakan banyak tersedia di wilayah Desa Sukarame. Penggunaan pupuk organic atau kompos selain bisa menyuburkan tanah dalam jangka panjang juga bisa mengurangi biaya produksi. Pembuatan pupuk organik yang berasal dari limbah pertanian, rumah tangga dan kotoran ternak ini belum banyak dikenal di Desa Sukarame. Pelatiahan yang telah dilaksanakan telah memiliki dampak sebagai berikut: (1) Pengetahuan dan ketrampilan petani khususnya peserta kegiatan bertambah dengan adanya penyuluhan dan pelatihan pembuatan pupuk organic atau kompos yang baik dan benar. (2) Masyarakat sasaran bertambah pengetahuannya tentang pentingnya menjaga kesuburan tanah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia. (3) Masyarakat tani tanggap dan termotivasi untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mulai menggunakan pupuk kompos, karena penggunaan pupuk kompos dalam jangka Panjang bisa menyuburkan tanah.
Effects of Glyphosate Potassium 660 G L-1 on Transgenic and Conventional Corn Varieties Kurniadie, Denny; Umiyati, Uum; Widayat, Dedi
BIOTROPIA Vol. 26 No. 3 (2019): BIOTROPIA Vol. 26 No. 3 December 2019
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.082 KB) | DOI: 10.11598/btb.2019.26.3.911

Abstract

The transgenic corn variety, NK 603, which contains a gene called CP4 EPSPS (5-enolpyruvyl shikimate-3-phosphate synthase) which makes the corn plants tolerant to the glyphosate herbicide, on the other hand conventional corn varieties are sensitive to glyphosate. It was required to test the chlorosis and burn-down effect both in transgenic and conventional corn varieties due to glyphosate. The experiment was conducted to quantify the burn-down effects and chlorosis due to the application of herbicide glyphosate potassium 660 g L⁻¹ on two varieties of corn at the Agriculture Faculty Research Station of Padjadjaran University, West Java, Indonesia, from December 2015 to April 2016. The experiment was arranged in randomized block design with 20 treatments and each treatment replicated twice. At 15 days and 20 days after planting, five transgenic corn varieties (C 7 RR, 979 RR, 77 RR, 85 RR and 95 RR) and five conventional corn varieties (C 7, 979, 77, 85 and 95) were applied with herbicide glyphosate potassium 660 g L⁻¹ at a dose of 2 L ha⁻¹. The results showed that the herbicide was effective to control the weed in both transgenic and conventional corn varieties. The transgenic corn variety exhibited smaller percentages of chlorosis (0–20%) and no burn-down effect was observed following applications of glyphosate potassium 660 g L⁻¹. On the other hand, chlorosis and burn-down effects were found on all conventional corn varieties. The yield of transgenic corn varieties was higher than those of the conventional corn varieties.