Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Transformasi Perumahan pada Kawasan Rumah Susun Pekunden di Kota Semarang Ajeng Puspita Diovanni; Sunarti Sunarti
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi Rusun Pekunden saat ini terlihat kumuh. Perubahan yang terjadi pada unit hunian, sarana dan prasarananya dikhawatirkan dapat memberikan dampak negatif bagi penghuni dan kualitas lingkungan Rusun Pekunden. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk transformasi perumahan beserta faktor-faktor sosio-ekonomi yang mempengaruhi kecenderungan penghuni dalam melakukan perubahan perumahan di kawasan Rusun Pekunden. Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik sampling jenuh (sensus), dimana seluruh populasi yaitu 88 pemilik rumah menjadi responden. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data primer dengan kuesioner serta teknik analisis berupa statististik deskriptif dan crosstab. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk transformasi di kawasan Rusun Pekunden termasuk kedalam kategori minor transformation dengan rata-rata persentase perubahan tiap aspek sebesar 18,15%. Transformasi tersebut dipengaruhi oleh perubahan perilaku penghuni serta beberapa faktor sosio-ekonominya yaitu jumlah anggota keluarga, pendapatan, lama tinggal, status kepemilikan dan tipe hunian. Meskipun transformasinya masih tergolong kecil, namun sudah terdapat tanda-tanda kekumuhan di Kawasan Rusun Pekunden. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan secara lebih ketat dan berkala oleh lembaga yang sesuai dengan perannya agar dapat mencegah Rusun Pekunden menjadi kumuh kembali dan tetap layak huni.
OPTIMALISASI PENGELOLAAN RUSUNAWA DI KOTA SEMARANG Boy Pardamean Mahulae; S Sunarti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 9, No 2: Desember 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1418.325 KB) | DOI: 10.14710/jpk.9.2.245-258

Abstract

Rusunawa merupakah salah satu program untuk mengatasi permasalahan keterbatasan lahan dan ketidakmampuan MBR untuk menjangkau fasilitas hunian. Seiring dengan pembangunan rusunawa saat ini, terdapat beberapa permasalahan pasca pembangunan, salah satunya tentang pengelolaannya. Pengelolaan rusunawa di Kota Semarang secara umum sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan penyediaan rusunawa, yaitu memberikan hunian yang layak, sehat, dan terjangkau untuk MBR. Ketidaksesuaian tersebut antara lain kondisi bangunan mulai rusak, kualitas lingkungan menurun dan terdapat pelanggaran terhadap sistem sewa maupun pemanfaatan bangunan. Salah satu faktor terjadinya permasalahan ketidaksesuaian tersebut yaitu belum optimalnya pengelola dalam menjalankan peran dan fungsinya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis optimalisasi pengelolaan rusunawa di Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan analisis skoring pembobotan. Responden pada penelitian ini berjumlah 28 yang merupakan ketua paguyuban pengelola rusunawa di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan rusunawa di Kota Semarang masih belum optimal berdasarkan peran dan fungsi masing-masing pengelola. Skor optimalisasi yang diperoleh yaitu Paguyuban (7,7), Disperkim (7,4), dan UPTD (6,4). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengelolaan terhadap penghuni dan hunian rusunawa seperti (1) pemeliharaan dan perbaikan fasilitas, monitoring dan evaluasi target capaian pengelolaan, serta pembinaan dan pengawasan terkait kebersihan lingkungan oleh Disperkim; (2) Melakukan pembinaan terhadap penghuni dan hunian, menjalankan prosedur pengelolaan dan monitoring untuk mengurangi pelanggaran tata tertib oleh UPTD; (3) Melakukan pengorganisasian paguyuban dalam pengoperasionalan rusunawa agar memudahkan koordinasi antarpihak dalam mengatasi permasalahan dan meningkatkan kualitas rusunawa.
PENGARUH PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH UNTUK MENCAPAI LIVABLE SETTLEMENT DI KELURAHAN TAMBAKREJO KOTA SEMARANG Leylita Hariaty Gultom; Sunarti Sunarti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 5, No 2: Desember 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.576 KB) | DOI: 10.14710/jpk.5.2.140-148

Abstract

Limited ability of society both economically and managing space cause slum condition in Tambakrejo Urban Village. In the year 2015-2017 then done slum arrangement, but not yet reached livable settlement as environment condition which still not support based on condition and perception of society. Many found garbage that pollute the community environment. The purpose of this research is to know the effect of settlement arrangement to reach livable settlement in Tambakrejo Urban Village Semarang. The research method used in the form of quantitative approach, with descriptive analysis tool, likert scale and simple linear regression. Based on the research, founds that slum regulation in Tambakrejo Village has not reached livable, from 3 components that must be realized it only affect 2 aspects that is physical and social, while the economic aspect is still not influenced by the arrangement. Furthermore, people's assessment of 17 criteria of human settlement as convenience parameters, obtained 6 criteria influenced, among others, ease of access, satisfaction of infrastructure, infrastructure support activities, small home improvement costs, the role of socializing institutions, and guaranteed cooperation of government, private, and community. 
PROSES PEMBERDAYAAN DENGAN MODEL EPE (ENGAGEMENT–PARTICIPATION–EMPOWERMENT) DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DESA DI KABUPATEN TEGAL Noor Sofiah; Sunarti Sunarti
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 1: Juli 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.882 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.1.45-55

Abstract

PPIP merupakan salah satu program pembangunan infrastruktur berbasis pemberdayaan masyarakat. Meskipun dalam setiap program berbasis pemberdayaan sudah ada pedoman pelaksanaannya, namun pada pelaksanaan kegiatan PPIP di Kabupaten Tegal, terdapat perbedaan proses pemberdayaan antardesa satu dengan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pemberdayaan dikaitkan dengan proses pemberdayaan model EPE (Engagement–Participation–Empowerment) pada PPIP di Kabupaten Tegal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi multi kasus. Peneliti mengambil dua kasus pada dua lokasi berdasarkan topografi wilayahnya yaitu lokasi di daerah perdesaan di pegunungan (Desa Dukuhbenda) dan daerah perkotaan di daerah dataran rendah (Desa Slawi Kulon). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis dengan model EPE diketahui pada Desa Dukuhbenda (perdesaan) proses pemberdayaan berproses secara linier sesuai tahapannya. Sedangkan pada Desa Slawi Kulon (perkotaan) proses pemberdayaan berproses tidak sesuai dengan tahapannya, fase pemberdayaan terputus pada fase partisipasi.
Bobot Proventrikulus, Gizzard, Sekum, Rektum serta Panjang Sekum dan Rektum Ayam Broiler Akibat Penambahan Sinbiotik dari Inulin Ekstrak Umbi Gembili dan Lactobacillus plantarum dalam Pakan Wike Winarti; Mahfudz Mahfudz; Sunarti Sunarti; Setyaningrum Setyaningrum
Surya Agritama: Jurnal Ilmu Pertanian dan Peternakan Vol. 8 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji penambahan sinbiotik dari inulin ekstrak umbi gembili dengan bakteri Lactobacillus plantarum terhadap bobot proventrikulus, gizzard, sekum, rektum serta panjang sekum dan rektum ayam broiler. Materi yang digunakan yaitu 144 ekor day old chicks (DOC) dengan bobot awal 45,68 ± 1,52 g. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan dan menggunakan 6 ekor DOC setiap unit percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu penambahan sinbiotik sebagai berikut: T0 : ransum basal; T1 : ransum basal + sinbiotik 1 ml/100 g ransum; T2 : ransum basal + sinbiotik 2 ml/100 g ransum; T3 : ransum basal + sinbiotik 3 ml/100 g ransum. Parameter yang diamati adalah bobot proventrikulus, gizzard, sekum, rektum serta panjang sekum dan rektum. Data hasil penelitian di analisis ragam dengan uji F, kemudian di lanjutkan dengan uji Duncan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan sinbiotik berpengaruh nyata (P<0,05) meningkatkan bobot proventrikulus, gizzard, sekum, rektum serta panjang sekum dan rektum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan sinbiotik 2 - 3 ml/100 g ransum meningkatkan perkembangan dan kesehatan organ proventrikulus, gizzard, sekum, rektum serta panjang sekum dan rektum.
Relationship of social characteristics and local economic development (LED) activity for slum upgrading in Batik Thematic Village Semarang City Astrini Dewi Ulamdhani; Sunarti Sunarti
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i2.41254

Abstract

The process of LED activities that starts from access to raw material, production, and product marketing will have an impact on the quality of settlements. The aspects of slum handling  affected by LED activities include: 1) street, 2) waste, and 3) garbage. The LED activities in this research are focused on 1) the business length and 2) income. The two variables of LED activity and slum handling will be assessed for correlation with social characteristics including: 1) gender, 2) education, 3) length of stay, and 4) family income. Research location is in Batik Thematic Village, Semarang City. The problems at the location in the form of environmental impacts due to the LED activities have not been supported by the involvement of LED actors. The non-optimal participation of LED actors can be seen from the lack of communal WWTP and waste banks. The purpose of this study is to examine the relationship of social characteristics and LED activities for slum upgrading. The study employed a quantitative approach, through a questionnaire technique with a population of 33 respondents. The data was processed through descriptive analysis. The results of the study illustrate that the longer the perpetrators stay,the longer the businesses start and the income get.  Meanwhile, based on gender and education level, there are no relations that affect LED activities. The social characteristics and slum upgrading has strong correlation with the aspects of the street. The aspect of waste has very weak correlation, while the garbage aspect has no relation. Street aspect has high correlation because business actors get benefit from LED product access. The waste aspect has weak correlation because there are few entrepreneurs do the process independently, while the garbage aspect does not exist due to the similarity of handling and retribution.
PENGELOLAAN SAMPAH DALAM PERUMAHAN MBR TERPADU MENGGUNAKAN TPS 3R DI DESA BRANJANG, KECAMATAN UNGARAN BARAT Asnawi Manaf; Hadi Wahyono; Sunarti Sunarti; Mardwi Rahdriawan; Hasbi Kurniawan
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah menjadi suatu permasalahan yang serius di Kabupaten Semarang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pertambahan jumlah penduduk di suatu wilayah yang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah sampah yang dihasilkan; perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan yang seakan-akan sudah menjadi budaya; serta kurangnya kapasitas masyarakat dan stakeholder terkait dalam melakukan pengelolaan sampah yang baik dan benar. Desa Branjang menjadi salah satu desa di Kabupaten Semarang yang masih belum optimal dalam upaya pengelolaan sampah. Elemen prasarana persampahannya pun masih minim. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kemudian dilakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Branjang untuk membantu mengarahkan serta memberikan wawasan bahwasannya sampah bukanlah semata-mata barang yang sudah tidak berguna, akan tetapi sampah juga bisa memiliki nilai ekonomis apabila dilakukan pengelolaan terlebih dahulu. Dari hasil kegiatan diperoleh sebuah rencana pengelolaan persampahan yang terpadu, dengan teknis pewadahan menggunakan tong sampah berkapasitas 60 L, teknis pengangkutan menggunakan motor dengan bak terbuka berkapasitas 2 m3, penyediaan TPS 3R sebagai sarana pengumpulan sampah, serta bank sampah yang akan mengelola sampah anorganik agar menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Adapun tarif retribusi yang dikenakan untuk setiap rumah sebanyak Rp 10.824, sedangkan untuk setiap kantor Rp 12.530. Melalui upaya pengelolaan sampah terpadu menggunakan TPS 3R di Desa Branjang diharapkan dapat membantu mengurangi penumpukan sampah yang terjadi di TPA, selain itu juga dapat memberikan dampak positif seperti membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Branjang.
Kajian Strategi Penanganan Kawasan Kumuh di Kabupaten Bangka Tengah: Slum Upgrading Strategies in Central Bangka Regency S Sunarti; Landung Esariti; Mardwi Rahdriawan; Dyah Putri Makhmudi
Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan) Vol. 5 No. 2 (2021): Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangu
Publisher : P4W LPPM IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jp2wd.2021.5.2.110-122

Abstract

Slum area remains as the main problem faced in urban settlement areas, especially in developing countries. Slum area in Central Bangka Regency reaches a total area of 55.92 hectares, covering 9.1% of Central Bangka Regency area. The local government formulized a strategy named Construction and Development Plan of Housing and Settlement Areas (Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman/RP3KP). The objective of this strategy is to analyze whether the strategy for slum upgrading in Central Bangka Regency has been formulated effectively. This is significant since a study of the strategy needs to be conducted before the strategy is legalized and becomes the basic framework for implementation. Quantitative technique is depicted throughout this article by comparing strategies resulted from the RP3KP document with literature driven indicators and with Law Number 1 Year 2011 on Housing and Settlements. Result shows that the plan has been formulated effectively according to three assessment aspects, namely political aspects, administrative aspects, and their suitability to Law Number 1 Year 2011. Despite, for more effective implementation, is it suggested to operationalize the strategy by formulating mechanisms and instruments for effective governance. More detailed implementation strategies shall be regulated, to not only concentrate on physical aspects, but also on non-physical aspects, such as social, economic, and demographical aspects.
Analysis of Climate Change Adaptation Program Implementation on Urban Riverside Low Income Communities, Indonesia Andie Arif Wicaksono; Atik Suprapti; Sunarti Sunarti
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 4, No 2 (2022): Vol 4 No 2, 2022
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v4i2.13298

Abstract

Climate change in urban areas has more aggravated focus as more and more humans are living near city centers. Climate change in the form of heavy rains with medium and high intensity makes floods often occur on the banks of urbanized rivers. This article aims to show the characteristics of slum riverside settlements within Yogyakarta city and the optimal quality improvement program for settlements in that place. Kampung Suranatan, Gemblakan Bawah, and Mrican-Giwangan located on the banks of the Winongo, Code, and Gajahwong rivers in the city of Yogyakarta are inhabited by low-income communities. This purposive sampling research was conducted using the snowballing method on eight informants to map the conditions, climate change adaptation program implementation as well as determine the most optimal program. The results showed that although they were often hit by floods, these three kampungs were able to survive because the communities in them were proactive in various environmental conservation movements, especially riverbanks. This proactiveness is the most important provision to become a climate-resilient kampungs.
AKSESIBILITAS FASILITAS UMUM YANG LAYAK DI RUSUNAWA KUDU KOTA SEMARANG Tiasara Kisnawati Putri; S Sunarti
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 11 No 1 (2021): Juni
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v11i1.1663

Abstract

Pembangunan Rusunawa Kudu Semarang oleh pemerintah tidak lepas dari permasalahan, salah satunya dalam penyediaan fasilitas umum yang layak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya optimalisasi penyediaan fasilitas umum Rusunawa Kudu yang layak yang berfokus pada aksesibilitas, yaitu meliputi kedekatan dengan fasilitas umum dan sarana serta prasarana pendukung aksesibilitas, serta aspek sosial ekonomi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan analisis SERVQUAL (Service Quality). Data yang digunakan diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada 90 penghuni Rusunawa Kudu sebagai responden, serta didukung dengan data hasil dari wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga kategori prioritas untuk mengoptimalkan akses terhadap fasilitas umum yang layak, yaitu kategori keep up the good work, low priority, dan possibly overkill. Kategori keep up the good work merupakan kategori prioritas yang meliputi aspek keterjangkauan biaya transportasi, jarak menuju halte/angkutan umum, dan kebutuhan sarana pasar baru. Kategori low priority meliputi aspek jarak menuju fasilitas pendidikan SD hingga SMA dan pilihan moda transportasi. Kategori possibly overkill meliputi aspek keterjangkauan pengeluaran bulanan. Upaya optimalisasi yang dapat dilakukan diantaranya yaitu peningkatan pelayanan fasilitas angkutan umum dan penyediaan fasilitas perdagangan berupa toko/warung, peningkatan aksesibilitas menuju fasilitas umum, serta kebijakan subsidi sewa untuk menekan biaya pengeluaran bulanan.