Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Kelayakan Pengembangan Kawasan Industri di Mijen, Semarang - Indonesia Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 6, No 1 (2020): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.6.1.51-59

Abstract

Wilayah Mijen yang terletak di bagian Barat Laut Kota Semarang, adalah daerah yang memiliki tanah bergelombang, tetapi daerah ini ditetapkan sebagai kawasan pengembangan industri dalam Rencana Tata Ruang Kota Semarang 2011-2031. Pengertian pengembangan industri menurut Direktorat Jenderal CiptaKarya Departemen Pekerjaan Umum, yaitu pengembangan kawasan dengan penekanan utama pada kegiatan industri, baik di perkotaan maupun perdesaan, yang pada dasarnya untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang layak huni, aman, nyaman, damai, sejahtera dan berkelanjutan. Untukmengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, perlu dilakukan kajian kemampuan lahan di wilayah Mijen yang direncanakan sebagai area pengembangan industri tsb, sehingga tidak terjadi pengembangan industri yang salah menempati suatu lahan.Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kesesuaian lahan untuk industri di Mijen Semarang, yang merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan industri,analisis yang digunakan adalah analisis SWOT dengan pendekatan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Mijen cukup cocok dan layak untuk dikembangkan sebagai kawasan pengembangan industri, potensi utamanya adalah bahwa kawasan ini merupakan kawasan fungsi budidaya. Sedangkan yang paling melemahkan adalah kondisi lahan yang bergelombang
Persepsi Pengguna Terhadap Jalur Pejalan Kaki Jalan Pemuda Kota Magelang Lina Nurul Ikhsani; Parfi Khadiyanta
Ruang Vol 1, No 3 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.3.111-120

Abstract

: Jalur pejalan kaki Jalan Pemuda merupakan jalur pejalan kaki yang menjadi titik awal pengembangan jalur pejalan kaki di Kota Magelang dalam rangka pengembangan Kota Hijau di Indonesia. Oleh karena hal tersebut jalur pejalan kaki Jalan Pemuda diharapkan dapat melayani sesuai dengan keinginan pengguna. Sehingga selanjutnya diharapkan pula jalur pejalan kaki Jalan Pemuda dapat menjadi acuan bagi Kota Magelang untuk dapat mengembangkan jalur pejalan kaki di wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang kondisi pada jalur pejalan kaki Jalan Pemuda Kota Magelang. Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Kegiatan pengumpulan data dilakukan menggunakan 4 cara yaitu wawancara, kuesioner, observasi dan telaah dokumen. Kegiatan wawancara dan observasi dilakukan secara tidak terstruktur untuk mengetahui beberapa kondisi umum wilayah. Kemudian kuesioner dilakukan menggunakan kuesioner tertutup dengan metode accidental systematic sampling yang membutuhkan responden berjumlah 108 orang. Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode analisis distribusi frekuensi. Setelah dilakukan analisis menggunakan distribusi frekuensi, juga dilakukan analisis menggunakan analisis tabulasi silang. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan kondisi fisik jalur pejalan kaki saat ini dalam keadaan baik dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk pengadaan jalur pejalan kaki di wilayah Kota Magelang dengan catatan untuk perbaikan pada beberapa hal yang masih dianggap kurang. Aspek yang dianggap kurang di jalur pejalan kaki Jalan Pemuda Kota Magelang adalah kesesuaiannya untuk pengguna dengan kebutuhan khusus perlu dilakukan perbaikan terkait hal tersebut. 
Penyebab Terjadinya Pelanggaran Terhadap Koefisien Dasar Bangunan Di Kelurahan Gedawang Banyumanik Semarang Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 3 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.539 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.3.701-710

Abstract

Pelanggaran terhadap Koefisien Dasar Bangunan (KDB) akan berdampak terhadap resapan air. Hilangnya resapan air akan menimbulkan kekeringan, dan konsekuensinya juga akan meningkatan banjir. Sudah banyak masyarakat yang mengetahui hal tersebut, tetapi dalam prakteknya mereka masih melakukan pelanggaran tersebut. Maka dalam penelitian ini, tujuannya adalah untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap KDB tersebut. Lokasi penelitian dipilih pada permukiman di kelurahan Gedawang kecamatan Banyumanik Semarang, yaitu di wilayah RW 4, RW 6, dan RW 7, karena kondisi kontur di 3 RW tersebut bergelombang dan pada posisi yang tinggi, sehingga dampak dari perubahan tersebut dapat merugikan kawasan di bawahnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, menggunakan analisis uji faktor dan tabulasi silang.Faktor penyebab terjadinya pelanggaran terhadap KDB berasal dari faktor eksternal yang memiliki korelasi negatif terhadap tindak pelanggaran, dan juga faktor internal yang memiliki korelasi positif terhadap tindak pelanggaran. Sebenarnya masyarakat cukup sadar bahwa dalam bermukim seyogyanya tidak saling mengganggu, akan tetapi pengertian mengganggu ini hanya terbatas pada lingkungan yang kecil (tetangga dekat), belum melihat lingkungan secara luas (kelurahan/kecamatan/kota).
Kajian Efektivitas Taman Pandanaran Berdasarkan Opini Pengunjung Maulida Kurniadewi; Parfi Khadiyanta
Ruang Vol 4, No 3 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.405 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.3.247-256

Abstract

Implementation of the program from Dinas Kebersihan dan Pertamanan Semarang City related to increase of active park as green open space and family recreation facility that is the development of Taman Pandanaran. The location of the park which was inaugurated early in 2015 was strategic so that became the center of connector icon of Semarang City that is Simpang Lima, Taman Menteri Supeno, Tugu Muda, and GOR Tri Lomba Juang. Built as active garden concept, visitors can take advantage of the park for a variety activites such as social, recreational, and sports. The park that cost 1.866 billion rupiah is one of the public space of Semarang City as the capital of Central Java, then it is appropriate to give satisfaction to the park’s visitors. This study aims to assess the effectiveness of Taman Pandanaran based on visitor opinion. The research method used is descriptive quantitative analysis by using questionnaire as information digging tool. The results of this study indicate that the effectiveness of Taman Pandanaran based on visitor opinion is quite effective with the score of 152 from the total score of 225. Each variable contribute different scores ranging from the highest to the lowest score. The most effective variable is that it can be used throughout the community, while the comfortable environment is the lowest rated variable. It describes the existing condition in the environment of Taman Pandanaran which gives less comfort to the park visitors.
PENGEMBANGAN WISATA PEDESAAN YANG BERKELANJUTAN DI KECAMATAN KARANGNONGKO KABUPATEN KLATEN Santy Paulla Dewi; Retno Widjajanti; Parfi Khadiyanta; novia sari ristianti
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 2, No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi konsep wisata yang berkelanjutan menjadi tantangan yang coba terus direalisasikan, termasuk di kawasan pedesaan. Kecamatan Karangnongko merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi wisata yang menawarkan atraksi wisata air dan budaya di Kabupaten Klaten. Namun dalam pengembangannya masih terdapat beberapa kendala seperti fasilitas yang belum memadai, partisipasi masyarakat, dan isu lingkungan. Oleh karena itu, tepat kiranya konsep pengembangan wisata pedesaan yang berkelanjutan disampaikan kepada semua stakeholder di Kabupaten Klaten, khususnya pemerintah dan masyarakat Kecamatan Karangnongko. Pengabdian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan observasi lapangan dan Focus Group Discussion yang melibatkan semua aktor tidak hanya dari pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa saja, tetapi juga perwakilan dari masyarakat. Pada kegiatan sosialisasi ini disampaikan beberapa arahan mengenai pengembangan wisata desa yang berkelanjutan serta identifikasi awal mengenai potensi wisata pedesaan eksisting.
Faktor-Faktor Sarana dan Prasarana BRT yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Obyek Wisata Goa Kreo, Kota Semarang Hanna Aulia Zamira; Parfi Khadiyanta
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata perkotaan merupakan industri yang menawarkan keragaman, aksesibilitas, dan fleksibilitas yang dibuat atau dikelola secara khusus atau khusus untuk wisatawan. Wisatawan mengunjungi kota untuk berbagai keperluan baik sebagai daya tarik utama atau sebagai penyedia fasilitas pendukung yang tidak tersedia pada daerah pedesaan, terutama sistem transportasi dan akomodasi (Ashworth, 2012). Transportasi massal merupakan sebuah komponen penting pada pariwisata perkotaan dan disediakan oleh pemerintah setempat guna menambah total pengalaman wisata (Duval, 2011) dan mendukung strategi pembangunan kepariwisataan Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor dari sarana BRT yang berpengaruh terhadap Pengembangan Obyek Wisata Goa Kreo, dengan metode pendekatan kuantitatif dan melalui analisis antara lain merupakan Partial Least Square (PLS) dan Trendline. Hasil yang didapatkan adalah bahwasannya setiap variabel bebas penelitian yakni 1) Aksesibilitas BRT yang mencakupi jaringan jalan, kelengkapan signage dan ketersediaan sarana BRT, 2) Fasilitas BRT yang mencakupi sarana pelayanan BRT serta; 3) Ketertarikan dalam penggunaan BRT berpengaruh terhadap variabel terikat yakni aksesibilitas obyek wisata, fasilitas wisata dan intensi berkunjung yang merepresentasikan pengembangan obyek wisata Goa Kreo. Uji latent variabel correlations menunjukkan bahwa variabel bebas yang memilikki pengaruh terbesar adalah ketertarikan penggunaan BRT, karena mampu mendeskripsikan setiap variabel bebas dengan hasil luaran sebesar 0,622. Aksesibilitas BRT berpengaruh sebesar 0,555 dan Fasilitas BRT berpengaruh sebesar 0,395. Keterarikan penggunaan BRT merupakan variabel yang dipengaruhi indikator ketersediaan aksesibilitas dan fasilitas, serta hasil uji yang bernilai >0,2 menggambarkan pengaruh kuat terhadap variabel terikat.Adapun berdasarkan data pendukung dari hasil dari observasi lapangan, baik pengembangan dalam penggunaan BRT maupun obyek wisata Goa Kreo tersendiri belum terintegrasi terhadap faktor-faktor tersebut. Maka dari itu, penting bagi pengelola obyek wisata dan pihak Trans Semarang untuk memperhatikan dan mengevaluasi hasil dari analisis agar rencana konsep “Obyek Wisata yang Terintegrasi oleh Penggunaan BRT” dapat terealisasi dan berkembang secara optimal.