Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pengaruh Nilai Kepuasaan Faktor Suplai terhadap Loyalitas Pengunjung Pada Objek Wisata Posong Zukruf Novandaya; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 10, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The dominant visitor satisfaction factor is influenced by tourism supply factors (attractions, accessibility, amenities, and ancilliery services) provided by the tour manager. The development and sustainability of tourism activities will have an impact on people's income can be seen from the value of visitor loyalty. Tourism that utilizes local resources will have an impact on the local economy of the region. Posong Tourism as a tour that utilizes local resources, namely the mountain view initiated by the community. The supply factor at Posong Tourism was also initiated and provided by the local community. The purpose of this study was to assess the effect of visitor satisfaction from supply factors on tourist visitor loyalty in the Posong Tourism object, Temanggung Regency. The research method used is a quantitative research method using Structural Equation Modeling Analysis (SEM). The results showed a significant direct effect between the supply of Posong Tourism supply factors to the value of visitor satisfaction, and there was also the influence of visitor satisfaction on the value of loyalty. In addition, the results of the analysis of theoretical models there are 9 indicators that have an indirect influence.
TIPOLOGI PERGERAKAN PENGUNJUNG PADA KLASTER PARIWISATA BATURRADEN Danar Amarta; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.253 KB)

Abstract

Aktivitas pariwisata merupakan kegiatan penyeimbang pada kegiatan sehari-hari manusia. Masyarakat perkotaan dengan tingkat stres yang tinggi akibat tingginya aktivitas dalam kehidupan sosial setiap orang membutuhkan hiburan yang dapat diperoleh dari sektor wisata di sekitarnya . Kawasan Baturaden memiliki beragam jenis usaha dalam mendukung kegiatan pariwisata Baturraden. Pada akhir temuan penelitian yang diperoleh oleh beberapa studi seperti interaksi antara rantai nilai sesuai dengan kedekatan geografis dan fungsional. Dari penelitian Tipologi pergerakan pengunjung yang terjadi tidak hanya terfokus pada daya tarik tetapi juga untuk rantai lain nilai yang ada di Kawasan Baturraden. Dari temuan penelitian dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan strategi untuk memaksimalkan fungsi dari masing-masing rantai nilai sehingga satu sama lain dapat mendukung dan memberikan kontribusi ekonomi secara maksimal.
KAJIAN IDENTIFIKASI KOTA AMAN (SAFECITY) di SEMARANG Eko Setiawan; Holi Bina Wijaya
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 1: Juli 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.449 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.1.1-8

Abstract

Keamanan (safety) menjadi isu yang penting khususnya dalam suatu kota. Aspek keamanan tersebut meliputi meningkatnya tindakan kriminalitas di suatu kota sehingga menggangu aktivitas dan mobilitas masyarakat yang ada di dalamnya. Kemanan menjadi aspek penting sehingga perlu dilakukan pengkajian  mengenai bagaiman identifikasi Kota Aman (Safecity) sehingga dapat meningkatkan keaman Kota Semarang? Metode menggunakan konsep Three Onion layers yang melihat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan mengakibatkan kemanan terganggu. Hasil temuan berupa Semarang terdapat kepadatan penduduk tinggi, sektor perdagangan dan jasa memiliki aktivitas tinggi, perlu upaya peningkatan respon kota baik sector pemerintah berkaitan dengan sumber daya manusia dan sektor kepolisian yang berkaitan langsung dengan penindakan kejahatan dan kekerasan di Semarang.
TINGKAT KETAHANAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA KEKERINGAN DI KELURAHAN ROWOSARI, KOTA SEMARANG Fajar Kurnia Sakti; Holi Bina Wijaya
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 1: Juli 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.014 KB) | DOI: 10.14710/jpk.8.1.100-108

Abstract

Penilaian Tingkat Ketahanan Masyarakat merupakan langkah awal menuju peningkatan ketahanan dan membuat pemangku kepentingan untuk memprioritaskan tindakan yang diperlukan dalam menangani suatu kondisi masyarakat yang mengalami tekanan dan guncangan. Kelurahan Rowosari merupakan salah satu wilayah yang terdampak bencana kekeringan setiap tahunnya. Bencana kekeringan yang terjadi berimbas pada penurunan debit air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Berdasarkan kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan seperti “Seperti apa tingkat ketahanan masyarakat terhadap bencana kekeringan di Kelurahan Rowosari?”. Digunakan metode kuantitaif untuk menjabarkan hasil penelitian. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menunjukan kondisi eksisting masyarakat yang terdiri dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan kelembagaan. Teknik analisis skoring menggunakan metode Sturges yang digunakan sebagai alat untuk melakukan pengukuran terhadap tingkat ketahanan masyarakat. Hasil Tingkat ketahanan masyarakat Kelurahan Rowosari terhadap bencana kekeringan menunjukan skor akhir sebesar 2,00 dan termasuk dalam tingkat ketahanan menengah. Pada tingkatan tersebut masih perlu dilakukan peningkatan dari berbagai aspek, hal ini dikarenakan pada tingkat tersebut juga rawan terjadi penurunan akibat kurangnya kepedulian masyarakat untuk menghadapi bencana kekeringan.
LEGALITAS DAN PRAKTEK PERENCANAAN TATA RUANG INDUSTRI SHIPYARD PADA SEMPADAN PANTAI DI SAGULUNG, BATAM Agung Adji Santosa Suryahusada; Holi Bina Wijaya
Jurnal Pengembangan Kota Vol 7, No 2: Desember 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.26 KB) | DOI: 10.14710/jpk.7.2.147-160

Abstract

Legalitas lahan mencakup kesesuaian lahan dengan rencana tata ruang, terdapatnya IMB dan regulasi yang sah. Penelitian ini bertujuan mengetahui legalitas industri galangan kapal pada sempadan pantai dan bagaimana praktek perencanaan pembangunan tata ruang yang sebenarnya terjadi di Sagulung. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kajian dokumen. Wawancara dilakukan dengan teknik Purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa legalitas industri dapat berubah sesuai dengan rezim politis dan pelaksanaan rencana tata ruang pada kenyataannya tidak sederhana. Praktek perencanaan tata ruang di Batam sangat dipengaruhi oleh rezim politis yang terjadi pada masa itu. Pada periode 1991-2007 (Orde Baru) tidak ada pihak yang mengkoordinasi terkait tumpang tindih aturan tata ruang. Tindakan koordinasi dilakukan ketika rezim Demokrasi (2008-sekarang) Hal ini ditunjukkan dengan tindakan paduserasi oleh Tim Paduserasi yang bekerjasama dengan stakeholder tingkat daerah hingga pusat.
Identifikasi Pembelajaran Sosial dalam Pengembangan Batik di Kota Pekalongan Muhammad Indra Hadi Wijaya; Artiningsih Artiningsih; Holi Bina Wijaya; Nofa Martina A.; Bagus Nuari P.
JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN Vol. 19 No. 1 (2021)
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54911/litbang.v20i.139

Abstract

Batik as an Indonesian cultural heritage has been recognized by the world in 2009 by UNESCO. This recognition does not fully go hand in hand with the sustainability of batik business and culture in Pekalongan City, especially for business actors in the next generation. This condition is caused by the minimum wage of workers due to the inequality of the subcontracting system in the batik business. This study aims to identify social learning in the batik industry development. The extent to which social learning facilitates the development of batik with regional development. Qualitative methods were carried out for data collection by using in-depth interviews with key business actors in the batik industry chain in the City and Regency of Pekalongan which were selected purposively. The results show that social learning and innovative production processes are still limited with the involvement of the regeneration of young entrepreneurs. The challenges of the batik industry in rural areas depend on how entrepreneurs can enlarge their business net works. This business needs to be more adaptive in utilizing batik not only as an industrial commodity as it is but also processing it creatively as an attraction for Pekalongan City. Keywords: Batik, social learning, sustainability
Evaluasi ketangguhan wilayah Kabupaten Wonosobo terhadap bencana pandemi Covid-19 Zukruf Novandaya; Holi Bina Wijaya; Visilya Faniza
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 2 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i2.48176

Abstract

Ketangguhan wilayah merupakan kemampuan masyarakat dalam menghadapi suatu kejadian bencana. Pembangunan wilayah tangguh bencana di Indonesia telah banyak dilakukan. Meski demikian ketangguhan yang telah banyak dibangun adalah ketangguhan bencana alam. Bencana non-alam pandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia mempengaruhi sistem penghidupan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Artikel ini membahas studi kasus di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kabupaten Wonosobo ini termasuk ke dalam wilayah karakteristik pedesaan dengan dampak risiko Covid-19 tinggi yang berimplikasi kepada masyarakat tidak hanya dari segi kesehatan, tetapi juga dalam sosial dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif untuk mengevaluasi ketangguhan wilayah terhadap bencana pandemi Covid-19 berdasarkan empat variabel, yaitu kerawanan bencana, mitigasi, pengaturan wilayah dan adaptasi. Hasil dari penelitian ini merupakan analisis evaluatif dari ketangguhan Kabupaten Wonosobo dalam menghadapi gangguan bencana pandemi Covid-19. Dari analisis keempat variabel didapatkan hasil bahwa masih kurangnya ketangguhan wilayah yang ada di Kabupaten Wonosobo ditinjau dari aspek kerentanan, mitigasi dan adaptasi. Sedangkan pengaturan wilayah relatif memiliki modal sosial yang cukup baik untuk mendukung keberjalanan upaya meningkatkan ketangguhan wilayah lainnya. Hasil evaluasi tersebut perlu dilakukan untuk arahan rekomendasi peningkatan aspek ketangguhan wilayah yang perlu dilakukan sehingga dapat mereduksi dampak yang terjadi pada masyarakat dan aktivitas wilayah. Selain itu hasil evaluasi tersebut dapat menjadi konsep mitigasi bencana non-alam ke depannya.
Reclassification of Urban Growth in Rural Area, Temanggung Regency, Indonesia Holi Bina Wijaya; Imam Buchori
Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/geoplanning.9.1.1-16

Abstract

Reclassification is part of urban growth together with the natural growth of birth and death, and migration from rural to urban areas. However, the reclassification has a deficiency in studies due to the urban growth discourses have much focused on the central force of existing urbanized areas. Historical data shows that the economic growth in urban areas is more due to a residual increase from migration growth and reclassification rather than natural growth. This paper contributes to the empirical context of the phenomenon of reclassification of urban growth and its following spatial changes in the rural area of Temanggung regency, Indonesia. The study utilizes the comparison analysis by examining the growth of industrial employment as an urban activity in rural areas, as well as looking at this relationship with changes in the physical built-up area as an indication of the urbanization process. This study found that the reclassification in Temanggung regency has encouraged urbanization in rural areas, through the development of industrial activities based on local resources and labor and promoted economic growth in rural areas. The reclassification that occurs is mostly due to the wood products manufacturing business that has been supported by the potential resources, and local workforce, rather than the active role of the government institution.
Peran Mayarakat dalam Eksistensi Kampung Kota (Studi Kasus: Kampung Pelangi Kota Semarang) Fitriani Fitriani; Holi Bina Wijaya
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tpwk.2023.28435

Abstract

Kampung Wonosari merupakan salah satu kampung yang dalam sejarahnya diperuntukkan sebagai kawasan pemakaman. Namun, lokasi Kampung Wonosari yang berada di pusat kota yang dekat dengan pusat pemerintahan, Tugu Muda, Lawang Sewu, sarana kesehatan RSUD Kariadi, serta pusat perniagaan pandanaran, menyebabkan berubahnya peruntukan Kampung Wonosari. Lambat laun Kampung Wonosari berubah dari dominasi lahan pemakaman kini didominasi menjadi lahan permukiman yang tidak tertata. Ekistensi kampung kota sebagai tempat bermukim yang berkualitas bagi masyarakat perkotaan dapat dilakukan melalui penggalian potensi dari berbagai sektor, tentu saja hal ini tidak lepas kaitannya dengan peran masyarakat didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat peran masyarakat dalam eksistensi Kampung Pelangi di Kota Semarang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada analisis eksistensi Kampung Pelangi sebagai kampung kota tergolong dalam kriteria kuat. Hal ini dikarenakan Kampung Pelangi dapat memberikan identitas pada suatu kota dimana masih terlihat wajah asli kampung yaitu ditandai dengan adanya makam bersejarah yang masih dilestarikan serta ikatan-ikatan sosial dan adat istiadat yang masih terjalin dalam masyarakat Kampung Pelangi. Kondisi ini tentunya berpengaruh berhadap peran masyarakat yang sudah berkontribusi tinggi terlibat dalam pelaksanaan aktivitas dan pembangunan di Kampung Pelangi. Dalam program pembentukan Kampung Pelangi masyarakat tidak ikut terlibat dalam inisiasi pembentukan Kampung Pelangi, pemerintahlah yang berperan penting mulai dari inisiasi, implementasi, dan monitoring.  Masyarakat hanya terlibat dalam pelaksanaan aktivitas pembangunan saja, sehingga inisiatif masyarakat masih hanya terbatas arahan pemerintah saja. Kondisi ini juga terkait dengan keberadaan organisasi lokal (pokdarwis) di Kampung Pelangi dimana  peran pokdarwis untuk pengembangan Kampung Pelangi hanya jika ada arahan dari kelurahan saja atau pemerintah kota semarang dalam mewujudkan Kampung Pelangi menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi yang memang pada dasarnya sudah menjadi program pemkot Semarang. Meskipun begitu keberadaan pokdarwis cukup bermanfaat bagi masyarakat Kampung Pelangi yang berperan dalam pengadaan event-event kegiatan wisata. Sedangkan untuk penilaian kapasitas masyarakat sendiri berada pada kategori sedang. Kegiatan pengembangan kapasitas masyarakat  di Kampung Pelangi belum sepenuhnya berhasil mengatasi permasalahan Kampung Pelangi karena belum adanya monitoring secara berkelanjutan terkait program kegiatan dalam peningkatan kapasitas masyarakat. 
Participation of Business Actors in Implementing Circular Economy on Batik Products in Kauman Batik Kampoeng, Pekalongan City Wijaya, Muhammad Indra Hadi; Fadiyah, Tuti; Wijaya, Holi Bina; Artiningsih, Artiningsih
TATALOKA Vol 26, No 3 (2024): Volume 26 No. 3 August 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.3.208-217

Abstract

This research explores the application and potential of batik business actors in the implications of the circular economy (CE) model in Pekalongan, Indonesia. As a prominent cultural heritage, the batik industry is essential to the regional economy. However, conventional linear production and consumption practices have resulted in environmental challenges, resource depletion, and waste generation. By embracing CE principles that emphasize resource efficiency, waste reduction, and closed-loop systems, the batik industry in Pekalongan can develop sustainable and environmentally responsible practices. This study examines critical aspects of CE implementation, starting with community participation in the batik, drawing insights from successful CE implementation in other industries. The implementation of CE in other industries is the role of business actors in the business chain outside Kampong. This paper analyzes the potential benefits and challenges of implementing CE in the Pekalongan batik industry and the role of stakeholders in promoting circularity. By highlighting the feasibility of the CE model, the results of this research are that the level of community participation in implementing a CE has not been maximized with the potential remaining production output so that this aspect of the condition becomes a sustainable opportunity to encourage sustainable practices in the Pekalongan batik industry.