Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

DAKWAH DAN PROSES PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA Farid, Ahmad; Fitriyani, Kurnia Nur; -, Murodi; Yakin, Syamsul
Holistik: Journal for Islamic Social Sciences Vol 8, No 2 (2024): December 2024
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/holistik.v8i2.22297

Abstract

The development of Islamic propagation (dakwah) and the dissemination of Islam in Indonesia have been simultaneous and complex. Dakwah, which linguistically means a religion that brings salvation, has been widely accepted by the majority of Indonesian society. This success cannot be separated from the roles of past propagators who utilized various dakwah methods, namely dakwah bil lisan (oral preaching), bil kitabah (written preaching), and bil hal (practical preaching). This paper aims to analyze the process of dakwah and the spread of Islam in Indonesia using the theoretical framework of structural functionalism. The research employs a descriptive qualitative method with a library research approach, focusing on studies of dakwah and the spread of Islam. The findings indicate that Islam entered Indonesia through trade, marriage, education, sufism, arts, and politics. The primary propagators of Islam in early Indonesia were the Walisongo, who arrived periodically. The arrival of Islam elicited various responses from the mad'u (recipients of dakwah), which eventually led to widespread acceptance. The dynamics of accepting Islamic teachings were influenced by the social class context of the past, specifically the abangan, santri, and priyayi classes.
Multicultural Education in Islamic Boarding School Rasyid, Harun; Abd.Shomad, Ahmad Bisyri; Hidayatulloh, Hidayatulloh; Kamarusdiana, Kamarusdiana; Yakin, Syamsul
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 1 2022
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v9i1.29071

Abstract

AbstractMulticultural education is crucial in the socio-multicultural atmosphere. Multicultural education encourages students to respect those whose beliefs differ from their own—living in a diverse group of people with the principle that differences are a gift. The method used in this research is qualitative by focusing the design on source triangulation, which analyzes the references from the Qur’an and scholars’ and experts’ ijtima’. This study explored the model of multicultural education practiced by Al-Asyriah Nurul Iman Islamic boarding school in Bogor; It involved stakeholders from students, teachers, and other academic communities. The socio-multicultural values that exist, including ta’aruf, tawasuth, tasamuh, ta’awun, tawazun, peace, and religious freedom, are the foundation of the pesantren education model at the educational institution Bogor. Understanding socio-multiculturalism brings peace and reduces the possibility of social discrimination, violence, and injustice caused mainly by cultural differences in religion, race, ethnicity, language, gender, age, and social strata. AbstrakPendidikan multikultural sangat penting dalam atmosfir sosio-multikultural. Pendidikan multikultural mendorong siswa untuk menghormati mereka yang keyakinannya berbeda dari mereka sendiri—hidup dalam kelompok orang yang beragam dengan prinsip bahwa perbedaan adalah anugerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan memfokuskan desain pada triangulasi sumber, yaitu menganalisis referensi dari para ulama dan ahli dari al-Qur’an dan ijtima’. Penelitian ini mengeksplorasi model pendidikan multikultural yang dipraktikkan pesantren Al-Asyriah Nurul Iman Islamicdi Bogor; Melibatkan pemangku kepentingan dari siswa, guru, dan civitas akademika lainnya. Nilai-nilai sosial multikultural yang ada, antara lain ta’aruf, tawasuth, tasamuh, ta’awun, tawazun, damai, dan kebebasan beragama, menjadi landasan model pendidikan pesantren di lembaga pendidikan Bogor. Pemahaman sosio-multikulturalisme membawa perdamaian dan mengurangi kemungkinan diskriminasi sosial, kekerasan, dan ketidakadilan yang disebabkan terutama oleh perbedaan budaya, agama, ras, suku, bahasa, jenis kelamin, usia, dan strata sosial.How to Cite: Rasyid, H, Shomad, A. B. A., Hidayatulloh, Kamarusdiana, Yakin, S. (2022). Multicultural Education in Islamic Boarding School. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 9(2), 77-92. doi:10.15408/tjems.v9i1. 29071. 
Kritik Al-Ghazali Terhadap Aliran Bathiniyah Terkait Konflik Politik Sunni dan Syiah di Panggung Sejarah Syamsul Yakin
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v16i1.10178

Abstract

Respons aliran Bathiniyah terhadap kritik al-Ghazali bersumber dari karya polemik al-Ghazali, yaitu Fadhāih al-Bāthiniyyah wa Fadhāil al-Mustazhiriyyah. Karya al-Ghazali ini mendapat respons secara historis-kritis dari kalangan pendukung aliran Bathiniyah atau Syiah Ismailiyah, simpatisan, maupun para ilmuan. Terkait dengan penamaan Bathiniyah, misalnya, al-Ghazali dipandang kurang memahami konteks sosio-historis pada masanya. Karena jika yang dimaksud al-Ghazali adalah al-Bathiniyah, maka itu berarti bukan Ismailiyah. Alasannya, pada saat al-Ghazali menulis karya polemiknya, Ismailiyah di Iran di kenal dengan istilah al-Da’wah al-Hadiyah. Artikel ini selain menyajikan kritik al-Ghazali juga memberikan gambaran tentang respons balik aliran Bathiniyah. Karya al-Ghazali menuai kritik karena ditulis untuk merespons permintaan Khalifah Abbasiyah yang masih muda usia, yakni al-Mustazhir. Dia meminta al-Ghazali untuk mengarang sebuah buku dengan menggunakan dasar kekeliruan Syiah Ismailiyah atau aliran Bathiniyah. Bagi al-Ghazali, kampanye secara literar ini dilakukannya juga untuk membela kesultanan Saljuk yang Sunni yang terancan oleh aliran yang dibawa oleh Hasan al-Sabah tersebut. Tampaknya al-Ghazali ingin mengkompromikan Abbasiyah dan Saljuk yang keduanya Sunni untuk bersama-sama melawan aliran Bathiniyah yang Syiah.
Dakwah Literasi KH. Ali Mustafa Yaqub: Moderat dan Adaptif dalam Komunikasi Keagamaan Kontemporer Siti Nurlailah Sya'diah; Yusuf Romadhon Munif; Murodi; Syamsul Yakin; Muhammad Fanshoby
Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Al-Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/ittishol.v7i2.4778

Abstract

Dakwah literasi atau yang dikenal juga sebagai dakwah bil qalam merupakan metode komunikasi keagamaan yang memanfaatkan tulisan sebagai medium penyampaian pesan Islam. KH. Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) mengembangkan metode dakwah literasi dengan ajaran yang moderat dan adaptif sehingga dapat menjawab segala isu kontemporer yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia berlandaskan Al-Qur’an dan hadits. Penelitian ini bertujuan menganalisis dakwah literasi KH. Ali Mustafa Yaqub, mengidentifikasi bentuk dan media yang digunakannya, serta mengevaluasi manifestasi moderat dan adaptif dalam karya-karyanya. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara mendalam dengan keluarga dan murid-murid dari Kyai Ali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Ali Mustafa Yaqub menerapkan dakwah literasi sejak tahun 1991 dengan latar belakang yang kuat beliau sebagai da’i dan akademisi, tulisan beliau beragam meliputi popular writing, academic writing, dan media engagement. Beliau telah menghasilkan lebih dari 50 karya buku yang beberapa diantaranya diterbitkan ke dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia). Dari tulisan-tulisan beliau banyak mencerminkan pemikiran moderat melalui toleransi beragama, dan inklusivitas. Pemikiran Kyai Ali yang adaptif terhadap perkembangan zaman termanifestasi dalam pengembangan fiqh al-waqi' yang responsif terhadap tantangan kontemporer tanpa mengabaikan prinsip fundamental Islam. Adapun implikasi pada dakwah literasi yang disampaikan oleh Kyai Ali bukan hanya mencerahkan masyarakat muslim namun juga menginspirasi banyak orang khususnya para da’i untuk turut menerapkan dakwah literasi yang moderat dan adaptif.
Dakwah Politik Haji Agus Salim Sendi Ramadhan; Lia Pediati; Murodi; Syamsul Yakin
Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/meyarsa.v5i1.13471

Abstract

This research focuses on the political preaching of Haji Agus Salim, who was a charismatic cleric and accomplished diplomat who fought to defend Indonesia's sovereignty in the international arena. The aim of this research is how Haji Agus Salim's political preaching is, by presenting information about the biography, works, thoughts, and political preaching movements of Haji Agus Salim. Using qualitative descriptive methods. The results obtained in this writing are that Haji Agus Salim has a fairly long life track record in the history of the Indonesian struggle, his intelligence and skill in debating are known throughout the country, and his ability to master foreign languages ​​made him very popular among the Dutch government at that time. Haji Agus Salim is also listed as one of the Indonesian independence fighters who was later nicknamed The Grand Old Man. Haji Agus Salim carries out political da'wah through his works, starting from his writings and his ideological understanding of aqidah and syariah. His political da'wah movements can be seen from his participation in Sarekat Islam and the founding of the Jong Islamieten Bond and Volksraad to his heroism in Indonesian independence.