Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Menimbang Ruang - Menjajaki Peluang: Siasat Seniman Madura Beradaptasi dengan Pandemi dan Teknologi Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 3 (2021): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.343

Abstract

Pandemi Covid-19 hadir dengan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Lesunya perekonomian yang diakibatkan oleh pembatasan aktivitas dan penggunaan ruang publik, melahirkan pelbagai aktivitas baru sebagai jalan alternatif menyiasati keterbatasan dan keterpurukan, termasuk di dalamnya praktik seni tradisional di masyarakat lokal. Sorotan penelitian ini hendak menguraikan fenomena praktik berkesenian seniman tradisional dan masyarakat lokal di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya dalam menyiasati teknologi dan pandemi. Mewacanakan pelbagai praktik kesenian di luar arus utama, di wilayah ‘pinggiran’ (lokal), yang seringkali luput dan terabaikan dalam diskusi-diskusi tentang seni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena pandemi di kalangan masyarakat lokal (kebudayaan Madura di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya) telah melahirkan konten-konten karya seni media rekam yang unik dan khas, seperti 1) Sinema Komedi berbahasa Madura:alih wahana seni pertunjukan ketoprak ke sinema audio visual. Praktik ini awalnya dilakukan oleh para seniman tradisi, kemudian banyak bermunculan karya-karya serupa yang digarap oleh anak-anak muda lokal dengan gaya dan cita rasa yang berbeda; 2) Panggung Seni Virtual, praktik ini merupakan upaya masyarakat lokal dan seniman tradisi mempergelarkan karyanya dalam ruang panggung yang baru. Secara tidak sadar mereka telah melakukan pendokumentasian budaya yang berperan penting bagi perkembangan kebudayaan daerah.
Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People In Digital era Hidayatullah, Panakajaya
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.3995

Abstract

Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People. In Digital era This paper is a result of anthropology research by using cultural studies perspectives. This article, comprehensively, discuss; 1) musical relation between Western and traditional music in sangposangan; 2) a kind of ‘post-harmony’ sangposangan by using musicology analysis through musical text of Angling Madura song. The result of study shows an encounter between western and Madurese traditional music in sangposangan music which can produce a new musical entity (harmony of other).  Post-harmony sangposangan is manifested in dynamic composition which are; 1) dangdut composition in EDM syle, and 2) contrast change from dangdut koplo to pure dangdut. Post-harmony can be read as intuition, emotion, sense and instinct which can drive creative process of sangposangan music. It does not come from rigid notation system but it is constructed from rhythm of Madurese people’s life.ABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian antropologi musik dengan menggunakan perspektif kajian budaya. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang 1) relasi musikal antara musik Barat dan tradisional dalam musik sangposangan; 2) menelaah tentang bentuk ‘post-harmoni’ sangposangan melalui analisis musikologis dari teks musikal gending Angling Madura. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertemuan musikal antara musik Barat dan tradisional Madura dalam musik sangposangan mampu menghasilkan sebuah entitas musikal yang baru (‘harmoni yang lain’). Post-harmoni sangposangan diwujudkan dalam dinamika garap yang dinamis yaitu 1) garap dangdut ala EDM, dan 2) perubahan kontras dari dangdut koplo ke dangdut piur. Post-harmoni dapat dibaca sebagai sebuah naluri, emosi, sense dan insting yang menjadi penggerak dari proses kreatif musik sangposangan. Ia tidak berangkat dari sistem notasi yang kaku, tetapi dibangun dari ritme kehidupan masyarakat Madura.Kata kunci: Sangposangan; Post – Harmony; Madura, Musik
Gamelan Reinvented: Cultural Sound Transformation in Membranophone Ensembles of East Java Hidayatullah, Panakajaya; Simatupang, Gabriel Roosmargo Lono Lastoro; Setiawan, Aris; Livera, Kristen Angela
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i3.14537

Abstract

This study explores the phenomenon of pèghâ' in the musical traditions of terbhâng ghendhing and kemplang in Probolinggo and Bondowoso, which emerged as a response to past religious prohibitions on the use of metal gamelan instruments. The research focuses on uncovering the adaptation of metal gamelan music into the membranophone ensembles of terbhâng ghendhing and kemplang from a musicological perspective. Using qualitative approaches and ethnographic methods, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and literature review. The findings reveal that elements such as kejhungan, drumming patterns, bonang patterns, and gending structures were preserved, although the shift from metal to membrane caused significant changes. These changes resulted in a playing style that is more repetitive, dynamic, and aligned with the membranophone's characteristics. This study also challenges the conventional view of membranophones as purely rhythmic instruments, demonstrating their capability to perform complex melodic roles in terbhâng ghendhing and kemplang. The process of pèghâ' underscores traditional music as a dynamic entity that continues to evolve through local creativity, creating new musical identities while maintaining its cultural roots.
TABBHUWÂN: STUDI TENTANG SENI PERTUNJUKAN KETOPRAK MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i1.72112

Abstract

Artikel ini mengkaji dinamika tabbhuwân—seni pertunjukan ketoprak Madura di Situbondo—sebagai seni tradisi yang hidup dan terus bertransformasi. Melalui pendekatan etnografi, penelitian ini menguraikan asal-usul, bentuk pertunjukan, fungsi sosial, serta inovasi kreatif tabbhuwân dalam menghadapi perubahan zaman. Temuan menunjukkan bahwa tabbhuwân bukan sekadar warisan budaya, melainkan ruang vital negosiasi nilai, ekspresi identitas, dan adaptasi teknologi, termasuk alih wahana ke film komedi digital saat pandemi. Studi ini menegaskan bahwa tabbhuwânmemperlihatkan vitalitas tradisi rakyat yang kreatif, fleksibel, dan berdaya hidup di tengah tekanan modernitas.
Tabbhuwân Colo’: Tradisi Gamelan Mulut Masyarakat Nelayan Panarukan, Kabupaten Situbondo Hidayatullah, Panakajaya
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 14 No. 2 (2025): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v14i2.71324

Abstract

This article examines tabbhuwân colo’, an oral gamelan tradition practiced within the fishing community of Panarukan, Situbondo. This tradition realizes the structural principles and repertoire of Madurese gending through vocal sound and the human body, without the use of metal musical instruments. Drawing on ethnographic experience gained from sitting in a circle with senior practitioners, the article approaches tabbhuwân colo’ not merely as a form of vocal art, but as a collective musical practice rooted in fishing labor, embodied memory, and the history of Madurese migration from Sumenep to the northern coast of East Java.The study employs an ethnographic approach through participant observation, in-depth interviews, and audio-visual documentation, analyzed within the theoretical frameworks of oral tradition, sound ecology, and embodiment. The findings demonstrate that tabbhuwân colo’ functions as a structured musical system, with a division of sonic roles that imitate the functions of Madurese gamelan instruments, sustained through egalitarian social coordination and collectively distributed musical knowledge. Its musical complexity does not rely on individual virtuosity, but on shared capacities for listening, mutual adjustment, and the maintenance of sonic balance. Historically, tabbhuwân colo’ developed within the context of fishing labor—particularly during the tèra’an period—and functioned as work music, a medium of social cohesion, and an archive of collective memory. However, changes in fishing technologies, the contraction of collective work spaces, and shifts in the coastal soundscape have placed this tradition in a condition of serious endangerment.
BÂJÂNG KERTÈ: SENI PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG MASYARAKAT SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.14465

Abstract

This research seeks to examine the bâjâng kertè art form from various aspects, including its history and developmental dynamics, form and function, transmission and regeneration, as well as performance modes and survival strategies. The study employs a qualitative research approach, utilizing ethnographic methods. Data were collected through participatory observation, interviews, and literature review. The data were then interpreted by employing a multidisciplinary perspective, including history and performing arts. The findings reveal that bâjâng kertè is an intangible cultural heritage of significant value to the community of Situbondo. It was created by a skilled Madurese puppeteer named Kertisuwignyo, who later migrated and settled in Situbondo. Bâjâng kertè flourished in Situbondo during the 1970s to the 1990s. It was performed in various contexts such as parlo, rokat panhâbâ, rokat tasè’, rokat bhumi, salamettan, and other events. Its performance structure consists of several parts, including dhing-ghendhingan, tèmangan, tari srimpi, and maen carèta. This art form serves multiple functions within the community, including educational, entertainment, spiritual, and economic purposes. The knowledge and skills related to bâjâng kertè are culturally transmitted by its artists through two pathways: informal learning (cantrik) and group training. Various challenges and problems faced by bâjâng kertè artists have ultimately sparked new innovations. These include the emergence of new performance modes such as topeng rokatan, topeng can-macanan, topeng lawak, and the incorporation of bâjâng kertè content in audiovisual recordings.