Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Arsitektur Surya Pasif pada Bangunan Masjid Raja Haji Fisabilillah di Malaysia Wawan Gunawan; Anggana Fitri Satwikasari
Jurnal Linears Vol 4, No 1 (2021): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v4i1.5210

Abstract

ABSTRAK: Indonesia sebagai negara tropis mendapatkan sinar matahari yang cukup intens setiap tahunnya, sehingga seringkali membuat bangunan di Indonesia menjadi kurang nyaman dan berdampak pada penggunaan AC yang berlebihan. Dibutuhkan pengetahuan mengenai desain bangunan yang mengedepankan teknik pasif, seperti Konsep Arsitektur Surya Pasif yang memperhatikan aspek pedinginan alami (kenyamanan termal) dan pencahayaan alami pada desainnya, penelitian ini bertujuan agar dapat diketahui hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan konsep arsitektur surya pasif sehingga harapan kedepan banyak bangunan di Indonesia yang dapat menerapkan desain surya pasif khususnya pada bangunan peribadatan masjid. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Setiap aspek yang bekaitan dengan topik penelitian dijelaskan dengan cara deskripsi dan berdasarkan kebenaran dari suatu teori mengenai penerapan desain Arsitektur Surya Pasif yang memperhatikan aspek pendinginan alami (kenyamanan termal) dan pencahayaan alami yang diterapkan melalui desain orientasi bangunan, bahan material yang digunakan serta elemen-elemen desain bangunan lainnya seperti lantai, dinding, atap, langit-langit, dan aksesoris bangunan. Penelitian ini dilakukan pada bangunan peribadatan Masjid Raja Haji Fisabilillah di Malaysia. Hasil dari penelitian ini, Masjid Raja Haji Fisabilillah menerapkan desain surya pasif pada rancangan desainnya. Aspek-aspek Surya pasif seperti aspek pendinginan alami (kenyamanan termal) dan aspek pencahayaan alami sangat diperhatikan oleh sang arsitek bangunan ini.ABSTRACT: Indonesia as a tropical country gets intense sunlight every year, so it often makes buildings in Indonesia uncomfortable and results in excessive use of air conditioning. Knowledge is needed about building designs that prioritize passive techniques, such as the Passive Solar Architectural Concept which pays attention to natural cooling (thermal comfort) and natural lighting in its design, this study aims to find out what needs to be considered in applying the concept of passive solar architecture so that expectations in the future, many buildings in Indonesia can apply passive solar designs, especially in mosque worship buildings. This research was conducted using a qualitative descriptive method. Every aspect related to the research topic is explained in a descriptive manner and based on the truth of a theory regarding the application of Passive Solar Architecture design which takes into account the aspects of natural cooling (thermal comfort) and natural lighting which is applied through the design of the orientation of the building, the materials used and the elements. other building designs such as floors, walls, roofs, ceilings, and building accessories. This research was conducted in the worship building of the Raja Haji Fisabilillah Mosque in Malaysia. The results of this study, the Raja Haji Fisabilillah Mosque applied a passive solar design in its design. Passive solar aspects such as aspects of natural cooling (thermal comfort) and aspects of natural lighting are very much considered by the architect of this building.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR SURYA PASIF PADA BANGUNAN MALL K11 ART MALL SHANGHAI / KOKAISTUDIOS Barrery Reza Bumi; Anggana Fitri Satwikasari
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur surya pasif adalah suatu konsep yang mengedepankan pemanfaatan energi matahari dan udara yang bisa diterapkan pada bangunan dengan cara memberikan bukaan yang tepat dan material yang dapat menyimpan dan menyebarkan panas pada ruang dalam bangunan dan memberikan efek sejuk pada bangunan itu sendiri. Dalam Temu Karya Ilmiah Pascasarjana Arsitektur, Universitas Sam Ratulangi. ( Indriani Laloma, Ronald F. Manganguwi, Megani R. N. Pantow, Pingkan Egam, (2015) ) Arsitektur surya adalah Arsitektur yang melibatkan pemanfaatan tenaga atau sinar matahari seoptimal mungkin ke dalam situasi perancangannya. Sehingga segala keputusan yang diambil dalam langkah-langkah perancangan bangunan selalu di pertimbangkan dengan faktor-faktor aplikasi tenaga matahari. Jadi tinggal menata korelasi antara matahari dan proses perancangannya. Konsep arsitektur surya pasif sebagai penunjang penerapan desain pasif pada bangunan mall bisa meningkatkan kenyamanan pengunjung untuk jalan-jalan dan berbelanja di dalam bangunan mall. Khususnya yang berada di Shanghai, dimana sumber cahaya dan panas dari matahari sangat berlimpah dan elemen- elemen ruang arsitektur seperti dinding, lantai, atap, aksesoris bangunan, dan langit-langit dapat menjadi sarana penerapan konsep arsitektur surya pasif. Selain menambah tingkat kenyamanan pengunjung dalam mengeksplor ruang, konsep arsitektur surya pasif juga dinilai sebagai konsep yang membuat bangunan menjadi lebih ramah lingkungan. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, akan diketahui prinsip-prinsip desain arsitektur surya pasif yang dapat secara efektif meningkatkan kualitas visual, pencahayaan dan penghawaan pada bangunan mall. K11 Art Mall Shanghai / Kokaistudios merupakan salah satu fasilitas bangunan komersial yang memperhatikan pencahayaan dan udara alami yang dapat dilihat dari bukaan-bukaan yang terdapat pada bangunan K11 Art Mall / Kokaistudios.
PENGARUH PROSENTASE WINDOWS-TO-WALL RATIO (WWR) TERHADAP KUALITAS KESEHATAN PENGHUNI. STUDI KASUS: RUMAH PENDERITA TUBERKULOSIS (TB) DI KEBUMEN Anggana Fitri Satwikasari
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sangat cepat menyebar melalui media udara dan kontak langsung dengan penderita. Langkah preventif untuk menekan pertumbuhan prevalensi TB di Indonesia harus ditingkatkan, salah satunya dengan meningkatkan kualitas sistem bangunan rumah. Pada penelitian-penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa efek yang ditimbulkan oleh buruknya kualitas sistem bangunan rumah akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kualitas kesehatan manusia, seperti yang dibuktikan dari banyaknya temuan kasus TB di dalam sebuah rumah yang memiliki sistem pencahayaan buruk (Adrial, 2006; Supriyono, 2003; Rochendy, 2002; Budiyono, 2003; Kustijadi, 2001). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara salah satu faktor kualitas sistem bangunan, yang difokuskan kepada salah satu variabel penilaian kualitas sistem pencahayaan bangunan sebagai faktor fisik yaitu prosentase rasio perbandingan luas ventilasi cahaya dengan luas lantai atau Windows-to-Wall Ratio (WWR), dengan kualitas kesehatan penghuni, yang diukur dari lama seorang pasien menderita TB per bulan April 2014. Penilaian variabel-variabel pada faktor fisik lingkungan dilakukan dengan metode survey dan pengukuran langsung  pada hunian yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari data pasien BP4, sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode korelasi bivariat dan regresi bivariat. Hasil analisis korelasi antara kedua variabel tersebut juga menunjukkan nilai r sebesar -0.33 yang mengindikasikan ada hubungan antara kedua variabel tersebut, walaupun sifatnya bukan hubungan sebab-akibat. Hasil analisis regresi antara variabel prosentase WWR dengan kategori prevalensi TB menunjukkan angka 0.11. Dari kedua hasil tersebut dapat diartikan bahwa variabel WWR memiliki sifat yang berkebalikan dengan prevalensi TB, semakin kecil prosentase WWR,  jumlah sinar masuk ke dalam bangunan juga semakin sedikit, dan prevalensi TB semakin meningkat.
Penerapan Konsep Arsitektur Tradisional Sunda Pada Desain Tapak Lanskap Dan Bangunan Fasilitas Resort Anisa Anisa; Anggana Fitri Satwikasari; M Sahril Adhi Saputra
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki keragaman budaya dan kekayaan alam maupun keindahan alam yang sangat banyak, salah satunya pada daerah Jawa bagian Barat. Keindahan alam dan budaya Sunda dapat kita temukan di daerah Jawa Barat. Arsitektur tradisional merupakan arsitektur yang merupakan hasil karya nenek moyang terdahulu yang telah disepakati dan turun-temurun. Arsitektur tradisional pada dasarnya mengutamakan unsur lokal sebagai aspek-aspeknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan arsitektur tradisional Sunda pada penataan lanskap dan desain resort. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan mengambil data dan menganalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah penerapan arsitektur tradisional sunda dapat dilihat pada 3 hal. Pertama, konsep wujud pembagian tiga dalam arsitektur tradisional Sunda terlihat dalam penataan lanskap dan desain resort. Dalam penataan lanskap wujud pembagian tiga tercermin dalam pembagian antara area resort, area hijau (sumber air) dan pelayanan. Pada desain resort, wujud pembagian tiga tercermin secara vertikal dan horizontal. Secara horizontal tercermin pada penataan ruang yang ada dalam bangunan penginapan. Area publik diletakkan pada bagian luar, sehingga terasnya berukuran besar. Area dalam dibagi menjadi dua, yaitu kamar dan ruang keluarga, serta area pelayanan (dapur, kamar mandi). Secara vertikal terlihat pada pembagian antara kepala, badan, kaki pada bangunannya. Kedua, arsitektur tradisional sunda sangat menghargai alam dan berusaha untuk memanfaatkan alam. Dalam hal ini, resort berada di area yang masih alami dan berkontur sehingga keindahan alam dan pemanfaatan kontur menjadi salah satu bentuk penerapan arsitektur tradisional Sunda dalam desain resort.
Basic Investigation of COVID-19's Self Isolation Room in Various Residential Typology Anggana Fitri Satwikasari; Erni Setyowati; Norhayati Mahyuddin; Jundi Jundullah Afghani; Evi Puspitasari; Yudi Kurnia
International Journal of Built Environment and Scientific Research Vol 5, No 2 (2021): International Journal of Built Environment and Scientific Research
Publisher : Department of Architecture Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ijbesr.5.2.121-130

Abstract

The self-isolation room, is one of the main additional re-adjusting plan for the family who have the COVID-19 infected member, especially for those who get medical recommendation for staying at their homes, instead of being treated in the medical facilities. Isolation is a different from the term of quarantine. People who is decided to be isolated is the one who tested positive COVID-19 and strictly have to be separated from the others. Meanwhile, a quarantine is a 14-days limitation access for the healthy people who have close contact with the infected person. This research aim to gather and analyze the existing data of the isolation room’s technical criterias on the COVID-19 Survivors’ houses. The collecting data process were using questionaire method that referred to the protocol’s 10 parameters related to architecture in the Indonesian Ministry of Health’s Community-Based Shelter Facilities for Quarantine and Isolation Protocol During the Covid-19 Pandemic [1]. The collected data will be analyzed and presented in bar chart as the visualization of the distributive analysis for each parameters. The sample houses will be classified into 4 categories based on their house are, which would be the category 1 (9 m2), category 2 (9,1-50 m2, category 3 (50,1-100 m2), and category 4 (> 100 m2).
Exploratory Study of Physical Environment Factors Affecting Tuberculosis Endemics Houses in Kebumen District, Indonesia Anggana Fitri Satwikasari
International Journal of Built Environment and Scientific Research Vol 2, No 1 (2018): International Journal of Built Environment and Scientific Research
Publisher : Department of Architecture Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ijbesr.2.1.65-74

Abstract

According to prior researchs, the bacteria of Tuberculosis can spreads easily in an unhealthy environment influenced by several physical environment factors in a house. In Kebumen, where mostly classified as rural area, there are 3 sub-districts that is stated to be the most endemic area with hundreds of TB cases detected every year. By selecting 50 patients from ‘Balai Pengobatan Paru-paru’ (BP4)’s medical record, some physical assessments have been done on some indicators such as Residential Density, Ventilation system, Daylighting System, Temperature, Humidity, and also Material Quality. This quantitative research collected the existing physical variables through close-ended questionnaire and field measurements. Those data were later analyzed with distribution method by using digital data analysis software named JMP and compared them with the prevailing standard values. The result showed that eventhough all of 50 respondents have ideal Residential Density Percentage, their Ventilation and Daylighting System didn’t conforming with the standard. Those houses also have high Humidity ( > 60%) and high Temperature ( >300 C) that may be caused by the poor air circulation system inside the house. However, almost all of the infected houses were found to use brick as their wall material with various quality and used ceramics or ram earth as their floor material.
Culinary Tourism as A Place and Product Branding. Case Study: Batu Jamus Rubber Plantation in Karanganyar, Central of Java Erni Setyowati; Anggana Fitri Satwikasari
International Journal of Built Environment and Scientific Research Vol 1, No 01 (2017): International Journal of Built Environment and Scientific Research
Publisher : Department of Architecture Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ijbesr.1.01.39-46

Abstract

Rubber plantation of Batujamus, the largest plantation in Central Java Province and Tourism region of Sukuh Temple in Karanganyar regency, Central Java Province is taken as a case to focus discussion on the meaning of "A Place and Product Branding". This study aims to describe the concept of sustainable agro tourism with narrative description based on the consideration of "Finding a place and Product Branding Strategy". By using Multi-dimensional Scale of SPSS and Factor Analysis, this research found out that the desire to stay in a comfortable and green areas and the nearness to hinduism religion temple as the reason why they prefer the Rubber Plantation of Batujamus as a temporary shelter when they visit it.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR HIJAU PADA PERECANAAN AGROWISATA KOPI DI TEMANGGUNG paramita rusadi; Ari Widyati Purwantiasning; Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 3 No. 4 (2019): Purwarupa Vol 3 No 4 September 2019
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.896 KB) | DOI: 10.24853/purwarupa.3.4.25-30

Abstract

Hampir seluruh kopi-kopi terbaik berasal dari Indonesia, seperti kopi Luwak, Toraja, Wamena, Gayo dan lain sebagainya. Sangat disayangkan di Indonesia belum terdapat pusat wisata kopi yang menampung para masyarakat pecinta kopi untuk tidak hanya dapat menikmati kopi-kopi terbaik di indonesia saja, tapi juga dapat belajar memahami biji kopi nusantara sampai dengan cara pembuatan kopi yang dapat dilihat langsung. Dari beberapa lokasi kopi terbaik di Indonesia, Temanggung, Jawa Tengah, adalah lokasi terpilihnya pusat wisata kopi karena cita rasa kopi yang khas dan nikmat. Untuk itu diharapkan terbentuknya pusat wisata kopi dengan pendekatan arsitektur hijau ini dapat menerapkan konsep wisata edukasi pada perancangan pusat wisata kopi yang dapat mempresentasikan kebudayaan kopi di Indonesia.
KONSEP ARSITEKTUR EKOLOGI PADA PENATAAN KAWASAN WISATA CANDI CANGKUANG DI GARUT, JAWA BARAT Abdul Azis Muslim; Ashadi Ashadi; Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 2 No. 2 (2018): Purwarupa Vol 2 No 2 September 2018
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.017 KB) | DOI: 10.24853/purwarupa.2.2.57-70

Abstract

Kawasan Wisata Candi Cangkuang merupakan salah satu destinasi wisata di kabupaten Garut. Kawasan ini termasuk ke dalam kawasan strategis wilayah kabupaten yang penataannya diprioritaskan. Tempat ini banyak didatangi pengunjung ataupun peziarah dari berbagai daerah untuk berwisata, melaksanakan ibadah di Candi Cangkuang dan ziarah ke makam Syeh Arief Muhammad yang menyebarkan agama Islam di kawasan Cangkuang. Tempat ini memiliki potensi besar untuk mejadi destinasi wisata unggulan, akan tetapi pada kenyataannya jumlah wisatawan yang berkunjung kesini jumlahnya sedikit bila dibandingkan dengan wisata sejenis di daerah lain. Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperlukan penataan ulang  pada kawasan wisata Candi Cangkuang ini dengan menerapkan konsep arsitektur ekologi yang ramah lingkungan dan memaksimalkan potensi alam yang ada. Penataan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian dan perancangan ini dilakukan dengan wawancara serta observasi untuk mendapatkan data eksisting dan data penunjang. Penataan Kawasan Wisata Candi Cangkuang dengan konsep arsitektur ekologi diharapkan dapat membuat citra kawasan wisata ini semakin menarik untuk dikunjungi, masyarakat sekitar kawasan menjadi lebih sejahtera karena dengan meningkatnya jumlah wisatawan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar akan tetapi tetap mengedepankan desain yang ramah terhadap lingkungan.
PENERAPAN KONSEP SIMBOLIK METAFORA PADA PERENCANAAN KANTOR PUSAT DAN PENDIDIKAN CISCO DI JAKARTA Rudy Thalib; Ari Widyati Purwantiasning; Anggana Fitri Satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2017): Purwarupa Vol 1 No 2 September 2017
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/purwarupa.1.2.35-40

Abstract

ABSTRAK. Kemajuan suatu  Negara didukung dengan berkembangnya teknologi dalam usaha meluaskan wilayah pelayanan dan pemasaran produk Cisco di Indonesia, dibutuhkan kuantitas dan kualitas sumber daya  manusia yang produktif. Maka, perlu adanya sebuah lingkungan  dan pelingkupnya berupa bangunan yang akan menampung berbagai kegiatan seperti, pusat pelayanan, pusat pengembangan, dan pusat penelitian produk-produk Cisco. Untuk mencetak kuantitas dan kualitas sumber daya manusianya, diperlukan bangunan yang dapat menampung berbagai kegiatan pelatihan yang dikenal sebagai Cisco Networking Academic. Fungsi kantor pusat Cisco dan fungsi pelatihan Cisco adalah dua fungsi yang diletakan dalam lahan yang sama, tetapi memiliki bangunan yang berbeda dan berdekatan agar terjalin hubungan sinergi dalam batasan fungsional pada kedua bangunannya.Sistem BangunanPintar untuk menekan penggunaan energi buatan dan efisien memanfaatkan energi alami. Ketertinggalan pembangunan infrastuktur komunikasi di indonesia telah memberi inspirasi untuk menggabungkan sistem BangunanPintar dan unsur-unsur pada logo atau simbol Cisco yang akan mendominasi selubung bangunan, seperti pada  pelingkup lorong Entrance yang terbentuk dari ruas-ruas baja yang membentuk pola struktur jaringan tiga dimensi, sehingga secara visual akan memberi kesan selamat datang kedalam dunia jaringan. Makna kesan ini adalah sebuah pesan kepada bangsa Indonesia yang sedang berbenah dari ketertinggalan infrastuktur jaringan komunikasi.       Kata kunci : Cisco, System, Smart Building, Networking Academy, Jaringan, Desain arsitekktur. ABSTRACT. Progress of a State is supported by the development of technology in an effort to expand the service and marketing of Cisco products in Indonesia, it needs quantity and quality of productive human resources. Therefore, it is necessary to have an environment and the scope of the building will accommodate various activities such as, service center, development center, and research center of Cisco products. To print the quantity and quality of human resources, a building that can accommodate various training activities known as Cisco Networking Academic is required. Cisco's Cisco headquarters and Cisco training functions are two functions that are located within the same land, but have different and adjacent buildings to establish synergic connections within functional constraints on both buildings. Smart Building Systems to reduce the use of artificial and efficient energy utilizes natural energy. The underdevelopment of communications infrastructure development in Indonesia has inspired the incorporation of Smart Building systems and elements in the Cisco logo or symbol that will dominate the building envelope, such as the Entrance corridor formed from steel sections forming a three-dimensional network structure, The visuals will give a welcome impression into the world of network. The meaning of this impression is a message to the Indonesian people who are clean up from behind the communications network infrastructure.               Keywords: Cisco, System, Smart Building, Networking Academy, Network, Architechture Design