Sri Hartini
Departemen Keperawatan Anak Dan Maternitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan antara Stres dengan Kualitas Tidur Remaja di Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja Yogyakarta Kusuma Ayu Rachmasari; Sri Hartini; Itsna Lutfi Kholisa; Yayi Suryo Prabandari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.84770

Abstract

Background: The unresolved conflict which is experienced by adolescent may cause stress. Stress on adolescents is reversible but may lead to serious impact if not properly dealt with. Emotional disorder like stress may affect the quality of sleep on adolescents. Objective: To identify the correlation of stress with quality of sleep in Youth Protection and Social Rehabilitation Center (Balai Perlindungan and Rehabilitasi Sosial Remaja/BPRSR) of Yogyakarta. Method: This research was correlational descriptive with cross sectional design. The research was conducted at BPRSR Yogyakarta. There were 52 adolescents as sample which was determined by total sampling method. Data were collected using two questioners i.e. Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI), to measure the quality of sleep, and Perceived Stress Scale (PSS-10) to measure stress on adolescents. Data were analyzed using spearman rank test to figure out the correlation between stress and quality of sleep of. Result: The prevalence of moderate stress was 88,46% among respondents, while 80,77% of adolescents had poor quality of sleep. The analysis conducted showed no significant correlation between stress and quality of sleep (p=0,564). The analysis on external factor revealed the correlation between drug consumption and quality of sleep. Conclusion: No significant relation is found between stress and quality of sleep among adolescent in Youth Protection and Social Rehabilitation Center (BPRSR) of Yogyakarta.ABSTRAKLatar belakang: Konflik yang dialami oleh remaja dan tidak terselesaikan dengan baik dapat menyebabkan stres pada remaja. Stres pada remaja bersifat reversible, namun akan berdampak serius jika tidak ditangani dengan baik. Gangguan mental emosional berupa stres dapat memengaruhi kualitas tidur pada remaja. Tujuan: Mengetahui hubungan stres dengan kualitas tidur pada remaja di Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Remaja Yogyakarta (BPRSR). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian yang dilakukan di BPRSR Yogyakarta ini, menggunakan sampel sebanyak 52 remaja, dengan metode total sampling. Data kualitas tidur dan stres pada remaja dikumpulkan melalui kuesioner Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI) dan Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antara stres dengan kualitas tidur remaja di BPRSR. Hasil: Diketahui prevalensi stres level sedang, pada remaja di BPRSR sebesar 88,46% dan sebanyak 80,77% remaja memiliki kualitas tidur buruk. Hasil analisis uji hubungan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur (p=0,564). Hasil analisis faktor luar ditemukan adanya hubungan antara konsumsi obat dengan kualitas tidur. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara stres dengan kualitas tidur remaja di BPRSR Yogyakarta.
Aktivitas Fisik dan Dampaknya pada Kecemasan Anak Usia Sekolah di SDN Sinduadi Timur Sleman Yogyakarta Yuvita Erma Diana; Sri Hartini; Anik Rustiyaningsih
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.89035

Abstract

Background: Anxiety affects people across all age groups including children and physical activity has demonstrated a favorable impact on diminishing this mental issue. Research about physical activity and anxiety among school-age children has not been investigated massively in Indonesia. Objective: To investigate the impact of physical activity on anxiety levels in children. Method: This study employs a pre-experimental design with a one-group pre-post test approach. The participants in this study consisted of children aged 7-12, who were students in grades 3-5 at SDN Sinduadi Timur, totaling 47 students. The research utilized The Revised Manifest Anxiety Scale questionnaire, self-reported physical activity data, and a response evaluation sheet. The Wilcoxon test was used for data analysis to determine the effect of anxiety before and after the physical activity intervention, specifically through body gymnastic exercises. Result: The results indicate a significant impact of physical activity on anxiety levels. The number of participants experiencing anxiety reduces from 7 (14,89%) to 3 (6,38%). Statistical analysis demonstrates a significant difference in anxiety levels before and after the intervention, with a p value of 0,001. Conclusion: In conclusion, this study underscores the substantial potential of engaging in physical activity to notably reduce anxiety levels in children, emphasizing the importance of promoting physical and mental well-being among this demographic.ABSTRAKLatar belakang: Kecemasan memengaruhi berbagai kelompok usia termasuk anak-anak dan aktivitas fisik telah membuktikan dampak positif dalam mengurangi masalah mental ini. Penelitian tentang aktifitas fisik dan kecemasan pada anak usia sekolah belum banyak dilakukan di Indonesia.  Tujuan: Untuk menyelidiki dampak aktivitas fisik pada tingkat kecemasan pada anak-anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one-group pre-post test. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari anak-anak berusia 7-12 tahun, yang merupakan siswa kelas 3-5 di SDN Sinduadi Timur, dengan total 47 siswa. Penelitian ini menggunakan kuesioner The Revised Manifest Anxiety Scale, data aktivitas fisik yang dilaporkan sendiri, dan lembar evaluasi respons. Uji Wilcoxon digunakan untuk analisis data kecemasan sebelum dan setelah intervensi aktivitas fisik, khususnya melalui aktivitas latihan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan dampak signifikan dari aktivitas fisik pada tingkat kecemasan. Jumlah partisipan yang mengalami kecemasan berkurang dari 7 (14,89%) menjadi 3 (6,38%). Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan sebelum dan setelah intervensi, dengan nilai p sebesar 0,001. Kesimpulan: Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan potensi besar dari keterlibatan dalam aktivitas fisik untuk secara nyata mengurangi tingkat kecemasan pada anak-anak, dengan menekankan pentingnya mempromosikan kesejahteraan fisik dan mental di pada agregat usia ini.