Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : ASPIRATOR

Perilaku Masyarakat Dan Indeks Entomologi Vektor Demam Berdarah Dengue Di Kota Cimahi Firda Yanuar Pradani; M. Ezza Azmi Fuadiyah; yuneu yuliasih
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 2 No 1 (2010): Jurnal Aspirator Volume 2 Nomor 1 2010
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.359 KB)

Abstract

Dengue haemorhagic fever (DHF) was one of most dangerous disease in Indonesia. The number of case showed increased year by year since first time observed. Vector control that used by government always using Insecticides. A continuity of it cancaused resistances of mosquito, and it will be more dangerous.In District Cimahi, vector control doing by mosquitoes habitat eradication (PSN) for last 3 years. It done by invite people to participate to make environment clean. Every week, peopleon duty going house to house to check water container condition. They also give support and suggest how to prevent breeding mosquitoes to people. The aim of this research is to evaluate knowledge, practice and attitude people about DBD and to count Entomology Index in district Cimahi. This research observe that globally people attitude is good, knowledge is middle and practicestill bad. Larvae Free Index (Angka Bebas Jentik) when observe show that in Cibabat first week still below national Larvae Free Index. In Pasirkaliki, first week and second week Larvae Free Index below national Larvae Free Index.
Pemanfaatan citra ASTER dalam penentuan dan verifikasi daerah rawan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Banjar Provinsi Jawa Barat Andri Ruliansyah; Yuneu Yuliasih; Setiazy Hasbullah
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 6 No 2 (2014): Jurnal Aspirator Volume 6 Nomor 2 2014
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.205 KB)

Abstract

Abstrak. Penyebaran virus Demam Berdarah Dengue (DBD) antara lain dapat diketahui dari perspektif informasi keruangan (geospasial), yaitu berdasarkan informasi suhu, curah hujan, kelembaban, dan penggunaan lahan tertentu yang merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya DBD. Usaha mengetahui faktor risiko diperlukan suatu sistem efektif dan efisien yaitu penggunaan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis sebagai suatu basis data yang dapat digunakan sebagai penentuan kebijakan pencegahan dan pengendalian DBD. Dikarenakan sistem tersebut dapat melihat trend atau kecenderungan peningkatan kasus, sehingga pihak pemerintah daerah dapat segera melakukan tindakan pencegahan pada daerah yang rawan kasus DBD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta penentuan daerah rawan DBD dengan Citra ASTER dan verifikasinya di Kota Banjar, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di Kota Banjar pada bulan Maret-Oktober tahun 2012 dengan sampel seluruh penduduk yang menderita DBD pada semua umur beserta kondisi lingkungannya. Sample jentik diambil dengan metode single larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas zona daerah kerawanan tinggi DBD di Kota Banjar adalah 18,29 %, luas zona daerah kerawanan sedang 63,45% dan luas zona daerah kerawanan rendah 18,27 % dan setelah dilakukan verifikasi terhadap peta kerawanan dan jika dilakukan pengelompokkan antara zona kerawanan tinggi dan zona kerawanan sedang menjadi kelas rawan DBD sedangkan zona kerawanan rendah menjadi zona bebas DBD. Secara umum (dengan ketepatan mencapai 94,74%) kasus DBD tersebar di daerah rawan DBD.
KONFIRMASI ANOPHELES BARBIROSTRIS SEBAGAI VEKTOR MALARIA DI WAIKABUBAK MELALUI DETEKSI PROTEIN CIRCUM SPOROZOITE Mara Ipa; Heni Prasetyowati; Yuneu Yuliasih
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 4 No 1 (2012): Jurnal Aspirator Volume 4 Nomor 1 2012
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.644 KB)

Abstract

Abstrak. Nyamuk Anopheles spp. dinyatakan sebagai vektor malaria apabila ditemukan sporozoitdi kelenjar ludahnya dan salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui uji Enzyme-LinkedImmunosorbent Assay (ELISA). Penelitian ini dilakukan untuk mendeteksi protein circum sporozoite padatersangka vektor malaria Anopheles barbirostris melalui metode ELISA. Penelitian ini dilakukan di daerahendemis malaria di Desa Modu Waimaringu, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat pada bulanMaret 2011. Desain studi penelitian ini adalah cross sectional, nyamuk uji diperoleh melalui penangkapannyamuk sekitar kandang. Uji ELISA dilakukan pada bagian kepala dan dada nyamuk An. barbirostrisyang potensial mengandung sporozoit Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Hasil penelitianmenunjukkan dari 40 sampel An. barbirostris yang diuji di Desa Modu Waimaringu seluruhnya negatif(100%). Hal ini berarti tidak ditemukannya protein circum sporozoite dan An.barbirostris bukan vektorpada daerah tersebut.
Status Resistensi Aedes aegypti dengan Metode Susceptibility di Kota Cimahi terhadap Cypermethrin Firda Yanuar Pradani; Mara Ipa; Rina marina; Yuneu Yuliasih
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 3 No 1 (2011): Jurnal Aspirator Volume 3 Nomor 1 2011
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.486 KB)

Abstract

Abstracts: Vector control of dengue usually doing by using insecticides, whether by governmentor insecticides used in household. Using to much insecticides for long time can causedresistence of mosquito. This research aim to know resistance status of Aedes aegypti fromendemic rural in district Cimahi to cypermethrin (synthetic pyretroid). Resistance statusknowing by susceptibility methods (WHO standard) with using impregnated paper that containingcypermethrin 0.2% and 0.4%. Aedes aegypti spread by it for 15, 30, 45 and 60minutes. Number of mortality count by percentage death mosquito in each time and eachconcentration of cypermethrin. Data interpreted by WHO standard, which percentage ofdeath mosquito <80% is resistance, between 80-98% is tolerance and 99-100% is susceptible.Aedes aegypti from endemic rural in district Cimahi showed resistance of cypermethrin0.2% and 0.4%. This result showed that all mosquito still alive after 15 minutes spreadingby cypermethrin 0.2%, and only 6.7% mosquito death in cypermethrin 0.4%. After 30minutes, death mosquito counted 46.7% in cypermethrin 0.2% and 73.3% in 0.4%. 46.7%mosquito was death in 45 and 60 minutes spreading by cypermethrin 0.2% and 73.3% in0.4%. The result showed resistance ratio (RR50) of mosquito is 4.6. Aedes aegypti from endemicrural in district Cimahi showed a resistance to cypermethrin 0.2% and 0.4%.