Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

TABBHUWÂN: STUDI TENTANG SENI PERTUNJUKAN KETOPRAK MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i1.72112

Abstract

Artikel ini mengkaji dinamika tabbhuwân—seni pertunjukan ketoprak Madura di Situbondo—sebagai seni tradisi yang hidup dan terus bertransformasi. Melalui pendekatan etnografi, penelitian ini menguraikan asal-usul, bentuk pertunjukan, fungsi sosial, serta inovasi kreatif tabbhuwân dalam menghadapi perubahan zaman. Temuan menunjukkan bahwa tabbhuwân bukan sekadar warisan budaya, melainkan ruang vital negosiasi nilai, ekspresi identitas, dan adaptasi teknologi, termasuk alih wahana ke film komedi digital saat pandemi. Studi ini menegaskan bahwa tabbhuwânmemperlihatkan vitalitas tradisi rakyat yang kreatif, fleksibel, dan berdaya hidup di tengah tekanan modernitas.
Pagelaran Mamaca dan Proses Menjadi Manusia Madura Panakajaya Hidayatullah
Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik Vol. 2 No. 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/musikolastika.v2i2.44

Abstract

Masyarakat Madura mewarisi tradisi sastra lisan yang sampai saat ini masih dipertahankan, yakni tradisi mamaca. Mamaca adalah salah satu seni tradisi yang hidup dalam masyarakat Madura sejak masuknya Islam ke Jawa dan Madura. Teks mamaca ada beragam jenisnya di antaranya yaitu Nor Bhuwwât (Kisah kanjeng Nabi Muhammad), Pandhâbâ (kumpulan cerita Pandawa), dan Juwâr Manik. Teks tersebut memiliki fungsi dan pemaknaannya sendiri. Biasanya pemilihan teks yang dibacakan menyesuaikan dengan konteks acaranya. mamaca biasa digunakan dalam dua jenis acara yakni acara yang bersifat sakral seperti Rokat Pandhâbâ (ruwat anak pandawa), Mèrèt Kandung (selamatan kehamilan), Molotan (peringatan maulud Nabi) dan Isra' Mi'raj (peringatan Isra' Mi'raj); serta acara yang bersifat profan yaitu kompolan mamaca (perkumpulan mamaca), arisan mamaca (arisan mamaca), dan hiburan. Bagi masyarakat Madura khususnya di Sumenep Madura, mamaca tidak hanya sekedar pagelaran seni semata namun sebuah proses untuk mengenali diri (Ngajhi Abâ’), mempelajari tatakrama (adhâb), internalisasi nilai-nilai Islam dan menjadi manusia Madura seutuhnya. Manusia Madura yang sopan, rendah hati, berbahasa halus, dan berserah diri. Perihal ini menarik untuk ditelaah, karena bertolak belakang dengan stereotype yang cenderung melekat pada masyarakat Madura sebagai masyarakat yang kasar, udik, suka berkelahi, dan keras kepala. Melalui pendekatan performance studies, pagelaran mamaca dapat ditafsir beberapa moda pertunjukannya (mode of performance) antara lain cara berpakaian yang menunjukkan simbol kehormatan dan relasi kuasanya, posisi pertunjukan, bentuk musikal yang lembut dan lambat, serta penggunaan beberapa perangkat pengeras suara yang mengingatkan akan nilai-nilai kehidupan dan sebagai simbol masyarakat komunal. KATA KUNCI : tradisi lisan, mamaca, madura, pagelaran, sumenap
Various Language Expressions in The Criticism of Madurese People on Social Media Field Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Ali Badrudin
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 28 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v28i1.2352

Abstract

The Madurese community in Situbondo is a group of people who are still 'unfamiliar' with the internet media (social media). Their lack of understanding in using social media often creates problems in society. This article is the result of ethnography of communication research which discusses criticism behavior of Madurese people in Situbondo in social media. It comprehensively analyzes aspects of use of language choice, motive of language choice and language formulation expressed by informants. Research findings show that: 1) Situbondo people express criticism in social media by using code of Madurese language and mixed Madurese-Indonesia and Madurese-English, and they are expressed through some patterns which are humor, figurative, threatening and affirmative, direct and indirect satire, Kiyai quote and lyrical/poetical pattern; 2) Some motives background of choice of language code in expressing criticism are influenced by aspects of hierarchy in a context of diglosia society, politic of identity; dimension of ethnic group and psychological and cultural motives. Formulation of these findings explain that most of criticism model of Madurese people in Situbondo through social media is manifestation of habit in expressing criticism in real world. Something avoided is criticism model using sarcasm sentence, containing hate speech, offending pride, social status, family and feeling of interlocutors. Expressive and outspoken criticism in social media are also considered to be dangerous and unacceptable by people because they create ‘floating’ (unclear) interpretation, and potential to be misinterpreted. While some acceptable criticism are criticism model expressed by fine language and expressed by humor, figurative, fine satire and lyrical/poetical patterns.