Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

APRESIASI DAN MAKNA KISAH MAHABHARATA DALAM MASYARAKAT JAWA KUNO Munandar, Agus Aris
Multikultura Vol. 1, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas tentang kisah Mahabharata yang diapresiasi oleh masyarakat Jawa Kuno dalam abad ke-8—15 M. Bentuk apresiasi tersebut berupa karya sastra, penggambaran relief di candi-candi, dan juga beberapa tokoh dalam Mahabharata yang diarcakan. Kisah Mahabharata lebih populer daripada kisah Ramayana, uraiannya pun lebih luas, sekedar perbandingan beberapa data tentang kedua kisah itu adalah: Dewa utama yang dipuja dalam Ramayana ialah Visnu, sedangkan dalam Mahabharata adalah Siva Mahadeva, Ramayana mempunyai 7 kanda (jilid), sedangkan Mahabharata terdiri dari 18 parwa (bagian kisah), dalam Ramayana adanya tokoh hewan yang berperang, sedangkan dalam Mahabharata sepenuhnya tokoh-tokoh manusia. Setelah dilakukan telaah terhadap uraian kisah Mahabharata dan dampaknya pada masyarakat Jawa Kuno, maka dapat diketahui bahwa kisah Mahabharata (a) mengajarkan detail-detail sistem kerajaan di Jawa, (b) menjadi acuan tindakan bagi para raja dan ksatrya Jawa Kuno, (c) sebagai kisah yang menjadi latar belakang pemujaan nenek moyang, dan (d) tokoh-tokoh cerita dalam Mahabharata menjadi acuan sifat baik dan buruk. Kisah Mahabharata pun sampai sekarang masih dikenal terutama dalam etnik Jawa, Sunda. dan Bali dalam bentuk pagelaran wayang kulit, wayang golek, wayang wong, sendratari, dan bentuk seni pertunjukan lainnya yang berlatar belakang petikan dari kisah tersebut. Mahabharata bukanlah sembarang kisah kepahlawanan, melainkan juga kisah keagamaan yang secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang dinarasikan dalam untaian cerita. Hal yang menarik dalam masyarakat Jawa kisah Mahabharata telah dianggap sebagai karya susastra milik orang Jawa sendiri, bukan dari budaya India.
The signification of paramita teachings in Jatakamala reliefs at Candi Borobudur: Semiotic perspective : Pemaknaan ajaran paramita pada relief Jatakamala di Candi Borobudur: Perspektif semiotika Lee, So Tju Shinta; Munandar, Agus Aris
Berkala Arkeologi Vol. 42 No. 1 (2022)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v42i2.963

Abstract

Tulisan ini mengkaji bagaimana relief Jatakamala di Candi Borobudur merepresentasikan ajaran enam kesempurnaan (sat-paramita), peran sosial dari tokoh utama, dan nilai-nilai universal di dalam cerita. Penelitian ini perlu dilakukan karena belum ada analisis yang memadai bagaimana Jatakamala diasosiasikan dengan praktik kesempurnaan pada kajian-kajian terdahulu. Berdasarkan tiga komponen data: relief, naskah, dan sutra-sutra mengenai enam kesempurnaan, kajian ini menggunakan semiotika pragmatis Charles Sanders Peirce untuk mengidentifikasi kesempurnaan/multikesempurnaan pada lima cerita Jatakamala. Analisis tematis digunakan untuk melihat peran sosial dan pesan universal dalam 14 cerita. Penerapan triadik Peirce menunjukkan bahwa masing-masing cerita merepresentasikan multikesempurnaan. Tokoh utama dalam Jatakamala berperan aktif secara sosial dan turut memecahkan isu-isu di masyarakat melalui tindakan dan keteladanan. Jatakamala juga mengandung nilai-nilai universal sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan.
MAJAPAHIT AND THE CONTEMPORARY KINGDOMS: INTERACTIONS AND VIEWS: MAJAPAHIT DAN NEGERI-NEGERI SEZAMAN: INTERAKSI DAN PANDANGAN Munandar, Agus Aris
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 1 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i1.522

Abstract

Abstract This study discusses the interactions between Majapahit and other kingdoms from a contemporary time in Nusantara, Southeast Asia, India, and China and vice versa. The aim is to formulate the interaction between Majapahit and contemporary kingdoms and vice versa based on existing data. This is an ancient historical study that was conducted in three stages, namely: collecting data contained in written sources such as inscriptions, literary works, and Chinese Chronicles, and archaeological data. The second stage was a data analysis by linking data from written sources with other data, to look for elements that support each other, and always refer to the phenomenon of the study framework. The third stage included an interpretation to gain conclusions. According to the data analysis by examining Majapahit's contemporary regions and kingdoms, it turned out that the kingdom applied the basic concept of Tri Angga which refers to the macrocosm concept of Tri Loka. Majapahit's relationship with India is not as dynamic as that of China, instead, there is a view that India is religiously no longer a reference to Hinduism and Buddhism. Abstrak Kajian ini dilakukan berkenaan interaksi antara Majapahit dengan negeri-negeri lain pada masa yang sama di kepulauan Nusantara, Asia Tenggara, India, Â dan Cina dan sebaliknya. Â Pemahaman yang hendak diperoleh adalah merumuskan perihal interaksi antara Majapahit dengan negeri-negeri sezaman dan sebaliknya. Telaah yang dilakukan berada dalam ranah sejarah kuno dengan tiga tahap kajian, yaitu mengumpulkan data sumber tertulis seperti prasasti, karya sastra dan Berita Cina, dan data arkeologis. Tahap kedua melakukan analisis dengan mengaitkan data sumber tertulis dengan data yang lain, untuk mencari elemen yang saling mendukung dan mengacu kepada fenomena kerangka kajian ini. Tahap ketiga adalah penarikan interpretasi untuk mengarah kepada kesimpulan. Berdasarkan kajian ini, diketahui bahwa dalam memandang daerah dan kerajaan yang berkembang sezaman, ternyata Majapahit menerapkan konsep dasar Tri Angga yang mengacu kepada konsep makrokosmos Tri Loka. Hubungan Majapahit dengan India tidak sedinamis dengan Cina, malahan terdapat pandangan bahwa secara religius India bukan lagi menjadi acuan keagamaan Hindu dan Buddha.
PENATAAN WILAYAH PADA MASA KERAJAAN SUNDA Munandar, Agus Aris
Berkala Arkeologi Vol. 14 No. 2 (1994)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v14i2.706

Abstract

The Kingdom of Sunda is one of the kingdoms during the Hindu-Buddhist period located in West Java. Unlike the history of other kingdoms that have grown and developed on the island of Java (Mataram, Kadiri, Singhasari, Majapahit), the history of the Kingdom of Sunda is still not widely discovered by scholar. It is mainly because the historical sources related to the kingdom are very limited. There are also not too many archaeological remains. Even if the remains are visible, it is in a damaged condition. However, historians and archaeologists certainly still hope that in the future more historical sources will be found. It can help to reveal the history of the Kingdom of Sunda. This study deliberately discusses the final phase of the kingdom based on the data availability.
Underwater Archaeological Museum: Utilization of Karimunjawa Sites Putranto, St. Prabawa Dwi; Munandar, Agus Aris
Proceeding ISETH (International Summit on Science, Technology, and Humanity) 2016: Proceeding ISETH (International Conference on Science, Technology, and Humanity)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseth.2352

Abstract

Indonesia is located in a strategic location between Indian and Pacific Ocean. Indonesia has water territory more than land territory with approximately 3:2 in ratio. In that vast area, there are many cultural heritages from old history, both in land and underwater. Cultural heritages found in both locations have a connection. Until recently, the government has attempted to reveal the past from underwater cultural heritage through survey and exploration. Many invaluable cargoes were salvaged from the underwater wreckages. Exploration and salvage are done by private company with the permit from the National Committee for Salvage and Utilization of the Valuable Object of the Sunken Ship (PANNAS BMKT). However, illegal exploration and salvage persists in the practice. Conservation efforts that include protection, development and utilization to the underwater cultural heritage had not been maximal; therefore, salvage, pilferage, and vandalism still occur. This paper would try to give an alternative for the utilization of underwater cultural heritage through a maritime museum in its natural state (in-site conservation). Museum is one institution that protects, develops and utilizes cultural heritages, and communicates them to the visitor.