Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH AKTIVITAS PARIWISATA PANTAI TAPLAU KOTA PADANG TERHADAP EKONOMI, SOSIAL MASYARAKAT, DAN LINGKUNGAN Yudha Rahman; Mohammad Muktialie
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.903 KB)

Abstract

Aktivitas pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang berperan dalam proses pengembangan wilayah dan memberikan kontibusi bagi pendapatan daerah. Pariwisata berkembang menjadi sektor yang menjanjikan dan memberikan efek nilai manfaat kepada banyak pihak dari pemerintah, masyarakat, ataupun swasta. Kota Padang adalah salah satu Kota Pantai di Indonesia yang memiliki aktivitas wisata dan rekreasi di pantai. Pantai Taplau di pusat Kota Padang adalah salah pantai bagian barat Sumatera yang memiliki garis pantai yang panjang. Pantai Taplau menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke Kota Padang. Dalam perkembangannya aktivitas dan rekreasi di Pantai Taplau Padang mempunyai konsekuensi logis berupa dampak terhadap Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial  masyarakat Kota Padang. Permasalahan yang terjadi berupa penurunan kualitas lingkungan Pantai Kota Padang akibat posisi garis Pantai yang rawan gempa dan tsunami dan kurangnya perawatan pantai sehingga kotor, serta pola perubahan sosial masyarakat yang berkunjung ke Pantai Kota Padang yang banyak melakukan kegiatan maksiat di tenda rendah di sepanjang jalan Pantai Taplau Kota Padang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh dampak Aktivitas Pariwisata Pantai Taplau Kota Padang terhadap Ekonomi, Sosial Masyarakat, dan Lingkungan di Sepanjang Koridor Jalan Pantai Barat Kota Padang. Dari hasil penelitian diperoleh pengaruh terhadap ekonomi berupa pendapatan dan kesempatan berusaha pada skala sedang, pengaruh sosial masyrakata, serta kerusakkan lingkungan. Hasil dari penelitian ini merupakan wawasan dan arahan kepada Masyarakat, Pemerintah dan dan swasta. Dari pengaruhaktivitas wisata Kota Padang akan menunjang Karakteristik masyarakat dan Kota Padang sebagai salah satu Kota Pantai terbesar di Indonesia dengan aktivitas wisata sebagai salah satu icon dan sektor unggulan yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
PENGARUH KEBERADAAN DESA WISATA KARANGBANJAR TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN, EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT Istiqomah Tya Dewi Pamungkas; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.061 KB)

Abstract

Pariwisata menjadi salah satu sektor yang dijadikan andalan beberapa negara dalam meningkatkan perekonomian. Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya, memanfaatkan dan mengembangkan sektor pariwisata sebagai cara dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Strategi dalam mengembangkan perekonomian khususnya pada wilayah pedesaan yaitu dalam bentuk desa wisata. Sebagai salah satu sektor pembangunan yang menempati ruang, secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perubahan kondisi ekonomi, sosial dan fisik geografis. Desa wisata Karangbanjar merupakan desa wisata pertama di Kabupaten Purbalingga yang sudah ada sejak tahun 1992. Berkembangnya desa wisata ini selama 23 tahun sudah tentu memberikan pengaruh terhadap kondisi fisik dan non fisik di Desa Karangbanjar. berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji pengaruh keberadaan Desa Wisata Karangbanjar terhadap perubahan penggunaan lahan, ekonomi dan sosial masyarakat.metode yang digunakan yaitu metode penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif dan interpretasi citra. Hasil penelitian ini menunjukkan keberadaan Desa Wisata Karangbanjar mempengaruhi perubahan penggunaan lahan, pada lahan non terbangun menjadi terbangun yaitu penggunaan lahan tegalan dan hutan menjadi permukiman. Sedangkan untuk perubahan fungsi lahan terjadi pada penggunaan lahan tegalan, hutan dan sawah. Keberadaan desa wisata juga berpengaruh pada ekonomi terutama pada perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Perluasan kesempatan kerja dilihat dari penciptaan kesempatan kerja dan pergeseran pekerjaan pokok maupun sampingan. Penciptaan kesempatan kerja pokok terjadi pada kelompok responden pengrajin rambut sedangkan untuk pekerjaan sampingan terjadi pada kelompok responden pemilik warung, pengrajin rambut dan pemilik homestay. Sedangkan untuk peningkatan pendapatan juga terjadi pada pendapatan pokok dan sampingan. Berkembangnya desa wisata dengan banyaknya wisatawan yang datang juga berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat yang tercermin dalam pola sikap perilaku dan keterampilan masyarakat. Pengaruh desa wisata terhadap sikap dan perilaku tidak begitu terlihat karena wisatawan yang datang masih dalam lingkup lokal. Sedangkan untuk persebaran keterampilan masyarakat meningkat yang didapat dari pelatihan-pelatihan untuk pengelola desa wisata. Keterampilan pengrajin rambut juga meningkat yang ditandai dengan adanya diversifikasi produk kerajinan rambut. 
DAMPAK KEBERADAAN OBYEK WISATA PANTAI TIRTA SAMUDRA KABUPATEN JEPARA TERHADAP ASPEK PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN, DAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT Daniel Chrisman; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.319 KB)

Abstract

Salah satu obyek wisata yang kini semakin berkembang karena daya tarik pantainya adalah Obyek Wisata Pantai Tirta Samudra Kabupaten Jepara. Obyek wisata ini saat ini sedang berkembang dikarenakan memiliki beberapa potensi yaitu pasir pantainya yang putih dengan topografi pantai yang terbilang landai, kondisi perairan dengan ombak yang tidak terlalu besar sehingga cocok dimanfaatkan untuk rekreasi laut seperti berenang dan aneka olahraga air (water sport). Kaitannya terhadap sisi penawaran obyek wisata Pantai Tirta Samudra ini memang saat ini ketersediaan sarana-prasarana sudah memadahi, dengan tersedianya kebutuhan dasar bagi para wisatawan. Periwisata pada umumnya menawarkan daya tarik yang dapat dikemas dalam sebuah bentuk hiburan atau permainan. Karena dari sisi permintaan sendiri jumlah wisatawan yang datang ke obyek wisata Pantai Tirta Samudra ini mengalami peningkatan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, dimana harga tiket yang relatif terjangkau menjadi penyebabnya. Besarnya jumlah wisatawan yang datang memberikan pengaruh terhadap perubahan pemanfaatan lahan daerah sekitar obyek wista. Masih banyaknya lahan kosong disekitar obyek wisata dimanfaatkan beberapa pihak untuk mendirikan hotel/penginapan dan sektor perdagangan lainnya. Penambahan sarana yang ada beberapa diantaranya adalah pembangunan dermaga kapal perahu wisata, pembangunan hotel-hotel yang berada di sekitar, pembanguna area parkir kendaraan, dan penambahan warung-warung yang berada di sekitar pantai. Dalam kurun waktu 13 tahun telah dibangun total 6 hotel dan 2 homestay di area sekitar tempat wisata yang sebelum dibangun fungsi lahannya adalah berupa lahan kosong. Beberapa kesenian masyarakat Desa Bandengan yang masih bertahan sampat saat ini adalah pesta lomban, wayang klitik dan kesenian rebana. Dampak yang diberikan dari perkembangan obyek wisata ini terhadap kesenian ini cukup kecil. Kecilnya pengaruh yang diberikan memang karena masyarakat merasakan tidak terlalu banyak dampak yang dirasakan kepada kebudayaan. Dampak yang diberikan adalah positif yang dimana hanya sebagai media promosi apabila tradisi dan kesenian-kesenian yang ada dipentaskan pada acara-acara tertentu, dan adapun kegiatan pentas itu juga tidak rutin dilakukan. Tetapi sudah pernah dipentaskan di obyek wisata Pantai Tirta Samudra pada acara-acara khusus. Saat ini kesadaran masyarakat akan pariwisata sudah meningkat bila dibandingkan pada sebelum obyek wisata ini berkembang. Banyak masyarakat Desa Bandengan yang berinisiatif dalam terut serta menjaga atau ikut terlibat dalam memajukan obyek wisata ini. Inisiatif masayrakat yang terlihat antara lain seperti ikut terlibat dalam tradisi lomban, membentuk kelompok-kelompok usaha, menjaga ketertiban di lingkungan obyek wisata dan juga mulai menggerakan kembali peran Pokdarwis yang sebelumnya telah vakum.. Keberadaan suatu obyek wisata jelas akan membuka peluang usaha baru yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang dalam meningkatkan pemasukannya. Dari segi pendapatan tingkat pendapatan masyarakat yang bekerja di obyek wisata Pantai Tirta Samudra ini relatif tidak terlalu tinggi. Namun dalam perbandingannya ketika sebelum mereka bekerja ditempat ini dengan sesudah mereka bekerja ditempat ini ada kenaikan dari segi pendapatan. Kenaikan yang terjadi secara rata-rata tidak terlalu signifikan, namun pada acara pesta lomban kenaikan yang dirasakan sangat signifikan, hal ini dikarenakan ramainya orang yang datang pada acara tersebut.
PENGARUH KEBERADAAN INDUSTRI GULA BLORA TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN, SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN DI DESA TINAPAN DAN DESA KEDUNGWUNGU Yuliana Nur Fatikawati; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.93 KB)

Abstract

Industri merupakan salah satu strategi dalam pengembangan wilayah yang mampu meningkatkan perekonomian suatu wilayah. Pembangunan industri akan berpengaruh pada semua aspek dalam pengembangan wilayah, seperti fisik, sosial ekonomi, dan lingkungan, seperti halnya dengan industri gula Blora PT.GMM. Keberadaan industri gula blora akan meningkatkan perekonomian wilayah, karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain industri gula dapat menyebabkan gangguan terhadap lingkungan seperti bau yang tidak sedap dan kebisingan. Selain itu, keberadaan industri gula akan mengubah penggunaan lahan yang ada, sehingga jika tidak direncanakan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan permukiman akan semakin padat dan terjadi perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsinya. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji apa pengaruh keberadaan industri gula Blora terhadap terhadap perubahan penggunaaan lahan, sosial ekonomi masyarakat, dan lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif dan analisis interpretasi citra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan industri gula blora berpengaruh pada perubahan penggunaan lahan di wilayah sekitar yaitu di Desa Tinapan dan Kedungwungu. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi adalah perubahan lahan non terbangun menjadi lahan terbangun yaitu dari lahan pekarangan/kampung menjadi industri, warung makan, dan kos. Selain itu, perubahan penggunaan lahan yang terjadi adalah perubahan fungsi lahan dari lahan permukiman menjadi kos. Keberadaan industri gula blora berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terlihat dari perluasan kesempatan kerja pada tahap kontruksi/pembangunan hingga tahap operasional. Perluasan kesempatan kerja yang terjadi adalah adanya penciptaan kesempatan kerja serta terjadinya pergeseran pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan pada kelompok responden buruh bangunan, karyawan industri, pemilik kos, pemilik warung makan, dan petani tebu. Adanya perluasan kesempatan kerja akan berpengaruh pada perubahan tingkat pendapatan yang diterima oleh masyarakat. Perubahan tingkat pendapatan tersebut berpengaruh pada keinginan masyarakat untuk terus memperbaiki kondisi rumah menjadi lebih baik. Keberadaan industri gula blora berpengaruh negatif dan positif pada lingkungan. Pengaruh negatif industri gula adalah terjadinya pencemaran udara (bau dan bising). Bau yang ditimbulkan oleh industri menganggu kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan mual, pusing dan batuk. Kebisingan menganggu aktivitas masyarakat seperti tidur, ibadah, dan bersantai. Pengaruh positif dari industri gula blora adalah limbah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar baik limbah padat maupun limbah cair. Limbah industri dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber irigasi pada musim kemarau, tetes untuk penggemuk sapi, serta ampas untuk pupuk organik.  
Community Based Tourism (CBT) Desa Wisata Pulesari Kabupaten Sleman Utiya Chusna Sitapratiwi; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.417 KB)

Abstract

Pulesari Tourism Village was inaugurated in 2012 and is an example of a tourism village that rose up after the eruption of Mount Merapi in 2010. Pulesari Tourism Village is one of the tourism villages that already apply the CBT approach in developing tourism. The development initiation of Pulesari Tourism Village was born from the local community so from the beginning of the process until the management was carried out by the local community. Now Pulesari Tourism Village is able to develop and is widely known and able to provide benefits for local community. Development of current tourism trends tends to lead on the application of Community Based Tourism (CBT), so it is interesting to examine one of the best tourism village practices that have implemented the CBT concept, namely Pulesari Tourism Village. The purpose of this study was to examine the Community-Based Tourism (CBT) of Pulesari Tourism Village and its aspects of influence. The research method used in this research is descriptive qualitative while the determination of the informant is done by non-probability sampling purposive sampling technique. As a result the development of Pulesari Tourism Village has been successful as a community empowerment and welfare improvement program because it has implemented and fulfilled the principles of CBT development in economic, social, cultural, environmental and political dimensions.
Evaluasi Kebijakan Bus Trans Semarang pada Koridor I – Koridor VII Nisriena Rachmi Putri; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In 2009, Semarang added a public transportation mode, the Trans Semarang Bus, which is a manifestation of the implementation of public transportation policies in Semarang. The research object to be discussed in this study is the policy of the Trans Semarang Bus which focuses on corridors I - corridor VII. The main problem of the research is that the Trans Semarang Bus policy has not been optimized. In fact, the number of passengers only fulfilled 76.99% of the target in Corridor I - Corridor VII. The purpose of evaluation of the Trans Semarang Bus policy is to look for the best and worst indicators, criteria and corridors of the Trans Semarang Bus policy implementation. The method is quantitative with AHP and scoring analysis techniques using 4 indicators namely Input, Process, Output and Outcome, also 6 criteria namely Effectiveness, Efficiency, Adequacy, Equity, Responsiveness and Accuracy which will be ranked by 4 experts. The result, Input indicator is ranked first, and the last is Output. The criteria that have the highest accumulative score is Justice, while the lowest is Sufficiency. The corridor which has the highest accumulative score of all indicators is Corridor I, while the lowest is Corridor VII.
Kajian Kinerja Kebijakan Program Agropolitan di Kecamatan Sumowono dan Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Florence Kristianti Siahaan; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumowono and Bandungan sub-districts are parts of Semarang Regency which are designated as one of the rural developments through the agropolitan concept. The agropolitan program was established in 2003 with the aim of improving the welfare and standard of living of the community. In practice, conditions for agropolitan programs in the region are not developing optimally or are stagnant. This was conveyed according to the Central Java Province Regional Planning and Development Agency. Then, based on the report from Bappeda of Central Java Province, it shows that the agropolitan development of Semarang Regency is lagging behind that of Pemalang, Temanggung, Magelang, Brebes, Purworejo, and Karanganyar Regencies. This is because agropolitan activities only focus on land production activities (on farm). Seeing the stagnant agropolitan development, a review of the performance of agropolitan program policies was conducted in Sumowono and Bandungan districts. This study aims to examine the performance of policies in the agropolitan system in Sumowono and Bandungan districts. The results of the analysis above, it can be seen that the performance of the agropolitan program in Sumowono and Bandungan districts is in the quite successful category. This can be seen from the downstream agribusiness subsystem in the two districts which is included in the low category. The downstream agribusiness subsystem score in Sumowono District was 45.09 and Bandungan District was 49.03. This is because the knowledge and skills of farmer groups in utilizing technology for promotion and preservation are still low and marketing reach is still at the provincial level. Thus, the competitiveness of agricultural production in Sumowono and Bandungan Districts is still low.
Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata di Kelurahan Sarangan Kabupaten Magetan Irham Abidurrahman; Mohammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.855 KB)

Abstract

The problems local government has been facing in the development of Sarangan Tourism Village was backed by the existence of many weakness, misunderstanding, and conflicts as it seen through the low citizen participation. This includes a minimum sense of responsibility towards the development of existing tourism sites for instance. All because the respective local community already get used with the system of development given from the higher lawmakers (top down process) so that people perceive such tendency to become passive and moreover only wait for initiatives from external stakeholders.The main purpose of this study is to examine forms and level of community participation and to determine all possible factors which has been influencing community participation activity in Sarangan Tourism Village development program. This research uses quantitative descriptive analysis by deploying questionnaire as information digging tool supported by qualitative data in which will be extracted from interview process.Based on the result of the research, it is found that community participation in the research area is related to the participatory forms of social funding, collective physical activity, self-property donation, and softskill training session, in which majority of people dominantly participate in the social funding forms, followed by self-property donation, collective physical activity, and softskill training session as it’s counted in order. Overall the level of community participation in Sarangan Tourism Village is at the second level of Sherry Arnstein’s eight participation degrees, specifically mentioned as therapy level which also belongs to non-participation category. In addition, there is a strong correlations between internal factors of income levels, external factors of community leaders, local governments, and village officials on the level of community participation in all development stages that includes the stage of planning, implementation, and evaluation.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM NEIGHBORHOOD UPGRADING AND SHELTER PROJECT PHASE-2 (NUSP-2) DI KELURAHAN KUNINGAN, KOTA SEMARANG Cyndiana Pawestri; Mohammad Muktiali
Jurnal Pengembangan Kota Vol 7, No 1: Juli 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.28 KB) | DOI: 10.14710/jpk.7.1.15-25

Abstract

Program Neighborhood Upgrading and Shelter Project Phase-2 (NUSP-2) merupakan salah satu program penanganan kawasan permukiman kumuh diperkotaan dengan tujuan untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang lebih layak huni dan berkelanjutan. Program ini dilaksanakan melalui kemitraan pemerintah, masyarakat dan swasta. Tujuan penelitian adalah menganalisis partisipasi masyarakat dalam penanganan permukiman kumuh pada program NUSP-2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data kuesioner, wawancara, observasi dan studi pustaka. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis skoring, deskriptif kuantitatif dan tabulasi silang. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Bentuk partisipasi yang paling dominan adalah buah pikiran berupa sumbangan ide, saran serta kritik dan sumbangan barang berupa konsumsi. Tingkat partisipasi masyarakat secara keseluruhan berada pada tingkat informasi. Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat yaitu faktor internal, eksternal dan psikologis individu. Berdasarkan analsis tabulasi silang ditemukan bahwa faktor internal, eksternal dan psikologis individu yang mempengaruhi bentuk dan tingkat partisipasi.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN PRASARANA LINGKUNGAN PADA PROGRAM PLPBK DI KELURAHAN TAMBAKREJO, KOTA SEMARANG Dyah Putri Makhmudi; Mohammad Muktiali
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 2: Desember 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.839 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.2.108-117

Abstract

Participation is the participation of a person in a social group to take part of existing community activities, outside of their work. Community participation is needed in a development program because the success of the program is related to community participation in running the program. Tambakrejo village became one of the villages that run the PLPBK program in Semarang City because of a good achievement from BKM. The purpose of this study was to determine community participation in the development of environmental infrastructure in the PLPBK program in Tambakrejo Village. The quantitative approach was used in this study by distributing 87 questionnaires and conducting interviews, observation and document review. Forms of participation given by society such as money, goods, energy and thoughts. The level of community participation is at the level of notification, meaning that in the development of environmental infrastructure in the PLPBK program there is a provision of information to the public. The sustainability of the PLPBK program in Tambakrejo Village is closely related to the level of community participation and the role of the parties involved in implementing the PLPBK Program.