Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PEMBERDAYAAN PSIKOLOGIS TERHADAP PERILAKU KERJA ADAPTIF (STUDI PADA DOKTER DI 5 RUMAH SAKIT NIRLABA JAKARTA DAN YOGYAKARTA). Maharsi Anindyajati; Diana Harding; Rismiyanti Koesma; Yus Nugraha
Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.345 KB)

Abstract

Di era yang penuh perubahan ini, organisasi rumah sakit tidak luput dari tuntutan untuk melakukan perubahan agar dapat bertahan dan meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Kondisi ini tidak hanya menuntut manajemen rumah sakit untuk berubah, namun juga para dokter sebagai ujung tombak pelayanan. Kemampuan dokter untuk menyesuaikan diri dengan perubahan adalah hal yang mutlak dilakukan. Kesediaan para dokter untuk menampilkan perilaku kerja adaptif diduga dipengaruhi oleh pemberdayaan psikologis yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberdayaan psikologis terhadap perilaku kerja adaptif dokter. Penelitian dilakukan terhadap 89 dokter yang berstatus sebagai pegawai tetap pada 5 rumah sakit nirlaba di Jakarta dan Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan psikologis yang dialami oleh para dokter berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kerja adaptifnya.Kata Kunci: pemberdayaan psikologis, perilaku kerja adaptif, dokter, rumah sakit nirlaba.
Work Engagement and Organizational Commitment as Predictors of Organizational Citizenship Behavior: Penelitian Marhisar Simatupang; Maharsi Anindyajati; Yulisa Susanti; Winanti Siwi Respati; Siti Masitoh; Raden Yudhi Satria R. A
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7537

Abstract

Organizational Citizenship Behavior (OCB) is recognized as an important factor that enhances organizational effectiveness by encouraging employees to perform discretionary behaviors beyond their formal job responsibilities. Previous studies have demonstrated that work engagement and organizational commitment contribute to employees' willingness to exhibit OCB; however, empirical evidence remains limited in post-pandemic organizational settings. This study aimed to examine the influence of work engagement and organizational commitment on Organizational Citizenship Behavior among employees. A quantitative causal-comparative research design was employed involving 92 permanent employees selected through simple random sampling from a population of 125 employees. Data were collected using standardized psychological scales measuring Organizational Citizenship Behavior, Work Engagement, and Organizational Commitment. The collected data were analyzed using multiple linear regression after satisfying the assumptions of normality and linearity. The findings revealed that work engagement had a significant positive effect on Organizational Citizenship Behavior. Organizational commitment also significantly predicted Organizational Citizenship Behavior. Furthermore, the simultaneous analysis demonstrated that work engagement and organizational commitment jointly contributed significantly to Organizational Citizenship Behavior. These findings suggest that employees who demonstrate higher levels of work engagement and stronger organizational commitment are more likely to perform voluntary behaviors that support organizational effectiveness beyond their formal job requirements. The study highlights the importance of fostering employees' psychological attachment to both their work and organization through supportive human resource practices to encourage positive extra-role behaviors and improve organizational performance.
Body Image Description in Generation Z Fitness Enthusiasts Muhammad Naufal Hamdani; Maharsi Anindyajati
Outline Journal of Education Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Outline Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61730/x9zy0028

Abstract

Generation Z demonstrates a high level of interest in healthy lifestyles and fitness, including efforts to shape their appearance and achieve an ideal body standard. The desire to have a body that conforms to these standards may contribute to the development of a positive body image. However, it may also lead to dissatisfaction and concerns about appearance when individuals perceive their bodies as not meeting their expectations. This study aimed to describe the body image of Generation Z who are Fitness Enthusiasts. The study employed a quantitative descriptive approach, involving a population of Generation Z Fitness Enthusiasts and a sample of 117 respondents selected using convenience sampling. The body image instrument was developed based on the five aspects of Cash's (2002) theory and demonstrated Corrected Item-Total Correlation values ranging from 0.304 to 0.629, with a reliability coefficient of α = 0.825. The results showed that 62 respondents (53.0%) had a relatively positive body image, while 55 respondents (47.0%) had a relatively negative body image. These findings indicate that respondents with a relatively positive body image were slightly more numerous than those with a relatively negative body image. The findings further suggest that active involvement in fitness does not necessarily result in a positive body image, and that body image among fitness-active young adults remains a multidimensional and heterogeneous experience
Peran Kesepian terhadap Problematic Internet Use pada Generasi Z Pengguna AI Chatbot Kaneishya Aura Nathania Ramadhanty; Maharsi Anindyajati
Jurnal Psikologi dan Konseling Vol. 1 No. 4 (2026): Edisi: Juli-September
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah memperluas fungsi AI chatbot dari sekadar alat bantu informasi menjadi media interaksi personal dan dukungan emosional. Karakteristiknya yang responsif, adaptif, personal, dan tersedia kapan saja memungkinkan pengguna memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran kesepian terhadap Problematic Internet Use (PIU) pada Generasi Z pengguna AI chatbot. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain non-eksperimental prediktif dan pengumpulan data cross-sectional. Sebanyak 120 individu Generasi Z berusia 18–29 tahun yang aktif menggunakan AI chatbot dipilih melalui purposive sampling. Kesepian diukur menggunakan Social and Emotional Loneliness Scale for Adults (SELSA), sedangkan PIU menggunakan Indonesia Problematic Internet Use Scale (IPIUS). Data dianalisis dengan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan kesepian berperan positif dan signifikan terhadap PIU (p = 0,016; B = 0,375; β = 0,219), dengan kontribusi sebesar 4,8%.
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Emotion-Focused Coping pada Mahasiswa Dewasa Nanda Khoirunisa Qurrota Ayuni; Maharsi Anindyajati
Jurnal Psikologi dan Konseling Vol. 1 No. 4 (2026): Edisi: Juli-September
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjalankan peran sebagai mahasiswa sekaligus pekerja memerlukan kemampuan pengelolaan emosi yang baik dalam menghadapi tekanan akademik dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan coping berfokus pada emosi pada mahasiswa pekerja berusia 20–40 tahun di Indonesia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 140 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan secara daring menggunakan Assessing Emotions Scale (AES) untuk mengukur kecerdasan emosional dan skala coping berfokus pada emosi berdasarkan kerangka Lazarus dan Folkman (1984). Karena data tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas, analisis dilakukan menggunakan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara kecerdasan emosional dan coping berfokus pada emosi (rs = 0,622, p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa pekerja dengan kecerdasan emosional lebih tinggi cenderung lebih sering menggunakan strategi coping berfokus pada pengelolaan emosi dalam menghadapi tekanan peran ganda.
Peran Stres Kerja Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Bekerja Ahmad Fadil Elbana; Maharsi Anindyajati
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.247

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran stres kerja terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif prediktif. Sampel penelitian berjumlah 111 mahasiswa bekerja melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kesejahteraan psikologis berdasarkan teori Ryff (1989). serta skala stres kerja berdasarkan Parker & DeCotiis (1983). Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnov, uji linieritas, setelah memenuhi prasyarat dilakukan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan adanya stres kerja berperan negatif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa yang bekerja (β = -0,225; p = 0,017). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,051 menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki keterkaitan sebesar 5,1%. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja yang dialami mahasiswa bekerja, maka kecenderungan tingkat kesejahteraan psikologis yang dimiliki akan semakin rendah.
Hubungan antara Self-Compassion dan Kesejahteraan Psikologis pada Perempuan Dewasa Awal yang Berperan sebagai Pencari Nafkah Utama Laras Desmonica Sari; Maharsi Anindyajati
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.263

Abstract

Perempuan dewasa awal yang berperan sebagai pencari nafkah utama menghadapi berbagai tuntutan ekonomi, pekerjaan, keluarga, dan sosial yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis. Salah satu sumber daya psikologis yang diduga berkaitan dengan kondisi tersebut adalah self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan kesejahteraan psikologis pada perempuan dewasa awal yang berperan sebagai pencari nafkah utama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional non-eksperimental. Sebanyak 115 responden berusia 18–40 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria pekerja aktif, memiliki masa kerja minimal satu tahun, memberikan lebih dari 50% penghasilan untuk keluarga, dan tinggal bersama keluarga yang ditanggung. Setelah pengujian instrumen, diperoleh 22 item valid pada skala self-compassion dengan Cronbach’s Alpha sebesar 0,979 dan 17 item valid pada skala kesejahteraan psikologis dengan reliabilitas sebesar 0,970. Karena data tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas, pengujian hipotesis menggunakan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-compassion dan kesejahteraan psikologis (rs=0,258r_s = 0,258; p=0,005p = 0,005). Kekuatan hubungan berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-compassion, semakin tinggi pula kecenderungan kesejahteraan psikologis, meskipun faktor lain turut berkaitan dengan kondisi tersebut.