Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CORE (CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, DAN EXTENDING) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP EKOSISTEM DI KELAS X SMAN 1 CIWARINGIN M Yusuf Hidayat; Ina Rosdiana Lesmanawati; Djohar Maknun
Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Tadris Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.966 KB) | DOI: 10.24235/sc.educatia.v3i2.544

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar adalah aktivitas siswa. Dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk aktif melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran. Keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran biologi sangat diperlukan, sehingga apa yang dipeyatlajari akan lebih tertanam dalam pikiran siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengkaji aktivitas siswa pada saat penerapan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending).(2) untuk mengkaji seberapa besar perbedaan peningkatan hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending) dengan yang tanpa menerapkan Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending).Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah instrumen tes (pre-test dan post-test), dan observasi. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-5 (kelas eksperimen) dan kelas X-6 (kelas Kontrol) SMAN 1 Ciwaringin Kab. Cirebon. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) berdasarkan hasil analisis observasi, aktivitas siswa meningkat setelah diterapkan Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending). (2) berdasarkan uji T Independent Sampel Test, terdapat peningkatkan hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending. Kata kunci : Model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, dan Extending), Hasil Belajar
Meta-Analisis Pembelajaran Berbasis Proyek terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Biologi Siswa SLTP dan SLTA Komala Sari; Yunita Yunita; Djohar Maknun
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 13, No 2 (2021): QUAGGA : Jurnal Pendidikan dan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v13i2.3668

Abstract

Abstrak: Berpikir kreatif merupakan salah satu komponen utama dalam pembelajaran abad 21, hal ini mengingat semakin pesatnya perkembangan pengetahuan teknologi saat ini. Keterampilan ini dibutuhkan dalam menemukan solusi terhadap suatu permasalahan yang sedang dihadapi, salah satu model yang memiliki potensi untuk melatih proses berpikir kreatif yaitu model pembelajaran Project based learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pengaruh (effect size) penggunaan model PjBL terhadap berpikir kreatif pada pembelajaran biologi (1) secara keseluruhan, (2) berdasarkan jenjang pendidikan, (3) berdasarkan wilayah, dan (4) berdasarkan materi ajarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif terhadap analisis hasil publikasi penelitian ilmiah pada jurnal dan skripsi. Berdasarkan temuan penelitian mengungkapkan bahwa secara keseluruhan dari berbagai penelitian yang dilakukan memiliki pengaruh yang besar dan efektif terhadap peningkatan berpikir kreatif siswa dengan effect size 0,749. Model PjBL pula memberikan pengaruh dan efektif baik pada jenjang SMP dan SMA dengan kategori efek yang besar. Model pembelajaran PjBL menghasilkan effect size yang bervariasi dari berbagai wilayah, begitupula dari segi materi Biologi, adapun materi Pencemaran Lingkungan memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan materi Biologi lainnya seperti Archaebacteria Eubacteria, Keanekaragaman Makhluk Hidup, dan Plantae. Abstract: Creative thinking is one of the main components in 21st century learning, given the rapid development of technological knowledge today. These skills are needed in finding solutions to a developing problem. One model that has the potential to train creative thinking processes is the Project-based learning model. This study aims to analyze the large effect (effect size) of using the PjBL model on creative thinking in biology learning (1) in total, (2) by education level, (3) by region, and (4) based on the teaching material. The research method used is descriptive analysis of the results of scientific research publications in journals and theses. Based on the research findings, it was revealed that the whole of the various studies conducted had a large and effective effect on improving students' creative thinking with an effect size of 0.749. The PjBL model also has a good and effective effect on junior and senior high schools with large securities categories. The PjBL learning model produces varying effect sizes from various regions, as well as in terms of Biology material, while Environmental Pollution material provides a greater influence than other Biology materials such as Archaebacteria Eubacteria, Diversity of Living Things, and Plantae.
EVALUASI KETERAMPILAN LABORATORIUM MAHASISWA MENGGUNAKAN ASESMEN KEGIATAN LABORATORIUM BERBASIS KOMPETENSI PADA PELAKSANAAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN Djohar Maknun
JURNAL TARBIYAH Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.823 KB) | DOI: 10.30829/tar.v22i1.4

Abstract

Pelayanan kegiatan laboratorium/praktikum merupakan salah satu unsur dan upaya yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran sains IPA secara menyeluruh. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan terhadap kegiatan laboratroium yang semakin meningkat baik jumlah maupun mutunya, maka peranan laboratorium sains (biologi) baik dalam bentuk rujukan kegiatan lab sains maupun bentuk lainnya perlu dikembangkan dan ditingkatkan. Penelitian ini menggunakan metode riset dan pengembangan (Research and Development). Asesmen berbasis kompetensi yang dikembangkan meliputi empat dimensi kompetensi dalam asesmen berbasis kompetensi yaitu; (1) task skills, (2) contingency management skills, (3) task management skills, dan (4) role/job environment skills. Desain yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Pre Experimen Design (Quasi experiment). Kegiatan praktikum di Jurusan Tadris IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon kurang mengembangkan keterampilan laboratorium, kompetensi keterampilan lab mahasiswa kategori sedang sampai tinggi. Efektivitas asesmen yang digunakan untuk mengevaluasi keterampilan lab mahasiswa sudah cukup tinggi. Keunggulan asesmen yang digunakan, dapat secara rinci mengevaluasi keterampilan lab mahasiswa berdasarkan kriteria/indikator kerja yang jelas, sedangkan kelemahannya memerlukan waktu yang ekstra dan metode penilaian yang komprehensif untuk mendapatkan data hasil evaluasi yang lebih valid. Faktor-faktor pendukung untuk mengembangkan keterampilan lab mahasiswa, antara lain keberadaan lab, alat, dan bahan praktikum, dan adanya panduan praktikum, sedangkan faktor penghambat adalah keterbatasan waktu praktikum, serta kerusakan dan keterbatasan alat. Kata Kunci: Evaluasi, Keterampilan Lab, Asesmen, Kompetensi, PPL
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS DAN KUALITAS ARGUMENTASI SISWA PONDOK PESANTREN DAARUL ULUUM PUI MAJALENGKA PADA DISKUSI SOSIOSAINTIFIK IPA Djohar Maknun
JURNAL TARBIYAH Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.068 KB) | DOI: 10.30829/tar.v21i1.221

Abstract

This study was conducted to apply science learning with contextual approach to improving scientific literacy and the quality of students' arguments in a discussion of issues socio scientific. The study was conducted in MTs Daarul Uluum Majalengka PUI, involving 33 students of Boarding Schools Daarul Uluum Majalengka PUI. The findings of this initial study showed no learning materials linked to real-life situations of students, according to the context of people's lives around. Efforts to improve scientific literacy and the quality of the students argument has never been done in learning science. Implementation developed contextual learning done in class and in the field. Data were collected through a needs analysis, documentation, observation, interviews, tests, and questionnaires. Qualitative data analysis is described in accordance with a research focus. Quantitative data were processed using N-gain, differential test and correlation test. The results showed that the application of contextual learning can be implemented with various methods and evaluation. It was also found that contextual learning through discussion of issues socio scientific can improve scientific literacy and the quality of students' arguments. Correlation coefficient of 0.850 means there is a strong relationship between the quality of argumentation in the discussions pre discussion with post discussion socio scientific issue. Contextual learning is linked to the issue of sosio scientific IPA is a new and exciting enough student interest. Keywords: contextual learning, scientific literacy, the quality of the arguments, issues and IPA socio scientific
Analisis keterampilan komunikasi ilmiah pada pembelajaran biologi Cici Mayani; Djohar Maknun; Mujib Ubaidillah
Science Education and Development Journal Archives Vol. 1 No. 1 (2023): Science Education and Development Journal Archives
Publisher : Yayasan Insan Mulia Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59923/sendja.v1i1.2

Abstract

Keterampilan komunikasi ilmiah merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan di abad 21. Keterampilan komunikasi ilmiah dalam ilmu sains sangat penting karena memudahkan dalam penyampaian teori, menginterpretasi grafik dan gambar, dan sebagainya. Namun, peserta didik SMA masih mengalami kesulitan dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan serta kemampuan membaca grafik yang kurang. Jenis penelitian ialah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian yaitu di MAN 2 Kota Cirebon. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik pada jenjang SMA kelas XI sebanyak 120 siswa. Penentuan sampel ini berdasarkan teknik random sampling. Sampel yang diambil sejumlah 60 yang terdiri dari 30 siswa dan 30 siswi. Instrumen yang digunakan yaitu angket dan tes. Adapun indikator kompetensi yang akan diukur yaitu Information retrieval, Scientific reading, Observing, Scientific writing, Information representation, Knowledge presentation. Sampel siswa memiliki tingkat keterampilan komunikasi ilmiah pada kategori cukup dengan persentase sebesar 60%. Sedangkan sampel siswi memiliki tingkat keterampilan komunikasi ilmiah pada kategori cukup dengan nilai persentase yang lebih besar, yaitu 93,33%. Nilai rerata hasil tes sebesar 42,04 pada sampel siswa dan 40,74 pada sampel siswi dengan standar deviasi 14,49 pada sampel siswa dan 12,41 pada sampel siswi. Nilai tertinggi pada kedua sampel adalah 66,67. Nilai terendah pada sampel siswa sebesar 11,11 dan pada sampel siswi sebesar 22,22. Hasil penelitian keterampilan komunikasi ilmiah termasuk ke dalam kategori cukup. Akan tetapi dalam penerapannya belum maksimal. Kondisi keterampilan komunikasi ilmiah berdasarkan nilai rerata pada masing – masing indikator menunjukan sampel siswi lebih unggul dibanding sampel siswa, baik dari hasil instrumen angket maupun instrumen tes.