Zaenal Zaenal
Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Kajian Teknis dan Ekonomis dalam Merencanakan Penggantian Alat Gali-Muat dan Angkut pada Penambangan Nikel Laterit PT Tonia Mitra Sejahtera Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara A. Sulhan Dwi Wahyullah; Zaenal; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.841 KB) | DOI: 10.29313/bcsme.v2i2.3645

Abstract

Abstract. The condition of mechanical which has almost reached the service life of the tool requent breakdowns, resulting in decreased machine performance and higher operating costs, of course, affects productivity and production which will decrease. Therefore it is necessary to replace the tool. In planning the replacement of mechanical equipment, it is necessary to conduct a technical and economical study. The technical study includes a study of equipment production, and an economic study includes operating costs, ownership costs, Present Worth Cost and Production Unit Cost values. The research method is taking primary data and also secondary data. Based on the results of technical and economic studies, the old excavating equipment with a production of 382.008.01 BCM/year and the new excavating equipment with a production of 443.071,00 BCM/year. While the old transporting production with production of 381,763.01 BCM/year and new transporting production of 441,953. 28 BCM/year. The cost of calculating the cost of Production Unit Cost for old excavating equipment is Rp. 4,657.94 BCM and New digging-loading equipment of Rp. 3.725,53 BCM. For the old transporting of the cost of Production Unit Cost Rp.2. 720.38 BCM and new transporting of Rp. 2.162,62 BCM. Based on technical and economic studies for excavating and transporting equipment needs to be replaced because the productivity of new tools is greater and operating costs are more efficient than old tools, from the results of Unit Cost Production for excavating and transporting new tools is more efficient than old tools, as well as long-term investment if buying new tools. Abstrak. Kondisi dari alat mekanis yang hampir mencapai batas umur pemakaian dan sering terjadi kerusakan, sehingga mengalami penurunan kinerja mesin dan biaya operasi alat semakin besar, tentunya mempengaruhi produktivitas dan produksi yang akan semakin menurun. Oleh karena itu maka perlu dilakukan penggantian alat. Dalam merencanakan penggantian alat mekanis maka perlu dilakukan kajian secara teknis dan ekonomis. Untuk kajian teknis meliputi kajian produksi alat, dan kajian ekonomis meliputi biaya operasi, biaya kepemilikan, nilai Present Worth Cost dan nilai Production Unit Cost. Metode penelitian dilakukannya pengambilan data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil kajian tekniks dan ekonomis, alat gali-muat lama dengan produksi sebesar 382.001,00 BCM/tahun dan alat gali-muat baru dengan produksi sebesar 443.071,25 BCM/tahun. Sedangkan alat angkut lama produksi dengan produksi sebesar 381.763,02 BCM/tahun dan alat angkut baru produksi sebesar 441.953,28 BCM/tahun. Biaya perhitungan biaya Production Unit Cost untuk alat gali-muat lama sebesar Rp. 4.657,94 BCM dan alat gali-muat baru yaitu sebesar Rp. 3.725,53 BCM. Untuk alat angkut lama biaya Production Unit Cost Rp.2.720,38 BCM dan alat angkut baru sebesar Rp.2.162,62 BCM. Berdasarkan kajian teknis dan ekonomis untuk alat gali-muat dan alat angkut perlu diganti karena produktivitas alat baru lebih besar dan biaya operasi lebih hemat dibandingkan alat lama, dari hasil Unit Cost Production untuk alat gali-muat dan angkut baru lebih hemat dibandingkan alat lama, serta investasi jangka panjang jika membeli alat baru.
Karakteristik Sifat Fisik dan Mekanik Batuan Basalt sebagai Bahan Baku Serat Basalt di Wilayah Bandung Raya, Provinsi Jawa Barat Noufal Abhinaya; Yuliadi; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.76 KB) | DOI: 10.29313/bcsme.v2i2.4192

Abstract

Abstract. West Java there is a lot of wealth of mining materials as a result of volcanic activities including andesite and basalt. Mining materials are generally conventionally used only for building materials (construction) in the field of Civil Engineering which is still in the form of 'raw materials' or 'semi-finished'. The management of this mining material is carried out with simple and the selling value is low.In the century of advanced technology today began to be widely used construction materials in the form of composites with fiber reinforcement (Fibre Reinforced Composite), including composites with the strengthening of basalt fibers (Fibre Basalt Reinforced Composite). Basalt fibers have attracted a lot of attention in the composite industry because they are chemically stable and have excellent mechanical and thermal properties. Due to its high commercial value, basalt fiber has many applications in the polymer and construction industries.In this case, the question is whether there isa great potential,is it possible that basalt around Bandung Raya can be used as basalt fiber so that it can provide added value? Whether the quality (chemical/mineral arrangement) and characteristics are in accordance with the physical and mechanical properties required to be used as basalt fibers.In the research will be determined characteristics, quality (chemical / mineral arrangement) in several research locations that have the potential of basalt rock deposits, namely around Bandung and Cimahi, Cianjur, Cikarang and Serang. In testing the physical-mechanical properties of the three regional representatives from the three research areas included in the test parameters, namely samples BT 01 and GB 02. Abstrak. Jawa Barat terdapat banyak kekayaan bahan tambang sebagai hasil kegiatan gunung api di antaranya adalah batuan beku andesit dan basalt. Bahan tambang itu pada umumnya secara konvensional digunakan hanya untuk bahan bangunan (konstruksi) di bidang teknik sipil yang masih dalam bentuk „bahan mentah‟ atau „setengah jadi‟. Pengelolaan bahan tambang ini dilakukan dengan relatif sederhana dan nilai jualnya yang relatif rendah.Pada abad teknologi maju sekarang ini mulai banyak digunakan bahan konstruksi yang berbentuk komposit dengan penguatan serat (fibre reinforced composite), diantaranya adalah komposit dengan penguatan serat basalt (fibre basalt reinforced composite). Serat basalt telah menarik banyak perhatian dalam industri komposit karena secara kimiawi stabil dan memiliki sifat mekanik dan termal yang sangat baik. Karena nilai komersialnya yang tinggi, serat basalt memiliki banyak aplikasi dalam industri polimer dan konstruksi. Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan apakah dengan potensi yang besar, mungkinkah basalt di sekitar Wilayah Bandung Raya ini bisa dijadikan serat basalt sehingga dapat memberikan nilai tambah? Apakah kualitas (susunan kimia/mineral) dan karakteristik sesuai dengan sifat-sifat fisik dan mekanik yang dipersyaratkan untuk dijadikan serat basalt.Dalam penelitian akan ditentukan karakteristik, kualitas (susunan kimia/mineral) di beberapa lokasi penelitian yang mempunyai potensi endapan batuan basalt yaitu di sekitar Bandung dan Cimahi, Cianjur, Cikarang dan Serang. Pengujian sifat fisik-mekanik dari ketiga perwakilan wilayah dari ketiga wilayah penelitian yang masuk kedalam parameter pengujian yakni sampel BT 01 dan GB 02.
Monitoring Korosi Discharge Conveyor F pada Tambang Batubara PT XYZ di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi Rahmat Fauzi; Elfida Moralista; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5414

Abstract

Abstract. The need for coal is increasing every year to make it easier to transport it using a mechanical device in the form of a conveyor that can increase work efficiency in coal mines. Conveyor structures made of carbon steel material are prone to corrosion due to the influence of the surrounding environment, so they can be damaged and reduce the remaining life of the conveyor structure. The research methodology used was measuring the decrease in the thickness of the conveyor structure which was applied using the Smart Sensor Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. Measurements were made on a 125 meter long conveyor structure and 32 test points. The environmental conditions of the study area are based on statistics for 2016–2020 with an average rainfall of 200.48 mm/year, an average air temperature of 25.37ºC and a relative humidity of 87.46%. The type of corrosion that occurs in the conveyor structure is uniform corrosion. The corrosion control method applied is the 3 layer system coating method, which uses a primary coating Seaguard 5000, intermediate coating uses Sherglass FF and top coating uses Aliphatic Acrylic Modifield Polyurethane. The corrosion rate ranges from 0.1827–0.3267 mm/year which is included in the good category based on the relative corrosion resistance table of steel. The design life of the conveyor structure is 15 years and the service life is 7.5 years, while the remaining service life from the calculation results ranges from 6.53–8.79 years. because of that there are 5 test points or 15,6% predicted not to reach the design life of 15 years. Abstrak. Kebutuhan batubara setiap tahun semakin meningkat untuk mempermudah setiap pengangkutannya menggunakan alat mekanis berupa conveyor yang dapat meningkatkan efesiensi kerja pada tambang batubara. Struktur conveyor yang terbuat dari material baja karbon rentan mengalami korosi akibat dari pengaruh lingkungan sekitarnya, sehingga dapat mengalami kerusakan dan mengurangi remaining service life struktur conveyor. Metodologi penelitian yang digunakan adalah pengukuran pengurangan ketebalan struktur conveyor yang diaplikasikan menggunakan alat Smart Sensor Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. Pengukuran dilakukan pada struktur conveyor sepanjang 125 meter dan 32 test point. Kondisi lingkungan daerah penelitian berdasarkan statistik tahun 2016–2020 dengan curah hujan rata-rata sebesar 200,48 mm/tahun, temperatur udara rata-rata sebesar 25,37ºC dan kelembapan relatif 87,46%. Jenis korosi yang terjadi pada struktur conveyor adalah jenis korosi merata. Metode pengendalian korosi yang diaplikasikan yaitu metode coating sistem 3 layer, dimana menggunakan primer coating Seaguard 5000, intermediate coating menggunakan Sherglass FF dan top coating menggunakan Aliphatic Acrylic Modifield Polyurethane. Corrosien rate berkisar 0,1827–0,3267 mm/tahun yang termasuk kedalam kategori good berdasarkan tabel ketahanan korosi relatif baja. Umur desain struktur conveyor 15 tahun dan umur pakai 7,5 tahun, sedangkan remaining service life dari hasil perhitungan berkisar 6,53–8,79 tahun. Oleh sebab itu terdapat 5 test point atau 15,6% diprediksi tidak dapat mencapai umur desain yaitu 15 tahun.
Kajian Teknis Alat Gali-Muat dan Angkut pada Penambangan Batubara PT Pacific Global Utama di Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan Mohammad Rizkie Syahreza; Zaenal; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5423

Abstract

Abstract. The condition of mining activities at PT Pacific Global Utama uses an open pit mining system with the type of Strip Mining. In carrying out this mining, of course, it will affect the results of the coal obtained which will later be used to achieve the production target of the company, recently the company has not reached its production target. Then for the purpose of knowing the production results of excavation and transportation activities whether the production target has been achieved or not, then the factors and constraints that exist in the company as well as ways of efforts to increase production results that have not been achieved. For digging, loading and transporting coal, several mechanical devices are used, including the Komatsu PC-400 LC-8 excavator as the digger and the Volvo A40F Articulated Dump Truck as the conveyance. To increase coal production, improvements were made when extracting excavated material which was originally carried out in the bottom loading area and then extracting excavated material in the top loading area so as to shorten loading time and increase the amount of cargo on the conveyance. The results obtained are in the production of loading and unloading equipment. which initially only got production of 49,000 tons/month with the company's desired target of 55,000 tons/month, this target was not achieved. where a study was carried out by maximizing the process of loading and adding to the load of minerals to be able to increase production by achieving a target of 55,000 tons/month, so that the production of digging and loading equipment became 57,924 tons/month and 57,911 tons/month, the suitability factor obtained after improvements were 0.92 and production was achieved after improvement. Abstrak. Kondisi Kegiatan penambangan pada PT Pasific Global Utama menggunakan sistem tambang terbuka dengan tipe Strip Mining.Dalam pelaksanaan penambangan ini tentu akan mempengaruhi hasil dari batubara yang didapatkan, yang nantinya untuk pencpaian target produksi dari perusahaan, akhir – akhir ini perusahaan tidak mencapai target produksi.Kemudian untuk tujuan yaitu untuk mengetahui hasil produksi kegiatan gali muat angkut ini apakah sudah mencapai target produksi atau belum lalu faktor serta hambatan yang ada pada perusahaan dan cara upaya untuk perbaikan hasil produksi yang tidak tercapai. Untuk penggalian, pemuatan dan pengangkutan batubara menggunakan beberapa alat mekanis, diantaranya menggunakan excavator Komatsu PC-400 LC-8 sebagai alat gali-muatnya dan dump truck Volvo Articulated Dump Truck A40F sebagai alat angkutnya. Untuk meningkatkan produksi batubara dilakukan perbaikan pada saat pengambilan bahan galian yang semula dilakukan pada daerah bottom loading kemudian dilakukannya pengambilan bahan galian di daerah top loading sehingga dapat mereduksi waktu pemuatan dan dengan penambahan jumlah muatan pada alat angkut.Hasil yang di dapat pada produksi alat gali muat yang semula hanya mendapatkan hasil produksi sebesar 49.000 ton/bulan dengan target yang di inginkan perusahaan sebesar 55.000 ton/bulan maka target tidak tercapai. dimana dilakukan kajian dengan pemaksimalan proses memuatan dan menambah muatan bahan galian untuk dapat meningkatkan produksi dengan capaian target 55.000 Ton/bulan, sehinggga produksi alat gali-muat dan alat angkut menjadi 57.924 ton/bulan dan 57.911 ton/bulan, faktor keserasian yang didapatkan setelah perbaikan sebesar 0,92 dan produksi pun tercapai setelah dilakukan perbaikan.
Remaining Service Life Discharge Conveyor G pada Tambang Batubara PT GHI di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan Nurul Azizah; Elfida Moralista; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5490

Abstract

Abstract. The transfer of coal material at PT GHI in Tanah Laut Regency, South Kalimantan Province usually uses conveyors. This conveyor is one of the mechanical devices used to move material from one place to another. This conveyor structure has a carbon steel base material which is a material that is prone to corrosion. This corrosion is caused by a reaction with the surrounding environment and the presence of impurities in coal. For this reason, it is necessary to monitor and control corrosion. This study aims to determine the type of corrosion that occurs, corrosion control methods, and the corrosion rate and remaining service life of the conveyor structure.The research was conducted on a 94 meter long conveyor structure which was divided into 3 segments consisting of 25 test points. The methodology in this research is thickness reduction measurement. Measurements were made on the conveyor structure using the Smart Sensor Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. Data on nominal thickness, actual thickness and service life are used to calculate the corrosion rate and remaining service life of the conveyor structure. Environmental conditions in the research area based on data from 2015 - 2019 have an average rainfall of 229.26 mm / year, an average relative humidity of 79.44% and an average temperature of 28.16ºC.The type of corrosion that occurs on the conveyor structure is uniform corrosion. The corrosion control method used is the Three Layers System Coating method with primary coating using Seaguard 5000, intermediate coating using Sherglass FF, and top coating using Aliphatic Acrylic Modified Polyurethane Abstrak. Pemindahan material batubara di PT GHI di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan ini biasanya menggunakan Conveyor. Conveyor ini merupakan salah satu alat mekanis yang digunakan untuk memindahkan material dari satu tempat ke tempat lainnya. Struktur Conveyor ini memiliki bahan dasar baja karbon yang mana material ini merupakan material yang rawan terhadap korosi. Korosi ini disebabkan adanya reaksi dengan lingkungan sekitar dan adanya pengotor pada batubara. Untuk itu perlu dilakukan monitoring dan pengendalian korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis korosi yang terjadi, metode pengendalian korosi, dan laju korosi dan sisa umur pakai struktur conveyor. Penelitian dilakukan pada struktur Conveyor sepanjang 94 meter yang terbagi menjadi 3 segmen yang terdiri dari 25 test point. Metodologi dalam penelitian ini adalah pengukuran pengurangan ketebalan. Pengukuran dilakukan pada struktur conveyor menggunakan alat Smart Sensor Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. Data tebal nominal, tebal aktual dan umur pakai yang digunakan untuk menghitung corrosion rate serta remaining service Life dari struktur conveyor. Kondisi lingkungan di daerah penelitian berdasarkan data dari tahun 2015 – 2019 memiliki curah hujan rata-rata 229,26 mm/tahun, kelembapan relatif rata-rata 79,44% dan temperatur rata-rata 28,16ºC. Jenis korosi yang terjadi pada struktur conveyor merupakan korosi merata. Metode pengendalian korosi yang digunakan merupakan metode Coating Three Layers System dengan primer coating menggunakan Seaguard 5000, intermediate coating menggunakan Sherglass FF, dan top coating menggunakan Aliphatic Acrylic Modified Polyurethane
Kajian Pengaruh Kekar Terhadap Peak Particle Velocity dari Getaran Peledakan Tambang Batu Andesit PT Gunung Kulalet di Jawa Barat Fadhil Saputra; Yuliadi; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5503

Abstract

Abstract. PT Gunung Kulalet is company engaged in andesite mining. The companies use blasting as a development method. Ground vibration is a wave that moves in the ground caused by the presence of an energy source. This energy source can come from nature such as earthquakes or from blasting activities. The vibration level of blasting depends on the wave propagation speed to propagate through its respective medium. Waves cannot propagate optimally if there is interference in the medium. Disturbances in the medium one of them is the geological structure. The existence of geological structure makes wave propagation becomes not optimal so it is necessary to study the influence of structure on wave propagation. The research method used in this study is to perform a comparative analysis technique between scaled distance with peak particle velocity in rocks with high rock strength and rocks that have a structure. In addition, the study of the colleration between the joint direction and the direction of the measurement points. The results of the discussion will issue recommendations for optimal explosives so that the peak particle velocity value does not exceed the threshold value. The propagation of vibrations traversed in rocks has different characteristics. Wave propagation is influenced by several factors such as the joint direction against the direction of blasting measurements and also the resulting PPV value. Of the three waveforms, vertical waves have a greater influence compared to the other two waves. Determination of the effect of waves on the value of Peak Particle Velocity depends on the value of the decay constant (k) and site exponent (e) from the results showed that the condition of the general direction of the two directions of measurement in two companies have intersecting directions. Joint density conditions at Pt Gunung Kulalet have a tight space between joint distances (<60mm). From the results of the study found that the optimal explosive recommendation that can be used is 65.40 kg for PT Gunung Kulalet. Abstrak. PT Gunung Kulalet merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu andesit. Perusahaan tersebut menggunakan peledakan sebagai media pemberaian batuannya. Getaran tanah (ground vibration) adalah gelombang yang bergerak di dalam tanah disebabkan oleh adanya sumber energi. Sumber energi ini dapat berasal dari alam seperti gempa bumi ataupun dari hasil kegiatan peledakan. Tingkat getaran peledakan bergantung pada cepat rambat gelombang untuk merambat melalui mediumnya masing – masing. Gelombang tidak dapat merambat secara optimal jika terdapat gangguan pada medium tersebut. Gangguan yang terdapat pada medium salah satunya adalah struktur geologi. Adanya struktur geologi membuat perambatan gelombang menjadi tidak optimal, sehingga diperlukan kajian mengenai pengaruh struktur terhadap perambatan gelombang. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu melakukan teknik analisis komparatif antara scaled distance dengan peak particle velocity pada batuan dengan kekuatan batuan yang tinggi dan batuan yang memiliki struktur. Selain itu dilakukan pengkajian hubungan antara arah umum kekar dan arah umum titik pengukuran terhadap getaran peledakan yang dihasilkan. Hasil dari pembahasan tersebut akan mengeluarkan rekomendasi bahan peledak optimal agar nilai peak particle velocity tidak melebihi nilai ambang batas. Perambatan getaran yang dilalui pada batuan memiliki karakteristik yang berbeda. Perambatan gelombang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti arah umum kekar terhadap arah pengukuran peledakan dan juga nilai PPV yang dihasilkan. Dari ketiga bentuk gelombang, gelombang vertikal memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan kedua gelombang lainnya. Penentuan pengaruh gelombang pada nilai Peak Particle Velocity bergantung pada nilai konstanta peluruhan (k) dan site exponent (e) Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi arah umum kekar terhadap kedua arah pengukuran pada dua perusahaan memiliki arah yang berpotongan. Kondisi joint density pada PT Gunung Kulalet memiliki spasi jarak antar kekar yang rapat (<60mm). Dari hasil kajian didapatkan bahwa rekomendasi bahan peledak optimal yang dapat digunakan yaitu 65,40 kg untuk PT Gunung Kulalet.
Monitoring Korosi Discharge Conveyor E pada Tambang Batubara PT XYZ di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi Aristu Eka Adrian; Elfida Moralista; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5692

Abstract

Abstract. Conveyors structure made from carbon steel are susceptible to corrosion which will reduce the quality of the material. The corrosion that occurs will affect the Remaining Service Life on the conveyor structure. Therefore, the purpose of this research is to determine the type of corrosion, corrosion control that is applied to the conveyor structure, the value of Corrosion Rate and Remaining Service Life.The measurement methodology for the 142 meter long conveyor structure consisting of 4 segments with 32 test points was carried out based on the thickness reduction method. Measurement of the actual thickness of the conveyor structure was carried out using an Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. In this study, observations of environmental conditions in 2016-2020 showed that the average air temperature data was 25.34oC, average rainfall was 209.97 mm/year and 86.92% relative humidity. The type of corrosion that occurs on the conveyor structure is uniform corrosion. The corrosion control method applied to the conveyor structure is the coating method with a three-layer system using Seaguard 5000 primer coating, Sherglass FF intermediate coating, and Aliphatic acrylic modified polyurethane top coating. Based on data on reducing the thickness of the conveyor structure with values ranging from 1.31-2.35 mm, a Corrosion Rate is obtained with a value of 0.1871-0.3357 mm/year, based on the table of relative corrosion resistance of steel this value is included in the good category. The service life of the conveyor structure is 7 years with a Remaining Service Life value ranging from 6.58-9.01 years. Therefore there are 14 or 43.75% of the 32 test points which are predicted not to reach the design life of 15 years. Abstrak. Struktur Conveyor berbahan dasar baja karbon rentan mengalami terjadinya korosi yang akan mengurangi kualitas material.. Korosi yang terjadi akan berpengaruh terhadap Remaining Service Life pada struktur conveyor. Maka dari itu tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui jenis korosi, pengendalian korosi yang diaplikasikan pada struktur conveyor, nilai Corrosion Rate dan Remaining Service Life. Metodologi pengukuran pada struktur conveyor sepanjang 142 meter yang terdiri dari 4 segmen dengan 32 test point dilakukan berdasarkan metode pengurangan ketebalan. Pengukuran tebal aktual struktur conveyor dilakukan dengan menggunakan alat Ultrasonic Thickness Gauge TT 130. Pada penelitian ini, pengamatan kondisi lingkungan pada tahun 2016-2020 menunjukan bahwa data temperatur udara rata-rata 25,34oC, curah hujan rata-rata 209,97 mm/tahun dan kelembapan relatif 86,92%. Jenis korosi yang terjadi pada struktur conveyor yaitu korosi merata. Metode pengendalian korosi yang diaplikasikan pada struktur conveyor yaitu metode coating dengan sistem three layer system menggunakan primer coating Seaguard 5000, intermediate coating Sherglass FF, dan top coating Aliphatic acrylic modified polyurethane. Berdasarkan data pengurangan ketebalan struktur conveyor dengan nilai berkisar antara 1,31-2,35 mm, didapatkan Corrosion Rate dengan nilai 0,1871-0,3357 mm/tahun, berdasarkan tabel ketahanan korosi relatif baja nilai tersebut termasuk ke dalam kategori good. Umur pakai struktur conveyor 7 tahun dengan nilai Remaining Service Life berkisar antara 6,58-9,01 tahun. Oleh karena itu terdapat 14 atau 43,75% dari 32 test point diprediksi tidak dapat mencapai umur desainnya yaitu 15 tahun.
Penentuan Optimum Explosive Charge per Delay untuk Mengontrol Getaran Tanah pada Aktivitas Peledakan PT Tambang Semen Sukabumi (Siam Cement Group) di Jawa Barat Dhia Fahri Hamdan; Yuliadi; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5795

Abstract

Abstract. Research activities were carried out at PT Tambang Semen Sukabumi (Siam Cement Group), West Java. One of the negative impacts of blasting activities that can damage the environment is ground vibration. If the vibration generated by blasting activities exceeds a predetermined threshold value, it can result in damage to nearby building structures. The closest building structures in the blasting area include the Leuwidendeng Village settlement, explosives warehouse and office. The purpose of this research is to determine the explosive charge per delay in controlling ground vibration due to blasting which refers to primary data and secondary data as the research method being carried out. . Vibration analysis was carried out based on the Indonesian National Standard (SNI) No 7571 of 2010 by identifying building classes, namely Class 2 buildings that have a PPV value of 3 mm/s and a PPV threshold value for companies, namely 2 mm/s. Based on the results of the analysis that has been carried out between the PVS and SD values, the constant value (K) obtained is 1883.9 and the exponential site (e) is 1.824. The predicted PPV values generated in Leuwidendeng Village are 0.06 mm/s and 0.08. While the predicted PPV values in the office are 0.22 mm/s and 0.48 mm/s, and the predicted PPV values in the explosives warehouse are 0.57 mm/s and 1.97 mm/s. The recommended explosive charge per delay is optimal for PPV 2 mm/s at a distance of 200 meters, namely 22 kg/hole and at a distance of 550 meters using an optimal explosive charge of 137 kg/hole. Abstrak. Kegiatan penelitian dilakukan di PT Tambang Semen Sukabumi (Siam Cement Group), Jawa Barat. Salah satu dampak negatif dari kegiatan peledakan yang dapat merusak ligkungan adalah gound vibration. Apabila getaran yang dihasilkan oleh kegiatan peledakan melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan, maka dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur bangunan terdekat. Struktur bangunan terdekat yang berada di area peledakan diantaranya yaitu pemukiman Desa Leuwidendeng, gudang handak dan office. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menentukan isian handak per delay dalam mengontrol getaran tanah akibat peledakan yang mengacu pada data primer dan data sekunder sebagai metode penelitian yang dilakukan. . Analisis getaran dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No 7571 Tahun 2010 dengan mengidentifikasi kelas bangunan yaitu bangunan Kelas 2 yang memiliki nilai PPV 3 mm/s dan nilai ambang batas PPV pada perusahaan yaitu 2 mm/s. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan antara nilai PVS dan SD, nilai konstanta (K) yang didapat yaitu 1883,9 dan site eksponan (e) yaitu 1,824. Nilai PPV prediksi yang dihasilkan di Desa Leuwidendeng yaitu 0,06 mm/s dan 0,08. Sedangkan nilai PPV prediksi pada office yaitu 0,22 mm/s dan 0,48 mm/s, serta nilai PPV prediksi di gudang handak sebesar 0,57 mm/s dan 1,97 mm/s. Rekoendasi isian handak per delay optimal untuk PPV 2 mm/s pada jarak 200 meter yaitu 22 kg/hole dan pada jarak 550 meter menggunakan muatan handak optimal 137 kg/hole.
Analisis Investasi dan Kelayakan Ekonomi Penambangan Bentonit PT SMU di Desa Nangerang, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat Alifia Atsiila Fitri; Zaenal; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.5984

Abstract

Abstract. PT SMU is a company that will plan bentonit mining in Nangerang Village, Jampang Tengah District, Sukabumi Regency, West Java Province which needs to be done investment analysis and economic feasibility of mine to see bentonit reserve prospect in that. To consider this, an economics analysis is required based on the concept of discounted cash flow analysis and sensitivity analysis. The parameters used to determine economic viability in bullion bentonit production of PT SMU are Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PBP) and sensitivity to NPV value due to changes in selling price and production cost. Based on analysis result of DCFROR analysis, Net Present Value value is Rp 20.386.301.635, Internal Rate of Return is 22,92 %, with Payback Period is 2,92 year, then this project is feasible to run. Then a sensitivity analysis is conducted to evaluate the impact of investment uncertainty by determining the level of profitability that will vary due to changes in sensitivity parameters. The parameters of investment that become the sensitivity parameter in this research are production cost and selling price. Assessment of sensitivity to NPV value due to changes in selling price and production cost at PT SMU assuming escalation of revenues and cost escalation by 3%. Net Present Value generated can show how sensitive the value obtained from the parameters of selling price. When the selling price drops above 12% and the production cost rises above more than 48%, then the project will be a loss. Keywords: Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) and Payback Period (PBP), Discounted Cash Flow (DCF), Sensitivity Analysis. Abstrak. PT SMU merupakan perusahaan yang melakukan penambangan bentonit di Desa Nangerang, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Sehingga perlu untuk dilakukan analisis investasi dan kelayakan ekonomi tambang untuk melihat prospek cadangan bentonit di lokasi tersebut. Untuk mempertimbangkan hal tersebut, maka diperlukannya analisis keekonomian berdasarkan konsep aliran kas diskonto (Discounted Cash Flow Rate of Return Analysis) dan analisis sensitivitas. Parameter yang digunakan untuk menentukan kelayakan ekonomi PT SMU adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Periode (PBP) dan sensitivitas terhadap nilai NPV akibat perubahan harga jual dan biaya produksi. Berdasarkan hasil pengkajian analisis DCFROR didapat nilai Net Present Value yaitu Rp 20.386.301.635, Internal Rate of Return yaitu 22,92 %, dengan Payback Periode yaitu 2,92 tahun, maka proyek ini layak untuk dijalankan. Selanjutnya dilakukan Analisis sensitivitas untuk mengevaluasi dampak dari ketidakpastian investasi dengan menentukan tingkat profitabilitas yang akan bervariasi akibat perubahan parameter sensitivitas. Parameter investasi yang menjadi parameter sensitivitas pada penelitian ini yaitu biaya produksi dan harga jual. Penilaian sensitivitas terhadap nilai NPV akibat perubahan harga jual dan biaya produksi di PT SMU dengan asumsi eskalasi pendapatan sebesar 3%. Sehingga nilai Net Present Value yang dihasilkan dapat menunjukan seberapa sensitif nilai yang didapatkan dari parameter harga jual. Ketika harga jual menurun diatas 12% dan biaya produksi naik diatas lebih dari 48%, maka proyek ini akan rugi. Kata Kunci : Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Periode (PBP), Discounted Cash Flow (DCF), Analisis Sensitivitas
Monitoring Korosi Discharge Conveyor E pada Tambang Batubara PT GHI di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan Rizal Andriansyah; Elfida Moralista; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Mining Engineering
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v3i1.6843

Abstract

Abstract. Conveyor is a mechanical conveyance used for the coal removal process. The conveyor structure is generally made of carbon steel which is prone to corrosion when reacting with the environment. The corrosion that occurs can lead to a reduction in the thickness of the conveyor structure. Therefore, monitoring and corrosion control are needed, so as to slow down the corrosion rate and reach the design life. The purpose of this research is to determine the type of corrosion that occurs, the corrosion control methods used, Corrosion rate, and Remaining service life.In this study using the research methodology of measuring the thickness reduction of the conveyor structure. The thickness measurement of the conveyance was carried out using the Ultrasonic Gauge TT130 tool on a 95-meter-long conveyor structure divided into 3 segments with 25 test points. The data obtained include nominal thickness, actual thickness, design life of 15 years and service life of 5 years, used to calculate Thickness Required, Corrosion rate, and Remaining service life. The environmental conditions of the study area in a period of 5 years from 2015 to 2019 had an average rainfall of 197.98 mm / year, an average air temperature of 26.91 °C, and an average humidity of 83.62%. Corrosion that occurs in the conveyor structure is evenly corrosion and the corrosion control method applied is a coating with a three-layer system, namely primer coating using Seaguard 5000, intermediate coating using Sherglass FF, and top coating using Aliphatic arcylic modified polyurethane. The corrosion rate that occurs in the conveyor structure ranges from 0.1880-0.3300 mm / year, so based on the relative corrosive resistance of steel is included in the "good" category. The service life of the conveyor structure is 9.43-11.35 years. Thus, 40% of the 25 test points are predicted to not be able to reach the design life, which is 15 years. Abstrak. Conveyor merupakan alat angkut mekanis yang digunakan untuk proses pemindahan batubara. Struktur conveyor pada umumnya berbahan dasar baja karbon yang rentan mengalami korosi apabila bereaksi dengan lingkungan. Korosi yang terjadi dapat menyebabkan pengurangan ketebalan pada struktur conveyor. Oleh karena itu diperlukan monitoring dan pengendalian korosi, sehingga dapat memperlambat laju korosi serta mencapai umur desain. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui jenis korosi yang terjadi, metode pengendalian korosi yang digunakan, Corrosion rate, dan Remaining service life.. Pada penelitian ini menggunakan metodologi penelitian pengukuran pengurangan ketebalan struktur conveyor. Pengukuran ketebalan dilakukan menggunakan alat Ultrasonic Gauge TT130 pada struktur conveyor sepanjang 95 meter yang terbagi ke dalam 3 segmen dengan 25 test point. Data yang diperoleh meliputi tebal nominal, tebal aktual, umur desain 15 tahun dan umur pakai 5 tahun, data tersebut kemudian diolah untuk mengetahui Thickness Required, Corrosion rate, dan Remaining service life. Kondisi lingkungan daerah penelitian dalam kurun waktu 5 tahun yang terhitung sejak tahun 2015 sampai tahun 2019 memiliki curah hujan rata-rata sebesar 197,98 mm/tahun, temperatur udara rata-rata 26,91°C, dan kelembapan udara rata-rata 83,62%. Korosi yang terjadi pada struktur conveyor adalah korosi merata dan metode pengendalian korosi yang diaplikasikan adalah coating dengan sistem three layer yaitu primer coating dengan menggunakan Seaguard 5000, intermediate coating menggunakan Sherglass FF, dan top coating dengan menggunakan Aliphatic arcylic modified polyurethane. Laju korosi yang terjadi pada struktur conveyor berkisar 0,1880-0,3300 mm/tahun, sehingga berdasarkan ketahanan korosif relatif baja termasuk ke dalam kategori “good”. Umur pakai struktur conveyor adalah 9,43-11,35 tahun. Dengan demikian terdapat 40% dari 25 test point yang diprediksi tidak dapat mencapai umur desain, yakni 15 tahun.