Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengembangan Kualitas Pengkaryaan Sanggar Seni Kembhâng Moljâ Melalui Keterampilan Perekaman Audio Untuk Meningkatkan Potensi Kesenian Di Situbondo Panakajaya Hidayatullah
Warta Pengabdian Vol 12 No 4 (2018): Warta Pengabdian
Publisher : LP2M Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/wrtp.v12i4.9068

Abstract

Kegiatan ini merupakan program pengabdian yang berfokus pada pengembangan kualitas individu dan kelompok sanggar Kembhâng Moljâ di Situbondo, secara konkret berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di dalam sanggar tersebut, melalui 1) Pelatihan tentang pendokumentasian karya (audio recording) secara metodis dan teoritis; 2) Dari hasil pelatihan diharapkan dapat langsung diterapkan menjadi media pembelajaran, sehingga dapat mengoptimalkan proses kreatif pengkaryaan, dan bisa ditransformasikan ke khalayak luas; 3) Memberikan metode dan konsep tetang pengembangan karya seni khususnya dalam konsep perekaman karya (audio-visual). Hasil yang dicapai dari kegiatan pendampingan ini ialah sebuah pengembangan sumber daya manusia dalam sanggar seni Kembhâng Moljâ. Para anggota sanggar seni Kembhâng Moljâ yang mengikuti pelatihan, mendapatkan sebuah pemahaman tentang, 1) Pengetahuan perekaman audio, prinsip-prinsipnya serta teknis mengerjakannya; 2) Keterampilan dalam merekam karya secara profesional yang terbagi dalam tiga tahapan yakni tracking-recording, mixing, dan mastering; 3) Membuat media pembelajaran berbasis rekaman. Kata Kunci: pengembangan kualitas, sanggar seni, dokumentasi karya, Situbondo
Penggalian Motif Ukir Lokal Guna Meningkatkan Kualitas Rumah Ukir Desa Pokaan, Kabupaten Situbondo Panakajaya Hidayatullah
Warta Pengabdian Vol 12 No 3 (2018): Warta Pengabdian
Publisher : LP2M Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/wrtp.v12i3.9065

Abstract

Rumah ukir di Desa Pokaan merupakan rumah produksi seni ukir dan destinasi wisata edukasi yang diinisiasi oleh masyarakat Desa Pokaan. Direalisasi oleh mahasiswa KKN dan telah di-launching pada bulan Agustus 2018. Selain menyelenggarakan wisata edukasi untuk masyarakat, rumah ukir juga aktif memproduksi karya seni ukir yang dijual ke Bali baik dalam jumlah yang besar maupun kecil. Seluruh karyawan yang bekerja di rumah ukir merupakan masyarakat usia produktif di Desa Pokaan. Eksistensi rumah ukir diharapkan dapat menumbuh kembangkan minat masyarakat Desa Pokaan untuk bergerak berwirausaha. Mengingat di Desa Pokaan setidaknya ada dua pengrajin ukir dan beberapa masyarakatnya rata-rata terampil mengukir. Mengembangkan wisata edukasi merupakan salah satu upaya untuk membangun kesejahteraan Desa, serta mendukung program pemerintah Kabupaten Situbondo pada tahun kunjungan wisata 2019. Melihat potensi Desa Pokaan yang kaya dengan seni ukir, pada saat launching pemerintah Desa dan Kecamatan berkomitmen bahwa dalam jangka panjang akan mencanangkan (branding) Desa Pokaan sebagai Desa Wisata ‘Sentra Ukir’. Ada beberapa kendala yang terjadi di rumah ukir Desa Pokaan, pertama adalah rumah ukir belum memiliki ciri khas (karakteristik) motif dan pola ukirnya sehingga belum cukup mampu untuk membranding potensi lokal Desanya. Kedua teknologi dan metode penggarapan serta mekanisme manajemennya masih menggunakan cara – cara tradisional. Kegiatan pengabdian ini berfokus untuk mengatasi kedua kendala yang dihadapi oleh rumah ukir Desa Pokaan. Melalui penggalian potensi lokal untuk diaktualisasikan ke dalam bentuk motif dan pola ukir sehingga dapat menjadi ciri khas ukiran lokal, serta melakukan pendampingan dan pengembangan skill dalam hal penerapan teknologi, metode dan manajeman produksi. Kata Kunci: Pengembagan Kualitas, Motif Lokal, Wisata Edukasi, Rumah Ukir, Pokaan
Pagelaran Mamaca dan Proses Menjadi Manusia Madura Panakajaya Hidayatullah
Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik Vol 2 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik FBS UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/musikolastika.v2i2.44

Abstract

Masyarakat Madura mewarisi tradisi sastra lisan yang sampai saat ini masih dipertahankan, yakni tradisi mamaca. Mamaca adalah salah satu seni tradisi yang hidup dalam masyarakat Madura sejak masuknya Islam ke Jawa dan Madura. Teks mamaca ada beragam jenisnya di antaranya yaitu Nor Bhuwwât (Kisah kanjeng Nabi Muhammad), Pandhâbâ (kumpulan cerita Pandawa), dan Juwâr Manik. Teks tersebut memiliki fungsi dan pemaknaannya sendiri. Biasanya pemilihan teks yang dibacakan menyesuaikan dengan konteks acaranya. mamaca biasa digunakan dalam dua jenis acara yakni acara yang bersifat sakral seperti Rokat Pandhâbâ (ruwat anak pandawa), Mèrèt Kandung (selamatan kehamilan), Molotan (peringatan maulud Nabi) dan Isra' Mi'raj (peringatan Isra' Mi'raj); serta acara yang bersifat profan yaitu kompolan mamaca (perkumpulan mamaca), arisan mamaca (arisan mamaca), dan hiburan. Bagi masyarakat Madura khususnya di Sumenep Madura, mamaca tidak hanya sekedar pagelaran seni semata namun sebuah proses untuk mengenali diri (Ngajhi Abâ’), mempelajari tatakrama (adhâb), internalisasi nilai-nilai Islam dan menjadi manusia Madura seutuhnya. Manusia Madura yang sopan, rendah hati, berbahasa halus, dan berserah diri. Perihal ini menarik untuk ditelaah, karena bertolak belakang dengan stereotype yang cenderung melekat pada masyarakat Madura sebagai masyarakat yang kasar, udik, suka berkelahi, dan keras kepala. Melalui pendekatan performance studies, pagelaran mamaca dapat ditafsir beberapa moda pertunjukannya (mode of performance) antara lain cara berpakaian yang menunjukkan simbol kehormatan dan relasi kuasanya, posisi pertunjukan, bentuk musikal yang lembut dan lambat, serta penggunaan beberapa perangkat pengeras suara yang mengingatkan akan nilai-nilai kehidupan dan sebagai simbol masyarakat komunal. KATA KUNCI : tradisi lisan, mamaca, madura, pagelaran, sumenap
PANJHAK SEBAGAI AGEN PENGEMBANG KARAKTER BUDAYA DALAM MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Panakajaya Hidayatullah
Jantra. Vol 12 No 2 (2017): Peran Tokoh Masyarakat dalam Pembangunan Karakter
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8550.387 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian etnografi dengan menggunakan perspektif historis antropologis. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang; 1) Makna panjhak bagi masyarakat Madura di Situbondo; 2). Peran panjhak sebagai agen pengembang karakter budaya di Situbondo, serta 3) Relasi antara panjhak dengan masyarakat Madura di Situbondo. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam konteks masyarakat Madura di Situbondo, panjhak dimaknai sebagai figur yang mewakili tokoh 'ghuru'. Ia mampu mengartikulasikan nilai religiusitas dan sosial kepada masyarakat. Panjhak dan masyarakat merupakan suatu jalinan relasi dialektik yang mampu membangun dan mengembangkan karakter budaya di Situbondo. Panjhak menjalankan peran pentingnya sebagai agen pengembang karakter budaya melalui refleksi dan konstruksi identitas kultural dalam karya seni pertunjukan yang bersifat estetik dan simbolik.
Menjadi Tandâ’ Binè’: Perjalanan Trisnawati Sebagai Penari Remo dan Pemain Ludruk Geddongan Panakajaya Hidayatullah
Jantra. Vol 15 No 2 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/jantra.v15i2.139

Abstract

This study examines the dynamics of Trisnawati’s life as a female artist in the realm of Madurese culture in Situbondo. The highlight of this research is to describe the dynamics of Trisnawati’s life journey, the problems faced by Madurese female artists, and her contribution as agents of cultural development in the regions.This study uses a qualitative approach, which elaborates the research data through in-depth interviews, literature review, and direct performance observations.The findings of this study are 1). Trisnawati’s life journey as a Madurese artist is motivated by her family, who also works as a traditional artist. Trisnawati’s artistic career began in the geddongan arena, from which she began to learn to understand the dynamics of life, absorb reality, and build her character.2). Trisnawati is known as a multitalented artist, she is a remo dancer, ludruk player, tokang kèjhung, and comedian. Her most recognizable contribution is her creation of the Remo Trisnawati dance which eventually became the attention of many dance academics and critics from various universities.3) In the realm of cultural development, Trisnawati succeeded in breaking through the dominant discourse in Madurese society which in turn opened up opportunities for women to take part in the public sphere. This also opens upnew possibilities and opportunities for the development of performing arts in Situbondo as an artistic aesthetic consequence of the involvement of female artists in the Madurese performing arts scene.
Konteks Penggunaan dan Penyampaian Kritik Masyarakat Madura dalam Ranah Pergaulan Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Ali Badrudin
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol 1 No 2 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.888 KB) | DOI: 10.21009/Arif.012.01

Abstract

Penelitan ini mengkaji penggunaan ungkapan kritik masyarakat Madura dalam ranah pergaulan dan tetangga di Besuki Raya. Fokus penelitian mengungkap 1) konteks kritik tersebut diproduksi, 2) bentuk dan model kritik, serta 3) fungsi kritik. Penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi. Penyediaan data menggunakan teknik simak, sumber data berupa ungkapan (lisan) dari masyarakat Madura yang direkam/catat sebagai data primer. Temuan dalam penelitian ini: 1) kritik disampaikan dalam konteks komunikasi dalam ranah keluarga, meliputi utang piutang, antartetangga, dan ketubuhan; 2) bentuk dan model kritik yang digunakan yakni menggunakan metafora, humor, nasihat, bahasa kasar, ancaman halus, nyanyian, orang ketiga, surat tulis, objek benda, objek hewan, sanjungan, dan menggerutu (ngaronyam); 3) fungsi kritik dalam ranah pergaulan dan tetangga meliputi bentuk perhatian dengan mengutarakan kesalahan dan kekurangan orang lain, bentuk keakraban antarteman dan tetangga, ekspresi untuk mengungkapkan kekesalan.
Character Education for the Young Generation Through the Mamaca Madura School In Situbondo Regency Agustina Dewi Setyari; Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Dewi Angelina
Jurma : Jurnal Program Mahasiswa Kreatif Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : LPPM UIKA Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/jurma.v6i2.1605

Abstract

Mamaca is a tradition of the Madurese community in the form of reading texts in the form of poetry by singing them so that mamaca must use beautiful or archaic language. The stories in the Mamaca text come from babad stories, stories of prophets, stories of historical figures, as well as stories taken from fictional stories or figures that are filled with petotor or advice. Based on the various contents of the text, making mamaca is very important for strengthening the character of young people, one of them in Situbondo. Mamaca is one of the intangible inheritances (WTB) in Situbondo. The problem that then arises is the difficulty of regenerating the mamaca tradition. Through the piloting of the Mamaca School in the Arjasa Situbondo District, it is hoped that the Mamaca tradition will continue to grow rapidly among the younger generation. With the acceptance of the mamaca tradition in the younger generation, it is hoped that character education can be carried out through this tradition.
MEWUJUDKAN SITUBONDO INKLUSI: PENINGKATAN PEMAHAMAN TENTANG WACANA DISABILITAS MELALUI PRODUKSI FILM Rijadi, Arief; Hidayatullah, Panakajaya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2023): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v6i1.1758

Abstract

ABSTRACTThis community service activity aims to support the creation of Situbondo Regency as an inclusion city. The service team of Jember University collaborated with the disability pillar care Program implemented by PPDi Situbondo. The concrete steps of this service activity include (1) reviewing the development of disability issues and discourses to make it into a film Concept, (2) realizing the concept into a fiction film script with the theme of disability. The implementation method is carried out in three stages, namely the preparatory stage, the mentoring and production stage, the evaluation stage. The results of the implementation of this service have realized two stages, namely the first, building a commitment with partners (PPDi Situbondo) through FGD activities. FGD results have been obtained information that there are still various problems in realizing Situbondo as a disability-friendly city. The results of the FGD were finally focused on the field of Education. This is in accordance with the results of the FGD that PPDiS partners prefer to direct disability-friendly environmental education programs to the people of Situbondo Regency. The second stage is to socialize the draft of the disability fiction film script through FGD with partners. The second phase of the FGD focused on discussing the draft script for disability fiction films by discussing characters and character figures. It also discusses the scenario of disability fiction films. The results of the FGD have produced several characters and characters consisting of six characters and a fictional disability film scenario.Keywords: Situbondo inclusion, fiction film, disabilityABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung terciptanya Kabupaten Situbondo sebagai kota inklusi. Tim pengabdian Universitas Jember berkolaborasi dengan Program Peduli Pilar Disabilitas yang dilaksanakan oleh PPDi Situbondo. Langkah–langkah konkret kegiatan pengabdian ini antara lain, (1) penelaahan perkembangan isu dan wacana disabilitas untuk mewujudkannya ke dalam konsep film, (2) merealisasikan konsep menjadi naskah film fiksi bertema disabilitas. Metode pelaksanaan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pendampingan dan produksi, tahap evaluasi. Hasil pelaksanaan pengabdian ini telah mewujudkan dua tahap yaitu pertama, membangun komitmen dengan mitra (PPDIS Situbondo) melalui kegiatan FGD. Hasil FGD telah diperoleh informasi bahwa masih ditemukan berbagai masalah dalam mewujudkan Situbondo sebagai kota ramah disabilitas. Hasil FGD tersebut akhirnya difokuskan pada bidang pendidikan. Hal ini sesuai dengan hasil FGD bahwa mitra PPDIS lebih mengarahkan program pendidikan lingkungan ramah disabilitas kepada masyarakat Kabupaten Situbondo. Tahap kedua, melakukan sosialisasi draf naskah film fiksi disabilitas melalui FGD dengan pihak mitra. FGD tahap kedua difokuskan pada pembahasan draf naskah film fiksi disabilitas dengan mendiskusikan tokoh dan karakter tokoh. Selain itu juga membahas skenario film fiksi disabilitas. Hasil FGD telah menghasilkan beberapa tokoh dan karakternya yang terdiri atas enam tokoh serta skenario film fiksi disabilitas.Kata Kunci: Situbondo inklusi, film fiksi, disabilitas
PENGALAMAN RELIJIUSITAS DALAM TEATER TRADISIONAL MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO Hidayatullah, Panakajaya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 3 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.522 KB) | DOI: 10.52829/pw.121

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni dengan menggunakan metode etnografi. Secara komprehensif menyoroti persoalan mengenai pengalaman relijiusitas masyarakat Madura di Situbondo dalam pertunjukan teater tradisional: Drama Al Badar dan Tabbhuwân Wali Sanga. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman relijiusitas masyarakat Madura melalui seni lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibuktikan dari beberapa pengalaman pelaku seni dan penonton yang memaknai seni teater tradisional sebagai bagian dari laku spiritualnya. Internalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat Madura cenderung lebih mudah diterima melalui seni tradisi. Relijiusitas melalui teater tradisional ini menunjukkan kecenderungan Islam tradisional, bisa dikatakan juga Islam kultural, atau Islam yang bisa integral dengan budaya lokal (sinkretis). Pengalaman relijiusitas ini juga dapat dijelaskan melalui sifat seni tradisi yang mampu menghadirkan peristiwa ‘ambang’ pada pelaku seni dan penontonnya. Peristiwa ‘ambang’ memberikan pengalaman yang kompleks, ambigu, pelik, serta membuka kemungkinan alternatif dan cara pandang yang baru dalam memahami dunia dan kehidupan. Melalui pengalaman relijiusitas yang dihadirkan oleh peristiwa ‘ambang’ inilah masyarakat Madura menemukan momen perjumpaannya dengan Tuhan.____________________________________________________________This article is the result of anthropological research using ethnographic methods. Comprehensively highlight the issue of the religious experience of Madurese people in Situbondo in traditional theater performances: Drama Al Badar and Tabbhuwân Wali Sanga. The results of the study show that the religious experience of Madurese people through art can be closer to God. Evidenced by several experiences of art performers and spectators who interpret traditional theater art as part of their spiritual practice. Internalization of Islamic values to the Madurese people tends to be more easily accepted through traditional arts. Religion through traditional theater shows the tendency of traditional Islam, it can be said that cultural Islam, or Islam can be integral to local culture (syncretic). This religious experience can also be explained by the nature of traditional art that is able to present the ‘liminal’ event to the art performer and the audience. The ‘liminal’ event provides a complex, ambiguous, complicated experience, and opens up alternative possibilities and new perspectives in understanding the world and life. Through the religious experience presented by the ‘liminal’ event, the Madurese found the moment of their encounter with God. 
Pasemon Sebagai Bahasa Kritik Dalam Seni Pertunjukan Masyarakat Madura Sofyan, Akhmad; Hidayatullah, Panakajaya; Badrudin, Ali
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 2 (2020): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.306

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni yang membahas perihal pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura. Secara komprehensif menelaah tentang klasifikasi model pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura ditinjau secara semiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pasemon dalam seni pertunjukan terbagi atas 3 model yakni Model Papareghân/paparèkan; Model sindiran langsung; dan Model penokohan; Model Paparèkan merupakan model kritik yang disampaikan melalui bentuk pantun tradisional berbahasa Madura baik secara langsung maupun melalui kèjhungan(nyanyian). Paparèkan digunakan untuk mengkritik lawan main dalam pertunjukan, maupun untuk mengkritik fenomena sosial masyarakat. Model sindiran langsung, merupakan moda kritik yang diucapkan secara langung dengan kalimat yang lugas oleh aktor/pelawak di atas panggung. Umumnya sindiran diucapkan dengan gaya humor. Sindiran langsung digunakan untuk mengkritik penonton, tuan rumah, situasi sosial maupun perilaku masyarakat hari ini. Model penokohan, adalah moda kritik