Claim Missing Document
Check
Articles

PERTUMBUHAN BIBIT KOPI ARABIKA PADA TANAH INCEPTISOL YANG DIAPLIKASIKAN KOMPOS JOHAR ., Ridwan; Mowidu, Ita; ., Gusstiawan
Agropet Vol 20, No 2 (2023): Volume 20 No 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.652

Abstract

ABSTRAK: Pembibitan tanaman menjadi salah satu faktor penting yang harus di perhatikan dalam membudidayakan tanaman kopi. Pemberian kompos johar dapat membantu mencukupi kebutuhan unsur hara yang diperlukan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kopi arabika pada tanah inceptisol. Aplikasi berbagai dosis kompos johar (0, 9, 11, 13 dan 15 g/tanaman) diatur menurut rancangan acak kelompok (RAK) dan diulang empat kali, telah dilaksanakan di Desa Lape Kecamatan Poso Pesisir pada bulan Februari sampai Juli 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kompos johar berpengaruh nyata terhadap lilit batang umur 6, 8, 10 dan 12 minggu setelah tanam (MST), berat kering akar dan panjang akar, berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 14 dan 16 MST, lilit batang umur 14 dan 16 MST serta bobot basah tajuk, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap waktu berkecambah, jumlah daun, bobot kering tajuk dan laju pertumbuhan relatif. Aplikasi kompos johar 13 g/tanaman memberikan pertumbuhan bibit yang lebih baik dan berbeda nyata dengan tanpa aplikasi kompos (kontrol). ABSTRACT: Plant nursery is one of the important factors that must be considered in cultivating coffee plants. The provision of johar compost can help meet the nutrient needs of plants. This study aims to determine the growth response of Arabica coffee seedlings on inceptisol soil. The application of various doses of johar compost (0, 9, 11, 13 and 15 g/plant) arranged according to a randomized block design (RAK) and repeated four times, has been carried out in Lape Village, Poso Pesisir District from February to July 2023. The results showed that the application of johar compost had a significant effect on stem circumference at ages 6, 8, 10 and 12 weeks after planting (WAP), root dry weight and root length, had a very significant effect on plant height at ages 14 and 16 WAP, stem circumference at ages 14 and 16 WAP and wet weight of the crown, but had no significant effect on germination time, number of leaves, dry weight of the crown and relative growth rate. Application of 13 g/plant of Johar compost provided better seedling growth and was significantly different from no compost application (control). 
ORGANIC MATTER CONTENT IN SOIL UNDER COCOA PLANTS IN LOWLANDS AND HIGHLANDS Mowidu, Ita; Soande, Yehezkiel; Nurulazmi, Aqiqah
Agropet Vol 22, No 1 (2025): Volume 22 No 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.728

Abstract

Soil organic matter is an important factor that determines soil fertility and health. This is very important for plant growth, development and yield. Elevation influences the climate elements of a region and subsequently influences the decomposition of organic matter, and then affects the decomposition of organic materials. This study aims to determine the organic material content in the soil under cocoa plants in the lowlands and highlands. The amount of organic matter content in the soil can be predicted from the results of the C-organic content analysis, namely by multiplying the C-organic content by a constant as a correction factor, namely 1.724. The organic C content was determined from composite soil samples taken at 10 sites at each location starting from the surface soil to a depth of approximately 20-30 cm. The results of the study showed that in the same area, the soil organic matter content was higher on slopes (3.84% in lowlands and 4.62% in highlands) where the soil surface was covered with litter compared to valleys (1.48% in lowlands and 2.6% in highlands) which were surface water flow areas. Furthermore, in areas with the same landscape (slopes or valleys), the soil organic matter content is higher in the highlands (4.62% on slopes and 2.6% in valleys) compared to the lowlands (3.84% on slopes and 1.48% in valleys).
Pendampingan Penyusunan Dokumen PSETK Desa Doda Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Usuli, Sudarto; Kapuy, Holmes Rolandy; Pujiono, Pujiono; Mowidu, Ita; Wacana, Gitit I.P; Pandoyu, Ebelhart O.; Bangguna, David S.V.L
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i1.2296

Abstract

ABSTRACTWith the program from the government so that the Village Irrigation Areas in Indonesia compile the Institutional Engineering Socio-Economic Profile (PSETK). Not all of the irrigation areas in Poso Regency are involved in the PSETK program, one of the irrigation areas that received the PSETK program is the irrigation area of Doda village. Based on D.I Doda's search and analysis results, it is known that Doda irrigation has potential land and potential farmer resources that allow for a program to increase productivity of lowland rice farming. The Doda Irrigation only has one P3A. With an active performance of 51% - 75%, this condition shows that the institutions that have been formed have quite an active role in the development and management of agricultural irrigation systems. The administration, which is poorly recorded and organized, has not made a real contribution to the community's economy. Physically, the distribution channels and buildings in D. I Doda are generally structurally damaged but can still function. This happened because of the weak awareness of the farming community to work together to clean weeds which caused the existing condition of the channel and distribution building to be closed, thus disrupting the distribution of water to the rice fields.  ABSTRAKDengan adanya program dari pemerintah agar Daerah Irigasi Desa di Indonesia menyusun Profil Sosial Ekonomi Teknik Kelembagaan (PSETK). Daerah irigasi di Kabupaten Poso tidak semuanya terlibat dalam program PSETK tersebut, salah satu daerah irigasi yang menerima program PSETK adalah daerah irigasi desa Doda. Berdasarkan penyusuran D.I Doda dan hasil analisis diketahui bahwa irigasi Doda memiliki potensi lahan dan sumberdaya petani yang potensial yang memungkinkan untuk program peningkatan produktivitas usaha tani padi sawah. Daerah Irigasi Doda hanya mempunyai satu P3A. Dengan kinerja 51 % - 75% aktif, kondisi ini memperlihatkan kelembagaan yang sudah terbentuk cukup berperan aktif dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi pertanian. Administrasi yang kurang tercatat dan tertata, belum memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi masyarakat. Secara fisik saluran dan bangunan distribusi yang ada di D. I Doda umumnya mengalami kerusakan struktur namun masih dapat berfungsi. Hal ini disebabkan lemahnya kesadaran masyarakat petani bergotong - royong membersihkan gulma yang menyebabkan kondisi eksisting saluran dan bangunan distribusi tertutup sehingga mengganggu distribusi air ke petak sawah. 
Pendampingan Pembuatan Pupuk Organik Cair Limbah Air Kelapa Sebagai Pelaksanaan P5 Di SMP GKST Poso Mowidu, Ita; Loliwu, Yan Alpius; Kamawo, Jelfian; Ramadhan, Tafririn
Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2025): Mosintuwu : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2808-9073.786

Abstract

Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan pada satuan Pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan yang sederajat mengharuskan untuk melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Tim P5 satuan Pendidikan, dalam hal ini SMP GKST Poso, mengalami kendala teknis dalam implementasi pelaksanaan P5. Sementara itu, air kelapa sebagai limbah usaha penggilingan kelapa, usaha penjualan santan kelapa dan usaha kopra belum dimanfaatkan. Air kelapa tersebut hanya dibuang begitu saja. Padahal limbah air kelapa dapat diolah dan digunakan sebagai pupuk bagi tanaman. Penggunaan limbah air kelapa sebagai bahan baku pembuatan pupuk organic cair (POC) digunakan sebagai salah satu implementasi pelaksanaan P5 di SMP GKST Poso, khususnya tema 1 tentang gaya hidup berkelanjutan dan tema 6 tentang berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI. Karena itu, telah dilakukan kegiatan dalam bentuk ceramah, pelatihan dan pendampingan pembuatan POC limbah air kelapa. Ceramah telah dilakukan oleh Tim Pelaksana yang dihadiri oleh siswa-siswi SMP GKST Poso kelas VIII dan Wakil Kepala. Hasil pelaksanaan kegiatan PKM menunjukkan bahwa (1) kegiatan pelatihan pembuatan POC limbah air kelapa meningkatkan pengetahuan siswa dan siswi SMP GKST Poso kelas VIII dari tidak tahu atau agak tahu menjadi tahu dan sangat tahu; (2) kegiatan demonstrasi cara pembuatan POC limbah air kelapa menjadikan siswa dan siswi SMP GKST Poso kelas VIII mengetahui alat dan bahan serta cara pembuatannya; (3) kegiatan pendampingan pembuatan POC limbah air kelapa menjadikan siswa dan siswi SMP GKST Poso kelas VIII dapat menerapkan cara pembuatannya dengan baik, benar dan tepat; dan (4) hasil kegiatan pelatihan pendampingan pembuatan POC limbah air kelapa adalah bukti karya pelaksanaan P5 bagi siswa dan siswi SMP GKST Poso kelas VIII, khususnya tema 1 tentang gaya hidup berkelanjutan dan tema 6 tentang berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI.
CHARACTERISTICS OF PHYSICAL PROPERTIES OF SOIL UNDER COCOA PLANTS IN THE LOWLANDS OF LAPE VILLAGE AND THE NAPU HIGHLANDS Ita Mowidu; Andri Amaliel Managanta; Ria Dewiyanti Tologana; Fitria
Agropet Vol 23 No 1 (2026): Vol 23 No 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cocoa is a plantation commodity of high economic value. Soil physical properties are one of the factors supporting production. Elevation is believed to influence the physical properties of the soil. The study aims to determine the physical soil characteristics of lowland and highland cocoa plantations in Poso Regency. The research was conducted from November 2024 to January 2025. The treatment of landscape conditions—specifically flat terrain and slopes in both lowlands and highlands—was implemented using a Randomized Complete Block Design (RCBD). Each treatment was replicated 10 times. The soil physical properties observed were soil color, bulk density (BV), porosity, available water content, and drainage pores. Research results indicate that the soil beneath the cocoa canopy in the Napu highlands is dark in color, whereas in the Lape lowlands, it is light-colored. This is attributed to differences in parent material and climatic conditions. In the Lape lowlands, on the sloping landform, the soil has a bulk density of 0.78 g/cm³, a porosity of 71.08%, an available water content of 38.94% by weight (or 30.37% by volume), and drainage pores of 6.75%. In the valley landform, the soil bulk density is 1.14 g/cm³, porosity is 57.40%, available water content is 39.47% by weight or 45.15% by volume, and drainage porosity is 7.52%. In the sloping terrain of the Napu Highlands, the soil has a bulk density of 1.05 g/cm³, a porosity of 60.49%, an available water content of 38.17% by weight (or 39.92% by volume), and a drainage porosity of 11.48%. In the valley landform, the bulk density is 0.69 g/cm³, porosity is 75.36%, available water content is 39.75% by weight or 27.35% by volume, and drainage pores account for 12.39%. The level of available water at all locations is classified as high (>25%), and plant roots do not encounter mechanical impedance. Keywords: lowlands, highlands, cocoa, soil physical properties
PERKIRAAN WAKTU TANAM PADI SAWAH TADAH HUJAN DI DESA SILANCA TAHUN 2015 DENGAN MENGGUNAKAN MODEL THOMAS-FIERING Kamelia Dwi Jayanti; Ita Mowidu
Agropet Vol 11 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.27

Abstract

Penelitian Perkiraan Waktu Tanam Padi Sawah Tadah Hujan Di Desa Silanca Tahun 2015 Dengan Menggunakan Model Thomas-Fiering telah dilaksanakan di Desa Silanca. Penelitian ini selain bertujuan untuk membangkitkan data curah hujan, juga menganalisis neraca air untuk menentukan masa tanam yang tepat. Data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari sampel tanah yang diambil langsung di Desa Silanca, sedangkan data primer yang berupa data anasir iklim diperoleh dari stasiun meteorologi kasiguncu.Hasil analisis analisis tanah menunjukkan bahwa tanah pada lahan sawah tadah hujan di Desa Silanca memiliki Bulk density 1,42gr/cm3, kadar lengas kapasitas lapangan 88,39%, kadar lengas titik layu permanen 17,20% dan lengas tersedia 71,19% . Berdasarkan analisis neraca air diketahui bahwa lahan sawah di Desa Silanca, Kecamatan Lage memiliki ketersediaan lengas tanah yang cukup untuk budidaya tanaman padi gogo rancah maupun padi sawah. Masa tanam yang diusulkan untuk budidaya padi sawah di Desa Silanca, Kecamatan Lage Tahun 2015 antara lain Januari-April, Februari-Mei, Maret-Juni, April-Juli, Mei-Agustus, September-Desember, Oktober-Januari, November-Februari, dan Desember-Maret. Kata kunci: Masa Tanam, Pembangkitan Data Curah Hujan Bulanan Tahun 2015, Neraca Air.
PENGELOLAAN KERACUNAN Fe PADA TANAH SAWAH OLEH PETANI DI KABUPATEN POSO Ita Mowidu
Agropet Vol 14 No 2 (2017): Volume 14 No 02 Tahun 2017
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.120

Abstract

Tanah sawah di kabupaten Poso, khususnya di sekitar danau Poso, mengandung Fe total sangat tinggi (1,16-2,26%). Padi yang keracunan Fe tumbuh kerdil, anakan sedikit, daun tua berwarna kuning kemerahan berbercak coklat, dan bisa tidak menghasilkan malai dan mati. Untuk mengetahui pengelolaan keracunan Fe pada tanah sawah di sekitar danau Poso, telah dilakukan wawancara kepada petani padi sawah pada 7 desa di wilayah dengan regim curah hujan tinggi, sedang dan rendah dengan berbagai formasi geologi. Dari responden diperoleh informasi bahwa petani padi sawah di kabupaten Poso pada umumnya memilki luas lahan ≥ I ha sebesar 68,57%, umur produktif antara 20 – 60 tahun 94,29% dan tingkat pendidikan sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 51,43%. Petani yang memiliki luas lahan < I ha sebanyak 31,43%, umur > 60 tahun 5,71%, tingkat pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD) 28,57%  dan Sekolah Lanjutan Tingkat pertama (SLTP) 20,00%. Semua responden mengetahui keberadaan Fe pada tanah sawah. Sedangkan yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah adalah 2,86% SD, 11,43% SLTP  dan 20,00% SLTA; sedangkan yang tidak mengetahui gejala keracunan besi pada padi sawah adalah 25,71% SD, 8,57% SLTP  dan 31,43% SLTA. Makin tinggi tingkat pendidikan makin besar persentase petani yang mengetahui gejala keracunan Fe pada padi sawah. Gejala keracunan Fe pada padi sawah menurut petani adalah tanaman tumbuh abnormal, kerdil, tidak berkembang, tidak ada anakan, daun kekuningan, dan akar kemerahan. Untuk mengatasi keracunan Fe pada padi sawah, petani melakukan drainase, memberikan pupuk organik, pupuk kimia, kapur, garam dan menggenangi. Kata kunci: Fe, keracunan, padi, pengelolaan, sawah
Kadar Fe Total Pada Tanah Sawah Rawa Lebak Di Kabupaten Poso Ita Mowidu; Bambang Hendro S; Sri Nuryani H. U
Agropet Vol 12 No 1 (2015): Volume 12 No 01 Tahun 2015
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.164

Abstract

Penelitian kadar Fe total pada tanah sawah rawa lebak di kabupaten Poso telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2013. Sampel tanah composit diambil pada 7 titik yang mewakili tanah yang berasal dari bahan induk pompangeo complex, alluvium coastal deposits dan lake deposits pada regim curah hujan tinggi, sedang dan rendah. Analisis Fe total dilakukan dengan cara pengabuan basah menggunakan campuran HNO3 dan HClO4, dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Fe total tanah sawah rawa lebak di kabupaten Poso termasuk kategori (harkat) sangat tinggi dengan rentang kadar dari 1,16% sampai 2,26%.  Berdasarkan jenis bahan induk, kadar Fe total semakin tinggi dengan makin rendahnya curah hujan; makin tinggi curah hujan makin rendah kadar Fe total tanah. Pada regim curah hujan tinggi, kadar Fe total pada pompangeo complex lebih tinggi (1,21%) dari alluvium coastal deposits (1,16%). Pada regim curah hujan sedang, kadar Fe total semakin menurun berturut-turut pada pompangeo complex (2,12%), alluvium coastal deposits (1,99%) dan lake deposits (1,24%). Pada regim curah hujan rendah, kadar Fe total pada pompangeo complex lebih tinggi (2,26%) dari lake deposits (2,16%). Berdasarkan regim curah hujan, bahan induk pompangeo complex memberikan kadar Fe total tanah lebih tinggi diikuti oleh bahan induk alluvium coastal deposits dan lake deposits.
Hubungan Antara Kadar Fraksi Pasir, Fraksi Klei, Bahan Organik dan Berat Volume Terhadap Kadar Air Tersedia Pada Tanah Sawah Di Kabupaten Poso Kamelia Dwi Jayanti; Ita Mowidu
Agropet Vol 12 No 1 (2015): Volume 12 No 01 Tahun 2015
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.165

Abstract

Penelitian hubungan antara kadar fraksi pasir, fraksi klei, bahan organik dan berat volume telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 hingga April 2015. Sampel tanah diambil dari 6 kecamatan di Kabupaten Poso pada ketinggian rendah hingga menengah dengan regim curah hujan rendah. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium IAD UNSIMAR Poso dan Balai Penelitian Tanah Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kadar fraksi pasir (21% - 43%) dan kadar fraksi klei (22% - 33%) menyebabkan kenaikan kadar air tersedia, namun hubungannya berdasarkan korelasi Pearson tidak nyata. Kenaikan kadar bahan organik (3,03% - 5,30%) menyebabkan peningkatan kadar air tersedia, dan hubungan antara kedua faktor tersebut nyata. Makin tinggi nilai berat volume tanah menyebabkan menurunnya kadar air tersedia secara sangat nyata. Dari keempat faktor independent di atas, berat volume (BV) merupakan faktor yang sangat nyata mempengaruhi kadar air tersedia.
Kadar dan Serapan Fe Padi Inpari-1 Akibat Pemberian Kompos dan Pengelolaan Air Pada Inceptisol Berkadar Fe Tinggi di Desa Korobono Kabupaten Poso Ita Mowidu
Agropet Vol 15 No 1 (2018): Volume 15 No 1 Tahun 2018
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.345

Abstract

Besi (Fe) adalah unsur hara mikro esensial bagi tanaman. Kadar kecukupan pada padi fase penganakan sampai inisiasi malai adalah 75-150 mg kg-1 pada daun muda, 60-100 mg kg-1 pada batang. Kandungan Fe dalam tanaman yang keracunan biasanya 300-2000 mg kg-1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos dan pengelolaan air terhadap kadar dan serapan Fe padi Inpari-1, maka telah dilakukan percobaan rumah kaca menggunakan Inceptisol yang mengandung Fe tinggi di desa Korobono kabupaten Poso. Percobaan 2 faktor yang terdiri dari faktor kompos 5 t ha-1 (K0=tanpa kompos, K1 = kompos jerami 100%, K2 = kompos jerami 75% + kompos kulit buah kakao (KBK) 25%, K3 = kompos jerami 50% + kompos KBK 50%, K4 = kompos jerami 25% + kompos KBK 75%, dan K5 = kompos KBK 100%), dan faktor pengelolaan air (I1 = pengairan macak-macak dan I2 = pengairan berselang), diulang 3 kali (kecuali kontrol), disusun menurut pola acak lengkap. Pengamatan dilakukan terhadap kadar dan serapan Fe pada umur 14 hari setelah tanam (hst), 40, 70, 75 hst dan saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian kompos berpengaruh nyata sampai sangat nyata terhadap kadar Fe padi selama pengamatan, dan serapan Fe pada saat panen. Pengelolaan air berpengaruh nyata terhadap kadar Fe padi pada umur 40 dan 70 hst, serta serapan Fe padi pada umur 70 hst dan saat panen. Interaksi pemberian kompos dan pengelolaan air berpengaruh nyata terhadap kadar Fe pada saat panen, tetapi terhadap serapan Fe padi pangaruhnya tidak nyata. Pemberian kompos menyebabkan kadar dan serapan Fe padi lebih rendah dan berbeda nyata dengan tanpa pemberian kompos. Kadar dan serapan Fe padi pada pengairan macak-macak lebih rendah dan berbeda nyata dengan cara pengairan berselang.