Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Peran Kepemimpinan Transformasi Terhadap Kesiapan Untuk Berubah Pada Guru di Indonesia Simatupang, Marhisar; Ratnaningtyas, Aisyah; Respati, Winanti Siwi; Widiastuti, Mariyana; Susanti, Yulisa
Jurnal Diversita Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v11i1.14496

Abstract

Tahun 2022 pemerintah Indonesia meluncurkan program Merdeka Belajar pada guru di sekolah sebagai solusi dari pandemi covid-19. Pada kenyataannya tidak semua guru mampu melaksanakan program ini di sekolah dikarenakan adanya ketidaksiapan terhadap perubahan yang dimiliki oleh guru. Penelitian ini mengeksplorasikan tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh guru di Indonesia dalam mengimplementasikan program Merdeka Belajar di sekolah. Penelitian ini juga menjadi acuan bagi guru untuk tetap memiliki kesiapan perubahan pada kurikulum yang berubah-ubah dan mampu menjalani perubahan dengan baik. Penelitian ini dapat berkontribusi untuk memperbaiki dan meningkatkan program Merdeka Belajar atau program baru yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif asosiatif, yang melibatkan 648 guru di Indonesia dari sekolah negeri dan swasta yang telah menjalankan program Merdeka Belajar minimal satu semester. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan penyebaran kuesioner secara online di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh kepemimpinan transformasi terhadap kesiapan untuk berubah pada guru.
The Relationship Between Job Satisfaction and Organizational Commitment with Work Discipline in Banshu Electric Indonesia Employees Susanti, Yulisa; Purba, Novia Sri Parindu; Ivania, Princilla Felisha
Psychosocia : Journal of Applied Psychology and Social Psychology Vol. 2 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/psychosocia.v2i2.276

Abstract

Industry is the root of the economy in a country. The study of job satisfaction, organizational commitment, and work discipline is critical to understanding their impact on individual well-being and workplace productivity. Job satisfaction refers to the level of happiness felt by employees towards their work, organizational commitment involves full dedication to the organization, and work discipline includes focus, regularity, and motivation in performing tasks. Understanding these factors can help organizations support employees in achieving a healthy work-life balance and improving work performance. The approach used in this research is a quantitative approach. The data collection technique used in this study is to use a Likert scale model. Based on this research, it is found that job satisfaction and organizational commitment have a significant correlation with work discipline in employees at Banshu Electric Indonesia. Overall, the results of this study can provide a prediction of employee discipline at Banshu Electric Indonesia which is quite large at 63.9%, while the remaining 36.1% is influenced by other factors not examined. For this reason, further research needs to be carried out to see other variables that are thought to have an effect in addition to the variables studied, such as exemplary leadership in the company, the size of compensation, threats, and definite rules from the company.
Burnout Ditinjau dari Psychological Capital pada Guru Yulisa Susanti; Marhisar Simatupang
Jurnal Diversita Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v11i2.16213

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh psychological capital terhadap burnout pada guru disalah satu sekolah yang ada di Bekasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan sensus dengan jumlah sampel 130 guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik regresi sederhana untuk meguji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana  menemukan bahwa terdapat pengaruh psychological capital terhadap burnout pada guru dengan nilai p>0,05, yaitu sebesar 0,380; r = 0,078; R2=0,006. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa psychological capital  tidak terbukti menjadi prediktor dari burnout, dengan kata lain H0 diterima.
Work Engagement and Organizational Commitment as Predictors of Organizational Citizenship Behavior: Penelitian Marhisar Simatupang; Maharsi Anindyajati; Yulisa Susanti; Winanti Siwi Respati; Siti Masitoh; Raden Yudhi Satria R. A
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7537

Abstract

Organizational Citizenship Behavior (OCB) is recognized as an important factor that enhances organizational effectiveness by encouraging employees to perform discretionary behaviors beyond their formal job responsibilities. Previous studies have demonstrated that work engagement and organizational commitment contribute to employees' willingness to exhibit OCB; however, empirical evidence remains limited in post-pandemic organizational settings. This study aimed to examine the influence of work engagement and organizational commitment on Organizational Citizenship Behavior among employees. A quantitative causal-comparative research design was employed involving 92 permanent employees selected through simple random sampling from a population of 125 employees. Data were collected using standardized psychological scales measuring Organizational Citizenship Behavior, Work Engagement, and Organizational Commitment. The collected data were analyzed using multiple linear regression after satisfying the assumptions of normality and linearity. The findings revealed that work engagement had a significant positive effect on Organizational Citizenship Behavior. Organizational commitment also significantly predicted Organizational Citizenship Behavior. Furthermore, the simultaneous analysis demonstrated that work engagement and organizational commitment jointly contributed significantly to Organizational Citizenship Behavior. These findings suggest that employees who demonstrate higher levels of work engagement and stronger organizational commitment are more likely to perform voluntary behaviors that support organizational effectiveness beyond their formal job requirements. The study highlights the importance of fostering employees' psychological attachment to both their work and organization through supportive human resource practices to encourage positive extra-role behaviors and improve organizational performance.
Hubungan Keterlibatan Ayah dengan Regulasi Emosi pada Remaja Akhir Perempuan Nayla Zhahiirah Adjani; Yulisa Susanti
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2391

Abstract

Regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara adaptif. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan regulasi emosi adalah keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dengan regulasi emosi pada remaja akhir perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 155 remaja akhir perempuan berusia 18-22 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala keterlibatan ayah berdasarkan teori Pleck (2010) dan skala regulasi emosi berdasarkan teori Gross (2014). Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,986 pada skala keterlibatan ayah dan 0,893 pada skala regulasi emosi. Hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan hubungan antarvariabel bersifat linear. Pengujian hipotesis menggunakan korelasi Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dengan regulasi emosi pada remaja akhir perempuan (r = 0,438; p < 0,001). Berdasarkan hasil tersebut, H₀ ditolak dan H₁ diterima, yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dengan regulasi emosi pada remaja akhir perempuan, dengan kekuatan hubungan berada pada kategori sedang
Hubungan Kesepian dengan Smartphone Addiction pada Remaja Akhir di Bekasi Muhammad Reza Diyyaurahman; Yulisa Susanti
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 2 (2026): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i2.2401

Abstract

The increasing use of smartphones among adolescents may be associated with psychological conditions, including loneliness. Loneliness occurs when an individual’s perceived social relationships do not match their expectations and may be related to excessive smartphone use. This study aimed to determine the relationship between loneliness and   among late adolescents in Bekasi. Using a quantitative correlational design, 109 late adolescents aged 18–21 years were selected through purposive sampling. Data were collected using the UCLA Loneliness Scale Version 3 and   Scale–Short Version (SAS-SV), with 8 valid items for each instrument. Reliability coefficients were 0.784 for loneliness and 0.843 for. As the data were not normally distributed, hypothesis testing used Spearman Rank correlation. The results showed a significant positive relationship between loneliness and (r = 0.544, p < 0.05), indicating that higher loneliness was associated with higher   among late adolescents in Bekasi.
Hubungan Dukungan Orang Tua dengan Quarter Life Crisis pada Perempuan Dewasa Awal Ardella Naurah Sani; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.253

Abstract

Dewasa awal merupakan tahap dari remaja menuju kedewasaan. Pada tahap ini, individu mulai menghadapi perubahan-perubahan, seperti kemandirian secara ekonomi, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Adanya perubahan serta tuntutan, khususnya pada perempuan lebih rentan mengalami tekanan psikologis saat merasa tidak dapat memenuhi standar sosial yang ditetapkan, sehingga dapat memicu munculnya quarter life crisis. Salah satu faktor yang dapat berperan dalam menghadapi kondisi tersebut yaitu berasal dari dukungan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada perempuan dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Partisipan berjumlah 385 perempuan berusia 20-25 tahun, yang berdomisili di DKI Jakarta, menggunakan teknik non-probabilty sampling dengan jenis purposive sampling. Alat ukur dukungan orang tua sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,926 dan alat ukur quarter life crisis sebanyak 27 item dengan koefisien reliabilitas (α) = 0,910. Penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman rank, dengan nilai koefisien korelasi -0,556 dan nilai signifikansi (p) = 0,000. Hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan orang tua dengan quarter life crisis pada Perempuan dewasa awal, artinya semakin tinggi dukungan orang tua, maka semakin rendah quarter life crisis, dan sebaliknya semakin rendah dukungan orang tua, maka semakin tinggi quarter life crisis.
Pengaruh Keterlibatan Ayah Terhadap Psychological Well-Being pada Remaja Pasca Perceraian Orang Tua Agita Rifdawati; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.264

Abstract

Perceraian orang tua dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja, terutama ketika perubahan struktur keluarga menyebabkan berkurangnya keterlibatan salah satu orang tua, khususnya ayah. Keterlibatan ayah tetap penting dalam mendukung perkembangan psikologis remaja meskipun ayah tidak lagi tinggal serumah setelah perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan ayah terhadap psychological well-being pada remaja pasca perceraian orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain model kausal dan analisis regresi linier sederhana. Sampel terdiri atas 110 remaja berusia 15-18 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Keterlibatan ayah diukur menggunakan skala yang mencakup engagement, accessibility, dan responsibility, sedangkan psychological well-being diukur menggunakan Psychological Well-Being Short Scale. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883 untuk skala keterlibatan ayah dan 0,848 untuk skala psychological well-being. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,883 untuk skala keterlibatan ayah dan 0,848 untuk skala psychological well-being. Hasil regresi menunjukkan bahwa model signifikan (F = 12,194; p = 0,001). Keterlibatan ayah memiliki koefisien regresi positif dan signifikan (B = 0,292; β = 0,319; t = 3,492; p = 0,001). Nilai R² sebesar 0,101 menunjukkan bahwa keterlibatan ayah menjelaskan 10,1% variasi psychological well-being. Dengan demikian, semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin tinggi pula psychological well-being yang diprediksi pada remaja pasca perceraian.
THE ECOLOGICAL MODEL OF JUSTICE FOR MENTAL HEALTH IN THE WORKPLACE: A HOLISTIC, STRUCTURAL, FAIR, AND DIGNIFIED APPROACH Linus K. Palindangan; Marhisar Simatupang; Yulisa Susanti; Yudhi Satria R. A; Aquila Raffi Maari
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 6 No. 2 (2026): July-October 2026
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article formulates an Ecological Justice Model for mental health at work based on materials presented during a university community service webinar with partner organizations on 3 July 2026. The conceptual study uses a narrative synthesis of literature on workplace mental health, psychosocial risks, organizational justice, and relevant policy. The model maps problems across five levels: symptoms, immediate causes, organizational practices, structural roots, and philosophical assumptions. Each level is linked to corresponding intervention strategies. It assigns responsibilities to individuals, organizations, government, and society, guided by justice, human dignity, participation, transparency, sustainability, and the common good. The synthesis indicates that individual support should be connected with changes in job design, organizational governance, and worker protection. The model offers a framework for mapping risks and coordinating action across stakeholders. Because the community service activity collected no pre- and post-event evaluation data, the model's effectiveness cannot yet be established empirically and requires further testing.
Hubungan Regulasi Emosi dengan Stres Pengasuhan pada Ibu yang Memiliki Anak Usia Dini Ghina Vania; Yulisa Susanti
Jiwara: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 1 No. 2 (2026): Agustus 2026 - Januari 2027
Publisher : Darul Faizin Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67755/jiwara.v1i2.282

Abstract

Ibu yang memiliki anak usia dini menghadapi tuntutan pengasuhan yang intens karena karakteristik perkembangan anak usia 2–7 tahun, seperti aktivitas tinggi, egosentrisme, eksplorasi, serta keterbatasan dalam mengendalikan emosi dan impuls. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan dalam menjalankan peran pengasuhan, terutama ketika ibu mengalami kesulitan mengelola respons emosional. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara regulasi emosi dan stres pengasuhan pada ibu yang memiliki anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 100 ibu yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Karawang, yang dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala stres pengasuhan dan skala regulasi emosi yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Instrumen akhir memiliki koefisien reliabilitas sebesar α = 0,825 untuk stres pengasuhan dan α = 0,918 untuk regulasi emosi. Karena data tidak berdistribusi normal, hubungan kedua variabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan hubungan negatif yang signifikan dan kuat antara regulasi emosi dan stres pengasuhan (rs = -0,634; p < 0,001). Analisis tambahan menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan berdasarkan status pekerjaan maupun pendidikan terakhir. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan ibu dalam mengelola emosi berkaitan dengan lebih rendahnya tekanan pengasuhan dan dapat menjadi dasar pengembangan program psikoedukasi bagi ibu yang memiliki anak usia dini.