Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Ko-Kreasi Identitas Merek Ud.Djaya Coffee Bersama Komunitas Djayavespa Rifwan, Muhammad Rifadhiya; Ekaputri, Sarah Derma
eProceedings of Management Vol. 12 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana brand identity dari UD.Djaya Coffee dikonstruksikan melalui proses co-creation dengan komunitas Djayavespa. Dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat di industri kedai kopi Kota Bogor, UD.Djaya Coffee tidak hanya mengandalkan produk dan tempat, namun juga membangun identitas merek yang kuat melalui kolaborasi dengan komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses co-creation tidak hanya menghasilkan identitas visual atau narasi brand, tetapi membentuk hubungan emosional dan nilai-nilai bersama antara brand dan komunitas. Proses ini berjalan melalui enam tahapan utama yang mencerminkan keterlibatan aktif komunitas sebagai co-creator identitas brand. Temuan ini menunjukkan bahwa identitas brand yang kuat dapat terbentuk secara partisipatif dan berkelanjutan melalui hubungan otentik antara brand dan komunitas pendukungnya. Kata Kunci: Brand Identity, Co-creation, Komunitas, Coffee Shop
Strategi Manajemen Isu Public Relations Trans Tv Dalam Menangani Teguran Kpi Pada Program Brownis Alvando, Rivanka Febriansyah; Ekaputri, Sarah Derma; Aziz, Rifqi Abdul
eProceedings of Management Vol. 12 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Brownis yang ditayangkan oleh Trans TV kerap menerima teguran dari KPI akibat pelanggaran terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), sehingga memunculkan isu yang berdampak pada citra dan reputasi lembaga penyiaran. Situasi ini menuntut peran strategis public relations dalam mengelola isu melalui penerapan strategi manajemen isu yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi manajemen isu yang diterapkan public relations Trans TV dalam menangani teguran KPI pada program Brownis. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus melalui teknik pengumpulan data wawancara, dokumentasi, dan observasi. Penelitian ini mengacu pada Model 7 Steps Issue Management oleh Regester & Larkin (2008) dengan 7 sub-analisis, Monitoring, Identification, Prioritization, Analysis, Strategi Decision, Implementation, Evaluation. . Hasil penelitian menunjukan bahwa PR Trans TV menerapkan strategi manajemen isu secara sistematis dan terstruktur, dimulai dari pemantauan tayangan langsung dan media sosial, identifikasi isu melalui forum lintas divisi, hingga penentuan prioritas berdasarkan urgensi dan dampak reputasional. Analisis dilakukan dengan metode SWOT dan pemetaan sentimen publik untuk merancang strategi komunikasi yang tepat. Respons terhadap isu dilakukan secara simultan melalui pendekatan proaktif dan reaktif, disertai evaluasi berkelanjutan melalui survei pemirsa, rating, serta penguatan sistem screening konten. Temuan ini mencerminkan bahwa Trans TV telah mengadopsi manajemen isu berbasis nilai, data, dan partisipasi publik sebagai upaya menjaga reputasi dan kepatuhan terhadap regulasi penyiaran nasional. Kata Kunci : Brownis, KPI, Manajamen Isu, Public Relations, Trans TV
Wacana Komunikasi Krisis Kasus OverClaim Brand Azarine Dan Daviena Di Media Sosial Tiktok Uritani, Anry Dannya Fahrozi; Ekaputri, Sarah Derma
eProceedings of Management Vol. 12 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas wacana yang muncul di media sosial TikTok sebagai respons terhadap krisis overclaim kandungan produk oleh dua brand lokal skincare, Azarine dan Daviena. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk wacana yang berkembang serta bagaimana wacana tersebut berhubungan satu sama lain dalam membentuk opini publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Discourse Network Analysis (DNA) untuk memetakan struktur dan keterkaitan antarwacana. Data diperoleh melalui observasi serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Azarine dan Daviena memiliki strategi komunikasi krisis yang berbeda, di mana Azarine cenderung menggunakan strategi rebuild melalui permintaan maaf, sementara Daviena menerapkan strategi deny dengan menyerang pihak pengkritik. Perbedaan pendekatan ini berdampak pada persepsi publik terhadap brand trust, loyalitas, kualitas yang dirasakan, dan risiko yang dirasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi krisis di era digital sangat bergantung pada respons awal brand terhadap krisis dan kemampuan membangun narasi yang meyakinkan publik di media sosial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan krisis brand di ranah digital. Kata Kunci : brand trust, Discourse Network Analysis, komunikasi krisis, overclaim, TikTok,
Pelatihan Literasi Keuangan Digital: Pelindungan Mahasiswa Digital dari Pinjaman Online Ilegal Aiza Arifputri; Sarah Derma Ekaputri; Amanda Bunga Gracia; Retno Hendryanti
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 2 (2025): Bantenese: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v7i2.11555

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan digital bagi mahasiswa penyandang disabilitas serta memberikan pemahaman mengenai perlindungan dari pinjaman online ilegal. BerkolaborasiĀ  dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, kegiatan ini memberikan informasi yang relevan dan meningkatkan kesadaran peserta terhadap risiko finansial yang dapat mereka hadapi di era digital ini. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui workshop yang mencakup tiga sesi utama, yaitu pemaparan materi oleh narasumber dari OJK, sesi tanya jawab dan kuis interaktif, serta sesi pengecekan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK secara langsung. Hasil evaluasi dari peserta menunjukkan bahwa mayoritas merasa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan mereka, jelas, serta mudah dipahami. Selain itu, aspek pelayanan panitia dan aksesibilitas dalam kegiatan ini juga mendapatkan respons positif, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, seperti profesionalisme Juru Bahasa Isyarat (JBI), pengaturan tata letak ruangan yang lebih ergonomis, serta penyediaan waktu yang lebih fleksibel untuk pengisian quiz maupun kuesioner. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa penyandang disabilitas dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai literasi keuangan digital dan mampu mengambil keputusan finansial yang lebih bijak. Evaluasi dan masukan dari peserta akan menjadi dasar perbaikan untuk kegiatan serupa di masa depan agar semakin inklusif khususnya dalam ruang akademis.
The TikTok Judgment: Examining Brands’ Crisis Response Through Public Discourses in Social Media Ekaputri, Sarah Derma; Uritani, Anry Dannya Fahrozi
The Indonesian Journal of Communication Studies Vol. 18 No. 2 (2025): The Indonesian Journal of Communication Studies
Publisher : Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research investigates the public discourse associated with crisis communication strategies utilized by two Indonesian skincare brands, A and D, following allegations concerning the overclaims of product ingredients. By employing a qualitative approach that incorporates Discourse Network Analysis (DNA), this study aims to find and map the emergent narratives and relational dynamics found within dialogues as responses to the official press releases issued by each brand on TikTok. Findings indicate a divergence in strategic response: Brand A engaged in a rebuilding approach using a public apology, while Brand D adopted a denial strategy that provoked further antagonism from critics. These contrasts engendered significantly different public responses related to brand trust, perceived quality, consumer loyalty, and perceived risk of the brands. The investigation emphasizes the critical importance of prompt, empathetic, and transparent communication in the context of digital crisis management, offering valuable insights for brands navigating a reputational dilemma in the contemporary social media landscape.
Empowered Vulnerable Groups: How Digital Media Portrays The Vulnerable Group In Indonesia Within Its Content Nindita Asrining Tisna; Sarah Derma Ekaputri
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 15, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Master of Communication Science Program, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/interaksi.15.1.74-92

Abstract

This study aims to analyze how the digital media outlet Narasi Newsroom, through its People segment, constructs the image of vulnerable groups within the context of social life. Vulnerable groups in this research include women, the elderly, indigenous communities, the poor, and communities with diverse social identities. This study employs a qualitative content analysis with a descriptive approach, using Peter L. Berger's theory of the social construction of reality as the analytical framework. The results show that Narasi Newsroom presents vulnerable groups as individuals and communities with roles, values, and sociocultural strengths worthy of recognition. Through the use of symbols, narratives, and depictions of daily activities, these groups are portrayed not merely as victims, but as active members of society with social roles. The media thus facilitates a social construction process that encourages a more positive public perception of vulnerable communities. This research recommends the importance of a journalistic approach that involves the subjects directly in the media coverage, so that vulnerable groups are given space to express their identities and life values in a complete and dignified manner.
MAKING SENSE OF DIGITAL VULNERABILITY: A PHENOMENOLOGICAL STUDY OF WOMEN'S LIVED EXPERIENCES IN NYENGSERET URBAN VILLAGE Aiza Nabilla Arifputri; Nofha Rina; Yuliani Rahma Putri; Diah Agung Esfandari; Raissa Azaria Arief; Sarah Derma Ekaputri
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 5 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of digital technology has increased women's exposure to various forms of digital vulnerability, including online harassment, identity fraud, personal data misuse, online loan intimidation, and technology-facilitated sexual exploitation. While previous studies have primarily examined digital vulnerability from technological or cybersecurity perspectives, limited attention has been given to how women themselves interpret these experiences in their everyday lives. This study aims to explore how women in Nyengseret Urban Village, Bandung City, make meaning of digital vulnerability through their lived experiences. Employing a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews with five female community leaders representing PKK, Working Group (Pokja), Posyandu, RT, and RW. The findings were analyzed using Sandra Harding's Feminist Standpoint Theory, encompassing situated knowledge, the privilege of the oppressed, experience as evidence, critique and reflexivity, and emancipatory goals. The findings reveal that digital vulnerability is not merely understood as a technological threat but as an experience that undermines women's sense of safety in everyday life. Women's knowledge of digital risks emerges from their social positions and shared community experiences, enabling them to recognize patterns of online fraud, digital sexual harassment, privacy violations, and financial exploitation. Furthermore, the study finds that women's collective experiences foster critical awareness, mutual support, and community-based strategies to address digital risks. Collaboration between the village government, universities, and law enforcement strengthens this process through digital literacy programs and the creation of safe spaces for sharing experiences without stigma. This study concludes that digital vulnerability is socially constructed through women's lived experiences and that community-based digital literacy serves as an emancipatory process that transforms individual vulnerability into collective resilience.