Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PANJHAK SEBAGAI AGEN PENGEMBANG KARAKTER BUDAYA DALAM MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Panakajaya Hidayatullah
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8550.387 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian etnografi dengan menggunakan perspektif historis antropologis. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang; 1) Makna panjhak bagi masyarakat Madura di Situbondo; 2). Peran panjhak sebagai agen pengembang karakter budaya di Situbondo, serta 3) Relasi antara panjhak dengan masyarakat Madura di Situbondo. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam konteks masyarakat Madura di Situbondo, panjhak dimaknai sebagai figur yang mewakili tokoh 'ghuru'. Ia mampu mengartikulasikan nilai religiusitas dan sosial kepada masyarakat. Panjhak dan masyarakat merupakan suatu jalinan relasi dialektik yang mampu membangun dan mengembangkan karakter budaya di Situbondo. Panjhak menjalankan peran pentingnya sebagai agen pengembang karakter budaya melalui refleksi dan konstruksi identitas kultural dalam karya seni pertunjukan yang bersifat estetik dan simbolik.
Menjadi Tandâ’ Binè’: Perjalanan Trisnawati Sebagai Penari Remo dan Pemain Ludruk Geddongan Panakajaya Hidayatullah
Jantra. Vol 15 No 2 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/jantra.v15i2.139

Abstract

This study examines the dynamics of Trisnawati’s life as a female artist in the realm of Madurese culture in Situbondo. The highlight of this research is to describe the dynamics of Trisnawati’s life journey, the problems faced by Madurese female artists, and her contribution as agents of cultural development in the regions.This study uses a qualitative approach, which elaborates the research data through in-depth interviews, literature review, and direct performance observations.The findings of this study are 1). Trisnawati’s life journey as a Madurese artist is motivated by her family, who also works as a traditional artist. Trisnawati’s artistic career began in the geddongan arena, from which she began to learn to understand the dynamics of life, absorb reality, and build her character.2). Trisnawati is known as a multitalented artist, she is a remo dancer, ludruk player, tokang kèjhung, and comedian. Her most recognizable contribution is her creation of the Remo Trisnawati dance which eventually became the attention of many dance academics and critics from various universities.3) In the realm of cultural development, Trisnawati succeeded in breaking through the dominant discourse in Madurese society which in turn opened up opportunities for women to take part in the public sphere. This also opens upnew possibilities and opportunities for the development of performing arts in Situbondo as an artistic aesthetic consequence of the involvement of female artists in the Madurese performing arts scene.
Konteks Penggunaan dan Penyampaian Kritik Masyarakat Madura dalam Ranah Pergaulan Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Ali Badrudin
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol 1 No 2 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.888 KB) | DOI: 10.21009/Arif.012.01

Abstract

Penelitan ini mengkaji penggunaan ungkapan kritik masyarakat Madura dalam ranah pergaulan dan tetangga di Besuki Raya. Fokus penelitian mengungkap 1) konteks kritik tersebut diproduksi, 2) bentuk dan model kritik, serta 3) fungsi kritik. Penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi. Penyediaan data menggunakan teknik simak, sumber data berupa ungkapan (lisan) dari masyarakat Madura yang direkam/catat sebagai data primer. Temuan dalam penelitian ini: 1) kritik disampaikan dalam konteks komunikasi dalam ranah keluarga, meliputi utang piutang, antartetangga, dan ketubuhan; 2) bentuk dan model kritik yang digunakan yakni menggunakan metafora, humor, nasihat, bahasa kasar, ancaman halus, nyanyian, orang ketiga, surat tulis, objek benda, objek hewan, sanjungan, dan menggerutu (ngaronyam); 3) fungsi kritik dalam ranah pergaulan dan tetangga meliputi bentuk perhatian dengan mengutarakan kesalahan dan kekurangan orang lain, bentuk keakraban antarteman dan tetangga, ekspresi untuk mengungkapkan kekesalan.
Character Education for the Young Generation Through the Mamaca Madura School In Situbondo Regency Agustina Dewi Setyari; Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Dewi Angelina
Jurma : Jurnal Program Mahasiswa Kreatif Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : LPPM UIKA Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/jurma.v6i2.1605

Abstract

Mamaca is a tradition of the Madurese community in the form of reading texts in the form of poetry by singing them so that mamaca must use beautiful or archaic language. The stories in the Mamaca text come from babad stories, stories of prophets, stories of historical figures, as well as stories taken from fictional stories or figures that are filled with petotor or advice. Based on the various contents of the text, making mamaca is very important for strengthening the character of young people, one of them in Situbondo. Mamaca is one of the intangible inheritances (WTB) in Situbondo. The problem that then arises is the difficulty of regenerating the mamaca tradition. Through the piloting of the Mamaca School in the Arjasa Situbondo District, it is hoped that the Mamaca tradition will continue to grow rapidly among the younger generation. With the acceptance of the mamaca tradition in the younger generation, it is hoped that character education can be carried out through this tradition.
MEWUJUDKAN SITUBONDO INKLUSI: PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG WACANA DISABILITAS MELALUI PRODUKSI FILM Rijadi, Arief; Hidayatullah, Panakajaya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2023): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v6i1.1758

Abstract

ABSTRACTThis community service activity aims to support the creation of Situbondo Regency as an inclusion city. The service team of Jember University collaborated with the disability pillar care Program implemented by PPDi Situbondo. The concrete steps of this service activity include (1) reviewing the development of disability issues and discourses to make it into a film Concept, (2) realizing the concept into a fiction film script with the theme of disability. The implementation method is carried out in three stages, namely the preparatory stage, the mentoring and production stage, the evaluation stage. The results of the implementation of this service have realized two stages, namely the first, building a commitment with partners (PPDi Situbondo) through FGD activities. FGD results have been obtained information that there are still various problems in realizing Situbondo as a disability-friendly city. The results of the FGD were finally focused on the field of Education. This is in accordance with the results of the FGD that PPDiS partners prefer to direct disability-friendly environmental education programs to the people of Situbondo Regency. The second stage is to socialize the draft of the disability fiction film script through FGD with partners. The second phase of the FGD focused on discussing the draft script for disability fiction films by discussing characters and character figures. It also discusses the scenario of disability fiction films. The results of the FGD have produced several characters and characters consisting of six characters and a fictional disability film scenario.Keywords: Situbondo inclusion, fiction film, disabilityABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung terciptanya Kabupaten Situbondo sebagai kota inklusi. Tim pengabdian Universitas Jember berkolaborasi dengan Program Peduli Pilar Disabilitas yang dilaksanakan oleh PPDi Situbondo. Langkah–langkah konkret kegiatan pengabdian ini antara lain, (1) penelaahan perkembangan isu dan wacana disabilitas untuk mewujudkannya ke dalam konsep film, (2) merealisasikan konsep menjadi naskah film fiksi bertema disabilitas. Metode pelaksanaan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pendampingan dan produksi, tahap evaluasi. Hasil pelaksanaan pengabdian ini telah mewujudkan dua tahap yaitu pertama, membangun komitmen dengan mitra (PPDIS Situbondo) melalui kegiatan FGD. Hasil FGD telah diperoleh informasi bahwa masih ditemukan berbagai masalah dalam mewujudkan Situbondo sebagai kota ramah disabilitas. Hasil FGD tersebut akhirnya difokuskan pada bidang pendidikan. Hal ini sesuai dengan hasil FGD bahwa mitra PPDIS lebih mengarahkan program pendidikan lingkungan ramah disabilitas kepada masyarakat Kabupaten Situbondo. Tahap kedua, melakukan sosialisasi draf naskah film fiksi disabilitas melalui FGD dengan pihak mitra. FGD tahap kedua difokuskan pada pembahasan draf naskah film fiksi disabilitas dengan mendiskusikan tokoh dan karakter tokoh. Selain itu juga membahas skenario film fiksi disabilitas. Hasil FGD telah menghasilkan beberapa tokoh dan karakternya yang terdiri atas enam tokoh serta skenario film fiksi disabilitas.Kata Kunci: Situbondo inklusi, film fiksi, disabilitas
PENGALAMAN RELIJIUSITAS DALAM TEATER TRADISIONAL MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.522 KB) | DOI: 10.52829/pw.121

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni dengan menggunakan metode etnografi. Secara komprehensif menyoroti persoalan mengenai pengalaman relijiusitas masyarakat Madura di Situbondo dalam pertunjukan teater tradisional: Drama Al Badar dan Tabbhuwân Wali Sanga. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman relijiusitas masyarakat Madura melalui seni lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibuktikan dari beberapa pengalaman pelaku seni dan penonton yang memaknai seni teater tradisional sebagai bagian dari laku spiritualnya. Internalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat Madura cenderung lebih mudah diterima melalui seni tradisi. Relijiusitas melalui teater tradisional ini menunjukkan kecenderungan Islam tradisional, bisa dikatakan juga Islam kultural, atau Islam yang bisa integral dengan budaya lokal (sinkretis). Pengalaman relijiusitas ini juga dapat dijelaskan melalui sifat seni tradisi yang mampu menghadirkan peristiwa ‘ambang’ pada pelaku seni dan penontonnya. Peristiwa ‘ambang’ memberikan pengalaman yang kompleks, ambigu, pelik, serta membuka kemungkinan alternatif dan cara pandang yang baru dalam memahami dunia dan kehidupan. Melalui pengalaman relijiusitas yang dihadirkan oleh peristiwa ‘ambang’ inilah masyarakat Madura menemukan momen perjumpaannya dengan Tuhan.____________________________________________________________This article is the result of anthropological research using ethnographic methods. Comprehensively highlight the issue of the religious experience of Madurese people in Situbondo in traditional theater performances: Drama Al Badar and Tabbhuwân Wali Sanga. The results of the study show that the religious experience of Madurese people through art can be closer to God. Evidenced by several experiences of art performers and spectators who interpret traditional theater art as part of their spiritual practice. Internalization of Islamic values to the Madurese people tends to be more easily accepted through traditional arts. Religion through traditional theater shows the tendency of traditional Islam, it can be said that cultural Islam, or Islam can be integral to local culture (syncretic). This religious experience can also be explained by the nature of traditional art that is able to present the ‘liminal’ event to the art performer and the audience. The ‘liminal’ event provides a complex, ambiguous, complicated experience, and opens up alternative possibilities and new perspectives in understanding the world and life. Through the religious experience presented by the ‘liminal’ event, the Madurese found the moment of their encounter with God. 
Pasemon Sebagai Bahasa Kritik Dalam Seni Pertunjukan Masyarakat Madura Sofyan, Akhmad; Hidayatullah, Panakajaya; Badrudin, Ali
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 2 (2020): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.306

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni yang membahas perihal pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura. Secara komprehensif menelaah tentang klasifikasi model pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura ditinjau secara semiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pasemon dalam seni pertunjukan terbagi atas 3 model yakni Model Papareghân/paparèkan; Model sindiran langsung; dan Model penokohan; Model Paparèkan merupakan model kritik yang disampaikan melalui bentuk pantun tradisional berbahasa Madura baik secara langsung maupun melalui kèjhungan(nyanyian). Paparèkan digunakan untuk mengkritik lawan main dalam pertunjukan, maupun untuk mengkritik fenomena sosial masyarakat. Model sindiran langsung, merupakan moda kritik yang diucapkan secara langung dengan kalimat yang lugas oleh aktor/pelawak di atas panggung. Umumnya sindiran diucapkan dengan gaya humor. Sindiran langsung digunakan untuk mengkritik penonton, tuan rumah, situasi sosial maupun perilaku masyarakat hari ini. Model penokohan, adalah moda kritik
Menimbang Ruang - Menjajaki Peluang: Siasat Seniman Madura Beradaptasi dengan Pandemi dan Teknologi Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 3 (2021): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.343

Abstract

Pandemi Covid-19 hadir dengan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Lesunya perekonomian yang diakibatkan oleh pembatasan aktivitas dan penggunaan ruang publik, melahirkan pelbagai aktivitas baru sebagai jalan alternatif menyiasati keterbatasan dan keterpurukan, termasuk di dalamnya praktik seni tradisional di masyarakat lokal. Sorotan penelitian ini hendak menguraikan fenomena praktik berkesenian seniman tradisional dan masyarakat lokal di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya dalam menyiasati teknologi dan pandemi. Mewacanakan pelbagai praktik kesenian di luar arus utama, di wilayah ‘pinggiran’ (lokal), yang seringkali luput dan terabaikan dalam diskusi-diskusi tentang seni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara mendalam. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena pandemi di kalangan masyarakat lokal (kebudayaan Madura di Sumenep, Situbondo dan sekitarnya) telah melahirkan konten-konten karya seni media rekam yang unik dan khas, seperti 1) Sinema Komedi berbahasa Madura:alih wahana seni pertunjukan ketoprak ke sinema audio visual. Praktik ini awalnya dilakukan oleh para seniman tradisi, kemudian banyak bermunculan karya-karya serupa yang digarap oleh anak-anak muda lokal dengan gaya dan cita rasa yang berbeda; 2) Panggung Seni Virtual, praktik ini merupakan upaya masyarakat lokal dan seniman tradisi mempergelarkan karyanya dalam ruang panggung yang baru. Secara tidak sadar mereka telah melakukan pendokumentasian budaya yang berperan penting bagi perkembangan kebudayaan daerah.
Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People In Digital era Hidayatullah, Panakajaya
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 21, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v21i1.3995

Abstract

Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People. In Digital era This paper is a result of anthropology research by using cultural studies perspectives. This article, comprehensively, discuss; 1) musical relation between Western and traditional music in sangposangan; 2) a kind of ‘post-harmony’ sangposangan by using musicology analysis through musical text of Angling Madura song. The result of study shows an encounter between western and Madurese traditional music in sangposangan music which can produce a new musical entity (harmony of other).  Post-harmony sangposangan is manifested in dynamic composition which are; 1) dangdut composition in EDM syle, and 2) contrast change from dangdut koplo to pure dangdut. Post-harmony can be read as intuition, emotion, sense and instinct which can drive creative process of sangposangan music. It does not come from rigid notation system but it is constructed from rhythm of Madurese people’s life.ABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian antropologi musik dengan menggunakan perspektif kajian budaya. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang 1) relasi musikal antara musik Barat dan tradisional dalam musik sangposangan; 2) menelaah tentang bentuk ‘post-harmoni’ sangposangan melalui analisis musikologis dari teks musikal gending Angling Madura. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertemuan musikal antara musik Barat dan tradisional Madura dalam musik sangposangan mampu menghasilkan sebuah entitas musikal yang baru (‘harmoni yang lain’). Post-harmoni sangposangan diwujudkan dalam dinamika garap yang dinamis yaitu 1) garap dangdut ala EDM, dan 2) perubahan kontras dari dangdut koplo ke dangdut piur. Post-harmoni dapat dibaca sebagai sebuah naluri, emosi, sense dan insting yang menjadi penggerak dari proses kreatif musik sangposangan. Ia tidak berangkat dari sistem notasi yang kaku, tetapi dibangun dari ritme kehidupan masyarakat Madura.Kata kunci: Sangposangan; Post – Harmony; Madura, Musik
Gamelan Reinvented: Cultural Sound Transformation in Membranophone Ensembles of East Java Hidayatullah, Panakajaya; Simatupang, Gabriel Roosmargo Lono Lastoro; Setiawan, Aris; Livera, Kristen Angela
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i3.14537

Abstract

This study explores the phenomenon of pèghâ' in the musical traditions of terbhâng ghendhing and kemplang in Probolinggo and Bondowoso, which emerged as a response to past religious prohibitions on the use of metal gamelan instruments. The research focuses on uncovering the adaptation of metal gamelan music into the membranophone ensembles of terbhâng ghendhing and kemplang from a musicological perspective. Using qualitative approaches and ethnographic methods, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and literature review. The findings reveal that elements such as kejhungan, drumming patterns, bonang patterns, and gending structures were preserved, although the shift from metal to membrane caused significant changes. These changes resulted in a playing style that is more repetitive, dynamic, and aligned with the membranophone's characteristics. This study also challenges the conventional view of membranophones as purely rhythmic instruments, demonstrating their capability to perform complex melodic roles in terbhâng ghendhing and kemplang. The process of pèghâ' underscores traditional music as a dynamic entity that continues to evolve through local creativity, creating new musical identities while maintaining its cultural roots.