Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan kualitas air tercemar dengan keragaman gulma air di daerah aliran sungai Cikeruh dan Cikapundung Provinsi Jawa Barat Denny Kurniadie; D. V. Putri; Uum Umiyati
Kultivasi Vol 15, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.612 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v15i3.11763

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus dengan tujuan untuk mengetahui keragaman gulma air  dan hubungan keberadaan gulma air yang tumbuh pada DAS Cikeruh dan DAS Cikapundung Propinsi Jawa Barat dengan kualitas air yang tercemar limbah pertanian, limbah pemukiman, dan limbah industri.  Metode penelitian metode weed survey dengan cluster sampling  diletakkan pada komunitas vegetasi di daerah hulu, tengah, dan hilir  sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulma dominan tumbuh di sungai Cikeruh adalah : Drymaria cordata (L), daerah tengah dan hilir adalah: Eleusine indica (L), sedangkan gulma di DAS  Cikapundung bagian hulu adalah Drymaria cordata (L), daerah tengah dan hilir  adalah Ageratum conyzoides (L), dan Cyperus difformis (L). Nilai C sungai Cikeruh dan sungai Cikapundung menunjukkan lebih kecil dari 75% atau tidak terdapat kesamaan populasi, sedangkan nilai H’ termasuk dalam kategori rendah, dan nilai E termasuk dalam kategori sedang. Tidak terdapat korelasi antara keragaman jenis gulma dengan kualitas air di DAS Cikeruh dan DAS Cikapundung. Kata Kunci : dominasi gulma, pencemaran, keragaman gulma air
Pergesaran populiasi gulma pada olah tanah dan pengendalian gulma yang berbeda pada tanaman Uum Umiyati; Denny Kurniadie
Kultivasi Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.741 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i2.11761

Abstract

Tujuan dari perobaan ini adalah mengetahui pergeseran populasi gulma pada olah tanah dan pengendalian gulma yang berbeda. Percobaan dilakukan dari bulan Juni – Agustus 2016 di UPTD Balai Pengembangan Benih Palawija (BPBP) Desa Barepan Kabupaten Cirebon.  Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak dengan 6 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan tersebut adalah A     = Tanpa Olah Tanah dan pengendalian gulma dengan herbisida , B            = Tanpa Olah Tanah dan pengendalian gulma secara mekanis, C           = Tanpa Olah Tanah dan tanpa pengendalian gulma, D  = Olah Tanah Sempurna dan pengendalian gulma dengan herbisida, E    = Olah Tanah Sempurna dan pengendalian gulma secara mekanis dan F   = Olah Tanah Sempurna dan tanpa pengendalian gulma.  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 jenis gulma sebelum perlakuan, yang didominasi oleh gulma Ludwegia octovalvis dengan SDR sebesar 19,02%, gulma codominan terdiri dari Fimbristylis miliace  SDR 15,55 %, Echinocloa crusgali dengan SDR 13,42 %, Monochoria vaginalis dengan SDR 12,39 %, Cyperus iria SDR 10,03 %.  Setelah perlakuan gulma yang selalu muncul pada setiap perlakuan terdiri dari 3 spesies, yaitu Echinocloa colona L. Cyperus iria L, Cynodon dactylon L dan Althernanthera  piliodes  L.  Dominasi gulma Ludwegia perennis L setelah perlakuan digantikan oleh adanya kegiatan pengendalian dan pengolahan tanah. Perubahan spektrum gulma cukup besar kemungkinannya disebabkan oleh adanya tekanan selektivitas yang cukup tinggi dari herbisida yang digunakan.  Akibat penggunakan satu jenis herbisida secara terus menerus pada satu lahan, maka akan terjadi perubahan dominasi gulma dari komunitas gulma yang peka menjadi gulma yang toleran. Gulma Echinocloa colona L dan Cyperus iria ditemui pada seluruh petak percobaan, hal ini karena kedua gulma tersebut memperbanyak diri dengan biji dan stolon. Kata Kunci : pergeseran gulma,  olah tanah, pengendalian gulma.
Efektivitas herbisida bentazone sodium (370 g/L) dan MCPA DMA (62 g/L) dalam mengendalikan gulma pada budidaya padi sawah Uum Umiyati; Denny Kurniadie; Dedi Widayat; Yayan Sumekar; A. Iim
Kultivasi Vol 17, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.532 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i3.18731

Abstract

Sari. Pengendalian gulma pada budidaya padi sawah perlu dilakukan, karena gulma dapat menyebabkan penurunan hasil padi sawah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan campuran  herbisida Bentazone sodium dan MCPA DMA dalam mengendalikan gulma pada budidaya padi sawah. Percobaan dilaksanakan pada bulan November sampai bulan Desember 2017 di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Rancangan percobaan yang dilakukan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan, percobaan yang diuji yaitu: campuran herbisida Bentazone sodium + MCPA DMA dosis 0,75 L/ha; 1 L/ha; 1,25 L/ha; 1,5 L/ha; 1,75 L/ha; penyiangan manual, dan tanpa perlakuan (kontrol). Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan campuran herbisida Bentazone Sodium + MCPA DMA 0,75 L/ha efektif mengendalikan gulma Fimbristylis miliaceae, Ludwigia adscendes, Cyperus difformis, dan Leptochloa chinensis dan tidak menimbulkan keracunan pada tanaman padi. Campuran herbisida Bentazone Sodium + MCPA DMA 0,75 L/ha – 1,75 L/ha dapat meningkatkan bobot biji kering padi.Kata Kunci: Bentazone sodium, MCPA DMA, Herbisida Campuran, PadiAbstract. Weed control in rice cultivation must be improved, because weeds can decrease rice yield. The purpose of this experiment was to quantify the effectiveness of herbicide mixture of Bentazone sodium and MCPA DMA in controlling weeds on rice field.  The experiment was conducted in Ciparay district, Bandung Regency, from September to Desember 2017. The experiment used experimental method. It used Randomized Block Design (RBD) that consisted of 7 treatments and 4 replications. The treatment was  dosage 0,75 L/ha; 1 L/ha; 1,25 L/ha; 1,5 L/ha; and 1,75 L/ha of herbicide mixture Bentazone sodium + MCPA DMA, Manual weeding, and Without treatment (control). Dosage 0,75 L/ha of herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA effectively control weeds Fimbristylis miliaceae, Ludwigia adscendens, Cyperus difformis, and Leptochloa chinensis. Herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA at all tested doses showed that there was no symptoms of herbicide toxication in rice crops. Herbicide mixture of Bentazone sodium + MCPA DMA at dose 0,75 L/ha – 1,75 L/ha improved dry grain weight.Keyword ; Bentazone sodium, MCPA DMA, mixture herbicide, rice
Pengaruh perbedaan waktu turun hujan terhadap aplikasi herbisida kalium glifosat dalam mengendalikan gulma dominan kelapa sawit Denny Kurniadie; Yayan Sumekar; Subhan Nulkarim
Kultivasi Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.221 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v18i1.20988

Abstract

Sari. Rendahnya produktivitas kelapa sawit salah satunya disebabkan oleh adanya kompetisi tanaman dengan gulma. Pengendalian gulma dengan herbisida kalium glifosat 660 g/L sudah banyak dilakukan dan dinilai efektif. Hambatan yang terjadi yaitu terkadang turun hujan setelah aplikasi herbisida yang menyebabkan efikasi kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan herbisida kalium glifosat 660 g/L akibat pencucian air hujan dalam mengendalikan gulma dominan pada tanaman kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor pada bulan Februari sampai bulan April 2018. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah waktu turun hujan setelah aplikasi herbisida kalium glifosat 660 g/L, yang terdiri dari 0, 1, 2, 3, dan 4 jam setelah aplikasi, tanpa hujan, serta tanpa aplikasi herbisida. Perlakuan diterapkan pada 6 jenis gulma, yaitu Asystasia intrusa, Imperata cylindrica, Borreria alata, Ageratum conyzoides, Paspalum conjugatum dan Setaria plicata. Hasil percobaan menunjukkan bahwa herbisida kalium glifosat 660 g/L mampu mengendalikan 5 jenis gulma yaitu I. cylindrica, A. conyzoides,  S. plicata (persentase kerusakan masing-masing 100%); B. alata (persentase kerusakan 90 – 100%); dan P. conjugatum (persentase kerusakan 51,5 – 100%); secara efektif walaupun tercuci air hujan  antara 2 – 4 jam setelah aplikasi. Herbisida kalium glifosat 660 g/L mampu mengendalikan gulma I. cylindrica (persentase kerusakan 79,6%); B. alata, dan A. conyzoides (persentase kerusakan masing-masing 100%); dengan rentang waktu kurang dari 2 jam setelah aplikasi sebelum tercuci air hujan. Kata kunci: Kelapa Sawit, gulma dominan, Kalium glifosat 660 g/L, turun hujanAbstract. The low productivity of oil palm is caused by competition between crop with weeds. Weed control with potassium glyphosate 660 g.L-1 herbicide has been done and is considered effective. Rainfall after herbicide application can be a problem because efficacy can be less effective. This study aims to determine the effect of rainfall on effectivity of potassium glyphosate 660 g.L-1 herbicide in controlling the dominant weeds of oil palm. The study was carried out at the Ciparanje Experimental Greenhouse, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University, from February to April 2018. The experimental design used Randomized Block Design, that consisted of 7 treatments and 4 replications. The treatments were the time of rainfall after application of potassium glyphosate 660 g.L-1 herbicide. It consisted of 0, 1, 2, 3, and 4 hours after herbicide application, without rainfall, and without herbicide application. The treatment was applied to 6 types of weeds. There were Asystasia intrusa, Imperata cylindrica, Borreria alata, Ageratum conyzoides, Paspalum conjugatum, and Setaria plicata. The experimental results showed that potassium glyphosate 660 g.L-1  was able to control 5 types of weeds. There were I. cylindrica,  A. conyzoides, S. plicata (each percentage of damage was 100%); B. alata (90-100% damage percentage); P. conjugatum (51.5 – 100% damage percentage); was controlled in rainfall at 2 – 4 hours after herbicide application. Potassium glyphosate 660 g.L-1 herbicide controlled I. cylindrica (79.6% damage percentage); B. Alata and A. conyzoides (each percentage of damage was 100%); in rainfall at less than 2 hours after herbicide application.Keyword: Palm oil, Dominant Weed, Potasium Glyphosate, Rainfall
EFEKTIVITAS HERBISIDA CAMPURAN b.a.: Pendimetalin 150 g/l + Metolaklor 300 g/l + Oksifluorfen 50 g/l UNTUK MENGENDALIKAN GULMA PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH Uum Umiyati; Denny Kurniadie; Deden Deden
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v8i1.4182

Abstract

The experiment was conducted with the aim the efficacy testing effectiveness of mixed herbicide with the active Pendimetalin 150 g/l + Metolaklor 300 g/l + Oksifluorfen 50 g/l in controlling Cyperus sp, Digitaria adscendens, Ageratum conyzoides, Portulaca virosa and other weeds in onion. The experiment was carried out in the field of Gebang Village, Babakan Subdistrict, Cirebon, Wast Java. Field experiment was started from Mei 2020 - July 2020. The design was used with randomized block design (RCBD) consist of eight treatments with four replications. The treatments tested were mixed herbicide at 1.0 l/ha, 1.5 l/ha, 2.0 l/ha, 2,50 l/ha, 3.0 l/ha, 3.5 l/ha, manual weeding and Untreated control (without herbicide). Result showed that mixed herbicide at 1.0 to 3.5 l/ha were effective to control Cyperus sp, Digitaria adscendens, Ageratum conyzoides, Portulaca virosa and other weeds in onion up to 6 WAA. mixed herbicide at the rate tested at 1.0 to 3.5 l/ha did not show crop safety issue to onion crops, no negative impact on number of tillers at vegetative stages, and it shown optimizing potential onion yield at 9,34 to 11,22 kg/plot.
Dinamika Populasi Gulma Akibat Aplikasi Herbisida Metil Metsulfuron pada Padi Sawah Sistem Tanam Pindah (Tapin) dan Tanam Benih Langsung (Tabela) Sri Utami; Denny Kurniadie; Dedi Widayat
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29231

Abstract

Perubahan jenis, komposisi dan dominasi gulma merupakan masalah yang sering timbul akibat adanya pengendalian gulma, terutama pengendalian gulma menggunakan herbisida. Gulma dapat menjadi lebih berbahaya, sulit dikendalikan dan menjadi resisten jika tidak diatasi dengan baik. Perubahan jenis dan komposisi juga dipengaruhi oleh sistem budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergeseran atau perubahan gulma akibat aplikasi herbisida metil metsulfuron pada penanaman padi sistem Tapin dan sistem Tabela. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot yang diulang sebanyak empat kali. Faktor utama adalah sistem tanam dengan dua taraf, yaitu sistem Tabela (T2) dan Tapin (T1). Anak petak adalah penyiangan gulma dengan tiga taraf, yaitu penyiangan menggunakan herbisida metil metsulfuron (H1), penyiangan manual (H2) dan tanpa penyiangan atau kontrol (H3). Hasil penelitian menunjukan bahwa selain perlakuan kontrol pada sistem Tabela (T2H3), dominasi gulma berubah dari gulma golongan daun lebar menjadi gulma golongan teki. Perlakuan herbisida metil metsulfuron sistem Tabela (T2H1) memiliki tingkat kesamaan komunitas gulma yang paling berbeda terhadap Anveg awal dan perlakuan kontrol pada sistem Tapin (T1H3) maupun Tabela (T2H3). Keanekaragaman gulma menurun, terutama pada perlakuan herbisida metil metsulfuron sistem Tabela (T2H1) yang memiliki tingkat keanekaragaman gulma paling rendah dan nilai dominsi paling tinggi.
Sinergisme Campuran Herbisida Berbahan Aktif IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 D AminA 120 g/L dalam Mengendalikan Beberapa Jenis Gulma Denny Kurniadie; Dita Agustin Purbayanti; Yayan Sumekar
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.534 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24831

Abstract

ABSTRACT Synergism of herbicide mixture of Glyphosate IPA 240 g/L and 2,4 D Amines 120 g/L in controlling various types of weeds Mixture of herbicides with two or more types of active ingredients will show an interaction of the ingredients. These interactions could be synergistic, additive, or antagonistic. The purpose of this research was to investigate the herbicide mixture of Glyphosate IPA 240 g/L and 2,4 D Amines 120 g/L to control various types of broadleaf weeds and grass weeds. The research was conducted from March until May 2019, at the green house of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran at Jatinangor Sumedang. The treatment consisted of three types of herbicides with different dosages, namely mixture of glyphosate IPA 240 g/L and 2.4 D Amine 120 g/L (2,880, 1,440, 720, 360, 180, and 0 g/ha), glyphosate IPA 240 g/L (1,920, 960, 480, 240, 120, and 0 g/ha), and 2,4 D Amine 120 g/L (960, 480, 240, 120, 60, and 0 g/ha) with five replications. The target weeds were Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora, Borreria alata, Ischaemun timorense, and Otochloa nodosa.  Data were analyzed using analysis of linear regression and MSM method to determine LD95 treatment and LD95 expectation. The result showed that mixture of herbicides glyphosate IPA and 2.4 D Amine had LD95 treatment value (3992,91 g/ha) and smaller than LD95 expectation value (4180,81 g/ha), so the herbicide mixture was synergistic. Keywords: Mixed herbicide, IPA Glyphosate, 2,4 D Amine, LD95, MSM method ABSTRAK Herbisida campuran dengan dua atau lebih jenis bahan aktif akan menunjukkan interaksi satu bahan dengan bahan yang lain. Interaksi tersebut dapat bersifat sinergis, aditif dan antagonis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui interaksi herbisida campuran berbahan aktif IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 Amina 120 g/L terhadap pengendalian gulma berdaun lebar dan gulma rumput. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2019, di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Ciparanje, Jatinangor. Perlakuan terdiri dari tiga jenis herbisida dengan dosis yang berbeda yaitu herbisida campuran IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 D Amina 120 g/L (2.880, 1.440, 720, 360, 180, 0 g/ha), herbisida tunggal IPA Glifosat 240 g/L (1.920, 960, 480, 240, 120, 0 g/ha), dan herbisida tunggal 2,4 D Amina 120 g/L (960, 480, 240, 120, 60, 0 g/ha) dengan lima ulangan. Gulma sasaran pada penelitian ini di antaranya yaitu Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora, Borreria alata, Ischaemun timorense, dan Otochloa nodosa. Analisis data menggunakan analisis regresi linear dan metode MSM untuk menentukan LD95 perlakuan dan LD95 harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran herbisida berbahan aktif IPA Glifosat dan 2,4 D Amina memiliki nilai LD95 perlakuan (3992,91 g/ha) lebih kecil dari nilai LD95 harapan (4180,81 g/ha) sehingga campuran herbisida tersebut bersifat sinergis. Kata Kunci: Herbisida campuran, IPA Glifosat, 2,4 D Amina, LD95, Metode MSM
IDENTIFIKASI DAN PERTUMBUHAN BERBAGAI GULMA AIR SEBAGAI BAHAN BIOFILTER PENYARING AIR LIMBAH Oktap Ramlan Madkar; Denny Kurniadie
Bionatura Vol 5, No 2 (2003): Bionatura Juli 2003
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan rumah kaca identifikasi dan pertumbuhan berbagai gulma air untukdigunakan sebagai bahan biofilter penyaring air limbah telah dilakukan di RumahKaca milik Fakultas Pertanian Unpad, Jatinangor. Waktu pelaksanaan percobaandimulai dari bulan Juli sampai bulan November 2000. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan dan 42 buah perlakuan. Ujistatistik yang digunakan adalah uji F pada taraf 5% dengan uji lanjutan uji ScottKnott. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi beberapa jenis gulma airyang mempunyai kecepatan tumbuh dan produktivitas biomassa yang tinggi sertamampu mengabsorpsi zat-zat pencemar air sehingga berpotensi untuk digunakansebagai biofilter limbah cair industri. Seluruh gulma air ditumbuhkan pada emberplastik kapasitas 5 liter. Media tanam yang digunakan yaitu media air, air limbahpabrik tekstil dan pabrik tahu yang diencerkan sebanyak 8 kali. Berat basah awalgulma adalah berkisar antara 19,50 sampai 20,20 gram. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa gulma air yang ditanam pada media limbah tahumempunyai laju pertumbuhan relatif dan produktivitas biomassa yang lebihtinggi dibandingkan dengan gulma yang sama yang ditanam pada media airbersih dan limbah tekstil. Gulma-gulma air: Eichornia crassipes, S. molesta, S.natans, P. stratiotes dan M. crenata merupakan gulma-gulma air yang mamputumbuh cepat dan beradaptasi pada media tercemar (limbah tahu dan limbahtekstil), sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai bahan biofilter penyaringair limbah.
PENGARUH KOMBINASI DOSIS PUPUK MAJEMUK NPK PHONSKA DAN PUPUK N TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI SAWAH (Oryza sativa L) VARIETAS IR 64 Denny Kurniadie
Bionatura Vol 4, No 3 (2002): Bionatura Nopember 2002
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.536 KB)

Abstract

Pengaruh kombinasi dosis pupuk majemuk NPK Phonska dan pupuk N terhadappertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah varietas IR 64 telah dilakukan dilahan sawah milik UPP-SDA Hayati, Jatinangor, Kabupaten Sumedang dari bulanMei sampai bulan Agustus 2001. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkandosis terbaik dari kombinasi pupuk majemuk NPK Phonska dan pupuk N padatanaman padi sawah di Jatinangor Sumedang. Rancangan yang digunakan adalahRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan dan masing-masingdiulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pemupukandengan 700 kg/ha Phonska menyebabkan tanaman padi sawah mempunyaitinggi tanaman rata-rata yang paling tinggi pada umur 6-12 minggu setelai tanam(mst) Perlakuan dengan 400 kg/ha Phonska + 152 kg/ha urea jugamenyebabkan tanaman padi sawah mempunyai rata-rata jumlah anakan yangpaling tinggi pada umur 8, 10 dan 12 minggu setelah tanam. Rata-rata jumlahmalai per rumpun, jumlah gabah per malai, indeks panen, bobot 1000 butir, hasilgabah kering panen per hektar (7,50 ton) dan hasil gabah kering giling per hektar(6,17 ton) yang paling tinggi dihasilkan oleh tanaman padi sawah yang diberiperlakuan dengan 300 kg/ha Phonska + 333 kg/ha ZA.Kata kunci : Pupuk majemuk, phonska, NPK, oryza sativa L
CONSTRUCTED WETLANDS TO TREAT HOUSE WASTEWATER. A SOLUTION FOR INDONESIA? Denny Kurniadie
Bionatura Vol 3, No 1 (2001): Bionatura Maret 2001
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.162 KB)

Abstract

A pilot project of one constructed subsurface flow wetlands to treat sewage fromfamily Subandi house has been built in Bandung Indonesian in February 1999.The water samples from both influent and effluent (COD, BOD5, NO3-N, NO2-N, NH4-N, PO4-P, pH, and settleable solids, and O2) were taken twice a month and analyzed. Fecal coliforms bacteria was determined by MPN method. Theobjective of this study was to install one constructed subsurface flow wetlandswith vertical flow to treat sewage from private house. The treatment efficiencyof this constructed wetlands was already relatively high, although this constructed wetlands was just only eleven months in operation. The results were very promising and give a possibility of constructed wetlands to be installed anddeveloped in tropical countries, especially in Indonesia, as a viable alternative to conventional wastewater technology, because this system is and simple and cost effective.Keywords: Constructed wetlands, wastewater treatment, conventional system, subsurface flow