Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Undak Usuk Bahasa Compang Teber Etnik Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur Genua, Veronika; Gatrio, Alfonsius
Retorika: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 4 No. 1 (2023): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2023 (Juni 2023)
Publisher : Program Studi Pendidika Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/rjpbsi.v4i1.3420

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bentuk undak usuk bahasa Compang Teber Kecamatan etnik Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk undak usuk bahasa Compang Teber Kecamatan etnik Rana Mese Kabupaten Manggarai Timu? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan dan mendeskripsikan bentuk undak usuk bahasa Compang Teber Kecamatan etnik Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur undak usuk bahasa Compang Teber Etnik Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Data dalam penelitian ini adalah data lisan. Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahasa manggarai Compang Teber setempat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah berinteraksi dengan salah satu anggota masyarakat yang dianggap penting. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan cakap. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak libat cakap, catat, dan rekam. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis secara kualitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pragmatik. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 6 bentuk pematuhan Maksim undak usuk berbahasa pada masyaraklat desa Compang Teber, dinyatakan satun. Dari delapan belas data yang dianalisis maksim undak usuk berbahasa yang sering digunakan oleh etnik Compang terber yakni maksim kebijaksanaan empat data pematuhan maksim undak usuk, maksim kecocokan atau kerendahan hati.
Ritual Hape Kleru Gaka Kaju di Desa Tapobali Lembata sebagai Pewarisan Pendidikan Nilai bagi Peserta Didik Bala, Alexander; Butun, Yuvenalis; Genua, Veronika; Larasati, Maria Marietta Bali; Demon, Yosef
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4090.138--150

Abstract

Each ethnic group has local wisdom in interpreting cultural events in their environment. This article discusses the kleru gaka kaju hape ritual in the Wolowutun community, Tapobali Village, Wulandoni, Lembata, East Nusa Tenggara. This ritual is a ceremony of thanksgiving for harvesting Swallow nests. Hape kleru gaka kaju means biting a hanging betel nut. The research problem, namely the means used, the participants involved, the stages of implementation, and the educational values in it. The purpose of his research is to explain the means, participants, stages, and values in the hape klru gaka kaju ritual. The research design uses a qualitative design. Data collection techniques, including observation and interview techniques. Data analysis includes identification, classification, and interpretation of data. The findings of the study indicated that the ingredients used included coal fire, kitchen ashes, coconut shells, agarwood, ginger, cotton fiber, baby corn, areca nut, betel nut, titi corn, coconut shells, red chicken, chicken eggs, brown rice, mayang. coconut, roped bamboo, shell glass, palm sap, plates made of pumpkin, coconut shell spoon; the participants involved were the eldest, youngest, traditional house keepers, tara mortal envoys, representatives of the Tobil tribe and residents present; the implementation includes the stages of picking up ancestral spirits, the stages of hanging areca nuts on wood, the stages of collecting offerings, the stages of receiving blessed water, the stages of sweeping and cleaning the remnants of the tools used; and contain religious values, ecological, nationalism, love for the motherland. AbstrakSetiap etnik memiliki kearifan lokal dalam memaknai peristiwa budaya yang ada dalam lingkungannya. Artikel ini membahas tentang ritual hape kleru gaka kaju dalam masyarakat Wolowutun, Desa Tapobali, Wulandoni, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ritual ini merupakan seremonial syukur atas panen sarang Walet. Hape kleru gaka kaju berarti menggigit pinang yang digantung. Masalah penelitiannya, yakni sarana yang digunakan, partisipan yang terlibat, tahapan pelaksanaan, dan nilai-nilai pendidikan di dalamnya. Tujuan penelitiannya untuk menjelaskan tentang sarana, partisipan, tahapan, dan nilai-nilai dalam ritual hape kleru gaka kaju. Desain penelitiannya menggunakan desain kualitatif. Teknik pengumpulan data, meliputi teknik observasi dan wawancara. Analisis data meliputi identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sarana yang digunakan, antara lain bara api, abu dapur, tempurung kelapa, kayu gaharu, jahe, serat kapas, jagung muda, pinang, sirih, jagung titi, kukuran kelapa, ayam merah, telur ayam, beras merah, mayang kelapa, bambu bertali, gelas tempurung, nira lontar, piring dari buah labu, senduk tempurung kelapa; partisipan yang terlibat adalah sulung, bungsu, penjaga rumah adat, utusan tara fana, perwakilan suku Tobil dan warga yang hadir; pelaksanaan meliputi tahapan penjemputan arwah leluhur, tahapan menggantung pinang di kayu, tahapan mengumpulkan sesajian, tahapan menerima air berkat, tahapan menyapu dan membersihkan sisa-sisa sarana yang digunakan; dan mengandung nilai-nilai religius, ekologis, nasionalisme, cinta tanah air.
Pendampingan Kegiatan Literasi Digital KKN Tema Budaya Digital di SMPS Kristen Kelurahan Onekore Kabupaten Ende Nduru, Maria Purnama; Genua, Veronika
Mitra Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022): Volume 3 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/mahajana.v3i3.2195

Abstract

The rapid development of information and communication technology demands readiness from its users. Debriefing and mentoring are things that need to be prepared and done, especially for students in schools. The purpose of this mentoring activity is so that students have knowledge and understanding of digital literacy so that they can use it safely, ethically and according to the culture of the Indonesian nation. The mentoring activity was carried out with lectures with the theme of digital culture and continued with question and answer. Lecture and Q&A activities took place smoothly and brought benefits to the participants. This activity is a useful activity and must still be continued programmatically in order to bring benefits. The areas of digital literacy including digital skills, ethical digitization and safe digitization still need to be given in the next school. 
TEKS RITUAL ADAT MBAMA TRADISI GUYUB KULTUR LIO ENDE FLORES NTT Veronika Genua
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1087.162--176

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas kajian dalam teks ritual mbama tradisi guyub kultur Lio Ende Flores NTT. Ritual mbama menggambarkan syukuran panen yang dilaksanakan setiap tahun oleh guyub kultur setem- pat. Permasalahan yang diangkat yakni, 1) bagaimanakah bentuk teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores; 2) bagaimanakah fungsi teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores; 3) bagaimanakah makna teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores. Tujuan penulisan ini untuk menemukan dan mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna teks ritual mbama pada guyub kultur Lio Ende Flores. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menggambarkan teks dalam ritual mbama. Teknik pengum- pulan data dilakukan melalui wawancara, catat, rekam , dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yakni, 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, dan 4) penarikan kesimpulan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat bentuk dalam teks mbama yakni 1) Fonologi yakni persamaan bunyi vokal dan konsonan pranasal [mb] dan [ng], dan 2) Morfologi meliputi kelompok nomina, verba, adverbia, pronomina , paralelisme, dan repetisi. Fungsi teks meliputi fungsi interpersonal dan fungsi informatif. Selanjutnya makna yang terkandung dalam teks mbama yakni makna religius, makna kebersamaan, makna perlindungan, makna kebersamaan, makna pengharapan, makna permohonan, makna estetika dan makna simbol seperti mota nata “ siri pinang” dan kidhe “ tampah “