Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Keberdayaan Spiritualitas Perempuan Islam dan Katolik: Studi Deskriptif-Komparatif Mistisisme Rabia al-Adawiyya dan Santa Thérèse dari Lisieux Aprianti, Penti; Purwadi, Yohanes Slamet
Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies Vol. 3 No. 1 (2024): Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies
Publisher : Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59029/int.v3i1.24

Abstract

Agama diyakini sebagai kuil untuk eksplorasi spiritualitas manusia yang juga digunakan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan memuliakan antarsesama. Namun, dalam tradisi yang patriarkal, agama malah digunakan untuk membenarkan peminggiran peran perempuan, yang dalam konteks ini, spiritualitasnya. Bagi Rabia al-Adawiyya dalam tradisi Islam abad ke-8 di Irak dan bagi Santa Thérèse dalam tradisi Katolik abad ke-19 di Prancis, mistisisme dapat menjadi cara untuk mentransformasi spiritualitas yang memberdayakan, bukan meminggirkan. Dengan kajian Integritas Terbuka, tulisan ini akan mengeksplorasi mistisisme Rabia dan Santa Thérèse dalam tradisi agama masing-masing, dan mengulik kontribusi mereka dalam memperjuangkan pentingnya tafsir spiritualitas religius   perempuan dalam perspektif mistisisme. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif.
BEYOND EPISTEMOLOGICAL RELIGIOUS TRUTH A REFLECTION OF THE OTHER OUTSIDE “TRUE-FALSE” CATEGORY Yohanes Slamet Purwadi
Jurnal Kawistara Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.3968

Abstract

The aim of this paper is to investigate the problematic and dynamic of ‘religious truth’, put into the context of religious freedom in today’s Indonesia. Generally speaking, the dominant discourse of religious truth in Indonesia is heavily determined by epistemological knowledge and understanding. In everyday language, through which this knowledge is produced and distributed, some epistemological categories, such as ‘deviant-believer’, ‘true- false’, and even ‘blasphemy’- are commonly applied. Here, in the problem lies these categorizations might open up possibility for the xation of ‘truth’, which in turn, inclines to subordinate what generically refer to as ‘the other’Seeking    an    alternative,    this    paper    attemptsto develop more favorable and inclusive religious understanding, which indebted to the mode of existential religious understanding including linguistic model of translation. Employing Ricouerian’s hermeneutics, this mode of existential understanding offers valuable critique to the monopoly and orthodoxy of religious truth. Moving further, it promotes the others as an interpretative horizon and a ‘circling way’, through which we enrich our religious understanding, as well as self-understanding.
Metafisika Keterbatasan dan Pluralisme Agama Menurut John Hick Purwadi, Yohanes Slamet
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 6, No 1 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i1.24854

Abstract

Artikel ini membahas konsep metafisika keterbatasan sebagai basis bagi pluralisme perspektif John Hick. Metode kualitatif jenis study literature digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep metafisika keterbatasan memainkan peran penting dalam pemikiran John Hick tentang pluralisme agama. Menurut Hick, keberagaman agama dan keyakinan adalah suatu keniscayaan dalam kondisi keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, konsep keterbatasan ini menjadi dasar bagi pandangan pluralis Hick. Hick berpendapat bahwa setiap agama memiliki akses terbatas dalam memahami kebenaran mutlak, dan pandangan pluralis mengakui bahwa masing-masing agama memiliki kebenaran dan nilai yang berbeda-beda. Namun, pandangan ini juga menunjukkan bahwa kebenaran mutlak dapat dipahami secara lebih utuh melalui dialog dan pengalaman antaragama. Dalam konteks ini, Hick mengembangkan teori relativitas agama dan mengusulkan bahwa keberagaman agama tidak bertentangan dengan kebenaran mutlak. Sebaliknya, keberagaman agama dapat menjadi jalan menuju pengalaman kebenaran yang lebih dalam dan universal. Kesimpulannya, jurnal ini menyajikan pandangan Hick tentang pluralisme agama berdasarkan konsep metafisika keterbatasan. Studi literature yang dilakukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa keberagaman agama dan keyakinan dapat dipahami dan dihargai secara lebih baik melalui dialog dan pengalaman antaragama, yang merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran mutlak.
Narasi Kiamat dan Kebuntuan Kapitalisme: Refleksi Kritis atas Kajian Apokaliptik Mark Fisher Ziaul Haq, Mochamad; Sugiharto, Ignasius Bambang; Purwadi, Yohanes Slamet
TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Vol. 7 No. 2 (2024): Temali: Jurnal Pembangunan Sosial
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jt.v7i2.37676

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi konsep kiamat dalam kompleksitas dan ambiguitasnya. Di satu pihak, mengikuti perspektif Mark Fisher, kiamat dilihat berkaitan erat dengan kondisi eksternal, khususnya percaturan ideologis antara kapitalisme dan sosialisme. Di pihak lain kiamat juga dilihat dari perspektif internal, yakni dari sistem naratif yang diyakini menjadi sikap mental-spiritual. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data studi literatur. Sumber utama yang digunakan adalah teks dari Mark Fisher, yang kemudian ditanggapi berdasarkan perspektif Filsafat Perennial, Psikiatri maupun Neuroscience. Hasil penelitian menunjukan bahwa wacana tentang kiamat memang bisa dilihat sebagai gejala kecemasan dan ketidakpastian yang berkaitan erat dengan krisis kapitalisme, tapi yang lebih mendasar adalah sebagai akibat prevalensi sikap mental-spiritual negatif manusia sendiri. Pada akhirnya kiamat akan lebih baik bila dilihat sebagai peluang transformasi kesadaran kolektif ke arah nilai-nilai yang lebih positif
Metafisika Keterbatasan dan Pluralisme Agama Menurut John Hick Purwadi, Yohanes Slamet
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 6 No. 1 (2023): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v6i1.24854

Abstract

Artikel ini membahas konsep metafisika keterbatasan sebagai basis bagi pluralisme perspektif John Hick. Metode kualitatif jenis study literature digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh dari sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep metafisika keterbatasan memainkan peran penting dalam pemikiran John Hick tentang pluralisme agama. Menurut Hick, keberagaman agama dan keyakinan adalah suatu keniscayaan dalam kondisi keterbatasan manusia dalam mencapai kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, konsep keterbatasan ini menjadi dasar bagi pandangan pluralis Hick. Hick berpendapat bahwa setiap agama memiliki akses terbatas dalam memahami kebenaran mutlak, dan pandangan pluralis mengakui bahwa masing-masing agama memiliki kebenaran dan nilai yang berbeda-beda. Namun, pandangan ini juga menunjukkan bahwa kebenaran mutlak dapat dipahami secara lebih utuh melalui dialog dan pengalaman antaragama. Dalam konteks ini, Hick mengembangkan teori relativitas agama dan mengusulkan bahwa keberagaman agama tidak bertentangan dengan kebenaran mutlak. Sebaliknya, keberagaman agama dapat menjadi jalan menuju pengalaman kebenaran yang lebih dalam dan universal. Kesimpulannya, jurnal ini menyajikan pandangan Hick tentang pluralisme agama berdasarkan konsep metafisika keterbatasan. Studi literature yang dilakukan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa keberagaman agama dan keyakinan dapat dipahami dan dihargai secara lebih baik melalui dialog dan pengalaman antaragama, yang merupakan jalan menuju pemahaman yang lebih utuh tentang kebenaran mutlak.