Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Waste Skin of Hawaiian Ladyfish (Elops hawaiensis) Utilization as Gelatin Raw Material With Immersion Solution Combination Devi Faustine Elvina Nuryadin; Sakinah Haryati; Indra Taruna Widodo; Aris Munandar; Dini Surilayani; Ginanjar Pratama; Afifah Nurazizatul Hasanah
Food ScienTech Journal Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : University of Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/fsj.v4i1.15148

Abstract

Bontot from Domas Village, Pontang District, Serang Regency is a fish jelly product. The manufacture of Bontot produces fish skin waste with a percentage of 10% of the whole weight of the fish. This waste can be reduced by applying the concept of zero waste in the processing of bontot which is reused as a raw material in the manufacture of gelatin. This research aims to determine the best NaOH concentration in the manufacture of gelatin from the skin of Hawaiian ladyfish (Elops hawaiensis) and to determine the effect of NaOH immersion on the organoleptic, chemical, and physical qualities of the gelatin. This study used an alkaline solution (NaOH) with a concentration of 0.1%; 0.3%; and 0.5%, which is then followed by a 6% acid solution immersion process. The production of gelatin from the skin of Hawaiian ladyfish was carried out using a one-factor completely randomized design (CRD) with 2 replications (duplo) accompanied by non-parametric analysis which was carried out for organoleptic testing with a hedonic scale using the Kruskal Wallis test. The results showed that the best combination was 0.1% NaOH and 6% HCl with a hedonic value of 3.7 with a whitish-yellow color; odor hedonic value 3.13; 11% yield; gel strength 280.43 g bloom; viscosity 36.95 cP; water content 8.75%; ash content 0.58%; and a pH value of 6.88
Karakteristik Nata de Seaweed dengan Perbedaan Konsentrasi Rumput Laut Gracilaria sp. Siti Rohmah; Aris Munandar; Dini Surilayani
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.10.3.2022.41413

Abstract

Nata is a final product from the fermentation process that used Acetobacter xylinum bacteria which produces cellulose that has chewy texture, white color and resembles a gel. These bacteria can grow and thrive in media containing a carbon source. Seaweed contains carbohydrates that can be used as a carbon source for the growth of Acetobacter xylinum bacteria. The aimed of this study was to determine the optimum concentration of Gracilaria sp. and its effect on the characteristics of nata de seaweed product. The experimental design used in this study was completely randomized design with four treatments and two replications. The treatment level was various concentration of the filtrate of Gracilaria sp. namely PO (0% of Gracilaria and 3% of Kappaphycus alvarezii), PA (2% of Gracilaria sp.), PB (3% of Gracilaria sp.),and PC (4% of Gracilaria sp.). The chemical and physical data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at 5% significance level and further analyze using the Least Significant Difference (LSD). Meanwhile, the hedonic test data was analyzed using Kruskal Wallis non-parametric statistical test. The present study suggested that the best concentration of nata de seaweed was found in PC treatment (4% of Gracilaria sp.) with 88.95% moisture content, 1.52% of total sugar, 0.47% of crude fiber, 38.67% yield, 6.75 mm of thickness, 1.25 mm of springiness, 5.30 of appearance score, 5.90 of texture score,  4.70 of aroma score and 5.07 of taste score.Keyword:     fermentation, Gracilaria sp., nata de seaweed, sensory, physicochemical Nata merupakan produk yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum yang menghasilkan selulosa dengan tekstur kenyal, berwarna putih dan menyerupai gel. Bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang apabila nutrisi yang dibutuhkan cukup, seperti karbon. Sumber karbon dapat diperoleh dari gula alami seperti sukrosa dan fruktosa. Media yang digunakan dalam pembuatan nata adalah media yang mengandung karbohidrat sebagai sumber nutrisi bakteri A. xylinum. Rumput laut mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbon bagi pertumbuhan bakteri tersebut. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal perbedaan konsentrasi filtrat rumput laut Gracilaria sp. yang terdiri atas empat taraf yaitu PO (Penggunaan filtrat rumput laut Kappaphycus alvarezii 3%), PA (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 2%), PB (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 3%), dan PC (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 4%) dengan masing-masing dilakukan dua kali ulangan. Data analisis kimia dan fisik yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan taraf uji 5% dan dilanjutkan menggunakan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Sedangkan untuk data uji hedonik akan dianalisis menggunakan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan PC (4% Gracilaria sp.) dengan nilai kadar air 88,95%, total gula 1,52%, serat kasar 0,47%, rendemen 38,67%, ketebalan 6,75 mm, kekenyalan 1,25 mm, kenampakan 5,40, tekstur 5,90, aroma 4,70 dan rasa 5,07.Kata kunci:  fermentasi, Gracilaria sp., nata de seaweed, sensori, fisikokimia
KELAYAKAN USAHA PENGASAPAN IKAN PARI DI KELURAHAN BANTEN, KECAMATAN KASEMEN, KOTA SERANG Ririn Irnawati; Dini Surilayani; Unah Undanah; Ana Susi Mulyani
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 10 No 1 (2023): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v10i1.3662

Abstract

Salah satu ikan hasil tangkapan sampingan (HTS) yang belum termanfaatkan adalah ikan pari. Karakteristik ikan pari dan bau pesing/amoniak menyebabkan pemanfaatannya minim, bahkan kurang diminati. Salah satu pengolahan yang tepat untuk ikan pari adalah melalui diolah menjadi ikan asap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pengasapan ikan di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan pengusaha ikan asap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pengasapan ikan dilakukan di rumah pengasapan milik sendiri, yang terpisah dengan rumah hunian. Jenis ikan yang diasap adalah ikan pari. Kapasitas alat pengasapan sebanyak 10 kg dengan media pengasap berupa batok kelapa. Biaya total untuk satu siklus produksi (3 jam) sebesar Rp. 40.000/produksi atau Rp. 9,84 juta/tahun; penerimaan sebesar Rp. 96 juta/tahun dan keuntungan sebesar Rp. 86,16 juta/tahun. Nilai R/C dan B/C sebesar 9,76 dan 8,76, PP selama dua bulan. Usaha pengasapan ikan menguntungkan dan layak untuk diteruskan. Harapannya ke depan, semakin banyak usaha pengasapan ikan di Karangantu untuk pemanfaatan ikan-ikan HTS yang melimpah produksinya, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
KARAKTERISASI KITOSAN KOMBINASI CANGKANG KERANG HIJAU (Perna viridis) DAN CANGKANG RAJUNGAN (Portunus pelagicus) ASAL BANTEN, INDONESIA Rifki Prayoga Aditia; Ginanjar Pratama; Aris Munandar; Dini Surilayani; Sakinah Haryati; Julian Alifka Rizky; Afifah Nurazizatul Hasanah; Bhatara Ayi Meata; Devi Faustine Elvina Nuryadin
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v12i2.17085

Abstract

Green mussel shells (Perna viridis) and crab shells (Portunus pelagicus) have not been optimally utilized. It’s can be used as chitosan. Chitosan from green mussels has a low degree of deacetylation, so it needs to be combined with crab shells in its manufacture. The aims of this study were to characterize and determine the best combination of raw materials for making chitosan from green mussel shells and crab shells. The method in this study used a completely randomized design with triplicate. The treatment in this study was a combination of raw materials from green mussel shells and crab shells, which were 100:0; 75:25; 50:50% (w/w). The results of this study showed that the combination of green mussel shells and crab shells 50:50% (w/w) resulted the best characterization of chitosan with a yield 12.56%, water content 7.55%, ash content 1.59%, degree of deacetylation 73.96% and viscosity of 279 cP
Karakteristik Mie Kering Dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Aisyah Rahma Setiawati; Sakinah Haryati; Dini Surilayani; Aris Munandar
Jurnal Fish Protech Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Fish Protech Vol. 6 No. 1 April 2023
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jfp.v6i1.30014

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik tepung tulang ikan bandeng untuk mendapatkan kualitas mie kering terbaik dan membuktikan pengaruh perbedaan konsentrasi tepung tulang ikan bandeng terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik pada produk mie kering. Penelitian ini menggunakan satu faktor perlakuan yaitu penambahan tepung tulang ikan bandeng dengan 2 kali ulangan. Konsentrasi penambahan tepung tulang ikan bandeng adalah : 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Karakteristik mie kering dengan nilai penambahan tepung tulang bandeng tertinggi adalah warna 6,52% (agak suka), aroma 6,48% (agak suka), tekstur 5,45% (netral), rasa 5,64% (agak suka), kadar air 5,05%, Kadar abu 9,85%, kadar protein 14,91%, kadar kalsium 2351,51 mg dan daya serap air 120,36%. Pada penelitian ini perlakuan yang menjadi pilihan adalah penambahan tepung tulang ikan bandeng sebanyak 20%, karena memiliki kandungan protein tertinggi pada mie kering.
KARAKTERISTIK STIK KEJU DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TULANG IKAN BANDENG Chanos chanos SEBAGAI SUMBER KALSIUM Vanny Rhamdanty Sholihin; Sakinah Haryati; Dini Surilayani; Aris Munandar
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 1 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i1.463

Abstract

Tulang ikan bandeng Chanos chanos berpotensi diolah menjadi tepung karena pada tulang ikan memiliki kandungan kalsium yang tinggi diantara bagian tubuh ikan lainnya. Pengolahan makanan dengan tepung tulang ikan bandeng belum banyak dilakukan sehingga penggunaan tepung tulang ikan bandeng perlu diketahui konsentrasinya agar dapat diterima oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi tepung tulang ikan bandeng terbaik terhadap karakteristik stik keju tulang ikan bandeng dan tingkat kesukaan konsumen terhadap stik keju tulang ikan bandeng. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor yaitu perbedaan konsentrasi tepung tulang ikan bandeng dengan empat taraf yaitu 0%, 10%, 20%, dan 30% dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung memberikan pengaruh terhadap kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar kalsium dan uji organoleptik. Penambahan tepung tulang ikan bandeng 10 % merupakan perlakuan terbaik terhadap stik keju tulang ikan bandeng dengan nilai kadar air (3,40%), kadar abu (4,19%), protein (7,42%), dan kalsium (506,6 mg/100g). Nilai rata-rata uji hedonik stik keju tulang ikan bandeng adalah kenampakan (7,37), tekstur (7,20), aroma (7,03), dan rasa (7,50). Stik tulang ikan bandeng dengan perlakuan ini dapat diterima oleh konsumen dan sesuai dengan syarat mutu kue kering SNI 01-2973-2011.
Karakteristik Pemanfaatan Ekstrak Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) dan Teh Hijau (Camellia sinensis) sebagai Sediaan Hydrating Toner Intan Nadiya; Sakinah Haryati; Dini Surilayani; Afifah Nurazizatul Hasanah
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v13i2.22657

Abstract

Penggunaan masker dalam kehidupan sehari-hari akibat wabah COVID-19 telah berjalan selama hampir tiga tahun. Akibat penggunaan masker dalam jangka waktu lebih dari 6 jam memunculkan reaksi kulit berupa jerawat. Kerusakan kulit tersebut dapat berujung pada kerusakan skin barrier. Kerusakan skin barrier dapat diatasi dengan mengaplikasikan hydrating toner pada kulit. Efektivitas hydrating toner dapat ditingkatkan dengan menggunakan kandungan bahan aktif. Rumput laut Kappaphycus alvarezii memiliki komponen biaoktif meliputi senyawa antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi. Teh hijau merupakan tanaman yang kaya akan komponen bioaktif dan banyak digunakan dalam sediaan kosmetik untuk memperbaiki kondisi kulit. Penggunaan teh hijau dengan kombinasi ekstrak tanaman lain telah banyak digunakan dalam pembuatan kosmetika dan menghasilkan kosmetika dengan kandungan anti-inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dari sediaan hydrating toner yang dihasilkan dari rumput laut K. alvarezii dan teh hijau (C. sinensis). Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi. Ekstrak K. alvarezii ditambahkan dalam formulasi dengan empat konsentrasi yang berbeda yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter pengujian yang dilakukan yaitu kapasitas antioksidan metode DPPH, aktivitas antibakteri, uji pH, uji homogenitas, uji waktu kering, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan persentase inhibisi DPPH sediaan hydrating toner berada pada kisaran 83,31±0,77-90,26±1,85%. Zona hambat yaitu 5,5±3,97-9,83±1,76 mm dengan daya antibakteri kuat sampai sedang. Nilai pH sediaan berada dalam kisaran 5,75-5,85 yang masih dalam rentang pH kulit normal. Seluruh sediaan hydrating toner tercampur dengan sempurna, menghasilkan aroma khas teh hijau, berwarna kuning kecoklatan, terkesan dingin, tidak lengket, dan terasa lembab. Lama waktu mengering sediaan yaitu 1 menit 2 detik sampai 1 menit 57 detik.   Kata kunci: antiacne, makroalga, skin barrier
Mutu fillet ikan nila (Oreochromis niloticus) pada fase post mortem dengan pengawet dari ekstrak biji picung (Pangium edule Reinw) pada penyimpanan suhu dingin Aris Munandar; Yanti Febrisari; Sakinah Haryati; Dini Surilayani

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v14i2.4083

Abstract

Tilapia fillets are produced to be easier to process and are expected to increase fish consumption. Tilapia fillets with the addition of 60% picung seed extract had a post-mortem phase of 13 days. Picung seeds serve as preservatives because they contain antibacterial alkaloids, flavonoids, and tannins. Therefore, the quality of tilapia fillets with the addition of 60% picung seed extract needs to be studied. This study aimed to determine the quality of tilapia fillets during the post-mortem phase. ilapia fillets soaked in picung seed extract 60% for 30 minutes and stored at cold temperatures. Tilapia fillet quality parameters include pH, Total Plate Count (TPC), Total Volatile Base (TVB), and organoleptic Test (appearance, smell, and texture). Observations were conducted in the pre-rigor phase (1st day), rigor mortis (6th day), early post-rigor (10th day), and late (13th day). Data analysis was done by complete randomized design. The pH of the tilapia fillet in the pre-rigor to post-rigor phase is 6.34-6.45. The value indicates that the fillet is still of good quality. Based on TPC and TVB values, tilapia fillets have good quality until the sixth day (rigor mortis). TPC value in that phase is smaller than 5 x 10-5, 1.54 x 10-4 colonies/mL, while the TVB value is 22.24 mg N/100 g smaller than the standard (30 mg N/100 g). The parameters of appearance, smell, and texture have a value of more than 7 in the rigor mortis phase. The organoleptic value showed that tilapia fillets were of good quality until the rigor mortis phase for six days. Tilapia fillets have good quality until the rigor mortis phase based on SNI 2729: 2013). Such tilapia fillets have a shelf life and can be consumed until the sixth day.