Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

IDENTIFIKASI PERSONAL DAN IDENTIFIKASI KORBAN BENCANA MASSAL DI BLU RSUP PROF DR R.D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2012 Monica, Gladys L.; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2631

Abstract

Abstract: In forensic identification, the identity is determined by comparing two sets of data, antemortem and postmortem. This identification is important to the victims? families because that is the embodiment of human rights and reverence to the deceased body. This study aimed to obtain data regarding the management of personal and disaster victims? identification in Prof. Dr. R.D Kandou Hospital Manado from January 2010 through December 2012. This was a retrospective study with a cross sectional design. Data were obtained from the Forensic Medicine Department in Prof. Dr. R.D Kandou Hospital, Manado. Samples were dead bodies without any identities. The results showed that during 2010-2012 there were 20 dead bodies without identities out of the total 7,296, consisting of 3 fresh dead bodies, 4 fetus suspected due to abortion, 3 dead bodies in skeleton forms, and 10 disaster victims (a heli crash). Non-disaster victims were identified by using visual, documentary, personal property, and medical examination methods, meanwhile disaster victims were identified by using the standard procedure for disaster victim identification (DVI) from interpol. Conclusion: The implementation of identification in Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital from January 2010 through December 2012 used visual, documentary, personal property, and medical examination  methods. Moreover, identification of disaster victims were carried out by using the DVI from interpol. The descriptions were stated in the deduction reports which contained morgue data, autopsy examinations, and conclusions. Keywords: identification, dead victims, disaster, DVI.     Abstrak: Identifikasi forensik penting dilakukan terhadap korban meninggal karena merupakan perwujudan HAM dan penghormatan terhadap yang telah meninggal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pelaksanaan identifikasi personal dan korban bencana massal di BLU RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado pada periode tahun 2010-2012. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif dengan cross sectional design. Data yang digunakan ialah data sekunder berupa laporan yang diperoleh dari Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal BLU RSUP Prof Dr. R.D. Kandou Manado. Sebagai sampel yaitu data jenazah tanpa identitas dan diperoleh sebanyak 20 sampel yang terdiri dari 3 jenazah segar, 4 janin yang diduga merupakan korban aborsi, 3 jenazah dalam bentuk kerangka, dan 10 jenazah akibat kecelakaan lintas udara (heli crash) di Bitung. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan metode visual, dokumen, properti, dan medik. Untuk korban kecelakaan lintas udara, identifikasi dilakukan dengan menggunakan prosedur standar Interpol yaitu Disaster Victim Identification (DVI). Simpulan: Pelaksanaan identifikasi di BLU RSUP Prof DR R.D Kandou Manado periode Januari 2010-Desember 2012 menggunakan metode visual, dokumen, properti, dan medik, sedangkan untuk identifikasi korban bencana massal digunakan DVI. Uraian mengenai metode tersebut tersirat dalam laporan deduksi yang memuat data jenazah, hasil pemeriksaan fisik (luar dan dalam), serta simpulan. Kata kunci: identifikasi, jenazah, Bencana, DVI.
TINJAUAN MEDIKOLEGAL PERKIRAAN SAAT KEMATIAN Senduk, Eklesia A; Mallo, Johannis F.; Tomuka, Djemi Ch.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2604

Abstract

Abstract: Most human beings will experience cycles of life, including the processes of natural conception, birth, and death. From the various life cycles mentioned, death is the one that still contains a huge mystery. Death also affects the close relatives and others connected to the deceased. Death  is not only a medical and social issue, but also an important legal issue. In homicide cases, the estimated time of death can help reveal the identity of the murderer,  and as a clue to the whereabouts of the crime scene. A certification of death made by a medical doctor will help the deceased’s relatives to claim insurance, legally change his/her marriage status, and  other legal interests. It is every medical doctor’s concern to master the basics of estimating post mortem intervals. Keywords: post mortem interval, death    Abstrak: Semua makhluk hidup termasuk manusia akan mengalami siklus kehidupan, berawal dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan didunia, dan diakhiri dengan kematian. Dengan kata lain semua manusia sudah didiagnosis untuk mati. Kematian tidak hanya akan mempengaruhi almarhum/almarhumah saja, namun juga keluarga maupun orang-orang yang terhubung dengan almarhum/almarhumah.  Kematian bukan hanya masalah medis dan sosial, namun juga merupakan masalah hukum yang teramat penting. Perkiraan saat kematian akan membantu penyidik untuk membuka identitas pembunuh, dan memberi petunjuk mengenai dimana sebenarnya tempat kejadian perkara. Sertifikasi kematian oleh dokter juga akan membantu keluarga almarhum untuk memperoleh hak hukumnya, seperti asuransi, perubahan status perkawinan dan kepentingan hukum lainnya. Pemahaman dasar-dasar perkiraan saat kematian menjadi kepentingan setiap dokter dalam melaksanakan tugasnya. Kata kunci: mati, perkiraan saat kematian.
POLA LUKA PADA KASUS KECELAKAAN LALU LINTAS DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2017 Kepel, Felicia R.; Kepel, Felicia R.; Mallo, Johannis F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 1 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.1.2019.23207

Abstract

Abstract: Traffic accident is one of the main cause of death in Indonesia. In 2013 across South East Asia, Indonesia was the first rank with 26,416 traffic accidents. Accidents that occur can cause injuries from the minor injuries, disability, and even death. Every case of a traffic accident has a different pattern of injury. This study was aimed to obtain the pattern of injuries due to traffic accident based on gender, age, victim?s role before the occurence of a traffic accident, injury type, and wound location. This was a descriptive retrospective study using data of postmortem report (visum et repertum) of the traffic accidents victims. The results showed that majority of the traffic accident victims were 26-35 years (21.05%). Males were more common than females (78.9% vs 21.1%). Most of victim roles was as motorcyclist (78.95%). The most common type of wounds among traffic accident victims was blister mainly located on the extremity, meanwhile in car passangers, the most common type of wound was bruise mainly located on the head. Conclusion: The majority of trafic accident victims were males aged 26-35 years. Most wounds were blister in the extremity followed by bruise on the head.Keywords: pattern of wounds, traffic accident casesAbstrak: Kecelakaan lalu lintas (KLL) merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pada tahun 2013 dalam tingkatan Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan 26.416 jumlah kejadian KLL. Kecelakaan yang terjadi dapat menyebabkan luka-luka dari luka ringan hingga terjadinya kecacatan pada korban bahkan yang paling fatal dapat menyebabkan kematian. Setiap kasus kecelakaan lalu lintas menyebabkan adanya ada suatu pola luka yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola luka pada kasus KLL berdasarkan jenis kelamin, usia, peran korban sebelum terjadi KLL, jenis luka, dan lokasi luka. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari visum et repertum (VeR) korban kecelakaan lalu lintas. Hasil penelitian mendapatkan mayoritas korban KLL berusia 26-35 tahun (21,05%). Korban berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (78,9% vs 21,1%). Peran korban KLL terbanyak ialah pengemudi sepeda motor (78,95%). Pola luka terbanyak pada korban KLL baik penge-mudi sepeda motor, yang dibonceng, dan pejalan kaki ialah luka lecet terutama di ekstremitas, sedangkan pada penumpang mobil ialah luka memar terutama di kepala. Simpulan: Mayoritas KLL ialah laki-laki usia 26-35 tahun dengan pola luka terbanyak ialah luka lecet di ekstremitas diikuti oleh luka memar di kepala.Kata kunci: pola luka, kasus kecelakaan lalu lintas
Penentuan Derajat Luka pada Kekerasan Mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari - Juli 2019 Kelwulan, Jessica E.; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.28604

Abstract

Abstract: Determination of the degree of injury is highly important to identify the type and severity of abuse, in order to decide the level of punishment against the perpetrators. In case of living victim, a doctor may provide information regarding the injury. Type of injury, type of violence that caused the injury, and determination of injury's qualification or degree of injury, will be translated in the form of Visum et Repertum . Visum et Repertum is necessary to uncover clarity, truth and complete proof of material about a crime. It is important for a doctor to be able to determine the qualification of an injury in order to decide the severity of the sentence against the suspect. This study was aimed to determine the degree of injury in mechanical violence at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to July 2019. This was a retrospective and descriptive study using Visum et Repertum data. The results obtained 39 cases of mechanical violence. Majority of cases had sharp violence (24 cases; 61.5%), second degree injuries (29 cases; 74.4%), males (34 cases; 87%), and the age range was 15-24 years old (17 cases; 43.5%). In conclusion, most cases were males, age range of 15-24 years, had sharp violence with second degree injury.Keywords: mechanical violence, degree of injury Abstrak: Penentuan derajat luka sangat penting dilakukan untuk mengetahui jenis penganiayaan yang dilakukan dan berat ringannya ancaman hukuman terhadap pelaku. Visum et Repertum (VeR) sangat diperlukan untuk mencari kejelasan, kebenaran, dan pembuktian materil yang selengkap-lengkapnya tentang suatu tindak pidana. Kemampuan seorang dokter dalam menen-tukan kualifikasi luka sangat penting bagi pihak berwajib untuk menentukan berat ringannya hukuman terhadap tersangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat luka pada kekerasan mekanik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari sampai Juli 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data hasil VeR. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 39 kasus kekerasan mekanik. Mayoritas kasus ialah akibat kekerasan tajam pada 24 kasus (61,5%), luka derajat dua pada 29 kasus (74,4%), jenis kelamin laki-laki pada 34 kasus (87%), dan rentang usia 15-24 tahun pada 17 kasus (43,5%). Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar kasus berjenis kelamin laki-laki, rentang usia 15-24 tahun, dengan kekerasan tajam dan luka derajat dua.Kata kunci: kekerasan mekanik, derajat luka
GAMBARAN PERUBAHAN LUKA MEMAR PADA SUKU MINAHASA Tilaar, Nathasya A. F.; Mallo, Johannis F.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.28606

Abstract

Abstract: Bruise is bleeding in the subcutaneous tissue due to rupture of capillaries and veins caused by blunt force. A forensic pathologist is usually asked about the time of bruise occurrence and this information is very important concerning to a medicolegal case. The ability to assess, document, and interpret injuries correctly is an important part of a doctor's task. This study was aimed to identify the color changes of bruise among Minahasan people. This was a prospective and descriptive study using sample observations. The results obtained 5 cases with bruises. In 1-4 days, the color of bruises was bluish red then turned to greenish yellow until days 10-12, and then it disappeared. In conclusion, there was no specific difference in bruise color of Minahasan people compared to previous studies.Keywords: traumatology, bruise, Minahasan people Abstrak: Memar merupakan perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Seorang ahli forensik sering ditanyakan mengenai umur dari memar, dan informasi demikian dapat menjadi sangat penting dalam suatu kasus. Kemampuan menilai, mendoku-mentasikan, dan menginterpretasikan luka dengan tepat merupakan bagian penting dari tugas dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan warna luka memar pada orang yang berasal dari suku Minahasa. Jenis penelitian ialah deskriptif prospektif dalam observasi sampel. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 5 kasus dengan memar. Pada 1-4 hari memar berwarna merah kebiruan, berubah menjadi kuning kehijauan sampai pada hari ke 10-12 kemudian menghilang. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan spesifik pada memar orang suku Minahasa dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya.Kata kunci: traumatologi, memar, suku Minahasa
Gambaran Kasus Kematian dengan Asfiksia di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado Periode 2013 - 2017 Kurniany, Nikita E.; Mallo, Johannis F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18460

Abstract

Abstract: Asphyxia was a condition cause by lack of oxygen and excess of carbon dioxide in the blood. There are three types of asphyxia: mechanical, non-mechanical, and pathologic asphyxia. This study was aimed to obtain the general description of death cases due to asphyxia in Manado North Sulawesi in the period 2013-2017. This was a descriptive retrospective study using the medical record of cases at Forensic and Medicolegal Department of Prof. Dr. R. D. Kandou. The results of visum et repertum showed that there were 26 death cases due to asphyxia. Most cases were in 2016 (10 cases, 38.5%). The most common cases were in age group of 17-25 years old (7 cases, 27%). Males (17 cases, 65%) were more frequent than females. Death due to mechanical asphyxia caused by drowning was the most common cases (11 cases; 42.3%). The most common sign of asphyxia was cyanosis (21 cases). Conclusion: Majority of the death cases due to asphyxia were males, age group 17-25 years, with mechanical asphyxia caused by drowning and cyanosis as the asphyxia sign.Keywords: asphyxia, mechanical asphyxia, non-mechanical asphyxia, pathology asphyxia, forensic Abstrak: Asfiksia adalah suatu kondisi yang disebabkan karena berkurangnya oksigen dan berlebihnya karbon dioksida dalam darah. Asfiksia terdiri dari tiga jenis klasifikasi yaitu asfiksia mekanik, non-mekanik, dan patologik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang kasus kematian dengan asfiksia di Manado Sulawesi Utara periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data hasil visum et repertum. Hasil penelitian mendapatkan 26 kasus kematian dengan asfiksia. Kasus terbanyak pada tahun 2016 yaitu 10 kasus (38,5%). Kelompok usia terbanyak ialah 17-25 tahun sebanyak 7 kasus (27%). Jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan yaitu 17 kasus (65%). Kematian akibat asfiksia mekanik dengan jenis tenggelam merupakan kasus terbanyak yaitu 11 kasus (42,3%). Tanda asfiksia yang sering ditemukan ialah sianosis (21 kasus). Simpulan: Sebagian besar kasus kematian akibat asfiksia berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 17-25 tahun, dengan jenis asfiksia mekanik akibat tenggelam, dan sianosis sebagai tanda asfiksia.Kata kunci : asfiksia, asfiksia mekanik, asfiksia non-mekanik, asfiksia patologi, forensik
Pola Luka pada Korban Meninggal akibat Kekerasan Tajam yang Diautopsi di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Tahun 2014 Karwur, Brenda; Siwu, James; Mallo, Johannis F.
Medical Scope Journal Vol 1, No 1 (2019): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.1.1.2019.26874

Abstract

Abstract : Violence due to sharp objects can cause injuries to the body in the forms of stab wound, incised wound, and chop wound. This study was aimed to determine the pattern of wounds in death victims due to sharp violence at the Forensic Medicine Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in 2014. This was a retrospective descriptive study using data of visum et repertum. The results showed that there were 27 autopsied victims killed due to sharp violence. Males (88.4%) and age of 21-30 years (37%) were predominant. The most common type of wound was stab wounds (76.9%), followed by chop wounds (15.4%), and incised wounds (7.7%). Based on the wound location, left chest had the highest percentage (42.4%). In conclusion, the most common death victims due to sharp objects were males, aged 21-30 years, with incised wound into the left-sided chest.Keywords: wound pattern, sharp violence Abstrak: Kekerasan akibat benda tajam dapat menyebabkan luka pada tubuh yang dapat berupa luka tusuk, luka iris dan luka bacok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola luka pada kematian akibat kekerasan tajam di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014. Kenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data hasil visum et repertum tahun 2014. Hasil penelitian mendapatkan bahwa jumlah korban meninggal akibat kekerasan tajam yang diautopsi sebanyak 27 korban, didominasi oleh jenis kelamin laki-laki (88,4%), dan umumnya dari kalangan muda 21-30 tahun (37%). Berdasarkan jenis luka didapatkan luka tusuk sebesar 76,9%, luka bacok 15,4%, dan luka iris 7,7%. Berdasarkan lokasi, luka pada bagian dada kiri memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar 42,4%. Simpulan penelitian ini ialah korban meninggal akibat kekerasan tajam yang terbanyak ialah berjenis kelamin laki-laki, kategori usia 21-30 tahun, dengan luka tusuk lokasi pada dada kiri.Kata kunci: pola luka, kekerasan tajam
GAMBARAN KORBAN MENINGGAL DENGAN CEDERA KEPALA PADA KECELAKAAN LALU LINTAS DI BAGIAN FORENSIK BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2012 Lumandung, Feibyg Theresia; Siwu, James F.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3608

Abstract

Abstrack: Traffic accidents lately occur anywhere and are already familiar. Most accidents are motor accident with head injury, where it can lead to death. This research isto describe the victim died with a head injury in a traffic accident forensics section BLU Prof.Dr.R.D.Kandou Hospital Manado period 2011-2012. In this study, researcher uses retrospective descriptive method. Datawere collected from medical records of all cases of accidents in the years 2011-2012. The conclusion ofthis research, cases of traffic accidents with head injuries are more prevalent than others, most especially in the region of the temporal head injury can effect to death. Researcher suggests that tightened regulations in traffic and further enhanced prevention efforts from the government, police, and medical teams. Keyword : head injury, traffic accident    Abstrak: Kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini terjadi dimana saja dan sudah tidak asing lagi. Kasus kecelakaan terbanyak adalah kecelakaan bermotor dengan cedera kepala, dimana hal ini dapat mengakibatkan kematian. Penelitian ini untuk mengetahui gambaran korban meninggal dengan cedera kepala pada kecelakaan lalu lintas dibagian forensik BLU RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado periode tahun 2011-2012. Dalam penelitian ini peniliti, menggunakan metode deskriptif retrospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medik seluruh kasus kecelakaan di tahun 2011-2012.Kesimpulan dari penelitian ini, kasus kecelakaan lalu lintas dengan cedera kepala lebih banyak terjadi dari cedera lainnya, khusunya paling banyak cedera kepala di regio temporalis yang dapat mengakibatkan kematian. Peneliti menyarankan agar lebih diperketat lagi peraturan-peraturan dalam berlalu lintas dan lebih ditingkatkan lagi berbagai usaha pencegahan dari pihak pemerintah, kepolisian, dan tim medis. Kata kunci :Cedera kepala, kecelakaan lalu lintas.
Efektivitas Ekshumasi dalam Pengungkapan Kasus di Bagian Ilmu Forensik dan Medikolegal FK Unsrat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Tahun 2015-2016 Lolong, Gracia; Mallo, Nola T.S.; Mallo, Johannis F.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.15814

Abstract

Abstract: Exhumations should be conducted when a death is suspected unnatural. Recently, exhumations are particularly conducted in foreign countries when they have problems related to health insurance, meanwhile, in Indonesia, exhumation cases are more often asked by the families through the police due to unnatural deaths. Through exhumation, many criminal cases have been revealed. This study was aimed to obtain the effectiveness of exhumations at the Forensic and Medicolegal Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from 2015 through 2016. The results showed that there were 9 exhumations recorded at the Forensic and Medicolegal Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during that period. The causes of deaths could be found out after exhumations. Conclusion: Exhumation could reveal effectively the causes of deaths in 2015-2016 at the Forensic and Medicolegal Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: exhumation, florensic cases Abstrak: Kasus ekshumasi atau penggalian mayat perlu dilakukan ketika dicurigai kematian seseorang dianggap tidak wajar. Ekshumasi sekarang ini khususnya di luar negeri sering diminta ketika timbul masalah pada asuransi kesehatan daripada oleh keluarga. Di Indonesia, kasus ekshumasi lebih sering diminta oleh keluarga melalui kepolisian akibat penyebab kematian yang tidak wajar. Melalui ekshumasi telah banyak kasus kejahatan yang berhasil diungkapkan kebenarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekshumasi dalam pengungkapan kasus di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2015-2016. Hasil penelitian mendapatkan 9 kasus ekshumasi di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama tahun 2015-2016. Penyebab kematian pada semua kasus ekshumasi dapat ditemukan. Simpulan: Ekshumasi efektif dalam mengungkapkan penyebab kematian pada semua kasus di Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama tahun 2015-2016.Kata kunci: ekshumasi, kasus forensik