Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENGARUH PENGGUNAAN MEDICATION AIDS TERHADAP TINGKAT KETAATAN PASIEN PEPTIK ULKUS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU Fina Aryani; Septi Muharni; Yudina Awaliyah Harahap
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.213 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v12i1.91

Abstract

Peptik ulkus merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya luka yang terdapat pada saluran gastrointestinal akibat banyaknya produksi asam dan pepsin yang disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori, NSAIDs dan stres, sehingga terapi yang di rekomendasikan tergantung pada penyebab dari tukak tersebut. Terapi peptik ulkus minimal selama delapan minggu dan pasien dituntut untuk taat dalam mengkonsumsi obat. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketaatan pasien adalah penggunaan medication aids. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian medication aids terhadap tingkat ketaatan pasien peptik ulkus di Riau. Medication aids yang digunakan adalah wadah pengingat pil dan kemasan sekali pakai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment), dengan rancangan NonRandomized Control Group Pretest dan Posttest Design yang dilakukan terhadap 60 pasien yang dikelompokkan menjadi 30 pasien kelompok kontrol dan 30 pasien kelompok perlakuan selama bulan Mei - Juli 2017. Metode pengambilan sampel secara accidental sampling yang memenuhi kriteria inklusi yakni pasien peptik ulkus yang disebabkan oleh NSAIDs, berusia lebih dari 18 tahun dan bersedia menjadi responden. Pengumpulan data ketaatan menggunakan kuesioner standar yakni Morisky Medication Adherence Scale 8 (MMAS-8). Data dianalisis menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) yang artinya terdapat pengaruh pemberian medication aids terhadap tingkat ketaatan pasien peptik ulkus.
ANALISIS PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN OBAT BERDASARKAN METODE ABC INDEKS KRITIS DI APOTEK X KOTA PEKANBARU Erniza Pratiwi; Septi Muharni; Jumira Jumira; Ratna Sari Dewi
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol 12 No 1 (2023): JPFI
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51887/jpfi.v12i1.1753

Abstract

Obat merupakan unsur yang sangat penting dalam upaya penyelenggaraan kesehatan. Perencanaan obat bermanfaat untuk menjamin ketersedian obat yang ada di sarana kesehatan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan, menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan obat, kelebihan stock (stagnant) yang mengakibatkan obat kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Perencanaan persediaan obat di Apotek “X” Kota Pekanbaru masih belum optimal. Pemesanan kembali obat dilakukan apabila terdapat kekosongan obat, apabila kurang tepat dalam perhitungan perencanaan dan pengadaan obat dapat menyebabkan terjadinya kekosongan obat atau stock out dalam waktu yang lama. Hal tersebut dapat mempengaruhi pelayanan obat kepada pasien, yang mengakibatkan pasien tidak mendapatkan pelayanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisa perencanaan persediaan obat dengan menggunakan metode analisis ABC Indeks Kritis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif yang berupa data 814 item obat, jumlah pemakaian obat dan estimasi biaya di Apotek “X” Kota Pekanbaru periode bulan Juli-Desember tahun 2018. Sampel pada penelitian ini adalah obat kelompok A, B dan C yang berjumlah  814  item obat serta data obat  yang meliputi data pemakaian obat, kartu stok dan data harga obat. Hasil penelitian dengan menggunakan metode ABC Indeks Kritis, diperoleh kelompok A terdiri dari 81 item obat (9,95%) dengan nilai investasi Rp.51.142.850. Kelompok B terdiri atas 409 item obat (50,25%) dengan nilai investasi Rp.99.424.364 dan Kelompok C terdiri atas 324 item obat (39,80%) dengan nilai investasi Rp.17.414.487. Medicine is a very important element in health administration efforts. Drug planning is useful for ensuring the availability of drugs in health facilities. This aims to get the right type and amount as needed, avoid excess, shortage, vacancy, drug damage, excess stock (stagnant) which results in expired drugs, loss and return of orders. The planning of drug supplies at Drugstore “X” in Pekanbaru City is still not optimal. Medicines are reordered if there is a drug shortage, if the planning and procurement calculations are inaccurate, this can lead to drug shortages or stock outs for a long time. This can affect drug services to patients, which results in patients not getting drug services. This research aims to know the analysis of inventory planning the drug with the use of analysis method ABC critical index. This research is a descriptive study with retrospective data retrieval in the form of 814 drug item, total drug usage and cost estimation at Drugstore “X” in Pekanbaru City period from July to December in 2018. The samples in this study were drugs groups A, B and C, totaling 814 drug items and drug data including drug use data, stock cards and drug price data. The results of the research using the ABC critical index method, acquired group A consist of 81 drug items (9.95%) with the investment value of Rp. 51.142.850. Group B consists of 409 drug items (50.25%) with the investment value of Rp. 99.424.364 and group C consist of 324 drug items (39.80%) with the investment value of Rp. 17.414.487.
Analisis Efektivitas Biaya Haloperidol-Klorpromazin dan Risperidon-Klozapin Pada Pasien Skizofrenia Berdasarkan Kualitas Hidup di Rumah Sakit Jiwa Tampan Propinsi Riau Fina Aryani; Septi Muharni; Nyimas Farastika Harsah
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i2.63153

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan otak parah yang membutuhkan terapi dengan waktu lama sehingga meningkatkan beban biaya dan mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas biaya antipsikotik haloperidol-klorpromazin dan risperidon-klozapin terhadap kualitas hidup pasien skizofrenia. Jenis penelitian ini adalah observasional, bersifat deskriptif analitik secara cross-sectional menggunakan analisis farmakoekonomi yaitu Cost Effectiveness Analysis dengan perspektif penelitian adalah pasien. Pengambilan sampel dilakukan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Tampan Propinsi Riau menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 57 pasien, 29 pasien menggunakan haloperidol-klorpromazin dan 28 pasien menggunakan risperidon-klozapin. Kualitas hidup dinilai menggunakan kuesioner Schizophrenia Quality of Life Scale. Hasil penelitian didapatkan rata-rata biaya perbulan kelompok haloperidol-klorpromazin Rp. 2.771.551, sedangkan risperidon-klozapin Rp. 2.920.441, kualitas hidup pada kelompok haloperidol-klorpromazin 59,77% dan risperidon-klozapin 60,93% sehingga didapat nilai ACER kelompok haloperidol-klorpromazin Rp. 46.370 dan risperidon-klozapin Rp. 47.931. Berdasarkan uji statistik T tidak berpasangan diketahui tidak terdapat perbedaan kualitas hidup antara kedua kelompok dengan nilai p=0,717 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok haloperidol-klorpromazin lebih cost effective.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN OBAT GASTRITIS YANG DIIKLANKAN DI TELEVISI TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI MASYARAKAT DI APOTEK SE-KECAMATAN BANGKINANG KOTA PROVINSI RIAU Aryani, Fina; Aryani, Soufie; Muharni, Septi
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v15i2.138

Abstract

Gastritis is a condition where the production of acid in the stomach can cause irritation. To treat gastritis, patients can do self-medication (self-medication). The factors that influence self-medication are sources of information such as advertisements on television. Self-medication behavior requires knowledge so that treatment is safe and rational. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge of gastritis medicine advertised on television and self-medication behavior in pharmacies in Bangkinang District, Riau Province. The type of research is observational, descriptive analytic method with cross sectional design and data collection simultaneously. Sampling was done by purposive sampling in order to obtain a total sample of 110 respondents who met the inclusion criteria. The results of the statistical test obtained a p value < 0.05, which means that there is a relationship between knowledge of gastritis medicine advertised on television and self-medication behavior in pharmacies throughout Bangkinang District, Riau Province.
Pengaruh E-Booklet terhadap PengetahuanTenaga Kefarmasian dalam Pemberian Informasi Obat Tetes Mata Aryani, Fina; Tri Agustini, Tiara; Ramadhani, Zulfithri Mutiara; Muharni, Septi
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Vol 20, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/jiffk.v20i2.8197

Abstract

Pelayanan swamedikasi merupakan praktek pelayanan yang tinggi dilakukan oleh tenaga kefarmasian, salah satunya pelayanan swamedikasi tetes mata. Hal ini menuntut peran apoteker dan TTK yang cukup tinggi, salah satunya dalam pemberian informasi obat. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh pemberian media edukasi e-booklet terhadap tingkat pengetahuan tenaga kefarmasian pada pemberian informasi obat swamedikasi tetes mata. Penelitian ini merupakan penelitian quasi-experimental: non-equivalent control group design menggunakan metode probability sampling dengan teknik pengambilan sampel secara cluster random sampling. Sampel pada penelitian ini merupakan 96 tenaga kefarmasian yang bekerja di apotek se-kota Pekanbaru. Data dianalisis dengan uji Mann Whitney dengan hasil yang signifikan pada kelompok perlakuan saat pre test dan post test dengan nilai p=0,001 (p
Evaluasi Perilaku Tenaga Vokasi Farmasi dalam Pemberian Informasi Obat di Apotek Jaringan X Se-Kota Pekanbaru Periode 2023-2024 Aryani, Fina; Vanisa, Septia; Muharni, Septi; Triagustini, Tiara
Sinteza Vol. 5 No. 2 (2025): August
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v5i2.30967

Abstract

Providing drug information is a crucial component in pharmaceutical services that aim to ensure the safe and rational use of medications. However, the practice of providing information by pharmacy technicians in pharmacies is often not optimal, especially in educational aspects related to patient safety. The purpose of this study was to evaluate the behavior of pharmacy technicians in providing drug information to patients at X Network Pharmacies in Pekanbaru City. This research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional approach. A total of 32 pharmaceutical technicians became respondents, selected through a total sampling method. Data were collected using a structured observation sheet that included 15 indicators of drug information provision. Data were analyzed descriptively and presented in the form of a frequency distribution and a percentage. The results showed that the behavior of providing drug information by pharmaceutical technicians was still relatively low. Most of them only provided basic information, such as the name of the drug (78.12%), the time of consumption (71.87%), and instructions on how to use the drug (65.62%). Meanwhile, important information such as side effects, drug interactions, storage methods, and compliance with the use of drugs is almost not conveyed at all (≤10%). The behavior of pharmaceutical technicians in providing drug information still falls short of ideal pharmaceutical service standards. Continuous training, strict adherence to Standard Operating Procedures (SOPs), and supervision by the pharmacist-in-charge are necessary to enhance service quality and patient protection.