Claim Missing Document
Check
Articles

KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI TEPI SUNGAI KELURAHAN PELITA, KECAMATAN SAMARINDA ILIR Noviana Rahmawaty Sari; Parfi Khadiyanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.43 KB)

Abstract

Tepian sungai sangat akomodatif bagi manusia untuk bermukim dan melakukan usaha-usaha bagi kehidupannya. Tingginya intensitas pemanfaatan kawasan tepi sungai menimbulkan permasalahan-permasalahan yang sangat pelik. Kondisi ini memicu adanya kawasan permukiman salah satu tepi sungai di Kelurahan Pelita di perkotaan dalam dimensi ruang dan waktu menjadi kawasan yang padat, kumuh dan liar disertai dengan kondi rumah tidak layak huni. Tidak hanya itu saja, kodisi sungai menjadi kotor dan menyebabkan lingkungan sekitar terkena luapan air sungai saat hujan. Jika di liahat dengan komprehensif, maka permasalahan permukiman tepi sungai akan berkisar pada masalah kualitas lingkungan permukiman. Permukiman ini tumbuh oleh tradisi yang di susun secara organis (alami). Kawasan dari kota tersebut dibangun dalam suatu proses tanpa memperhatikan perancangan secara keseluruhan. Untuk mengatasinya, perlu adanya evaluasi agar terciptanya kawasan lingkungan permukiman yang tertata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi fisik dan non fisik sepanjang sungai di Kelurahan Pelita . Tahap pertama yang di lakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi di kawasan studi, serta sebagai landasan dasar untuk mengetahui tujuan dan sasaran dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi kondisi fisik dan non fisik kualitas ingkungan permukiman tepi sungai. Kemudiaan melakukan analisis untuk mengevaluasi kondisi fisik dan non fisik kawasan studi. Pada akhir akan diketahui kualitas lingkunan permukiman. Dengan menggunakan metode analisis kuisoner dan observasi dengan teknik analisis kuantitatif deskriptif. Identifikasi kualitas lingkungan permukiman tepi sungai di Kelurahan Pelita menunjukan bahwa kualitas permukiman tepi sungai adalah sedang baik secara fisik maupun non fisik. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya penduduk yang datang, sehingga menimbulkan permukiman baru dan tumbuh di Tepian Sungai dan munculnya budaya baru, perlu adanya evaluasi untuk pemerintah sebagai upaya penataan lingkungan permukiman di Kelurahan Pelita Samarinda
HUBUNGAN KUALITAS LINGKUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP MASYARAKAT PERUMNAS TLOGOSARI KOTA SEMARANG Desi Permatasari; Parfi Khadiyanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota merupakan ruang yang dinamis, pertambahan jumlah penduduk yang kian meningkat sudah tidak dapat dipungkiri. Kota Semarang terdapat perumahan besar yakni Perumnas Tlogosai di Kecamatan pedurungan yang kini daerah sekitarnya sudah berkembang pesat dan menjadi kawasan yang padat penduduk dan bangunan. Perkembangan kawasan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Siahaan (2004) menyatakan jika lingkungan yang baik maka manusia dapat mencapai hidupnya yang baik dan sebaliknya. Oleh karena itu selain mencari tahu kualitas lingkungan yang ada di Perumnas Tlogosari, penelitian juga mencari tahu mengenai kualitas hidup masyarakatnya. Penelitian ini juga mencari tahu hubungan antara kualitas lingkungan dengan kualitas hidup menggunakan skoring hasil kuisioner masyarakat dan analisis tabulasi silang. Kualitas lingkungan diketahui dengan kondisi bangunan, sarana dan prasarana, lokasi dan aksesibilitas serta kenyamanan. Sedangkan Kualitas hidup masyarakat tersebut diketahui dengan kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan kontak sosial.  Hasil dari penelitian ini menunjukan skor kualitas lingkungan dan kualitas hidup yang memiliki angka sama yakni 2,85 (mendekati baik) yang menunjukan adanya hubungan antara kualitas lingkungan dan kualitas hidup.Hal ini diuji pula dengan analisi tabulasi silang yang menunjukan chi square 0.005 yang berarti terdapat hubungan antar kedua variabel tersebut. Nilai kuaitas lingkungan tertinggi ada pada karakteristik wilayah dengan tipe rumah kecil dan lokasi akses yang mudah dan dekat dengan fasilitas. Sedangkan kualitas hidup yang baik terdapat pada kawasan rumah bedar yang berdekatan dengan perkampungan. Selain itu terdapat pula beberapa variabel yang saling mempengaruhi
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG KEGIATAN PARIWISATA DI DESA WISATA BEJIHARJO, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA. Farizi Ramadhan; Parfi Khadiyanto
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.744 KB)

Abstract

Pariwisata menjadi salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi pengembangan perekonomian suatu negara.Indonesia yang kaya akan keindahan alam dan budayanya menjadi sangat potensial pada pengembangan pariwisata, saat ini model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat banyak diimplementasikan dalam bentuk pengembangan desa wisata. Konsep pengembangan desa wisata menjadi sangat implementatif terhadap pengembangan pariwisata diindonesia karena kayanya kearifan lokal dan alamnya. Desa wisata Beijiharjo, Kecamatan Karangmojo yang terletak di Kebupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah salah satu hasil pengembangan pariwisata berbasis partisipasi masyarkat. Kegiatan pengembangan pariwisata yang berjalan sejak tahun 2010 ini telah menerima banyak penghargaan dari pemerintah provinsi atau pusat, juga dari dunia internasional. Kegiatan partisipasi masyarkat yang berjalan baik telah meningkatkan perekonomian Desa Bejiharjo baik secara wilayah ataupun masyarkat.. Partisipasi masyarakat desa Bejiharjo dalam mendukung kegiatan menjadi sangat menarik karena sudah berhasil membuat pertumbuhan perekonomian bagi desa Bejiharjo, oleh karena itu itu timbul pertanyaan “bagaimana bentuk dan tingkat partisipasi masyarkat dalam mendukung pengembangan pariwisata di Desa Bejiharjo?”, pertanyaan inilah yang akan dicoba dijawab dalam penelitian ini. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dalam prosesnya. Penelitian ini bermaksud mengidentifikasi dan menganalisis pola pengelolaan pariwisata oleh masyarkat dan  bagaimanabentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam mendukung kegiatan pariwisata di Kawasan Desa Wisata Bejiharjo.Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa kegiatan pengembangan pariwisata di Desa Bejiharjo sudah melibatkan masyarkat sejak awal inisiasi pengembangan pariwisata adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat membuat kegiatan pengembangan pariwisata dapat berjalan maksimal, sedangkan untuk tingkat partiispasi masyarkat di Desa Bejiharjo disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarkat di Desa Bejiharjo adalah tingkat kemitraa, dimana posisi masyarakat dan pemerintah dalam kewenangan adalah setara, dan bentuk partisipasi masyarakat di Desa Bejiharjo sebagian besar berbentuk partisipasi dalam tahap implementasi dengan menjadi tourguide, pengelola pariwisata dan anggota Pokdarwis.
IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH DESA WONOSOCO DALAM UPAYA PENGEMBANGAN SEBAGAI DESA WISATA DI KABUPATEN KUDUS Tunjung Wulan; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.863 KB)

Abstract

Abstrak: Desa Wisata Wonosoco merupakan salah satu desa yang dicanangkan pada tahun 2009 sebagai desa wisata di Kabupaten Kudus. Pencanangannya sebagai desa wisata karena memiliki karakteristik khas dari tradisi, budaya, serta kekayaan keindahan alamnya yang masih asli. Sebagai desa wisata yang masih dalam tahap pengembangan, memiliki permasalahan yaitu masih sedikitnya wisatawan dan aksesbilitas yang masih sulit. Seiring dengan tahap pengembangannya sebagai kawasan pariwisata maka harus mulai dilaksanakan pembangunan sarana prasarana pendukung serta elemen wisata yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan dan mengembangkan potensi yang ada. Dari kondisi tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi dan masalah di Desa Wisata Wonosoco dalam kepentingan pengembangan pariwisata. Pendekatan studi dilakukan melalui metode kuantitatif deskriptif untuk dapat mengetahui opini pengunjung mengenai pengembangan wisata di Desa Wonosoco yang dilakukan dengan kuisioner. Data diolah menggunakan metode analisis Boston Consulting Group (BCG) yang melihat pemasaran wisata dari variabel produk dan pasar wisata. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Desa Wisata Wonosoco pada kategori Cash Cow yaitu berada pada pertumbuhan produk rendah namun pertumbuhan pasar yang tinggi. Pertumbuhan produk rendah merupakan permasalahan dalam pengembangan desa wisata, Hal ini disebabkan masih belum terbangunnya sarana secara lengkap di objek wisata utama, dan masih belum memadainyakondisi aksesbilitas. Sedangkan pertumbuhan pasar yang tinggi menjadi potensi dalam pengembangan Desa Wisata  Wonosoco didukung dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan tiap tahun serta tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kudus.  Keyword : Pariwisata, Potensi Wisata, Desa Wisata, Kudus Abstract: Wonosoco Rural Tourism is one of villages that was launched in 2009 as a rural tourism at Kudus. That declaration as a rural tourism because it has typical charactersctics of tradition, culture and also support by natural beauty. As a rural tourism which in the development process, has problems that it still just a litlle traveller and accessibility are still difficult. Along with the process of development as tourism area, so it should begin to implemented for development of infrastructure and tourism elements which it appropriate to solve problem and develop the potensial aspect. Of these conditions, the purpose of this study was to reviewing the potential and problems at Wonosoco Rural Tourism in process of tourism developments.Study approach done by descriptive quantitative method to determine visitor opinion about tourism development in Wonosoco Village, which it done with the questionnaire. The data processed using the method of analysis of the Boston Consulting Group (BCG), which saw the marketing of the tourist product and tourist market variables.Results of research show that Wonosoco Rural Tourism in Cash Cow categoty, which it has lower growth product but high growth market. Low growth product is an issue in the development of this rural tourism, which caused by uncomplete the utility in the main attraction and also inadequate accessibility conditions. While high growth market potential in the development of a Wonosoco Rural Tourism supported by an increase in the number of tourists each year and the high rate of population growth in Kudus Regency. Keywords: Tourism, Potential Tourism, Rural Tourism, Kudus Regency
PENILAIAN MASYARAKAT TERHADAP KONDISI PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI KAWASAN ALUN-ALUN SIMPANG TUJUH KABUPATEN KUDUS Mariana J Cintiyadewi; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.846 KB)

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan dan perkembangan alun-alun Simpang Tujuh Kota Kudus dengan lokasinya yang strategis, aksesibilitasnya yang tinggi dan fungsinya sebagai CBD, menjadikan daya tarik yang kuat sehingga meningkatkan jumlah pelaku aktivitas di kawasan pusat kota Kudus. Hal ini berdampak pada tumbuhnya sektor informal (PKL) yang terdapat pada sudut alun-alun Kota Kudus. Keberadaan aktivitas PKL dapat mendukung fungsi ruang terbuka publik sebagai ruang yang mewadahi aktivitas sosial masyarakat di sisi lain menimbulkan berbagai permasalahan karena menempati lokasi yang tidak sesuai peruntukannyasehinggamengurangi kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Dari latar belakang dan indentifikasi perumusan masalah di atas maka dapat ditarik suatu pertanyaan studi “bagaimana opini masyarakat terhadap keberadaan PKL di Kawasan Simpang Tujuh?” Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui opini masyarakat terhadap keberadaan PKL di Kawasan Simpang Tujuh, Kabupaten Kudus.Analisis yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah evaluasi keberadaan PKL berdasarkan tata ruang, identifikasi opini masyarakat terhadap keberadaan PKL, dan analisis alasan hasil opini masyarakat terhadap keberadaan PKL. Berdasarkan temuan studi dan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa, keberadaan aktivitas PKL di kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kabupaten Kudus menjadi pendukung bagi aktivitas pengunjung di Alun-Alun. Namun disisi lain, keberadaan aktivitas PKL yang tidak tertata di sekitar Alun-Alun menimbulkan berbagai permasalahan seperti kemacetan lalu lintas, menimbulkan kekumuhan, dan mengurangi kenyamanan pejalan kaki. Oleh sebab itu perlu adanya penataan aktivitas PKL agar lebih tertib dan menunjang fungsi kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh sebagai ruang terbuka publik di pusat Kota Kudus.  Kata kunci: pedagang kaki lima (PKL), alun-alun, ruang terbuka publik Abstraction: The existence of alun-alun Simpang Tujuh Kudus city is represent one of the one public space in Kudus district. Growth And plaza evolution  with its location is strategic, high accessibility and  its function as CBD, making high appeal so that improve the amount of activity performance in Kudus downtown area. This Matter affect growing of informal sector ( PKL) that  found  in Kudus Town plaza angle corner.The existence of Activity PKL can support the public space  function as room  that accommodate social activity  of society but on the other side, PKL activity also generate various problems because occupying inappropriate location.It will lessen the freshment and consumer security walk.From background and identification formula of its problem can be pulled by a study question " how  the public assessment against PKL existence  in alun-alun Simpang Tujuh?" On that account this research aim to to know thepublic assesstmen to PKL existence  Simpang Tujuh Kudus.The analysis that used to reach the the target is evaluation of existence PKL based  on urban spatial , identify the public assessment  to existence PKL, and analyse the reason of result public assessment  to existence PKL. Based on study finding and result of analysis, can conclude thah  existence of activity alun-alun  become the supporter to visitor activity but on the other side, existence of activity PKL which is not arranged around  alun-alun generate various problems like traffic jam, generating dirty, and lessen the pedestrian freshment. Therefore need an activity regulation to regulate the settlement of PKL activity so that more orderly and support the function of alun-alun area as a public space in holy downtown. Keyword : informal sector( PKL), alun-alun, public space
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Togu Exaudi Mangihut; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.956 KB)

Abstract

Abstrak: Setiap kota memiliki kawasan bersejarah, salah satunya kawasan kota lama di Semarang. Kawasan kota lama sebenarnya merupakan pusat kota Semarang jaman kolonial, dimana tampak berbagai bangunan pemerintahan dan sejumlah bangunan pendukung lain sebagai unsur kawasan pusat kota dengan gaya arsitektur Belanda. Seiring dengan perkembangan Kota Semarang, telah terjadi penurunan akibat pergeseran fungsi pada Kota Semarang. Kawasan kota lama Semarang sebagian besar dikelola oleh pemerintah, sementara keterlibatan masyarakat sangatlah terbatas. Partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian warisan budaya merupakan salah satu prioritas yang harus tercapai dalam setiap kegiatan pemanfaatan benda cagar budaya yang berwawasan pelestarian, oleh karena itu  perlu kiranya diteliti bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan Kota Lama Semarang selama ini. Berdasarkan hasil penelitian, salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan Kota Lama Semarang yaitu dengan memberikan sumbangan tenaga berupa kerja bakti. Selain itu, mereka juga mengadakan pertemuan warga yang dilakukan satu kali dalam sebulan, yang dihadiri oleh sebagian warga untuk tingkat RW dan seluruh warga untuk tingkat RT. Dalam hal ini tingkat RT cenderung berbentuk partisipasi langsung sedangkan tingkat RW berbentuk partisipasi tak langsung. Tingkat partisipasi masyarakat yang terjadi di kawasan kota lama menurut Arnstein dapat digolongkan pada tingkat informing dan consultation. Usulan bagi upaya peningkatan partisipasi masyarakat di kawasan kota lama adalah perlunya peningkatan sumber daya manusia melalui kegiatan penyuluhan dan pembinaan tentang manfaat pentingnya pengelolaan kota lama itu sendiri. Selain itu, pemerintah juga diharapkan memberikan arahan dan dukungan dengan pengawasan pengelolaan Kota Lama Semarang.Kata Kunci :  Partisipasi masyarakat, kegiatan pengelolaan, kota lama Semarang Abstract: Every town has a historic district , one of which the old town area in Semarang. Old town area is actually an original Semarang city center , which looks various government buildings and a number of other ancillary buildings as elements of the downtown area with the Dutch architectural style. Along with the development of the city, there has been a decline. Due to a shift in the function of the Old City of Semarang. The old town area of Semarang which in the past was the center of the city and the main structure of the region,  now no more as a city to die of concern. The old town area of Semarang is largely managed by the Government, while community involvement is extremely limited. Public participation in the preservation of cultural heritage is one of the priorities which must be achieved in each of the activities of cultural heritage objects that utilization of insightful preservation, therefore needs to be examined how public participation in the management of the old city of Semarang. According to the observation result, one of the forms of community participation is by giving voluntary labor service. They were also organize community meetings held once every month, which attended by a part of the community on village level and all of the community on neighbouring level. Within this neighbouring level the participations tend to be the direct one, meanwhile, in the village level are tends to be an indirect participation. The communities are willing to carry out the activities without any force. According to Arnstein category, the participation level in the Old City of Semarang can be grouped on informing or giving information level and consultation. The suggestions for the improvement of community participation within management of the old city effort in the old city of Semarang is the necessity of improving human resources and public awareness, by providing elucidation and building activities concerning the importance of benefit from management of the old city. In addition, the local government is also expected to give more aspiration in giving directions and to support the community, by mending the planning management and supervising the management of the old city.Keyword : public participation, the management of the old city, the Old City of Semarang
IDENTIFIKASI PERILAKU MASYARAKAT DALAM PERPARKIRAN ON-STREET DI KORIDOR JALAN GAJAH MADA SEMARANG SEBAGAI KAWASAN KOMERSIAL Aditya Pratama; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.083 KB)

Abstract

Abstrak : Koridor adalah sebagai suatu daerah yang membedakan antara wilayah jalan yang memiliki fasade antarbangunan yang tidak teratur dan berbeda bentuk. Selain itu suatu koridor tidak hanya dilihat dari bentuknya saja tetapi dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia yang ada di dalamnya. Salah satunya koridor jalan Gajah Mada, koridor jalan ini dapat menggambarkan perkembangan sektor komersial yang ada di koridor utama Kota Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik sampling accidental sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perparkiran on-street di koridor jalan Gajah Mada Semarang sebagai kawasan komersial. Pertumbuhan sebuah koridor jalan tidak akan mungkin terlepas dari kegiatan yang ada di dalamnya. Adanya berbagai macam kegiatan yang ada di koridor tersebut akan memunculkan suatu identitas atau ciri khas dari koridor tersebut. Koridor jalan Gajah Mada,Kota Semarang ditetapkan sebagai koridor komersial di Kota Semarang lebih tepatnya sebagai pertokoan dan ritel modern serta pedagang informal. Permasalahan yang ada di koridor jalan Gajah Mada ini adalah seringkali terjadi kemacetan yang disebabkan perilaku pengguna parkir yang memarkirkan kendaraanya tidak pada tempatnya seperti parkir pada daerah tidak bermarka parkir dan jalur pejalan kaki. Kondisi ini terjadi karena kurang adanya kesadaran dari masyarakat dalam berparkir. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perilaku parkir yang dilakukan oleh pengguna parkir on-street di koridor jalan Gajah Mada dapat dilihat dari aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh pengguna parkir. Dalam hal ini yang termasuk perilaku perparkiran on-street adalah kemudahan parkir, cara mendaptkan tempat parkir, lama parkir, serta jarak parkir. Perilaku – perilaku tersebut satu sama lain saling berkaitan sehingga menunjukan aktivitas yang dilakukan oleh pengguna parkir. Kata kunci: perilaku masyarakat, koridor jalan, parkir, kawasan komersial, gajah mada Semarang Abstract : Corridor is as a region that distinguish between the regions which have an irregular facade antarbangunan and different shapes. Besides a corridor not only be seen from the shape alone but of the activities undertaken by the people in it. One of these corridors jalan Gajah Mada, this road corridor can describe the development of the commercial sector is in the main corridor of the city of Semarang. The method used in this study is a quantitative, sampling Accidental sampling technique. This study aims to identify people's behavior in on-street parking in the corridor Semarang jalan Gajah Mada as a commercial area. Growth of a road corridor would not be possible regardless of the activity in it. The existence of a wide range of activities in the corridor will bring an identity or characteristics of the corridor. The corridor jalan Gajah Mada, Semarang is defined as a commercial corridor in the city of Semarang more precisely as modern shops and retail as well as informal traders. The problems that exist in jalan Gajah Mada corridor this is often a bottleneck that caused the behavior that users parking their vehicles parked out of place as the parking area and pedestrian ways. This condition occurs due to a lack of awareness of the community in parking. Results from this study is that the behavior is performed by the user parking on-street parking on jalan Gajah Mada corridor can be seen from the activity or activities conducted by park users. In this case that includes the behavior of on-street parking is ease of parking, how to get a parking lots, time parking, and parking distance. Behaviors of inter-related to each other so that shows activities undertaken by park users. Keywords: behavior society, corridor, parking, commercial district, gajah mada Semarang
PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN DI SEKITAR PERUMAHAN BARU GRAHA PADMA, SEMARANG BARAT Ruri Rizki Destiwi; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.983 KB)

Abstract

Abstrak: Tingkat kepadatan penduduk yang terus bertambah mengakibatkan tingginya kebutuhan akan tempat tinggal. Permintaan yang tinggi tersebut mengakibatkan perubahan guna lahan yang sebelumnya sebagai lahan non terbangun menjadi lahan terbangun. Perubahan guna lahan yang terjadi pada permukiman sekitar perumahan baru Graha Padma, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang menimbulkan suatu permasalahan yang sedkit banyak membawa perubahan positif maupun negatif bagi kondisi lingkungan. Perubahan infrastruktur seperti jaringan jalan dan drainase juga membawa perubahan bagi kondisi lingkungan permukiman sekitar perumahan baru Graha Padma. Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah untuk  mengkaji perubahan yang terjadi pada permukiman di sekitar perumahan baru Graha Padma, Kecamatan Semarang Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini melihat perubahan terhadap kondisi lingkungan permukiman sekitar adalah perubahan guna lahan, perubahan fisik bangunan tempat tinggal,  perubahan kondisi infrastruktur seperti jalan dan drainase, serta perubahan mata pencaharian masyarakat permukiman lama Tambakharjo. Perubahan penggunaan lahan yakni berubahnya lahan sawah dan tambak menjadi areal perumahan dan permukiman. Perubahan infrastruktur yakni terjadinya peyempitan pada saluran drainase, sedangkan untuk perubahan infrastruktur jalan adalah adanya peningkatan kualitas jalan menjadi lebih baik. Untuk perubhan fisik bangunan yakni meninggikan lantai dasar oleh masyarakat setinggi 1-2 meter. Pekerjaan masyarakat, terutama masyarakat permukiman lama Tambakharjo, sebagian besar berubah. Semula mereka bekerja sebagai petani tambak dan sawah namun kini bekerja di perumahan Graha Padma.Kata Kunci : Perubahan Lingkungan, Kawasan Permukiman, Perumahan Graha PadmaAbstract: The increasing of population density causes great demands of residence. The escalating demands lead to the changes of land use which used to be non- built-up lands becomes built-up lands. The circumstance which is occurred around a new residence, Graha Padma, West Semarang, exerts a moderate number of harmful effects for environment. Infrastructure developments, for instance roads and drainage systems, also bring some effects for the environmental change around Graha Padma. The purpose of this research is to analyze the environmental change occurred around Graha Padma, West Semarang. The method carried out in this research was qualitative by descriptive qualitative technical analysis. The outputs of this research to see the transformation of the environmental condition of surrounding residence are the changing of land use, shape of housing, infrastructure conditions, such as roads and drainages, also jobs of the residents in the old residence, Tambakharjo. The land use change includes the change from rice fields and fishponds to residential area. Infrastructure change consists of the constriction of drainage systems; meanwhile the road quality improvement becomes the implementation of road infrastructure change. The shape of housing is modified by leveling up the ground floor around 1-2 meters. The residents’ jobs, especially Tambakharjo people, are mostly adjusted. They formerly worked as farmers; nonetheless they currently work for Graha Padma.Keywords: Environmental change, Residence, Graha Padma Semarang
DAMPAK PROSES PEMBANGUNAN WADUK JATIBARANG TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN DI KECAMATAN MIJEN DAN KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG Erfandy Yoga Prarasta; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.945 KB)

Abstract

Abstrak: Pembangunan sebuah proyek pasti memberikan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitarnya. Dampak tersebut dapat berupa hal yang positif bahkan juga negatif. Di Kota Semarang terdapat proyek pembangunan Waduk Jatibarang. Waduk ini dibangun dengan tujuan untuk mengendalikan banjir dan mengembangkan sumberdaya air di Kota Semarang. Pembangunan Waduk ini menimbulkan beberapa masalah seperti  perubahan fungsi lahan pertanian, yang mengakibatkan peralihan profesi warga yang semula petani menjadi profesi lainnya.Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan  dari proses pembangunan Waduk Jatibarang terhadap kondisi lingkungan hingga, sehingga dapat teridentifikasi  seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari pembangunan ini dan dapat dijadikan sebagai informasi yang bermanfaat bagi semua pihak atau kalangan. Dari tujuan tersebut maka timbul pertanyaan bagaimanakah dampak dari proses pembangunan konstruksi Waduk Jatibarang dilihat dari aspek fisik dan sosial sekitar.Pembangunan Waduk Jatibarang selain diharapkan dapat mengatasi permasalahan terkait limpasan volume air hujan dan mempunyai manfaat bagi warga sekitar. Penggunaan lahan untuk pembangunan Waduk Jatibarang tidak mengakibatkan pemindahan rumah-rumah warga hanya lahan kosong seperti sawah, ladang, dan tegalan. Pada empat kelurahantersebut(Kedungpane, Jatibarang, Jatirejo, dan Kandri ) terjadi penurunan luas lahan sawah, ladang, dan tegalan yang digunakan pembangunan Waduk Jatibarang. Dampak fisik yang dirasakan warga dari pembangunan waduk yaitu kerusakan jalan akibat dari aktifitas mobilitas kendaraan pembawa material namun telah diselesaikan oleh pihak penyelenggara pembangunan. Manfaat yang dapat dirasakan oleh warga sekitar dari pembangunan waduk yaitu tersedianya lapangan pekerjaan bagi warga yang tingkat pendidikannya menengah kebawah sebagai pekerja bangunan.Selain itu uang ganti rugi dapat digunakan membuat usaha atau kegiatan yang mendatangkan keuntungan demi pemenuhan kebutuhan, yang terpenting untuk biaya pendidikan. Kata kunci : dampak, lingkungan, fisik, sosial, pembangunan                Abstract: The development of a project must give impact to the environment and the surrounding community. These impacts can be both positive and even negative. In the Semarang City there are development project Waduk Jatibarang.This reservoir was development for the purpose of flood control and water resources in Semarang City.The development of this reservoirraise some problems as change of function of agricultural land, resulting transition profession citizen originally farmers into other professions.The purpose of this reaserch is to identify the impact of the development process Waduk Jatibarang to environmental conditions, so it can be identified how much the impact of this development and can be used as useful information for all parties or circles. The purpose of the question then arises how the impact of the development process Waduk Jatibarang viewed from the physical and social aspects around.In the four villages (Kedungpane, Jatibarang, Jatirejo, and Kandri) wide decline in wetland, fields, and moor are used Waduk Jatibarangdevelopment.Residents perceived physical impact of the development of reservoir that damage as a result of road vehicle activity carrier mobility of the material, however has been resolved by the organizers of development.The adventage that can be felt by residents around the reservoir development is the availability of jobs for residents of middle level education as a construction workers.Additionally compensation can be used to make an effort or activity that generates revenue for the fulfillment of needs, which is important for education expenses.Keywords:impact, environmental, physical, social, development
PENGARUH KEBERADAAN DESA WISATA TERHADAP PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT (Studi Kasus : Desa Karang Tengah, Kabupaten Bantul) Rarin Karisma Azahra; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.216 KB)

Abstract

Abstrak: Kepariwisataan saat ini banyak diperbincangkan karena dengan mengembangkan sektor pariwisata dapat berpengaruh pada sektor lainya. Salah satu jenis pariwisata yang dibangun oleh masyarakat desa yaitu desa wisata. Suatu desa dapat mengembangkan potensinya pada lahan pertanian dan perkebunan tetapi tidak semua masayarakat di desa yang terdapat potensi wisata dapat dijangkau sebelum adanya desa wsiata. Kondisi Desa Karang Tengah sebelum adanya desa wisata ini, masyarakatnya sulit untuk mencapai kesejahteraan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan dan pengaruh indikator kesejahteraan di desa wisata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Setelah masyarakat bekerjasama untuk menjadikan lahan tersebut sebagai lahan yang dijadikan tempat pariwisata yang berupa desa wisata agrowisata, masyarakat dekat maupun yang jauh dapat menjangkau manfaat dari desa wisata ini. Aktivitas yang dilakukan masyarakat di dalam mengembangkan desa wisata dapat menghasilkan maupun meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar desa wisata. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif yang akan didukung dengan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis crosstab. Hasil dalam penelitian ini adalah hubungan antara tiga indikator yaitu pendapatan, pendidikan, kesehatan dengan desa wisata yang nantinya akan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Setelah mengetahui adanya keterkaitan ketiga indikator tersebut dengan desa wisata dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat adalah menganalisis indikator mana saja yang berpengaruh besar di dalam desa wisata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Karang Tengah. Selain pengaruh dan hubungan, juga akan terlihat dari indikator tersebut peningkatan kesejahteraan masyarakat setelah adanya desa wisata di Karang Tengah. Kata Kunci : Desa Wisata, Kesejahteraan Masyarakat, Indikator Kesejahteraan Abstract: Tourism is currently much criticized because developing the tourism sector can affect other sectors. A type of tourism that was built by the villagers of village tourism. A village can develop its potential in agricultural land and plantations but not all masayarakat in the village of the tourism potential is just before the village of wsiata. Karang Tengah Village conditions prior to this tourist village, its people difficult to prosper. goals to be achieved in this research is to identify the relationship and influence the indicators of well-being in tourist villages against an increase in welfare of society. After the community working together to make the land as land for tourism in the form of agro-tourism, community tourism village near and far reaching benefits of this tourist village. Activities performed societys in developing tourist village can produce and raising revenue for local residents tourist village. The study is done with a method of quantitative analysis that will be supported by descriptive quantitative analysis and crosstab. Results in this research is a relation between three indicators: income, education, health with tourist village that will eventually affects well-being of society. After aware of the interconnectedness third these indicators with tourist village and affects well-being society is analyzing indicators for which has huge in the tourist village against improving the welfare of society in Karang Tengah Village. And relations, in addition to the influence of will also be seen from the indicators improving the welfare of society in the wake of tourist village in Karang Tengah Village. Keywords : Rural Tourism, Social Welfare, Welfare Indicators