Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Koneksi

Self-Disclosure Pengguna Aplikasi Kencan Online (Studi pada Individu yang Menjalin Hubungan Romansa Melalui Tinder) Chicilia Wongsodiredjo; Pinckey Triputra; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1977

Abstract

Media online telah menjadi sarana untuk membangun hubungan antarpribadi, tak terkecuali hubungan romansa. Penelitian ini berfokus kepada pasangan yang sedang menjalin hubungan romansa yang dimulai melalui aplikasi kencan online, Tinder. Penelitian ini ingin memahami proses self-disclosure yang terjadi dalam pengembangan hubungan romansa pengguna Tinder dengan pasangannya. Penelitian ini didasari Teori Penetrasi Sosial dan Computer Mediated Communication (CMC), lalu dikaitan dengan model Stages of Internet Relationship. Penelitian menggunakan metode fenomenologi dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam membangun sebuah hubungan dibutuhkan self-disclosure secara bertahap dan tidak akan berhenti walaupun seorang individu sudah pada tahap long term relationship. Adapun informasi yang diungkapkan seorang individu terhadap lawan bicaranya beragam serta kedalaman dan keluasan informasi tersebut tergantung dari kedekatan hubungan kedua individu.
Komunikasi Antarpribadi Sesama Penggemar dalam Fandom (Studi pada Penggemar dalam Fandom BTS di Jakarta) Lingga Lingga; Yugih Setyanto; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2438

Abstract

Fandom adalah sekumpulan grup penggemar yang terhubung karena memiliki satu kesamaan yakni rasa cinta terhadap idolanya. Penggemar grup Korea, BTS (Bangtan Sonyeondan) memiliki sebutan dengan nama ARMY. Setiap hubungan tanpa terkecuali hubungan antar penggemar akan melakukan komunikasi antarpribadi penggemar. Penggemar dilihat sebagai individu yang berlebihan, konsumtif, dan terobsesi pada idolanya. Individu yang tidak masuk ke dalam fandom biasanya tidak akan mengerti isi komunikasi yang sedang berlangsung dalam fandom. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi antarpribadi penggemar dalam suatu fandom. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori komunikasi antarpribadi dengan proses komunikasi antarpribadi seperti kontak, keterlibatan, keakraban, kemunduran, pemutusan hubungan, dan teori konflik antarpribadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi pada penggemar BTS. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan komunikasi antarpribadi penggemar BTS melalui tahapan proses komunikasi antarpribadi, kemudian isi komunikasi yang terjadi di antara penggemar memiliki konteks parasosial di dalamnya, dan hubungan antar penggemar tidak terhindar dari konflik antarpribadi.
Pengaruh Personal Branding terhadap Loyalitas Penggemar (Studi Kasus Kuantitatif pada Grup K-Pop BLACKPINK) Claudia Meliana Wendyanto; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15533

Abstract

BlackPink has a personal branding that has been created since its debut. The personal branding of the K-Pop group has a relationship with its fans. Therefore, there is the possibility that the personal branding of K-Pop groups will affect fan loyalty. This research aims to determine the effect of personal branding BlackPink on the loyalty of their fans. The theories and concepts in this research are communication theory, CMC (Computer-Mediated Communication), personal branding, and fan loyalty. This research uses a quantitative approach with a survey method. The population of this research is fans of BlackPink. The data collection technique in this research was determined by quota sampling which was calculated using the Lemeshow formula and distributed to 100 respondents in the form of Google Form. This research's data processing and analysis techniques were normality test, simple linear regression analysis, mean value per variable, and T-test. The data validity techniques in this research were validity and reliability tests. The result of this research is that there is a influence between BlackPink's personal branding on the loyalty of their fans. The influence of BlackPink's personal branding on the loyalty of their fans, only to the stage of knowing the works or products produced by BlackPink. Strongest dimension in the X variable is the law of specialization, while the strongest dimension in the Y variable is suspects. BlackPink mempunyai personal branding yang telah diciptakan dari mereka debut. Personal branding dari sebuah grup K-Pop itu memiliki hubungan dengan penggemar mereka. Maka dari itu, ada kemungkinan bahwa personal branding grup K-Pop akan mempengaruhi loyalitas penggemar. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh antara personal branding BlackPink terhadap loyalitas penggemarnya. Teori dan konsep penelitian ini adalah teori komunikasi, CMC (Computer Mediated Communication), personal branding, dan loyalitas penggemar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi dari penelitian ini adalah penggemar BlackPink. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ditentukan dengan quota sampling yang dihitung menggunakan rumus Lemeshow dan disebarkan kepada 100 responden dalam bentuk Google Form. Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini adalah uji normalitas, analisis regresi linear sederhana, nilai mean per variabel, dan uji T. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil dari penelitian ini adalah adanya pengaruh antara personal branding BlackPink terhadap loyalitas penggemarnya. Pengaruh tersebut hanya sampai pada tahap mengetahui karya atau produk yang dihasilkan BlackPink. Dimensi terkuat dalam variabel X adalah spesialisasi, sedangkan dimensi terkuat dalam variabel Y adalah terduga.
Masyarakat dan Kearifan Budaya Lokal (Bentuk Pela Masyarakat di Negeri Batu Merah Kota Ambon Pasca Rekonsiliasi) Osbert Montana; Riris Loisa; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3930

Abstract

Konflik Maluku yang berlangsung selama lebih dari empat tahun, tidak saja memperburuk hubungan-hubungan kemanusiaan atau hubungan lintas agama, hubungan agama dan masyarakat, tetapi juga meperlihatkan retaknya kehidupan masyarakat Maluku secara keseluruhan. Keadaan ini membuat agama kehilangan momentum untuk menjadikan agama yang melayani dan membebaskan manusia. Situasi seperti ini menjadi masalah serius ketika agama harus mengambil sikap terhadap pluralisme. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan sebuah toleransi untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Maluku khususnya Ambon menjadi salah satu daerah yang memelihara toleransi dan kerukunan dengan jumlah penduduk 50% beragama Kristen dan 50% lainnya beragama Islam. Dahulu, konflik perbedaan bukan sebuah masalah di Maluku karena komunikasi yang sangat kuat. Namun kini masyarakat Ambon kembali seperti dahulu dalam berinteraksi, baik dengan yang seagama maupun dengan yang berbeda agama. Perbedaan hampir sudah tidak terlihat lagi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus dan dengan tujuan untuk mengetahui peran dari kearifan budaya lokal Pela dalam komunikasi antar budaya umat beragama kota Ambon komunikasi seperti apa yang terjadi antara masyarakat di Ambon yang berbeda agama dan melihat bentuk-bentuk Pela masyarakat pasca rekonsiliasi sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi hubungan saling membahagiakan atau hubungan yang sangat positif antar masyarakat (Kristen-Islam) di Ambon serta bersepakat untuk bersama-sama mengurangi penderitaan sehingga tidak terjadi konflik seperti yang telah terjadi sebelumnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Smartphone LG G7 Thinq Pada Fans BTS di Jakarta Barat Brilliani Brilliani; Suherman Kusniadji; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3891

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Penggunaan Brand Ambassador BTS dan Sales Promotion terhadap Minat Beli Smartphone LG G7 ThinQ. Teori yang dibahas dalam penelitian ini adalah komunikasi pemasaran, sales promotion, brand ambassador dan minat beli. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis metode survei. Teknik penelitian yang digunakan adalah probability dengan pendekatan simple random sampling, responden sebanyak 97 orang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan studi kepustakaan. Uji persyaratan analisis menggunakan uji validitas, reliabilitas dan normalitas. Analisis data menggunakan koefisien korelasi berganda, koefisien determinasi, analisis regresi linier berganda, uji T dan uji F. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa brand ambassador dan promosi penjualan mempengaruhi minat beli handphone LG G7 ThinQ.
Pembentukan Identitas Diri Para Pelaku Cover Dance K-Pop di Jakarta Dwi Sabrina; Lusia Savitri Retno Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6391

Abstract

No doubt the development of popular culture is very fast in the world, especially the K-Pop industry. Due to rapid development of K-Pop and more fans, innovations have begun to emerge in showing the love of fans towards K-Pop. One of them is K-Pop cover dance activities. This study discusses "The Formation of the Identity of K-Pop Cover Dance Performers in Jakarta" and uses observation and interview data collection methods to find out more about how the formation of K-Pop cover actors' self-identity formation. The theory used is their dramatism on the front stage and also the backstage. In this study the authors can see that each individual communicates themselves in different ways and not all cover dance performers perform their front stage roles up to their backstage life. The formation of the identity of the cover dance actors can change to follow the environment where they are and with whom they communicate. However, not a few also feel that his life as a cover dance on stage imitates and becomes someone else's figure carried to their   daily from various aspects such as family, experience and also the community.Tidak dipungkiri perkembangan budaya populer sangat pesat di dunia terutama K-Pop. Akibat perkembangan K-Pop yang pesat dan penggemarnya yang semakin banyak, mulai bermunculan inovasi dalam menunjukkan kecintaan dari penggemar terhadap K-Pop. Salah satunya adalah kegiatan cover dance K-Pop. Penelitian ini membahas tentang “Pembentukan Identitas Diri Para Pelaku Cover Dance K-Pop di Jakarta” dengan menggunakan teori dramatisme mereka pada front stage dan juga back stage. Dalam penelitian ini penulis dapat melihat bahwa setiap individu mengkomunikasikan diri mereka dengan cara yang berbeda-beda dan tidak semua pelaku cover dance melakukan peran front stage mereka hingga ke kehidupan backstage mereka. Peneliti menggunakan metode pengumpulan data observasi dan wawancara untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana pembentukan identitas diri para pelaku cover dance K-Pop. Pembentukan identitas diri para pelaku cover dance dapat berubah mengikuti lingkungan dimana mereka berada dan dengan siapa mereka berkomunikasi. Namun, tidak sedikit juga yang merasa bahwa kehidupannya sebagai seorang cover dance di atas panggung yang meniru dan menjadi sosok orang lain terbawa hingga ke kehidupan sehari-hari mereka dari berbagai macam aspek seperti keluarga, pengalaman dan juga komunitas. 
Pemaknaan Konten Dalam Media Sosial (Studi Pada Pengguna Aplikasi Bigo Live Di Kalangan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi) Stella Kesuma; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i2.6427

Abstract

This research discusses the meaning of content on social media, especially in the Bigo Live application. This social media still has some negative content so it attracts a lot of attention. Researchers chose Bigo Live because this application has a strong interaction with its users. The purpose of this study is to describe the meaning of the audience of the content in Bigo Live. The theory used in this research is reception analysis theory with qualitative research methods. Analysis of the Reception Study uses the criteria of media text readers namely Dominant Reader (dominant hegemonic position), Negotiated Reader (negotiated code / position), and Opposition Reader (operational code / position). Based on the results of the analysis and discussion of the meaning of audiences on content in Bigo Live social media, the audience belongs to the negotiated position category. Penelitian ini membahas tentang pemaknaan konten di media sosial khususnya di aplikasi Bigo Live. Media sosial ini masih memiliki beberapa konten negatif sehingga menarik banyak perhatian. Peneliti memilih Bigo Live karena aplikasi ini memiliki interaksi yang kuat dengan penggunanya. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemaknaan khalayak terhadap konten yang ada di dalam Bigo Live. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis resepsi dengan metode penelitian kualitatif. Analisis Studi Resepsi menggunakan kriteria pembaca teks media yaitu Pembaca Dominan (dominant hegemonic position), Pembaca Negosiasi (negotiated code/position),dan Pembaca Oposisi (operational code/position). Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pemaknaan khalayak terhadap konten dalam media sosial Bigo Live, khalayak tergolong kategori negosiasi (negotiated position).
Makna Pesan dalam Tari Tradisional (Analisis Deskriptif Kualitatif Makna Pesan dalam Kesenian Tari Piring) Siti Fathonah; Sinta Paramita; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6151

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang makna pesan yang terdapat pada setiap gerakan yang ditunjukkan oleh penari serta makna pesan yang ingin disampaikan dalam kesenian Tari Piring. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Solok yang berdomisili di Jakarta yakni, Duta Pariwisata Minangkabau, Director Sanggar Syofyani, pelatih atau penari yang berstatus aktif, serta masyarakat Solok yang mengetahui kesenian tari piring. Hasil yang didapat dalam penelitian yaitu gerakan- gerakan pada kesenian Tari Piring merupakan hasil adaptasi dari kegiatan masyarakat Minangkabau pada saat itu sebagai petani dan pesilat, serta makna pesan yang ingin ditunjukkan pada kesenian Tari Piring adalah karakteristik dari masyarakat Minangkabau sendiri yakni sifat gotong royong, bekerja keras, kebersamaan, dan keberanian. Properti piring yang digunakan melambangkan suatu kesejaheraan dan kemakmuran. Pakaian yang digunakan dalam Kesenian Tari Piring melambangkan suatu jati diri masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adab, serta syariat agama islam.
Fanatisme Penggemar K-Pop Melalui Media Sosial (Studi pada Akun Instagram Fanbase Boyband iKON) Wishandy Wishandy; Riris Loisa; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v3i1.6156

Abstract

Budaya populer K-Pop telah mewabah sampai keseluruh dunia terutama di Indonesia. K-Pop merupakan industri musik yang terdiri dari girlband dan boyband, salah satunya yaitu boyband iKON. Semakin berkembangnya zaman, penggemar dapat dengan mudah mengakses informasi apapun mengenai iKON menggunakan media baru atau new media, salah satunya yaitu media sosial Instagram. Dengan menggunakan Instagram, penggemar dan fandom iKON dapat melampiaskan rasa cinta dan kagumnya terhadap iKON dengan melihat video, berita dan foto-foto tampan dari anggota iKON. Hal tersebut memicu penggemar semakin cinta dan kagum terhadap iKON yang telah menimbulkan fanatisme terhadap idolanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku fanatisme penggemar dalam media sosial mengenai kecintaannya terhadap boyband iKON. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil wawancara dengan admin akun fanbase iKON di Instagram yaitu @ikonictreazure dan @Wowfaktaikon. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penggemar merasakan cinta dan kagum yang tinggi dengan menunjukan perilaku-perilaku fanatik terlihat dari respon penggemar saat berkomentar dalam Instagram.
Perlawanan Stigma Warna Kulit terhadap Standar Kecantikan Perempuan Melalui Iklan Joanne Mareris Sukisman; Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10150

Abstract

The development of a beauty standard stigma that says being beautiful is having white skin is a problem for some women in Indonesia, this is due to the construction of mass media and the entry of foreign cultures. That way those with dark or brown skin will feel insecure. Seeing this stigma, Pond's as one of the pioneers of skin care created an advertisement for their new product variant, Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream, which shows models with various skin colors typical of Indonesian women. Based on this background, the formulation of the problem of this study is how to fight against the stigma of the beauty standard for women's skin color that is depicted in the TV ad for Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream. Then the purpose of this study is to explain and describe the resistance to the stigma of the beauty standard for women's skin color that is depicted in the TV ad for Pond's White Beauty Skin Perfecting Cream. The theoretical review used in this research is advertising, television advertising, the concept of beauty standards, and stigma and resistance. To answer the problem formulation, this study uses qualitative research methods with Charles Sanders Pierce's semiotic analysis, which sees a phenomenon with three main components, namely Signs, Objects, and Interpretations. The results showed that in several scenes the advertisement gave a message that the standard of women's beauty was not measured by skin color, but beauty was based on the inner beauty or potential and talents possessed as well as a sense of gratitude and confidence. The conclusion is that this ad does not follow the construction of advertisements in general, but shows beauty with various skin tones that are characteristic of Indonesia, and wants to show women that basically all women with any skin color are beautiful.Berkembangnya suatu stigma standar kecantikan yang mengatakan cantik adalah memiliki kulit putih menjadi suatu problem bagi sebagian perempuan di Indonesia, hal ini disebabkan oleh kontruksi media massa dan masuknya budaya asing. Dengan begitu mereka yang memiliki kulit gelap atau sawo matang akan merasa tidak percaya diri. Melihat stigma tersebut Pond’s sebagai salah satu pelopor skin care membuat iklan untuk varian produk baru mereka Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream yang memperlihatkan model dengan beragam warna kulit khas perempuan Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana perlawanan terhadap stigma standar kecantikan warna kulit perempuan yang digambarkan pada iklan TV Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream. Kemudian tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mendeskripsikan perlawanan terhadap stigma standar kecantikan warna kulit perempuan yang digambarkan pada iklan TV Pond’s White Beauty Skin Perfecting Cream. Tinjauan teoritis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu periklanan, iklan televisi, konsep standar kecantikan, dan stigma serta perlawanannya. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Pierce yang melihat suatu fenomena dengan tiga komponen utama yaitu Tanda, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukan di beberapa scene iklan tersebut memberikan makna pesan di dalamnya bahwa standar kecantikan perempuan bukan diukur dari warna kulit, melainkan kecantikan di dasari dengan mengedepankan inner beauty atau potensi dan bakat yang dimiliki serta rasa bersyukur dan percaya diri. Kesimpulannya adalah iklan ini tidak mengikuti konstruksi iklan pada umumnya, tetapi menunjukan kecantikan dengan beragam warna kulit ciri khas Indonesia, dan ingin menunjukan pada para perempuan bahwa pada dasarnya semua perempuan dengan warna kulit apapun itu cantik.