Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN

Jejak Ekologis Kawasan Regional Bandung Marganingrum, Dyah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.746 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v20i2.3003

Abstract

ABSTRACTThis paper aims to explain the application of Ecological Footprint method as an approach for finding out the carrying capacity of the region. Case study was conducted in Bandung Basin Area that called as The Bandung Regional area. Ecological Footprint Analysis was done by using the Workbook and Guidebook National Footprint Account 2008 that prepared by the Global Footprint Network (GFN). Results of the analysis showed that the ecological footprint of Bandung Regional has been deficit of 1.31 gha/capita (EF Consumption is 1.37 gha/capita and biocapacity is 0.06 gha/capita). Thus, the supply-demand ratio is 0.04. This value ratio is less than one so it is categorized as the overshooting status. This status indicates that the carrying capacity of resources has been overloaded in the Bandung Regional. Therefore, it requires the number of efforts including regulation that can alter the consumption pattern and create metabolic utilization of natural resources which is more circular than linear. In addition, it needs a good cooperation among stakeholders in the surrounding area of Regional Bandung to meet the demands of all communities in Bandung region.Keywords: Bandung regional, carrying capacity, ecological footprint, overshoot  ABSTRAKMakalah ini bertujuan menjelaskan hasil aplikasi metode jejak ekologis sebagai salah satu pendekatan untuk mengetahui daya dukung lingkungan suatu kawasan. Studi kasus dilakukan di Kawasan Cekungan Bandung yang disebut juga sebagai Regional Bandung. Analisis jejak ekologis dilakukan dengan memanfaatkan Workbook dan Guidebook National Footprint Account Tahun 2008 yang disediakan oleh Global Footprint Network (GFN). Hasil analisis menunjukkan bahwa jejak ekologis Regional Bandung mengalami defisit sebesar 1.31 gha/kapita dengan nilai jejak ekologis konsumsi (EF consumption) sebesar 1.37 gha/kapita dan biokapasitasnya sebesar 0,07 gha/kapita. Dengan demikian rasio supply-demand sebesar 0.04. Nilai rasio supply-demand kurang dari satu dikategorikan sebagai status overshoot. Status ini mengindikasikan bahwa daya dakung sumber daya alam di kawasan Regional Bandung telah terlampaui. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya termasuk regulasi yang dapat merubah pola konsumsi dan menciptakan metabolisme pemanfaatan sumber daya alam yang lebih bersifat sirkuler daripada linier. Selain itu perlu dilakukan kerjasama yang baik diantara pemangku kepentingan di wilayah sekitarnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakat di Regional Bandung. Kata kunci: daya dukung, jejak ekologis, regional Bandung, terlampaui
Penilaian Daya Tampung Sungai Jangkok dan Sungai Ancar Terhadap Polutan Organik Marganingrum, Dyah; Djuwansah, Muhammad Rahman; Mulyono, Asep
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.235 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v19i1.1789

Abstract

Makalah ini bertujuan melakukan penilaian daya tampung sungai Jangkok dan Sungai Ancar terhadap polutan organik. Metode yang digunakan adalah persamaan Oxygen Sag Streeter Phelps dengan data pengukuran hidrolik sungai maupun data polutan kimia organik.  Polutan organik yang diukur terdiri atas oksigen terlarut (DO), penggunaan oksigen secara biologis (BOD), dan penggunaan oksigen secara kimiawi (COD). Hasil analisis menunjukkan bahwa Sungai Jangkok masih memiliki kemampuan daya pulih secara alamiah pada segmen yang diukur dengan nilai DO defisit maksimum sebesar 1889 kg/hari. DO defisit tersebut terkait dengan tingginya nilai BOD pada titik pengamatan karena penambahan air buangan melalui saluran drainase. Sedangkan Sungai Ancar menunjukkan kondisi dimana daya pulihnya relatif lebih rendah meskipun DO defisit maksimumnya lebih kecil dari Sungai Jangkok, yaitu sebesar 1044 kg/hari. Ada inidkasi bahwa rendahnya DO defisit pada Sungai Ancar karena adanya faktor turbulensi yang dapat meningkatkan laju reaerasi. Turbulensi terjadi karena adanya bebatuan yang terletak di aliran sungai serta bendung. Oleh karena itu, guna meningkatkan daya tampung sungai terhadap polutan yang masuk, perlu melakukan dua usaha secara simultan yaitu pengendalian limbah yang masuk ke badan sungai serta intervensi teknologi. 
Studi Pendahuluan Pemanfaatan Sludge IPAL Industri Tekstil Sebagai Bahan Baku Briket: Study of Utilization Textile Industry Sludge from WWTP as Raw Material for Briquettes RAHMAULINA, DINI; HARTATI, ETIH; MARGANINGRUM, DYAH
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.739 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v23i1.4639

Abstract

ABSTRACT The sludge textile industry was a by-product from wastewater treatment plant (WWTP) categorized as toxic and hazardous waste, sludge (SL) produced every day from WWTP could cause problems in the factory environment, such as reducing the storage space and aesthetic of the factory environment. This study discussed sludge that will be used as raw materials for briquettes. The analysis of the study was based on proximate analysis, calorific value, total sulfur, heavy metals, and slagging and fouling potential, which used method ASTM, AAS, Spectrophotometry and Gravimetry. These sludge briquettes materials were also added with additional raw material: bottom ash (BA); afterwards, it was mixed with sludge, and the compositions were 90%BA:10%SL, 80%BA:20%SL, and 70%BA:30%SL. The characteristic quality of briquettes was compared to Ministry of Environmental Regulation Number 06 of 2021 and Indonesia National Standard Number 4931 of 2010. The analysis of sludge material for briquette had moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, calorific value, and total sulfur of 2.57%, 7.92%, 4.76%, 13.47%, 1,172 kcal/kg, and 0.98%, respectively. In addition, the slagging and fouling potential indicated moderate and low classification with the impact value index of 0.310 and 0.412, respectively. The study results also showed that the best briquette was a briquette that uses a composition of 70%BA:30%SL. This briquette had a calorific value of 1,473 kcal/kg; however, it has not met the provisions of the Ministry of Environmental and Forestry Regulation Number 06 of 2021 and Indonesia National Standard Number 4931 of 2010.   ABSTRAK Sludge Industri Tekstil merupakan hasil samping dari proses Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tergolong ke dalam limbah B3, sludge (SL) yang dihasilkan dari IPAL dapat menimbulkan masalah berupa berkurangnya ruang penyimpanan sludge serta menganggu estetika lingkungan pabrik. Studi ini membahas sludge yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan baku bahan bakar briket. Analisis studi yang akan dikaji yaitu analisis proksimat, nilai kalor, total sulfur, kandungan logam berat serta potensi terjadinya slagging dan fouling menggunakan metode ASTM, AAS, Spektrofotometri serta Gravimetri. Briket berbahan baku sludge kemudian ditambahkan bahan baku tambahan berupa bottom ash (BA) yang kemudian dicampur dengan sludge pada komposisi 90%BA:10%SL, 80%BA:20%SL, dan 70%BA:30%SL. Kualitas briket tersebut dibandingkan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 06 Tahun 2021 dan SNI 4931 Tahun 2010. Berdasarkan studi yang dilakukan sludge memiliki kandungan kadar air, kadar abu, volatile matter, fixed carbon, nilai kalor, dan total sulfur secara berturut-turut 2,57%, 79,2%, 4,76%, 13,47%, 1.172 kkal/kg dan 0,98%. Selain itu penggunaan sludge terhadap potensi slagging dan fouling terindikasi sedang dan rendah dengan indeks secara berturut-turut 0,310 dan 0,412. Berdasarkan studi, briket terbaik terdapat pada briket dengan komposisi 70%BA:30%SL dengan nilai kalor sebesar 1.473 kkal/kg namun briket tersebut masih belum memenuhi kualitas yang diharapkan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 06 Tahun 2021 dan SNI 4931 Tahun 2010.