Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PESANTREN DARUL LUGHO WA DAKWA (DALWA) DAN STRUKTUR SOSIAL DI ERA GLOBALISASI Masita, Dewi
AL - IBRAH Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : STIT Al - Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren selama ini dikenal sebagai institusi pengusung utama masalah-masalah keagamaan. Dalam sejarahnya pesantren dianggap sebagai lembaga Islam tradisional dengan ‘Trade mark’nya pengkajian kitab-kitab kuning. Seiring arus globalisasi yang merupakan suatu proses dimana batas-batas negara luluh dan tidak penting lagi dalam kehidupan sosial, lambat laun banyak pesantren yang mengalami perubahan mendasar dalam perjalanannya. Perubahan corak pesantren akibat globalisasi adalah dari tradisional ke modern. Kenyataan itu mendikotomikan pesantren menjadi pesantren tradisional yang dikenal memakai sistem salafi (mengkaji kitab kuning) dan pesantren modern yang tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Ekses globalisasi tidak lantas menjadikan pesantren kehilangan orientasinya. Tetapi pesantren, terutama yang modern melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan aturan-aturan modernitas. Pesantren moderen di Pasuruan sangatlah banyak jumlanhya dan bersaing kualitasnya mulai salah satunya Darul Lugho Wa Dakwa Bangil, Dari permasalahan inilah penulis meneliti Pesantren Darul Lugho Wa Dakwah Bangil Pasuruan dan struktur sosial di erah Globalisasi. Karena sangat penting mengungkap apakah Pesantren dengan pendidikan yang agamis, fasilitas bagus bisa sosialis dengan segala struktur lapisan masyarakat bisa nyantri dengan masyarakat ekonomi bawah. Artinya tidak menjadi pesantren profit oriented.
PENGARUH UMUR BIBIT PINDAH TANAM DAN PEMBERIAN AIR CUCIAN BERAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) Masita, Dewi; Haryanto, Darban; Suwardi, Suwardi
Jurnal Agrivet Vol 29 No 1 (2023): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v29i1.8551

Abstract

Tanaman terung ungu (Solanum melongena L.) merupakan komoditas tanaman hortikultura yang banyak digemari oleh masyarakat. Produktivitas tanaman terung ungu di Indonesia termasuk masih rendah. Permasalahan rendahnya produktivitas dapat diselesaikan dengan budidaya yang tepat. Salah satu langkah mengatasi permasalahan tersebut adalah kombinasi perlakuan umur bibit pindah tanam dan pemberian air cucian beras. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh umur perpindahan bibit dan dosis pemberian air cucian beras yang tepat. Penelitian dilaksanakan mulai Februari-Juni 2022 di Jl.Jetis Jombongan, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan rancangan percobaan faktorial (3×4) berupa Rancangan lingkungan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor I adalah umur bibit pindah tanam dengan tiga taraf, yaitu 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Faktor II adalah dosis pemberian air cucian beras dengan empat taraf, yaitu 0 ml/tanaman, 100 ml/tanaman, 200 ml/tanaman, dan 300 ml/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara kombinasi perlakuan umur bibit pindah tanam 21 hari dengan pemberian air cucian beras 300 ml pada parameter berat buah, panjang buah, dan diameter buah. Perlakuan umur bibit pindah tanam 21 hari memberikan hasil tertinggi pada parameter tinggi tanaman 2,4,6 MST, jumlah daun 2,4,6 MST, diameter batang 2,4,6 MST, waktu berbunga, berat buah, panjang buah, diameter bauh, jumlah buah per tanaman, dan potensi hasil. Pemberian air cucian beras 300 ml memberikan hasil tertinggi pada parameter diameter buah dan berat buah.
Mengangkat Martabat Lansia Perempuan: Penguatan Spiritual-Psikologis untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi di Pasuruan Masita, Dewi; Nurul Fauzah, Nurul Fauzah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat (J-AbMas)
Publisher : CV. Dalle’ Deceng Abeeayla

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69623/j-abmas.v1i3.198

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) “Mengangkat Martabat Perempuan Lanjut Usia” dilaksanakan di Pasar Kraton, Kota Pasuruan, selama Januari–Juni 2025 untuk memperkuat harkat, ketahanan psikologis, dan kemandirian ekonomi perempuan lanjut usia melalui hasil kegiatan sederhana di alam. Program ini diikuti oleh para lansia yang memilih untuk mandiri tanpa bergantung pada bantuan keluarga maupun bantuan sosial, serta memaknai kegiatan kewirausahaan sebagai bentuk pemeliharaan harga diri, kesehatan mental, dan keberlanjutan hidup di usia senja. Metode pendampingan dilakukan secara partisipatif melalui sesi berbagi pengalaman, penguatan spiritual-psikologis, pembelajaran berdagang sederhana, dan pembentukan kelompok dukungan sosial di pasar. Hasil dari Program Pengabdian Masyarakat (PKM) meliputi peningkatan kepercayaan diri, pengambilan keputusan, dan kemampuan mengelola kegiatan usaha secara mandiri. Interaksi sosial di pasar dan dukungan antar peserta mengurangi kesepian dan memperkuat hubungan dengan lansia. Analisis teoretis mengungkapkan bahwa hasil program berkaitan dengan empat tahap: pemberdayaan psikologis, dukungan antar generasi, dukungan sosial, dan kesejahteraan spiritual. PKM ini menekankan bahwa pemberdayaan para lansia tidak hanya tentang peningkatan pendapatan tetapi juga mencakup pemulihan martabat, makna hidup, dan ketahanan mental, yang dipupuk melalui praktik sehari-hari yang sederhana namun bermakna.
KONSEP DAN PENERAPAN IPA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAGI SISWA DI SEKOLAH DASAR Masita, Dewi; Putri, Asmi Jumiati; Kamelia, Kamelia; Muslim, Muslim
eL-Muhbib jurnal pemikiran dan penelitian pendidikan dasar Vol 9 No 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/el-muhbib.v9i2.6384

Abstract

Penerapan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam kehidupan sehari-hari menjadi penting untuk meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa secara praktis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis bagaimana integrasi fenomena nyata dalam pembelajaran IPA dapat membantu siswa mengaitkan teori sains dengan pengalaman sehari-hari. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan IPA berbasis konteks nyata, seperti pengamatan perubahan wujud benda, penggunaan energi, dan aktivitas sehari-hari, meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan berpikir kritis, dan sikap ilmiah siswa. Kesimpulannya, penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya memperkuat kompetensi akademik, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan menganalisis, memecahkan masalah, dan menerapkan sains dalam situasi nyata, mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21.
Bodily Discipline and Spiritual Genealogy: Analyzing Bunyai Zakiyah's Asceticism Through a Foucaultian, Phenomenological, and Sufism Lens Dewi Masita; Ila Rokhani, Ila Rokhani
Journal of Social and Humanities Vol. 3 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Tinta Emas Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59535/jsh.v3i2.628

Abstract

This study examines the asceticism of Bunyai Zakiyah, a spiritual leader at Pesantren Al-Yasini in Pasuruan Regency, as a profound religious practice that shapes communal identity. Integrating Foucauldian analysis of bodily discipline and power-knowledge, phenomenology through Interpretative Phenomenological Analysis, and tasawuf perspectives on spiritual genealogy, the research explores how asceticism functions as a holistic process of subject formation. The study aims to describe forms of bodily discipline through a Foucauldian lens, uncover the meaning of lived experience phenomenologically, and reconstruct spiritual genealogy within a Sufi framework. A qualitative phenomenological ethnography was employed, drawing on 20 in-depth interviews with Bunyai Zakiyah, her children, and alumni, six months of participant observation, and document analysis including sanad of the tarekat. Findings show that practices such as 40 days of fasting and silent dhikr constitute strict bodily discipline under communal supervision, resembling a spiritual panopticon. Lived experiences of physical endurance are interpreted as transformative processes that generate transcendence and social connectedness. Furthermore, spiritual genealogy rooted in the Naqsyabandiyah-Khalidiyah sanad and piety narratives establishes enduring spiritual authority and cohesive social relations. The interdisciplinary synthesis reveals asceticism as a form of “spiritual discipline” that transforms regulated bodies into liberated spiritual subjects. The study contributes theoretically to interdisciplinary Islamic studies, methodologically through the application of IPA in religious research, and practically to spiritual education and community development within Indonesian pesantren contexts.
Global Santri Narratives: A Study of English Language Products at Al-Yasini Islamic Boarding School as a Cultural Strategy for Students in an Automated World Ecosystem Masita, Dewi; Rihlasyita, Wilda
Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram Vol. 14 No. 2 (2025): Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amidst the rapid flow of globalization and digital transformation marked by the presence of machines, robots, and artificial intelligence, the cultural identity of Islamic boarding schools faces new challenges. This research is significant because it examines how Generation Z students at Al-Yasini Islamic Boarding School adapt to the automated world through linguistic strategies, particularly in their use of English as a symbol and tool of distinction. This research aims to understand the practices and meanings behind the linguistic products produced by students in a modern context, and how this process shapes their identity and social position in global society. This research employs a qualitative approach, utilizing case studies and in-depth interviews with students from the Foreign Language Development Institute, language dormitory mentors, and English teachers. Two theories are used to interpret this phenomenon: Pierre Bourdieu's Cultural Capital, which explains how language becomes a form of symbolic capital in the social structure of Islamic boarding schools, and Jan Nederveen Pieterse's Cultural Hybridization, which highlights how local Islamic boarding school values are reformulated into a global format through English narratives. The results show that Islamic boarding school students not only master language as a technical skill but also produce cultural artifacts such as poetry, speeches, and books in English that combine Islamic values with global expressions. The main findings demonstrate the transformation of the students' identities from local actors to global students capable of negotiating their position in the posthuman world order. The novelty of this research lies in the discovery that Islamic boarding schools, as traditional institutions, can create a foreign language-based educational model that is not assimilative, but rather hybrid, blending local values and global strategies. The theoretical implications enrich the discourse on Islamic boarding school education as a space for the production of cultural capital and a dynamic and reflective field of cultural hybridization towards the future