Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : NALARs

KAJIAN JALUR PEDESTRIAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PADA AREA KAMPUS Ari Widyati Purwantiasning; Lily Mauliani; Wafirul Aqli
NALARs Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Jalur pedestrian sudah seharusnya dapat menjadi fasilitas yang baik yang disediakan baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta sebagai fasilitas untuk pejalan kaki. Kebutuhan fasilitas pejalan kaki sebagai ruang terbuka publik juga meningkat karena adanya penyesuaian gaya hidup dan standar hidup bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jakarta khususnya. Daerah jalur pejalan kaki memiliki banyak fungsi, salah satu fungsi mereka baik sebagai fasilitas untuk pejalan kaki, juga sebagai ruang terbuka untuk berbagai aktifitas diantaranya aktifitas social dan juga aktifitas lainnya. Sebuah jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja harus direncanakan dan dirancang sebagai akses yang mudah dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Hal ini menjadi latar belakang mengapa konsep pedestrian penting untuk diterapkan dalam wilayah publik seperti area kampus. Namun pada kenyataannya jalur pedestrian yang ada masih jauh dari optimal dalam hal perencanaan, desain atau penggunaannya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian. Kata kunci: jalur pedestrian, ruang terbuka, area kampus ABSTRACT. A pedestrian line should be a good facility provided either by government or private institutions as a tool for pedestrians. The need for pedestrian facilities as public open spaces have also increased due to an adjustment of lifestyle and standard of living for Indonesian community generally and Jakarta’s community particularly. Pedestrian areas have many functions, one of their functions either as a tool for pedestrians, also as a space for social need for many people. A distance from residence to work place should be planned and designed as an easy access and can be reached by walking distance. This is become a background why the concept of pedestrian is important to be applied within public area such as campus area. But in fact the existing pedestrian path is far from optimal in terms of planning, design or use. This paper is aimed to analyse the application of pedestrianization concept within campus area as a public space for social need. As the fact showed that number of pedestrian’s flow within campus area is quite high. The need for socialization’s activity between students and others is significant as well. Descriptive method as well as comparative studies method have been chosen as a methodology of the research. Keywords: pedestrian line, open space, campus area 
KAJIAN KETERHUBUNGAN DAN KATASTROPIK DALAM TEORI FOLDING ARCHITECTURE Wafirul Aqli; Sepli Yandri
NALARs Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.20.1.53-60

Abstract

ABSTRAK. Kajian ini merupakan langkah penelitian dalam memahami bagaimana teori folding architecture didefinisikan dan diterapkan ke dalam karya bangunan/arsitektural. Dalam beberapa telaah di aspek filosofis yang menjadi dasar teorinya, ditemukan bahwa teori dan konsep folding architecture bercabang pada penerapan praktisnya dalam membentuk massa dan tampilan bangunan, atau penerapan abstrak yang perwujudannya adalah mengatur ruang aktivitas secara menyatu atau terpisah tergantung pada perlakuan lipat-melipat bidang/elemen bangunan. Melalui telaah tersebut dapat dikerucutkan bahwa inti dari konsep folding architecture adalah prinsip keterhubungan melalui perlakuan-perlakuan seperti mentransfer aktivitas secara mulus, memiringkan bidang, menekuk bidang dan membuka bidang.Kata kunci: Fold, Folding Architecture, Keterhubungan, Katastropik,ABSTRACT. This study is a process in understanding how the folding architecture theory is defined and applied to architectural/building works. In several studies on the philosophical aspects on which the theory is based, it was found that the theory and concept of the folding architecture branched out from its practical application in shaping the mass and appearance of a building. Moreover, it also an abstract application where the embodiment is to organize the activity space unified or separately to depend on the plane building elements' folding treatment. This study can conclude that the core of the folding architecture concept is the principle of connection through treatments such as smooth transfer of activity, tilting the plane, bending the plane, and opening the plane.Keywords: Fold, Folding Architecture, Connectivity, Catastrophe 
ANATOMI BUBUNGAN TINGGI SEBAGAI RUMAH TRADISIONAL UTAMA DALAM KELOMPOK RUMAH BANJAR Wafirul Aqli
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Rumah Bubungan Tinggi merupakan Rumah adat suku Banjar, Kalimantan Selatan yang menempati strata paling tinggi dari kelompok Rumah Banjar yang berjumlah 11 jenis. Dengan fungsinya sebagai rumah raja atau sultan yang berkuasa dan merupakan jenis rumah Banjar tertua di antara rumah-rumah lainnya menjadikan jenis Bubungan Tinggi ini sebagai wajah dari arsitektur tradisional Kalimantan Selatan. Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi rumah Bubungan Tinggi menjadikan rumah tradisional ini sebagai ekspresi keberagaman latar belakang kepercayaan serta tanggapan terhadap potensi lokal dalam hal kekayaan hasil alam seperti kayu-kayuan. Dalam tulisan ini diuraikan secara anatomis bagaimana wujud rumah Bubungan Tinggi dan diharapkan dapat terurai lebih lanjut kajian-kajian yang lebih dalam menjelaskan konteks filosofi, fungsi dan lainnya yang berkaitan dengan metode desain arsitektural. Kata Kunci: Rumah Banjar, Bubungan Tinggi ABSTRACT. Bubungan Tinggi is one of 11 types in Banjar’s (South Kalimantan) Traditional Houses group, which occupies the highest strata within the group. With its function as the home of the ruling king or sultan, and the oldest type among other type of house, makes this Bubungan Tinggi as the main character/ typical image of traditional architecture in South Kalimantan. The values embodied in the philosophy of the house makes this traditional house as an expression of the diversity of beliefs background and responses to the local potential in terms of natural resources such as various woods. In this paper the Bubungan Tinggi house described anatomically and expected to be developed in further studies to explaining the context of philosophy, specific explanations about functions and other discussions related to architectural design methods. Key words: House of Banjar, Bubungan Tinggi
PERMEABILITAS KAWASAN JALAN MH. THAMRIN TERHADAP AKSES PEJALAN KAKI MENUJU STASIUN MRT BUNDARAN HI JAKARTA Wafirul Aqli; Lily Mauliani; Anisa Anisa
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.75-84

Abstract

ABSTRAK. Kawasan jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat merupakan kawasan perkantoran yang berdampingan dengan kawasan permukiman serta pusat perbelanjaan dengan skala sosial-ekonominya yang beragam. Keberadaan fasilitas MRT Jakarta dengan stasiun MRT Bundaran HI yang berdiri di kawasan tersebut menjadi faktor tarikan terhadap pergerakan pejalan kaki di sekitarnya, terutama yang berasal dari permukiman (bangkitan pergerakan). Dengan akses ruang jalan yang eksisting, blok perkantoran dan pusat perbelanjaan yang ada perlu dikaji kemampuan permeabilitasnya untuk mempermudah pejalan kaki untuk menuju faktor tarikan di kawasan tersebut. Latar belakang tersebut mendasari permasalahan yang diangkat, agar ditemukan solusi aksesibilitas dan kemampuan permeabilitas yang lebih baik sehingga keberadaan fasilitas MRT dapat lebih terjangkau dari kawasan sekitarnya. Dalam teori tentang aktivitas berjalan kaki, pengurangan waktu tempuh atau peningkatan mobilitas dapat diperoleh dari tingkat permeabilitas lingkungan yang baik terhadap pelaku pejalan kaki/pedemstrian-nya. Konektivitas dan aksesibilitas adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam menciptakan lingkungan yang permeabel. Penelitian ini bertujuan untuk; Mengidentifikasi kondisi aksesibilitas di kawasan Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat terkait keberadaan fasilitas MRT di area tersebut. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk menemukan potensi permeabilitas lingkungan untuk menyediakan akses fasilitas MRT melalui kawasan perkantoran yang ada. Obyek dalam penelitian ini adalah jaringan jalan di sekitar akses masuk stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, dengan menggunakan teknik simulasi sintaksis ruang (Space Syntax). Kata kunci: Akses MRT, Permeabilitas, Sintaksis Ruang ABSTRACT.  The Area of Jalan MH Thamrin in Central Jakarta is an office area adjacent to residential areas and shopping centers with diverse socio-economic scales. The existence of the Jakarta MRT facility with the Bundaran HI MRT station that stands in the area has become a pull factor towards the movement of pedestrians in the vicinity, especially those from settlements (trip generation). With access to existing road space, existing office blocks, and shopping centers, permeability capabilities are needed to facilitate pedestrians to get to the attraction factors in the region. This background underlies the issues raised so that accessibility solutions and better permeability capabilities can be found so that the presence of MRT facilities can be more affordable from the surrounding area. In theory about walking activities, reducing travel time or increasing mobility can be obtained from a good level of environmental permeability towards pedestrians. Connectivity and accessibility are influential factors in creating a permeable environment. This research aims to; Identify accessibility conditions in the area Jl. MH. Thamrin Central Jakarta related to the existence of MRT facilities in the area. Besides, this research also aims at discovering the potential of environmental permeability to provide access to MRT facilities through existing office areas. The object of this research is the road network around the entrance of the Bundaran HI Jakarta MRT station, using space syntax simulation techniques. Keywords: Access of MRT, permeability, space syntaxntax