Zuhriah Zuhriah
Jurusan Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

EKSISTENSI KATA SERAPAN DALAM AL-QUR’AN Zuhriah, Zuhriah
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 4 No. 1 (2016): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v4i1.2325

Abstract

This paper focuses on a loan word (al-mu'arrab), the absorption method of vocabulary, itscharacteristics and its existence in the Qur'an which is always a debate among scholars. Ingeneral, the absorption of the vocabulary of a foreign language into Arabic is caused by themixing between Arabs to neighbouring countries due to trade relations, migration, war andexpansion of the Islam. The absorption process is done by changing the font, changing theline, adding another letter in the word, reducing the letters and others. As a result of thesechanges, people often do not realize that actually it is not native Arabic but the absorption ofother languages. Therefore, this paper also presents the characteristics of a loan word in orderto facilitate people in identification. Their absorption method and characteristics arepossessed by the vocabulary uptake Arabic signifies that its existence is recognized by thepublic, but its existence in the Qur'an is still a debate among scholars from the first until now.There are at least three scholars‟opinions in this regard. Most of them have stated that none ofthe Arabic loan word in the Qur'an and have also stated that in fact there are words that arenot native Arabic but the absorption of other languages. Last categories are the ones who tryto reconcile the two previous groups.Keywords: existence, absorption, al-mu'arrab
Asalib Istifham dalam Al-Qur’an Al-Karim Juz 11-12 (Dirasah Tahliliyah Balaghiyyah) -, Najiyah Nur Ismirah; Zuhriah; Muhammad Ridwan
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 01 (Januari) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i01 (Januari).43030

Abstract

Latar belakang. Salah satu kelebihan Al-Qur’an adalah gaya penulisannya yang indah, termasuk gaya interogatif (uslub istifham). Uslub istifham yang sering ditemukan dalam Al-Qur'an banyak yang keluar dari makna aslinya. Uslub istifham memiliki makna-makna tertentu mengikuti syiqaq atau konteks kalimat, sehingga hal ini menjadi titik permasalahan tersendiri. Tujuan. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan uslub istifham dalam al-Qur’an dan menguraikan makna-makna uslub istifham yang keluar dari makna aslinya. Metode. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena metode yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data didasarkan pada pendekatan kualitatif dan juga termasuk dalam peneitian pustaka. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah simak dengan teknik catat. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menganalisis data dan dibagi menjadi tiga tahap: 1) identifikasi data; 2) klasifikasi data; 3) deskripsi data. Hasil. Pada juz 11 jumlah ayat yang didalamnya terdapat uslub istifham ada 38 ayat, dan terdapat 51 istifham, adapun pada juz 12 jumlah ayat yang didalamnya terdapat uslub istifham ada 26 ayat, dan terdapat 30 istifham. Ditemukan 16 makna yang keluar, yaitu: 1) nafi; 2) ta’jib; 3) taqrir; 4) ta’zhim; 5) tahqir; 6) istibta’; 7) istib’ad; 8) inkar; 9) tahkim atau istihza; 10) tahdid; 11) tahwil; 12) tanbih; 13) tasywiq; 14) amr; 15) nahi; 16) tahdidh. Kesimpulan. Dari 320 ayat dalam juz 11-12, terdapat 64 ayat yang didalamnya terdapat uslub istifham, dengan jumlah uslub istifham keseluruhan yaitu ada 81 istifham. Dari 19 makna istifham yang biasanya keluar dari makna aslinya dalam juz 11-12 hanya terdapat 16 makna yang ditemukan.  
Tasybih dalam Diwan “Fi Ainaiki Unwani” Li Faruq Juwaidah (Dirasah Tahliliyah Balaghiyyah) Cahyani, Rini; Zuhriah; Ramadhan, Ilham
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 01 (Januari) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i01 (Januari).43036

Abstract

Latar belakang. Syair identik dengan penggunaan kata-kata dan bahasanya yang indah, yang disertai dengan penggunaan gaya bahasa yang bervariasi seperti majaz, tasybih, dan lain-lain dalam menyampaikan pesan. Dalam diwan “Fi Ainaiki Unwani” karya Faruq Juwaidah ditemukan jenis tasybih yang tidak disebutkan adat tasybih dan wajhu syibhinya yang menjadi rukun atau unsur dari tasybih dan tujuan penggunaan tasybih dalam setiap ungkapan dalam syair tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, jenis-jenis tasybih apa saja yang terdapat dalam diwan tersebut dan tujuan penggunaannya belum diketahui. Tujuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis tasybih dan menganalisis tujuan penggunaan tasybih dalam diwan “Fi Ainaiki Unwani” karya Faruq Juwaidah. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang objek penelitiannya berupa diwan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik baca dan teknik catat. Hasil. Terkait jenis-jenis tasybih dalam diwan tersebut ditemukan 23 tasybih mursal, 4 tasybih muakkad, 13 tasybih mufashshal, 19 tasybih mujmal, dan 26 tasybih baligh. Adapun tujuan penggunaan tasybih yang terdapat dalam diwan yaitu ditemukan 33 uslub tasybih yang bertujuan menjelaskan keadaan musyabbah, 10 uslub tasybih yang bertujuan menjelaskan kadar keadaan musyabbah, 10 uslub tasybih yang bertujuan menegaskan keadaan musyabbah, dan 4 uslub tasybih yang bertujuan memperindah musyabbah dan 1 uslub tasybih yang bertujuan memperburuk musyabbah. Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terdapat 5 jenis tasybih yang digunakan dalam diwan tersebut dan hanya ditemukan 4 tujuan penggunaan tasybih dari 5 tujuan tasybih berdasarkan teori ilmu bayan.
TASYBIH DALAM DIWAN الأعمال الأولى ١ KARYA MAHMOUD DARWIS (Suatu Tinjauan Balaghah) jufri, rina; Zuhriah; Syamsul Bahri Abd. Hamid
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 01 (Januari) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i01 (Januari).43046

Abstract

Latar Belakang. Diwan al amalul ulaa 1 ini terdapat banyak gaya bahasa didalamnya. Tasybih adalah salah satu gaya bahasa yang paling dasar yang harus diketahui sebelum melangkah ke gaya bahasa lainnya. Banyak karakteristik tasybih yang digunakan oleh Mahmoud Darwis namun tidak diketahui secara spesifik jenis serta tujuan dari tasybih tersebut. Tujuan. Tujuan penelitian ini untuk 1) Menampilkan kandungan tasybih dalam diwan Mahmoud Darwish, 2) Menganalisis jenis-jenis tasybih yang digunakan dalam diwan Mahmoud Darwish, dan 3) Mengidentifikasi tujuan dari penggunaan tasybih dalam diwan Mahmoud Darwish. Metode. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan menggunakan teknik catat. Peneliti membaca dan menyimak bait syair dalam diwan kemudian menandai bait yang mengandung tasybih dan mencatat bait tersebut. Data dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menggambarkan data sesuai kenyataan. Langkah-langkah analisis meliputi reduksi data, mengelompokkan data, menyajikan dat, dan menarik kesimpula. Hasil. Terdapat 42 bait yang termasuk dalam uslub tasybih. Bait-bait tersebut terbagi menjadi empat jenis yaitu tasybih mursal mufasshal, tasybih mursal mujmal, tasybih muakkad mufasshal dan tasybih baligh. Tujuan dari bait-bait tersebut kemudian terbagi menjadi tujuh yakni menjelaskan keadaannya, menjelaskan kemungkinan keadaannya, menjelaskan tingkat keadaannya, menetapkan keadaannya di benak pendengar, memujinya dan meperindahnya, mencelanya dan memperburuknya, menganggapnya sebagai sesuatu yang baru. Kesimpulan. Mahmoud Darwis menggunakan semua jenis tasybih dan dari delapan tujuan tasybih, beliau tidak menggunakan tujuan taybih yang menjelaskan kemungkinan keberadaan musyabbah.
Penggunaan Idhofah Dalam Kitab Qasidah Burdah Karya Imam Al-Bushiri (Dirasah Tahliliyah Nahwiyah) Suardi, A.M. Asnam; Zuhriah; Ramadhan, Ilham
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 02 (Mei) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i02 (Mei).44502

Abstract

Kitab Qaṣīdah al-Burdah karya al-Būṣīrī merupakan karya sastra Arab yang terkenal, terutama dalam pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Salah satu elemen penting dalam karya ini adalah penggunaan uslūb idhāfah (الإضافة), yang berfungsi menghubungkan dua kata benda untuk menciptakan makna yang lebih spesifik. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi penggunaan idhāfah dalam Qaṣīdah al-Burdah dan mengidentifikasi kontribusinya terhadap struktur bahasa Arab. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research, di mana data diambil dari teks Qaṣīdah al-Burdah yang terdiri dari 10 bab dan 189 bait. Hasil, penelitian menunjukkan bahwa dari 189 bait, ditemukan 244 uslub idhofah, dan penggunaan idhāfah, yang terbagi menjadi dua jenis: idhāfah lafdhīyah (44 kasus) dan idhāfah maknawīyah (200 kasus). Fungsi idhāfah ini meliputi berbagai peran sintaksis, seperti mubtada’, Khobar, fai’il, maf’ul bih, maf’ul fih, maf’ul ma’ah, maf’ul lah, badl, ismul khobar, kaana wa akhwatuha, isim dan khobar inna wa akhwatuha, isim majrur (muta’alliq), shifah, munada mudhof, naaibul fa’il, harf naafi, taukiid, maf’ul muthlak, ma’thuf, dan haal. Kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa idhāfah bukan hanya sekadar penggabungan kata benda, melainkan juga memainkan peran penting dalam memperkaya makna dan estetika karya sastra Arab. Pemahaman yang mendalam tentang penggunaan idhāfah sangat penting dalam menelaah teks-teks sastra klasik untuk menggali makna yang terkandung dalam bahasa yang kompleks.
Modern Linguistics: Bibliometric Analysis based on Scopus and Google Scholar (2019-2023) using VosViewer Haeruddin, Haeruddin; Fitriani, Fitriani; Zuhriah, Zuhriah
Jurnal Sastra Indonesia Vol. 14 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jsi.v14i2.26500

Abstract

The development of modern linguistics is spurred by technological advances and research methodologies, which encourage the utilization of new approaches such as corpus linguistics and bibliometric analysis. This method is essential for understanding the complexity of language in social and cultural contexts and identifying trends in research and scientific collaboration. This study aims to map the development of modern linguistics with a bibliometric approach using data from Scopus and Google Scholar from 2019 to 2023. The main objective of this study is to identify patterns of publications, scientific collaborations, and thematic clusters in linguistics. The methods used include bibliometric analysis with VOSviewer software to visualize the data. The analysis results reveal four main clusters in the Scopus data: traditional linguistics, computational linguistics, applied linguistics, and corpus linguistics. Meanwhile, an analysis from Google Scholar shows five clusters that show significant contributions from developing countries, especially in Southeast Asia. The United States and Western European countries were identified as the dominant centers of scientific collaboration, while the involvement of developing countries was limited. These findings highlight the integration between linguistics and technology and a shift in research focus towards interdisciplinarity. This research provides important insights for understanding the modern linguistic scientific landscape. It offers strategic implications for researchers, journal editors, and policymakers in designing research directions more responsive to global challenges.
Students’ Perceptions of Duolingo for Arabic Vocabulary Acquisition: A Case Study of Arabic Literature Students at Hasanuddin University Yuswandi, Amelia Puteri; Haeruddin, Haeruddin; Zuhriah, Zuhriah
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 3 (2025): In Progress September 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i3.6980

Abstract

Technological innovations have significantly influenced language learning approaches, particularly among Arabic Literature students. Duolingo, a gamified language learning application, has gained popularity for vocabulary development. However, its effectiveness in academic contexts remains underexplored. This study employed a mixed-methods design to assess Duolingo’s impact on vocabulary acquisition among 50 Arabic Literature students at Hasanuddin University. Participants completed pre- and post-tests over a two-week period of Duolingo use. Additionally, a questionnaire was administered to collect students’ perceptions of the app's usability and educational value. Findings revealed that 74% of students improved their vocabulary scores, with an average increase of 4.8 points. Students reported that Duolingo’s spaced repetition and gamification features enhanced motivation and vocabulary retention. However, 24% showed slight score declines, attributing this to the app’s limited focus on grammar, writing, and speaking—skills essential for academic success. While Duolingo supports vocabulary development through engaging and interactive methods, it falls short in providing comprehensive language instruction. These limitations suggest the necessity of integrating supplementary learning tools to support grammar and productive language skills. Duolingo can serve as a valuable supplementary tool for vocabulary learning but should not replace holistic language instruction. Future research should investigate the incorporation of artificial intelligence to enhance its capabilities in grammar and speaking skill development.
Kalimat-kalimat yang Memiliki Posisi I’rab dalam Surah Āli Imrān (Dirasah Tahliliyah Nahwiyyah) Nurhidayah, Fitrah; Zuhriah, Zuhriah
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 03 (September) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i03 (September).47436

Abstract

Latar belakang. Kalimat yang memiliki posisi i’rab (الجمل التي لها محل من الإعراب) merupakan unsur penting dalam kajian sintaksis bahasa Arab karena berperan dalam menentukan fungsi kalimat dalam struktur gramatikal. Namun dalam praktiknya, banyak pembelajar bahasa Arab yang mengalami kesulitan dalam membedakan jenis dan fungsi kalimat, terutama ketika bentuk kalimat tampak serupa namun ternyata menempati posisi i’rab yang berbeda. Surah Āli ‘Imrān dipilih sebagai objek kajian karena memiliki struktur kalimat yang kompleks dan bervariasi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk jumlah yang memiliki posisi i’rab dalam Surah Āli ‘Imrān serta menganalisis fungsi sintaksisnya. Metode. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Teknik analisis dilakukan melalui tahap reduksi data, klasifikasi kalimat berdasarkan jenis dan posisi i’rab-nya, analisis menggunakan teori nahwu serta penarikan kesimpulan berdasarkan hasil temuan. Hasil. Penelitian ini menunjukkan bahwa kalimat yang memiliki posisi i’rab di dalam Surah Āli ‘Imrān terdiri atas 110 jumlah ismiyyah dan 345 jumlah fi’liyyah. Posisi i’rab-nya meliputi: khabar (130), ḥāl (55), maf’ūl bih atau maqūl al-Qawl (78), muḍāf ilaih (33), jawab dari syarṭ jazm (29), pengikut dari kata mufrad (na’at, badal atau ‘aṭaf) (32), pengikut dari jumlah yang memiliki posisi i’rab (87). Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pemahaman struktur kalimat dalam menafsirkan makna ayat-ayat Al-Qur’an secara sintaksis.
Amanat dalam Lirik Lagu Arab yang Viral di Masyarakat Indonesia Widiyawati Nasir, Nur Putri; Zuhriah, Zuhriah
Jurnal Sarjana Ilmu Budaya Vol. 5 No. 03 (September) (2025): Jurnal Sarjana Ilmu Budaya
Publisher : Departemen Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu budaya, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12259/jsib.v5i03 (September).47439

Abstract

Latar Belakang. Lagu merupakan salah satu karya sastra yang akhir-akhir ini banyak masyarakat indonesia. Lagu merupakan sarana untuk menyampaikan pesan dari pencipta kepada pendengarnya. Saat ini, lagu-lagu berbahasa Arab semakin viral, khususnya di Indonesia. Generasi milenial cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lagu-lagu yang mereka temukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya. Namun, tidak semua lagu berbahasa Arab memiliki makna yang islami. Dalam beberapa kasus di Indonesia, terdapat penyalahgunaan lagu yang tidak sesuai dengan konteksnya, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan menggiring masyarakat pada interpretasi yang keliru. Teori intrinsik diharapkan bisa menjawab permasalahan terhadap penyalahgunaan terhadap lagu-lagu arab viral. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja jenis-jenis amanat dan bentuk-bentuk penyampaian dalam teori intrinsik. Metode. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan library research. Data penelitian yaitu 3 lagu arab viral yang dipilih (Ya Tab-tab, Sabry Aalil, dan Haga Mestakhbeya). Hasil. Dari ke 3 lagu-lagu arab viral tersebut, yaitu jenis-jenis amanat ditemukan 8 bait lagu hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan 45 bait lagu hubungan manusia dengan lingkungan sosial. Bentuk penyampaian amanat, yaitu penyampaian langsung terdapat 15 bait lagu Ya Tab-tab, 10 bait lagu Sabry Aalil, dan 6 bait lagu Haga Mestakhbeya. Sedangkan bentuk penyampaian tidak langsung terdapat 6 bait lagu dalam lagu Ya Tab-tab, 11 bait lagu dalam lagu Sabry Aalil, dan 11 bait lagu dalam lagu Haga Mestakhbeya. Kesimpulan. Tidak semua lagu berbahasa Arab itu membahas tentang keagamaan. Penting untuk terlebih dahulu memahami makna dan pesan yang terkandung dalam lagu, agar dapat digunakan sesuai konteksnya.