Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

VARIABEL PENENTU HARGA LAHAN DI PERUMAHAN SEKITAR KAWASAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Titin Widowati; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.598 KB)

Abstract

Pembangunan perumahan formal di Kota Semarang yang berkembang cukup pesat yaitu di kawasan kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) Tembalang terutama perumahan di Kelurahan Tembalang, Pedalangan dan Sumurboto. Harga Lahan perumahan sekitar UNDIP Tembalang yang semula rendah, semakin meningkat secara agresif setelah adanya pemekaran dan pembangunan kampus UNDIP Tembalang. Faktor yang mempengaruhi harga lahan menurut Wijaya (1999) dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan lahan. Penawaran lahan yang dimaksud adalah kemampuan kondisi lahan seperti ketersediaan aksesibilitas yang ditawarkan, tingkat pelayanan, kesesuaian fisik lahan, fasilitas dan infrastruktur serta kebijakan pembangunan rencana tata guna lahan, sedangkan permintaan lahan meliputi finansial dan kebutuhan lahan. Pernyataan tersebut hampir serupa dengan teori pembentukan harga lahan oleh D.Dowall (2004) yang menyatakan harga lahan dipengaruhi oleh aksesibilitas, luas lahan, kepadatan penduduk, kepadatan rumah, ketersediaan infrastruktur, serta pendapatan masyarakat. Faktor yang mempengaruhi harga lahan perumahan sekitar kawasan Undip Tembalang perlu diteliti lebih lanjut sehingga diketahui variabel penentu harga lahannya. Melalui metode analisis kuantatif dengan analisis regresi dan faktor diperoleh bahwa yang memiliki keterkaitan terhadap harga lahan adalah Prasarana dan Sarana (terutama jaringan air bersih, dan drainase), Aksesibilitas (terutama jarak ke pusat kegiatan Undip), dan Pendapatan. Sedangkan yang menjadi faktor penentu variabel harga lahan adalah prasarana dan sarana (jaringan air bersih, drainase dan persampahan), Aksesibilitas (jarak), luas lahan, dan pendapatan. 
KERENTANAN KOTA BANDA ACEH TERHADAP BENCANA TSUNAMI TAHUN 2013 Yushar Kurniawan; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.014 KB)

Abstract

Kerentanan adalah  upaya mengidentifikasi dampak terjadinya bencana berupa   jatuhnya korban jiwa maupun kerugian ekonomi dalam jangka pendek yang terdiri dari hancurnya permukiman infrastruktur, sarana dan prasarana serta bangunan lainnya, maupun kerugian ekonomi jangka panjang berupa terganggunya roda perekonomian akibat trauma maupun kerusakan sumber daya alam lainnya. Analisis kerentanan ditekankan pada kondisi fisik kawasan dan dampak kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal (Diposaptono,2005). Penelitian ini untuk mengidentifikasi Kerentanan kota Banda Aceh menghadapi resiko tsunami dengan pendekatan mitigasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini membangun teori berdasarkan pengalaman fenomena bencana tsunami yang pernah terjadi, berdasarkan argumen dengan mencari kebenaran logika berdasarkan aspek terkait. Aspek terkait berupa aspek resiko, karakteristik fisik, pemanfaatan kawasan pesisir, penyediaan kelengkapan perlindungan kawasan pesisir yang rentan tsunami. perhitungan radius/ jarak jangkauan tempat penyelamatan terhadap waktu tanggap tsunami.Perubahan yang terjadi pada sruktur ruang  dan pola pemanfaatan ruang kota Banda Aceh merupakan bagian dari upaya penataan kembali ruang kota Banda aceh yang telah hancur akibat bencana gempa dan tsunami. sebelum tsunami struktur ruang kota banda aceh dengan tipe konsentris yang terlihat dari pemusatan aktivitas dan kepadatan baik penduduk maupun bangunan pada kawasan pusat kota. Pasca tsunami, struktur ruang kota Banda aceh dikembangkan menjadi multiple nuclei.hal ini melatar belakangi perkembangan kota Banda Aceh yang berada di kawasan pesisir. Bentuk mitigasi yang dilakukan terkait dengan aspek fisik kawasan karakter fisik/ kondisi kawasan pesisir yang intensif terhadap tsunami, ketidaksesuaian pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir yang rentan tsunami serta minimnya kebutuhan kelengkapan perlindungan tsunami. Pemerintah menerapkan dua skenario pengembangan kawasan, yakni skenario dengan melakukan perbaikan pola dan struktur ruang dengan memberikan 2 pilihan bagi masyarakat. Adapun skenario tersebut meliputi (1) pindah ke lokasi aman bagi masyarakat yang ingin pindah, dan (2) tetap di lokasi semula namun lokasi tersebut telah dilengkapi sarana dan prasarana perlindungan. Limitasi perkembangan di bagian utara itu dilakukan dengan menerapkan kebijakan disinsentif. bentuk pembatasan perkembangan di bagian utara ini juga dilakukakan dengan menurunkan tingkat layanan wilayah ini, jika sebelumnya kawasan Ulee Lheu merupakan salah satu sub pusat kota Banda Aceh, kini kawasan tersebut diturunkan tingkatannya menjadi kawasan biasa yang tidak di rekomendasikan untuk kegiatan pembangunan. Selain itu perizinan terkait dengan pembangunan pun lebih dipersulit
ANALISIS KETERKAITAN PERAN BKM TERHADAP MODAL SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PLP-BK DI KELURAHAN PATI LOR Vega Kirana; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.4 KB)

Abstract

Sebagai salah satu upaya pengentasan kemiskinan oleh pemerintah, (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) PLP-BK menjadi sarana bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan partisipasi pembangunan. Dalam pelaksanaannya kegiatan PLP-BK dinaungi oleh lembaga masyarakat yang disebut BKM . Sebagai lembaga masyarakat yang mengurusi PLP-BK, BKM memiliki peran penting agar tujuan kegiatan dapat tercapai. Lembaga adalah modal dasar (Social Capital) yang dapat dipandang sebagai aset produktif. Melalui lembaga masyarakat mampu bekerja sama dengan masyarakat lainnya sehingga meningkatkan produktivitas anggotanya baik secara individu maupun keseluruhan (Kartodiharjo, 2005). BKM menjadi tumpuan agar kegiatan PLP-BK dapat berjalan secara terus-menerus (sustainable) dengan menumbuhkan modal sosial di dalam masyarakat. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif untuk mengetahui keterkaitan peran BKM terhadap modal sosial yang ada dalam masyarakat melalui program PLP-BK di Pati Lor. Kelurahan Pati Lor merupakan salah satu wilayah yang mendapatkan bantuan PLP-BK dengan BKM Mekar Sari sebagai perwakilan masyarakat. BKM yang mampu melaksanakan peran dalam PLP-BK dapat menumbuhkan modal sosial masyarakat. Modal sosial menjadi perekat bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Adanya modal sosial dalam PLP-BK berguna untuk mencapai tujuan dan keberlanjutan program. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui beberapa keterkaitan antara peran BKM terhadap modal sosial sehingga diharapkan adanya pengoptimalan peran BKM agar modal sosial masyarakat Pati Lor berkembang dengan baik.
Kontribusi Usaha Ternak Ruminansia Sapi Terhadap Penghidupan Keluarga Peternak di Desa Kalimanggis, Temanggung Raja Al-Fath; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Kalimanggis memiliki populasi sapi potong terbesar yaitu 681 ekor pada tahun 2018 atau 16,12% dari keseluruhan populasi sapi di Kecamatan Kaloran. Disamping potensi ekonomi lokal, ternyata terdapat berbagai permasalahan dalam usaha ternak ruminansia sapi diantaranya motif budidaya sapi belum berorientasi bisnis. Tujuan penelitian adalah mengkaji kontribusi usaha ternak ruminansia sapi terhadap penghidupan keluarga peternak di Desa Kalimanggis. Teknik analisis yaitu rantai nilai dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan berimplikasi terhadap pendapatan rumah tangga peternak. Pendapatan rumah tangga peternak lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga non peternak. Pendapatan tersebut digunakan guna meningkatkan kualitas penghidupan rumah tangga peternak dimana dilihat dari aspek fisik, finansial, dan modal manusianya. Aspek fisik yaitu memperbaiki rumah tinggal, aspek finansial yaitu pendapatan rumah tangga peternak, dan aspek modal manusia yaitu peningkatan kualitas pendidikan anggota keluarga peternak. Artinya usaha ternak ruminansia sapi yang telah dijalankan selama ini berkontribusi positif terhadap penghidupan peternak di Desa Kalimanggis. Kontribusi yang ditimbulkan sejalan dengan teori pengembangan ekonomi lokal dan rural livelihood atau penghidupan masyarakat desa yaitu menciptakan kehidupan yang lebih baik serta pemenuhan kebutuhan dasar.
Peran Institusi Lokal Dalam Pengembangan Kegiatan Pariwisata Desa Giritengah Kabupaten Magelang Eri Rajasa Pratama; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.452 KB)

Abstract

Community-based tourism is one of the substantial concept needed in terms of enhancing tourism activities. Situated in the countryside of Giritengah, Borobudur, Magelang, this is one prospective area for tourism development with the likes of Punthuk Mongkrong, Punthuk Sukmojoyo, Bukit Gupakan, Local Honeybee Farm, and Local Art Community “Saking Ndene.” Creative traits of its people and independent movement towards tourism development have become another interesting point as the local citizens contributed in initiating local institutions’ establishments. These groups exist under the direct supervisory of higher authorities called Balkondes which responsible as promotor and supervisor of all tourism aspects.This study aims to determine how significant the role of local institutions in Giritengah’s tourism development activities. Mix methods approach will be used with the follow-up data obtained through questionnaires, observation, and direct interviews with community groups and village councils. Quantitative & qualitative descriptive techniques will be applied to expose all four-main analysis. From that aforementioned analysis, conclusions have been made as it discovered the existence of local institutions role in tourism development showed the mutual partnership between stakeholders. Partnership forms adhere to the tourism activities operational and supervisory that bring direct impact in escalating new business initiatives, various job opportunities, and alternative tourism options to attract more visitors.
Pengaruh Pariwisata Pendakian Gunung Prau Terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Patak Banteng Kabupaten Wonosobo Ryan Muhammad Daris; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.712 KB)

Abstract

Patak Banteng is a village at the tracking path to reach the summit of Mount Prau, which visitors has increase. The development of tourism at the village has impact in the economic sector. This research focuses on the influence of tourism on the economy of Patak Banteng Village. The research approach uses a descriptive quantitative to determine the characteristics of existing and also the influence of the tourism on the economy itself.          The research result shows that there is impact of tourism to the local economy in Patak Banteng Village. The existence of these tourist activities accommodate 13 people who previously did not have job and involves 8% of citizens in productive age. From 120 respondents, mostly they have additional income after working in tourism sector, in this case shows one of the positive impacts from tourism activities is increasing resident’s income. One of the adverse effects of tourism itself is dependence, and at the village of Patak Banteng, dependence figure is 43 out of the total respondents and the majority come from tourist manager. Dependence on this tourism can be bad when it comes the time the tourism is closed.
PENGARUH KEGIATAN KOMERSIAL TERHADAP FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH DI KORIDOR JALAN MALIOBORO YOGYAKARTA Cipto Murti; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1268.103 KB)

Abstract

Koridor Jalan Malioboro merupakan bagian dari fungsi bangunan bersejarah yang memiliki fungsi komersial. Sebagai bagian dari fungsi bangunan bersejarah, sudah seharusnya bangunan bersejarah yang ada di sepanjang Jalan Malioboro dijaga kelestariannya. Tuntutan komersial yang bertentangan menimbulkan masalah terhadap penampilan visual kawasan di kedua sisi jalan. Fungsi bangunan bersejarah merupakan cikal bakal dari pertumbuhan suatu kota. Namun modernisasi perlahan menggeser keaslian budaya yang dimiliki oleh suatu kota seiring perkembangan kota tersebut. Salah satu fungsi bangunan bersejarah yang merupakan aset penting kota Yogyakarta dan selalu mengalami perkembangan adalah sepanjang jalan Malioboro. Jalan tersebut merupakan urat nadi kota Yogyakarta. Terdapat beberapa obyek bersejarah di jalan ini yang merupakan simbol atau penanda perkembangan bagi kota Yogyakarta namun telah mengalami banyak perubahan. Malioboro saat ini menunjukkan kemajuan dan perubahan lebih modern secara fisik. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh kegiatan komersial terhadap bangunan bersejarah di Koridor Jalan Malioboro. Perkembangan zaman membawa pengaruh terhadap perkembangan dan perubahan fisik bangunan, sehingga untuk mengusahakan upaya manajemen pelestarian berkelanjutan dan bangunan di Malioboro terlebih dahulu menemukan permasalahan yang ada dan perubahan fisik yang terjadi pada bangunan-bangunan bersejarah di koridor jalan Malioboro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan teknik analisis berupa deskriptif kualitatif. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis penelusuran sejarah dan perkembangan kawasan, analisis perubahan fungsi kawasan karena pengaruh kegiatan komersial di sepanjang Jalan Malioboro. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan data primer yaitu berupa wawancara dan observasi lapangan serta data sekunder berupa kajian literatur dan survei instansi. Metode penarikan sampel untuk masyarakat dengan menggunakan teknik sampling. Diketahui adanya pengaruh kegiatan komersial terhadap fungsi bangunan bersejarah dan telah terjadi perubahan fungsi bangunan bersejarah di Koridor Jalan Malioboro seiring perkembangan zaman. Pengaruh kegiatan komersial dan perubahan fungsi yang terjadi dikelompokkan menjadi beberapa karakteristik berdasarkan indikator yang disusun pada variabel fungsi karena munculnya kegiatan komersial yang bersifat modern. Dengan temuan tersebut, dapat disimpulkan adanya pengaruh kegiatan komersial terhadap fungsi bangunan bersejarah dan telah terjadi perubahan fungsi pada bangunan bersejarah di Koridor Jalan Malioboro yang seharusnya dilestarikan. Untuk itu diperlukan suatu upaya pelestarian berkelanjutan yang nyata terkait pemeliharaan dan pengelolaan bangunan bersejarah tersebut agar tidak menghilangkan keaslian nilai bangunannya. Selain itu juga ditentukan jenis kegiatan pelestarian yang tepat untuk masing-masing bangunan bersejarah sesuai dengan permasalahan perubahan yang terjadi pada tiap bangunan tersebut.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN DAUR ULANG SAMPAH DI KELURAHAN TUGUREJO, KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG Erlangga Ariesta PP; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.335 KB)

Abstract

Persampahan merupakan salah satu sektor yang menjadi permasalahan di dalam perkembangan suatu daerah karena masih kurangnya sistem pengelolaan sampah yang baik. Kelurahan Tugurejo mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda yaitu pengelolaan sampah yang kurang baik yang ditandai dengan kurang efektifnya sistem pengelolaan sampah sehingga masih terdapat sampah-sampah yang berserakan di lingkungan. Hal ini dapat diminimalisasi dengan melibatkan potensi-potensi yang sudah ada untuk menuju kualitas lingkungan yang lebih baik. Pengelolaan daur ulang sampah berbasis masyarakat merupakan salah satu alternatif untuk memperbaiki kualitas lingkungan di Kelurahan Tugurejo. Dalam hal ini, masyarakat merupakan unsur utama sebagai pengelola, sehingga partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daur ulang sampah, dan diharapkan dapat menghasilkan temuan tentang bagaimana bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daur ulang sampah di Kelurahan Tugurejo. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan daur ulang sampah yaitu dengan memberikan sumbangan berupa pikiran dan tenaga dalam kegiatan yang dilaksanakan dua minggu sekali. Selain itu, mereka juga melakukan pertemuan secara rutin setiap malam Minggu guna membahas kinerja, evaluasi, dan rencana ke depan. Pertemuan itu dihadiri juga oleh perwakilan dari pihak pemerintah. Dalam pelaksanaan program, masyarakat cenderung tidak terpaksa sama sekali. Dari aspek karakteristik masyarakat yang mempengaruhi tingkat partisipasi pengelolaan daur ulang sampah di Kelurahan Tugurejo adalah  usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, penghasilan, dan status kepemilikan tempat tinggal.
Pengaruh Persepsi Masyarakat Tentang Perencanaan Partisipatif Terhadap Sikap Untuk Berpartisipasi: Kasus Penyusunan Rtbl Kawasan Tambaklorok Kota Semarang Safilia Vinandita; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.043 KB)

Abstract

Social factors influence attitude towards participation. This paper examines the influence of social factor especially citizen perception about participatory planning on attitudes toward participation in the preparation of buildings and environments planning (RTBL) Tambaklorok. Citizens perception about planning is shaped by attention, learning, memory and expectation. This perception shapes individual’s attitude that includes receiving, responding, valuing, and responsibility. The study shows that citizens have lack of attention to planning information and responsibilities. But generally they have positive thought. There is a directly proportional relationship between the two variables, namely the perceptions and attitudes. Better perception of planning, leads to the better attitude towards the implementation of the plan. In addition, there is a difference between two groups with different levels of education. Based on this, good attitudes are shaped by enhancing public mindset, so improving community awareness and understandings are needed through the information sharing and education improvement with effective methods.
KERJASAMA ANTAR DAERAH DALAM PELAYANAN AIR BERSIH KOTA SURAKARTA DENGAN KABUPATEN KARANGANYAR Debbie Vici Prastiti; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.544 KB)

Abstract

Pelayanan publik dapat bersifat lintas batas administratif. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Karanganyar, yang lokasinya berbatasan dengan Kota Surakarta. Studi kasus dilakukan di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar yang pelayanan air bersihnya dilayani oleh PDAM Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme kerjasama antardaerah dalam pelayanan air bersih antara Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar. Selain itu, penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui alasan kerjasama antardaerah ini bisa terjadi. Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah pendekatan deskripsi kualitatif dengan mengambil studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, pengumpulan dan menelaah dokumen dan wawancara. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa PDAM Surakarta dapat memberikan pelayanan air bersih di sebagian daerah yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Karangnyar. Kerjasama antara kedua daerah tersebut adalah kerjasama yang bersifat informal, yang tidak menggunakan surat rekomendasi atau dokumen perjanjian. Berdasarkan teori yang ada, bentuk kerjasama tersebut merupakan handshake agreement dan fee for service contracts.