Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dakwah Pendidikan Kyai Haji Muhammad Ilyas Ruhiat (Ajengan Cipasung) Arifin, M Jaelani; Husna , Bagya; Nahdia Lulu Annawawie, Aniq; Murodi; Yakin, Syamsul
Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/meyarsa.v5i2.15561

Abstract

This research aims to examine the significant role of Kyai Haji Muhammad Ilyas Ruhiat in Islamic educational dakwah through Pondok Pesantren Cipasung. Kyai Ilyas, a prominent scholar known for his moderate and inclusive approach, successfully modernized the pesantren education system by integrating religious knowledge and general sciences. His educational dakwah not only focused on religious teachings but also shaped the character of students to be prepared for global challenges. This study employs a descriptive biographical method, where data is gathered from relevant literature and analyzed to gain a deeper understanding of Kyai Ilyas's dakwah strategies. The findings show that his approach to pesantren education has become a model for Islamic educational development in Indonesia and significantly contributes to the formation of a well-mannered and knowledgeable society.
Apresiasi Gelar Syaikhoh Rahmah el-Yunusiyah Sebagai Pionir Pendidikan Perempuan Asal Minangkabau Aida Farida Zahra; Siti Romlah; Murodi; Yakin, Syamsul
Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam Vol. 16 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/darussalam.v16i1.3294

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan Rahmah el-Yunusiyah dalam memajukan pendidikan perempuan di Minangkabau serta alasan Rahmah el-Yunusiyah mendapatkan gelar Syaikhoh. Rahmah el-Yunusiyah merupakan tokoh penting yang mendirikan Diniyah Puteri Padang Panjang, sekolah khusus perempuan pertama di Minangkabau. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan studi riset kepustakaan yaitu dengan cara menelusuri sumber-sumber data dari berbagai bacaan tanpa melibatkan penelitian lapangan. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara objektif dan sistematis sesuai prosedur yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rahmah el-Yunusiyah memiliki visi untuk memajukan pendidikan perempuan. Rahmah el-Yunusiyah dikenal sebagai pendidik yang menerapkan metode pengajaran inovatif hingga pada akhirnya mendapatkan gelar syaikhoh dari Universitas Al-Azhar pada tahun 1957. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Syaikhoh Rahmah el-Yunusiyah tidak hanya memberikan kontribusi besar terhadap pendidikan perempuan di Minangkabau, tetapi juga memberikan inspirasi bagi perkembangan pendidikan perempuan di Indonesia. Gelar syaikhoh diberikan kepada Rahmah el-Yunusiyah sebagai pengakuan atas kepemimpinannya yang luar biasa dalam pendidikan perempuan dan kontribusi besarnya dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. Gelar ini mencerminkan penghargaan terhadap dedikasinya dalam menciptakan sistem pendidikan yang komprehensif bagi perempuan, serta perannya sebagai teladan bagi generasi selanjutnya. Kata kunci: Kepemimpinan, Pendidikan Perempuan, Rahmah el-Yunusiyah, Syaikhoh
Dakwah Politik dalam Paradigma Simbiotik Yakin, Syamsul
Jurnal Komunikasi Islam Vol. 9 No. 1 (2019): June
Publisher : Departement of Islami Comuunication and Broadcasting, Faculty of Da'wah and Communication, State Islamic University of Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.995 KB) | DOI: 10.15642/jki.2019.9.1.58-81

Abstract

This paper examines the relationship between da'wah and politics based on a symbiotic paradigm. Through a historical-critical approach, this paper found that the rela­tion­ship between da'wah and politics has an inseparable relationship. Historically, the Prophet Muhammad and the Muslim scholars have practised a symbiotic pattern of political da'wah. In this context, da'wah conducted within the frame of idealism, which is to spread the goodness of religious teachings. In this regard, various benefits and goodness for the community and get the pleasure of God. Furthermore, political propaganda emphasizes balance and benefit for the people. Therefore, propaganda and political symbiosis, at a certain level, have given room for the development of demo­cracy. In this regard, it is necessary to have a proselytising management approach.
DAKWAH DAN PROSES PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA Farid, Ahmad; Fitriyani, Kurnia Nur; -, Murodi; Yakin, Syamsul
Holistik: Journal for Islamic Social Sciences Vol 8, No 2 (2024): December 2024
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/holistik.v8i2.22297

Abstract

The development of Islamic propagation (dakwah) and the dissemination of Islam in Indonesia have been simultaneous and complex. Dakwah, which linguistically means a religion that brings salvation, has been widely accepted by the majority of Indonesian society. This success cannot be separated from the roles of past propagators who utilized various dakwah methods, namely dakwah bil lisan (oral preaching), bil kitabah (written preaching), and bil hal (practical preaching). This paper aims to analyze the process of dakwah and the spread of Islam in Indonesia using the theoretical framework of structural functionalism. The research employs a descriptive qualitative method with a library research approach, focusing on studies of dakwah and the spread of Islam. The findings indicate that Islam entered Indonesia through trade, marriage, education, sufism, arts, and politics. The primary propagators of Islam in early Indonesia were the Walisongo, who arrived periodically. The arrival of Islam elicited various responses from the mad'u (recipients of dakwah), which eventually led to widespread acceptance. The dynamics of accepting Islamic teachings were influenced by the social class context of the past, specifically the abangan, santri, and priyayi classes.
Multicultural Education in Islamic Boarding School Rasyid, Harun; Abd.Shomad, Ahmad Bisyri; Hidayatulloh, Hidayatulloh; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Yakin, Syamsul
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 1 2022
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v9i1.29071

Abstract

AbstractMulticultural education is crucial in the socio-multicultural atmosphere. Multicultural education encourages students to respect those whose beliefs differ from their own—living in a diverse group of people with the principle that differences are a gift. The method used in this research is qualitative by focusing the design on source triangulation, which analyzes the references from the Qur’an and scholars’ and experts’ ijtima’. This study explored the model of multicultural education practiced by Al-Asyriah Nurul Iman Islamic boarding school in Bogor; It involved stakeholders from students, teachers, and other academic communities. The socio-multicultural values that exist, including ta’aruf, tawasuth, tasamuh, ta’awun, tawazun, peace, and religious freedom, are the foundation of the pesantren education model at the educational institution Bogor. Understanding socio-multiculturalism brings peace and reduces the possibility of social discrimination, violence, and injustice caused mainly by cultural differences in religion, race, ethnicity, language, gender, age, and social strata. AbstrakPendidikan multikultural sangat penting dalam atmosfir sosio-multikultural. Pendidikan multikultural mendorong siswa untuk menghormati mereka yang keyakinannya berbeda dari mereka sendiri—hidup dalam kelompok orang yang beragam dengan prinsip bahwa perbedaan adalah anugerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan memfokuskan desain pada triangulasi sumber, yaitu menganalisis referensi dari para ulama dan ahli dari al-Qur’an dan ijtima’. Penelitian ini mengeksplorasi model pendidikan multikultural yang dipraktikkan pesantren Al-Asyriah Nurul Iman Islamicdi Bogor; Melibatkan pemangku kepentingan dari siswa, guru, dan civitas akademika lainnya. Nilai-nilai sosial multikultural yang ada, antara lain ta’aruf, tawasuth, tasamuh, ta’awun, tawazun, damai, dan kebebasan beragama, menjadi landasan model pendidikan pesantren di lembaga pendidikan Bogor. Pemahaman sosio-multikulturalisme membawa perdamaian dan mengurangi kemungkinan diskriminasi sosial, kekerasan, dan ketidakadilan yang disebabkan terutama oleh perbedaan budaya, agama, ras, suku, bahasa, jenis kelamin, usia, dan strata sosial.How to Cite: Rasyid, H, Shomad, A. B. A., Hidayatulloh, Kamarusdiana, Yakin, S. (2022). Multicultural Education in Islamic Boarding School. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 9(2), 77-92. doi:10.15408/tjems.v9i1. 29071.