Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Association Between Personality Traits Toward Culture Shock Among Indonesian Caregiver in Japan Under Economic Partnership Agreement Yektiningsih, Erwin; Risnasari, Norma; Tri Wijayanti, Endah
Journal Of Nursing Practice Vol. 5 No. 1 (2021): October
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v5i1.165

Abstract

Background: Among Indonesian nurses who worked in Japan under Economic Partnership Agreement (EPA). They were placed in hospitals as nurses and nursing homes as caregivers. They experience cross-cultural tend to culture shock because of the personality traits needed socio-cultural to adaptations skills to live new environment.Purpose: This study aimed to increase professionally among Indonesian nurses placement job in Japan with enhancing adequate personality traits for adaptation cross-cultural live and health facility job in Japan that can preventive culture shock.Methods: This study used a cross-sectional approach with a non-probability sampling method. The population study was 307 among health professionals migration Indonesian in Japan, and obtained a sample of 180 respondents of Indonesian caregiver in nursing home Japan, that passing the National Board Examination (NBE) and have not. Selected using a random sampling technique. The data were collected using questioner. Data analysis used a contingency coefficient.Results: The results of research culture shock participants were 17% and normal 83%. This showed study extraversion have a significant association with culture shock (? value = 0. 042) and openness (? value = 0.109), conscientiousness (? value = 0.518), agreeableness (? value = 0.213), neuroticism (? value = 0.592) were not a significant association with culture shock.Conclusion: The nursing institutions plants to curriculum containing material for increasing nursing resources study cross-cultural skills in an abroad workplace to avoid culture shock who need very good mentally with increase competence of reinforcing positive personality traits
Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Kelas VIII tentang Penanganan Dismenore di SMPN 2 Tanjunganom: An Overview of Eighth-Grade Adolescent Girls' Knowledge regarding Dysmenorrhea Management at SMPN 2 Tanjunganom Ghaniyyu Intan Nur Anisa; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 8 (2026): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i8.460

Abstract

Pendahuluan: Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengetahuan tentang penanganan dismenore secara tepat, akan membantu remaja putri dalam mengatasi dismenore supaya tidak menganggu aktivitas belajar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri kelas VIII tentang penanganan dismenore di SMPN 2 Tanjunganom. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Tanjunganom Kabupaten Nganjuk sebanyak 100 siswi. Sampel penelitian berjumlah 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisoner tertutup, kemudian dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta presentase. Hasil: Data penelitian menunjukan sebagian besar responden berusia 14 tahun sebanyak 37 orang (74%). Pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore sebagian besar berada pada kategori kurang sebanyak 44 responden (88%), kategori cukup sebanyak 5 responden (10%), dan kategori baik sebanyak (2%). Kesimpulan: Hasil survei ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri kelas VIII di SMPN 2 Tanjunganom memiliki pengetahuan yang kurang tentang penanganan dismenore. Perlunya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi yang dilakukan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore.
Gambaran Persepsi Mahasiswa Diploma III Keperawatan terhadap Konsumsi Jamu Tradisional Berdasarkan Health Belief Model: Overview of Diploma III Nursing Students’ Perceptions of Traditional Herbal Medicine Consumption Based on the Health Belief Model Lufi Lufi; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir1
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.479

Abstract

Pendahuluan: Konsumsi jamu tradisional merupakan salah satu perilaku kesehatan yang dipengaruhi oleh persepsi individu. Minat mahasiswa terhadap konsumsi jamu tradisional ini cenderung rendah karena rasa, aroma, serta kecenderungan memilih pengobatan modern yang dianggap lebih praktis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi mahasiswa Prodi Diploma III Keperawatan Universitas Nusantara PGRI Kediri terhadap konsumsi jamu tradisional. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kwantitatif dengan pendekatan survei. Responden berjumlah 99 mahasiswa tingkat I, II, dan III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Health Belief Model dengan skala Likert dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.      Hasil:  Penelitian menunjukkan bahwa 72 responden (73%) memiliki persepsi rendah dan 27 responden (27%) memiliki persepsi sedang terhadap konsumsi jamu tradisional. Tidak ada responden dengan persepsi tinggi. Kesimpulan: Persepsi mahasiswa terhadap konsumsi jamu tradisional masih tergolong rendah sehingga diperlukan edukasi dan promosi kesehatan untuk meningkatkan persepsi positif terhadap jamu tradisional
Gambaran Kualitas Tidur Perawat Sif Malam di Ruang Rawat Inap Mekah Rumah Sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan : Overview of Sleep Quality Among Night-Sif Nurses in the Inpatient Ward of Mekah at Muhammadiyah Ahmad Dahlan Hospital Prawiradi Jaya Ramadani; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.481

Abstract

Pendahuluan: Perawat merupakan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan selama 24 jam melalui sistem kerja sif, termasuk sif malam yang berpotensi mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur. Kualitas tidur pada perawat dapat berdampak pada kesehatan individu, kinerja kerja, serta mutu pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur perawat sif malam di Ruang Rawat Inap Mekah RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan kota Kediri. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 40 perawat sif malam yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari total populasi 68 perawat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner PSQI yang mengukur tujuh komponen kualitas tidur, yaitu kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan disfungsi aktivitas siang hari. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Responden berusia 31–40 tahun (60%), berjenis kelamin perempuan (75%), dan berpendidikan D3 (48%). Sebanyak 63% responden mengalami kualitas tidur buruk, 37% kualitas tidur baik. Sebanyak 56% responden memiliki durasi tidur kurang dari atau 5–6 jam, dan 45% dengan durasi tidur 6-7 jam atau lebih. Sebanyak 70% membutuhkan waktu untuk mulai tidur/latensi lebih dari 15 menit, dan 5% menggunakan obat tidur.               Kesimpulan:  sebagian besar perawat sif malam memiliki kualitas tidur yang buruk, butuh waktu lebih dari 15 menit untuk memulai tidur, dan ada perawat yang menggunakan obat tidur untuk memulai tidur. Perawat sebaiknya mendapatkan waktu libur yang cukup setelah menjalani sif malam guna mendukung pemulihan dan meningkatkan kualitas tidur.
Gambaran Prilaku Self-management Penderita Diabetes Melitus di Kelurahan Jamsaren Wilayah Kerja Puskesmas Pesantren II Kota Kediri: Overview of Self-Management Behaviors Among People with Diabetes Mellitus in the Jamsaren Neighborhood, within the Service Area of the Pesantren II Community Health Center in Kediri City Setyo Bekti Aji Sasono; Endah Tri Wijayanti; Muhammad Mudzakkir
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 7 (2026): EDISI JULI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i7.482

Abstract

Pendahuluan: Peningkatan jumlah penderita diabetes melitus terus terjadi setiap tahunnya. Prilaku self-management penderita yang kurang memadai dapat memicu munculnya berbagai komplikasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga kemampuan penderita dalam melakukan perawatan diri menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan terapi. Praktik perilaku self-management mencakup kepatuhan mengonsumsi obat, pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang teratur, pemantauan kadar glukosa darah, dan perawatan kaki secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat praktik self-management penderita diabetes melitus yang berdomisili di Kelurahan Jamsaren, wilayah kerja Puskesmas Pesantren II Kota Kediri, sekaligus mengidentifikasi karakteristik sosiodemografi responden.                Metode: Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Sebanyak 67 responden dipilih melalui teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria penelitian yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara terstruktur dengan instrumen Diabetes Self-management Questionnaire (DSMQ), sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.  Hasil:  Penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (61%) telah memiliki kemampuan praktik self-management yang tergolong baik. Sebaliknya, 32% responden masih menunjukkan kemampuan praktik yang rendah, sedangkan 7% berada pada kategori cukup. Karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia di atas 59 tahun, perempuan, berpendidikan sekolah dasar, tidak memiliki pekerjaan, riwayat diabetes melitus antara 1 – 5 tahun.              Kesimpulan: Mayoritas penderita telah mampu melaksanakan pengelolaan penyakit secara mandiri dengan baik. Dan masih terdapat sebagian pasien yang menghadapi hambatan dalam menjalankan praktik self-management. Diperlukan upaya edukasi kesehatan yang dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan keluarga sebagai sistem pendukung utama agar kemampuan praktik self-management semakin optimal dan risiko komplikasi diabetes melitus dapat diminimalkan.
Edukasi dan Pelatihan Pemanfaatan Tanaman Lokal Berpotensi Antiseptik sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Anggota Karang Taruna Cipta Karsa Desa Banjaran Kota Kediri Endah Tri Wijayanti; Elysabet Herawati; Siti Aizah; Najwa Shaninnabila; Al Muhim Nuril Isna; Dwi Nur Azizah
JUPAMU: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol. 1 No. 2: Januari 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/jupamu.v1i2.150

Abstract

Antiseptik merupakan senyawa kimia yang sangat penting dalam mencegah penularan kuman. Antiseptik dapat ditemukan dalam senyawa aktif tanaman yang tumbuh di sekitar manusia. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan oleh tim pengabdian, diketahui bahwa mayoritas penduduk Desa Banjaran menggantungkan hidup mereka pada aktivitas perdagangan. Aktivitas ini melibatkan interaksi yang sangat intens antara pedagang dan pembeli di pasar, sehingga meningkatkan risiko penyebaran mikroorganisme yang berpotensi menyebarkan potensi infeksi menular. Kondisi ini menjadi perhatian utama tim pengabdian, yang akhirnya mendorong tim pengabdian untuk mengambil inisiatif mengadakan program edukasi dan pelatihan pembuatan sabun herbal antiseptik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan antiseptik sebagai salah satu cara menekan penyebaran mikroorganisme menggunakan tanaman lokal. Sasaran kegiatan ini adalah anggota karang taruna Cipta Karsa Desa Banjaran Kota kediri. Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat, terutama pemuda karang taruna, diharapkan mampu memproduksi sabun herbal yang tidak hanya digunakan sendiri tetapi juga dipasarkan. Metode pelaksanaan kegiatan ini menggunakan edukasi dengan pendekatan ceramah, dilanjutkan dengan demonstrasi, dan diakhiri dengan praktik langsung oleh peserta. Pre test dilaksanakan sebelum edukasi dan post test diberikan setelah kegiatan demonstrasi. Hasil post test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan oleh peserta, terbukti dari tingginya tingkat partisipasi dalam pelatihan.
Edukasi Rawat Luka Sederhana dan Pemanfaatan Tanaman Obat Lokal Pencegah Infeksi sebagai Sarana Peningkatan Pengetahuan Anggota PMR SMAN 7 Kota Kediri Endah Tri Wijayanti; Elysabet Herawati; Azdani Mayang Oktavia; Siti Irma Wahyu; Anggelika Diah Ayu Juwita; Nilnal Muna; Yestiana Wulandari; Aryesi; Putri Lestari
JUPAMU: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol. 1 No. 3: Mei 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/jupamu.v1i3.357

Abstract

Penanganan luka yang baik dan higienis sangat penting untuk mendukung proses penyembuhan serta mencegah infeksi pada luka. Perawatan luka menggunakan tanaman herbal telah banyak dikembangkan karena kandungan senyawa aktif di dalamnya dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dan mengurangi risiko infeksi. Contoh tanaman obat lokal yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kediri, di antaranya adalah daun jarak dan daun binahong. Rawat luka merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki anggota PMR. Materi perawatan luka sederhana dan pernggunaan bahan herbal pencegah infeksi dalam rawat luka, jarang dibahas di PMR SMAN 7 Kediri. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi prinsip dasar perawatan luka, memberikan pengetahuan penggunaan herbal pencegah infeksi dalam perawatan luka dan meningkatkan keterampilan rawat luka sederhana untuk menghindari resiko infeksi bagi anggota PMR SMAN 7 Kediri. Kegiatan ini meliputi pelaksanaan pre-test, pemberian materi edukasi, demonstrasi, pembagian kelompok, dan praktek prosedur rawat luka sederhana dalam kelompok. Kegiatan ini mendapat antusiasme yang tinggi, dibuktikan banyaknya pertanyaan yang muncul dari peserta. Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, dibuktikan dengan antusiasme peserta dalam praktek rawat luka berkelompok.