Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pendampingan Kegiatan Literasi Digital KKN Tema Budaya Digital di SMPS Kristen Kelurahan Onekore Kabupaten Ende Nduru, Maria Purnama; Genua, Veronika
Mitra Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022): Volume 3 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/mahajana.v3i3.2195

Abstract

The rapid development of information and communication technology demands readiness from its users. Debriefing and mentoring are things that need to be prepared and done, especially for students in schools. The purpose of this mentoring activity is so that students have knowledge and understanding of digital literacy so that they can use it safely, ethically and according to the culture of the Indonesian nation. The mentoring activity was carried out with lectures with the theme of digital culture and continued with question and answer. Lecture and Q&A activities took place smoothly and brought benefits to the participants. This activity is a useful activity and must still be continued programmatically in order to bring benefits. The areas of digital literacy including digital skills, ethical digitization and safe digitization still need to be given in the next school. 
TEKS RITUAL ADAT MBAMA TRADISI GUYUB KULTUR LIO ENDE FLORES NTT Veronika Genua
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1087.162--176

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas kajian dalam teks ritual mbama tradisi guyub kultur Lio Ende Flores NTT. Ritual mbama menggambarkan syukuran panen yang dilaksanakan setiap tahun oleh guyub kultur setem- pat. Permasalahan yang diangkat yakni, 1) bagaimanakah bentuk teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores; 2) bagaimanakah fungsi teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores; 3) bagaimanakah makna teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores. Tujuan penulisan ini untuk menemukan dan mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menggambarkan teks dalam ritual mbama. Teknik pengum- pulan data dilakukan melalui wawancara, catat, rekam , dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yakni, 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, dan 4) penarikan kesimpulan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat bentuk dalam teks mbama yakni 1) Fonologi yakni persamaan bunyi vokal dan konsonan pranasal [mb] dan [ng], dan 2) Morfologi meliputi kelompok nomina, verba, adverbia, pronomina , paralelisme, dan repetisi. Fungsi teks meliputi fungsi interpersonal dan fungsi informatif. Selanjutnya makna yang terkandung dalam teks mbama yakni makna religius, makna kebersamaan, makna perlindungan, makna kebersamaan, makna pengharapan, makna permohonan, makna estetika dan makna simbol seperti mota nata “ siri pinang” dan kidhe “ tampah “
Teks Ritual Adat Tau Madhu Pada Masyarakat Desa Were Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Genua, Veronika; Fransiska Aventi Moi, Maria Fransiska Aventi Moi2
Retorika: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Program Studi Pendidika Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: Menemukan dan mendskripsikan bentuk, makna dan fungsi tuturan adat ritual tau madhu. tuturan adat dalam upacara Tau Madhu pada masyarakat Desa Were kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk tuturan adat dalam upacara Tau Madhu pada masyarakat Desa Were kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, (2) Bagaimanakah makna tuturan adat dalam upacara Tau Madhu pada masyarakat Desa Were kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, (3) Bagaimanakah fungsi tuturan adat dalam upacara Tau Madhu pada masyarakat Desa Were kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualiatif. Data dalam penelitian ini adalah data lisan berupa syair tuturan adat dalam ritual Tau Madhu. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara, teknik dokumentasi, teknik rekam. Teori yang digunakan adalah Linguistik Kebudayaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tuturan adat dalam ritual Tau Madhu pada masyarakat Desa Were, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, berupa syair yang memiliki bentuk berupa morfologi yaitu: nomina, verba, adjektifa. Makna yang terkandung dalam ritual Tau Madhu pada masyarakat Desa Were, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada yaitu makna penghormatan. Makna simbolis, makna perlindungan, makna permohonan. Fungsi ritual Tau Madhu pada masyarakat Desa Were, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada adalag fungsi informatif
When Language Speaks for Nature: Ecological Discourse and Lamaholot Ethics in Ama Tewo Imelda Oliva Wissang; Yohana Hingi Tefa; Veronika Genua
REiLA : Journal of Research and Innovation in Language Vol. 8 No. 2 (2026): REiLA : Journal of Research and Innovation in Language
Publisher : The Institute of Research and Community Service (LPPM) - Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/pgbhxs64

Abstract

As ecological crises intensify, literature offers a vital cultural space for reconsidering the ethical relationship between humans and the more-than-human world. Yet ecocritical studies of Indonesian literature have largely emphasized environmental themes, ecological damage, and natural settings, while giving limited attention to how a literary character can embody locally grounded environmental ethics. Addressing this gap, this study investigates how Ama Tewo is constructed as an ecocentric character and as a literary representation of Lamaholot ecological values in Silvester Petara Hurit’s short story “Ama Tewo.” Employing a qualitative descriptive design and theory-informed content analysis, the study examined narration, dialogue, characterization, ecological imagery, symbolic expressions, and local cultural concepts through repeated close reading and thematic coding informed by ecocriticism, environmental ethics, and nature spirituality. The findings reveal four interrelated dimensions of Ama Tewo’s ecocentric characterization: recognition of nature’s intrinsic value and rejection of its commodification; adherence to Lamaholot customary cosmology, sacred boundaries, and ecological taboos; intuitive-ecospiritual sensitivity in interpreting signs from trees, water, birds, and wind; and criticism of modernity’s desacralization of nature. Together, these dimensions position nature not as a passive resource or narrative background, but as a living ethical subject embedded in relationships among humans, ancestors, and the environment. The study’s originality lies in shifting ecocritical analysis from nature as a theme or setting to characterization as a medium of ecological ethics. It contributes to Indonesian ecocriticism, Flores literary studies, and environmental humanities while offering broader implications for culturally responsive ecological education and the preservation of Indigenous environmental knowledge.